Asal usul ADITYA WARMAN Pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau
ADITYAWARMAN
(Ayah dari ADITYAWARMAN)
Wisnuwardhana adalah Putra dari Anusapati yang merupakan anak dari Ken Dedes dengan Tunggul Ametung (Akuwu Tumapel Terakhir) Ia memerintah secara bersama-sama ("Dwi Tunggal") dengan Mahesa Cempaka (Narasinghamurti) putra dari Mahisa Wong Ateleng, anak dari perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok ( Pendiri Singhasari)
Tujuan pemerintahan:
Pemerintahan bersama ini bertujuan untuk mempersatukan kerajaan yang saat itu masih terbagi. Wisnuwardhana adalah Putra dari Anusapati anak dari Tunggul Ametung Raja Tumapel (terakhir) sedangkan Mahesa Cempaka adalah putra dari Mahisa Wong Ateleng , putra dari Ken Arok (pendiri) Kerajaan Singhosari.
Antara Wisnuwardana dengan Mahisa Cempaka adalah (Sepupu) sama-sama cucu dari Ken Dedes. Sebab ayah dari Wisnurdana (Anusapati bin Tunggul Ametung) "saudara-tiri-dengan" Mahesa Wong Ateleng ayah dari Mahesa Cempaka.
Baik Wisnuwardhana maupun Mahesa Wong Ateleng, adalah keduanya anak laki-laki dari Ken Dedes, tapi dari ayah yang berbeda.
Dari Perkawinan MAHESA CEMPAKA dengan istrinya, melahirkan;
1. SRI HISMATUPA KUMALA RANGGAWUNI SINGSARI (Adwajabrahman) ayahanda dari Adityawarman Pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau - Sumatera.
2. DYAH LEMBU TAL (ibu dari Raden Wijaya Pendiri Kemaharajaan Majapahit)
3. DYAH TAPASI
1. KERTANEGARA (Raja Singasari Terakhir)
2. TURUK BALI (Isteri Jayakatwang Raja Kediri)
Selanjutnya:
(Asal-usul ibunda dari Adityawarman)
adalah Anak Perempuan dari SRIMAT MAULIAWARMADEWA, Maharaja Malayu ke-2 ==> Trailokyaraja Maharaja Malayu ke-1 ==> Raja Langkasuka Sultan Suran ==> Sanggarama Maharaja Sriwijaya
Selanjutnya, Srimat Mauliawarmadewa "menikah dengan" TRIBHUWANARAJA Putri dari Demang Lebar Daun, yang pernah mengadakan perjanjian dengan Sang Sapurba leluhur para raja-raja melayu, sebagaimana yang tertulis dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin)
Selanjutnya:
Sri Hismatupa Kumala Ranggawuni (Adwaya Brahma) menikah dengan Puti Reno Marak (Dara Jingga) putri dari Mauliawarmadewa MahaRaja Malayu ke-2, melahirkan ADITYAWARMAN.
Sebelumnya, pada waktu ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Kerajaan Singhosari. Prabu Kertanegara mengutus adik tirinya, untuk memimpin Ekspedisi Pamalyu, karena ia juga merupakan Bangsawan Tinggi di Kerajaan Singhosari dari Dinasti Rajasa (Keturunan Ken Arok). Ia adalah "Sri Hismatupa Kumala Ranggawuni" (Adwaya Brahma) Dia pula di kenal dengan nama: "Sira Dewa Alaki" yang ditulis oleh Professeor Slamet Mulyana di dalam buku yang berjudul: "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara.
Sri Hismatupa Kumala Ranggawuni (Adwaja Brahma) sebagai saudara tiri dari Prabu Kertanegara Raja Singhosari, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Mahamenteri Singhosari yang kemudian memimpin Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera, dengan membawa arca dari Singhosari kepada Maharaja Malayu ke-2, (Srimat Mauliwarmadewa) di Dharmasraja - Jambi, Sumatera Tengah
Sebagai seorang pembesar Singosari (Mahamenteri) yang diutus oleh Prabu Kertanegara, ADWAYAD BRAHMA alias "Sira Alaki Dewa" selaku penanggungjawab penuh atas keberhasilan Ekspedisi Pamalayu, dengan cara mengantarkan Arca Amoghapaca didampingi Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang) sebagai bukti pengakuan atas kekuasaan singhosari, sekaligus membawa dua putri Raja dari Kerajaan Malayu di Dharmasraya yang waktu itu di jabat oleh Crimat Mauliwarmadewa.
Tujuan Utama Ekspedisi Pamalayu;
"Mengantarkan Arca sekaligus membawa putri Raja sebagai bukti pengakuan Kerajaan Malayupura di Dharmasraya atas kekuasaan Prabu Kertanegara di Singhasari."
