Adityawarman: Jembatan Peradaban Jawa-Melayu, sebagai Pendiri Pagaruyung dan Hegemoni Majapahit di Sumatera
Sejarah Nusantara
Adalah permadani rumit yang ditenun dari benang-benang dinasti, ambisi politik, dan akulturasi budaya yang saling berpadu. Di antara tokoh-tokoh sentral yang menghubungkan dua kekuatan besar—Kerajaan Singasari/Majapahit di Jawa dan Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera—tersimpan nama besar: ADITYAWARMAN Kisahnya tidak hanya tentang berdirinya sebuah kerajaan megah, Pagaruyung, tetapi juga tentang legitimasi darah, manuver geopolitik, dan warisan peradaban unik yang kelak menjadi cikal bakal identitas Minangkabau yang kaya.
Artikel ini akan mengupas tuntas peran Adityawarman dan dinamika kekuasaan di Nusantara secara sistematis, berdasarkan kronologi peristiwa sejarah.
Dinamika Kekuasaan Awal di Sumatera: Periode Pra-Jawa (1128 M - 1275 M)
Sumatera, dengan jalur maritimnya yang strategis, selalu menjadi incaran berbagai kekuatan besar. Sebelum dominasi Jawa, peta kekuasaan di pulau ini telah mengalami pergeseran signifikan: 1128 M: Kawasan strategis di sekitar muara Sungai Perlak dan Pasai mulai dikendalikan oleh pedagang asing yang disokong oleh Dinasti Fathimiyah dari Mesir (Islam Syi'ah), menandai awal mula pengaruh Islam di jalur perdagangan vital ini.
Pada tahun 1168, Dominasi Islam Syi'ah tergeser. Pusat-pusat perdagangan di Perlak dan Pasai direbut oleh tentara Kerajaan Dharmasraya yang bercorak Buddha. Perebutan ini memberikan Dharmasraya kendali penuh atas hasil lada dari Minangkabau melalui Selat Malaka.
1275 - 1293 : Ekspedisi Pamalayu: Penancapan Hegemoni Singasari dibawah kepemimpinan Prabu Kertanegara
Keseimbangan kekuasaan di Sumatera berubah drastis dengan intervensi dari Pulau Jawa: 1275 M: Raja Kertanegara dari Singasari (Hindu) melancarkan Ekspedisi Pamalayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang. Tujuannya jelas: menaklukkan Kerajaan Melayu Dharmasraya, menguasai Pelabuhan Melayu, dan mengendalikan Selat Malaka. Keberhasilan ekspedisi ini menempatkan Dharmasraya di bawah hegemoni Singasari, sekaligus membendung ancaman invasi Mongol.
Pada tahun 1286, Prabu Kertanegara, melalui Mahamenteri Adwayabrahma, bersama Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang) mengirimkan Arca Amoghapaca ke Kerajaan Melayu Dharmasraya yang dipimpin oleh Crimat Mauliwarmadewa. Ini adalah simbol status Dharmasraya sebagai bawahan sekaligus sekutu Singasari.
Tahun 1293, Rombongan ekspedisi Pamalayu pulang ke Jawa, tak lama setelah pengusiran tentara Mongol di Tuban. Rombongan ini membawa dua putri Raja Melayu Dharmasraya: Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sementara Dara Jingga menjadi istri Adwayabrahma.
Masa Muda dan Karier Adityawarman di Majapahit (1295 - 1339)
Kelahiran Adityawarman adalah titik persilangan darah bangsawan Melayu dan Jawa. Pada tahun 1295, ADITYAWARMAN lahir dari pasangan Dara Jingga dan Adwayabrahma. Ia adalah sepupu Jayanegara, putra Raden Wijaya dari isterinya Dara Petak.
Pada Awal Abad ke-14 Masehi (1300-an) Adityawarman tumbuh besar dan dididik di istana Majapahit bersama Jayanegara. Pada Masa Pemerintahan Jayanegara, sebagai Raja Majapahit ke-2, Adityawarman diangkat menjadi Punggawa Kerajaan, menunjukkan kedudukannya dalam lingkaran kekuasaan Majapahit.
Pada tahun 1328, Setelah pembunuhan Raja Jayanegara, oleh Tabib pribadinya bernama Ra Tanca, maka Ratu Tribhuwana Tunggadewi naik takhta sebagai Ratu Majapahit ke-3, yang mendapat didukungan penuh dari istana terutama "Mahapatih Gajah Mada". Ini membuka jalan bagi Adityawarman untuk berperan lebih besar lagi untuk melaksanakan Misi Geopolitik "Sumpah Palapa" dengan dukungan Majapahit.
1339 - 1371 : Periode pendirian Kerajaan di Minangkabau, bernama Kerajaan Pagaruyung, yang disokong oleh Kerajaan Majapahit.
Pada era keemasan Majapahit di bawah kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi dan Gajah Mada, peran Adityawarman sangat penting dan strategis untuk memperluas wilayah Majapahit di Sumatera, sebab Adityawarman adalah Cucu dari Raja Melayu-Dharmasraya, yang bernama: Srimat Mauliwarmadewa. Setelah berhasil menunaikan tugas, Adityawarman memutuskan menetap di tanah leluhurnya, di Minangkabau (Sumatera - Tengah)
Pada tahun 1347 Masehi, Berdasarkan catatan prasasti, Adityawarman dinobatkan sebagai penguasa di Malayapura/Pagaruyung. Ia mendirikan Kerajaan Pagaruyung sebagai pusat kekuatan baru di Minangkabau, menyandang gelar Maharajadhiraja. Pagaruyung di bawahnya merupakan perpaduan unik warisan lokal dengan pengaruh kuat Majapahit (terlihat dari praktik Buddha-Tantrayana).
Pada tahun 1371 Masehi, Kerajaan Melayu (Dharmasraya/Pagaruyung) mengirim utusan ke Tiongkok, memberitakan bahwa "San-Fo-Tsi" (Sriwijaya) telah terpecah menjadi Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung.Akhir Masa Adityawarman dan Jatuhnya Sriwijaya Lama (1376 M)
Pada tahun 1376 Masehi: Raja Dharmasraya mangkat dan digantikan oleh Maharaja Mauli. Pada tahun yang sama, utusan Maharaja Mauli yang kembali dari Tiongkok tertangkap oleh tentara Majapahit. Peristiwa ini dikaitkan dengan serangan terakhir Majapahit terhadap sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya di Palembang, menandai finalisasi hegemoni Majapahit di Sumatera.
KESIMPULAN
Adityawarman adalah perwujudan simpul sejarah kompleks antara Majapahit dan Minangkabau. Lahir dari perpaduan darah Jawa dan Melayu, ia tidak hanya punggawa Majapahit, tetapi juga aktor kunci dalam ekspansi kekuasaan ke Sumatera. Pendirian Kerajaan Pagaruyung adalah puncak upaya Majapahit menegakkan hegemoni di wilayah barat Nusantara. Lebih dari itu, ia mewariskan peradaban Minangkabau yang kaya, sebuah sintesis budaya yang abadi. Kisahnya adalah bukti nyata betapa eratnya jalinan sejarah kerajaan Nusantara dan pengaruhnya dalam membentuk identitas Minangkabau.
Komentar
Posting Komentar