Utusan ekspedisi Pamalayu ini pulang kembali ke tanah Jawa, untuk membawa kabar baik bagi Singhosari atas keberhasilan dalam "Ekspedisi Pamalayu" dibawa pimpinan Mahamenteri Singhosari Adwayab Brahma, sekitar seminggu lebih pasca pengusiran tentara mongol di Tuban Jawa Timur yang dilakukan oleh Ranggalawe putra Arya Wiraraja adipati Sumenep (Madura)
Kedatangan rombongan ini pada akhir tahun 1294, dengan membawa dua puteri Raja Melayu Dharmasraya, bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diperisteri oleh Raden Wijaya, lahir: Jayanegara, Raja Majapahit ke-2, sedangkan Dara Jingga diperisteri oleh Adwayabrahma, yang melahirkan "ADITYAWARMAN" Pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.
Adityawarman lahir pada tahun 1295 dan dibesarkan di Pura Majapahit bersama dengan sepupunya Jayanegara putra dari Dara Petak, hingga dewasa. Ketika Prabu Jayanagara menjadi Raja ke-2 Majapahit. Ia mengangkat sepupunya (Adityawarman) dalam jabatan penting di Kerajaan Majapahit, sebagai Punggawa Kerajaan mendampingi sepupunya sebagai Raja.
Pada masa pemerintahan Raja ke-3, dibawah kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi. Suatu ketika ada perselisihan faham didalam istana antara Mahapatih Gajah Mada dengan petinggi kerajaan tentang siapa yang memimpin dan bagaimana cara menangani pemberontakan.
Ketika perdebatan sengit memanas dan menemui jalan buntu, maka Sang Ratu yang pemberani ini turun langsung ke Medan Pertempuran di garis terdepan didampingi oleh ADITYAWARMAN (Adik Suaminya), dan pemberontakan itu berhasil ditumpas oleh Adityawarman tanpa kehadiran Mahapatih Gajah Mada, sehingga boleh dikatakan bahwa, Keberhasilan Mahapatih Gajah Mada dalam melaksanakan "Sumpah Palapa" lebih banyak didukung oleh Adityawarman.
Karena Adityawarman selaku saudara kandung dari Kertawardana (Cakradara) dengan segala prestasi dan kesetiannya kepada Majapahit. Maka ia ditugaskan oleh Sang Ratu Majapahit (Tribhuwana Tunggadewi) dengan didampingi Mahapatih Gajah Mada, berangkat ke Sumatera pada tahun 1339 ketika ia sudah berusia 45 tahun, untuk membangun sebuah kerajaan baru, yang bernama: "Pagaruyung" di wilayah (tempat) kekuasaan kakeknya berkuasa, sebagai Raja Malayu di Dharmasraya untuk mendukung Hegemoni Majapahit dengan kerajaan-kerajaan lain di Sumatera.
Sebab salah satu syarat menjadi raja di kerajaan Malayu, haruslah berasal dari keturunan Maharaja CRIMAT MAULIWARMADEWA. Namun, sebelum kedatangan Adityawarman hanya dua kerajaan besar di Sumatera, yakni Palembang, sebagai lanjutan dari kerajaan Sriwijaya (San-Fo-Tsi) dan Kerajaan Melayu-Jambi yang berpusat di Dharmasraya.
Pada tahun 1371 Kerajaan Malayu mengirim utusan ke Tiongkok dengan membawa Burung Merak, Bajan dan Sepucuk Surat yang ditulis diatas lembaran emas yang dibawa oleh Adityawarman, untuk memberitakan bahwa kerajaan "San-Fo-Tsi" (Sriwijaya) sudah terpecah menjadi tiga bahagian yakni; Palembang, Dharmasraya dan Pagaruyung
Pada tahun 1376, Raja Melayu mangkat digantikan oleh Maharaja Mauli, lalu pada tahun itu pula yang mengirim utusan ke Tiongkok, untuk mendapatkan Pengakuan sebagai Raja Melayu. Tetapi, dalam perjalanan Pulang, utusan itu tertangkap oleh tentara jawa (Majapahit). Pada waktu inilah serangan terakhir bagi kerajaan Sriwijaya yang dilakukan oleh tentara jawa (majapahit).
Nama "San-fo-tsi" dikenal juga dengan nama "Po-lin-pang (Palembang)
Sumber Buku Judul:
"Runtunya Kerajaan Jawa Hindu, dan Munculnya Negara-Negara Islam Nusantara"



Komentar
Posting Komentar