Darah dan Tahta: Dari Tumapel "hingga" Sumpah Gajah Mada

Sumpah Palapa Gajah Mada

Lahirnya Kerajaan Majapahit dari Luka Pengkhianatan, Tragedi Ksatria, dan Kebangkitan Moral Nusantara.

Sejarah Kerajaan Majapahit  dengan sejarah terukir indah dalam prasasti tentang sebuah drama pengkhianatan, kesetiaan, dan keteguhan yang tak tergoyahkan, serta penebusan moral yang mendalam.
Bermula dari runtuhnya Kerajaan Singosari akibat pemberontakan Jayakatwang, pengkhianatan Ardharaja, hingga berdirinya Majapahit oleh Raden Wijaya. Perjalanan sejarah ini direndam dengan "darah dan air mata" dari para ksatria Jawa. Namun, dari tragedi Tumapel itulah lahir cita-cita luhur, tentang pentingnya persatuan Nusantara di bawah sumpah suci Mahapatih Gajah Mada. Kisah ini mengajarkan pelajaran abadi tentang moral politik di era kerajaan Jawa Timur pada masa lampau.

1. Dari Tumapel ke Singhasari: Asal-Usul Darah dan Tahta Kerajaan Majapahit

Kisah Majapahit bermula di Tumapel, pusat kekuasaan awal terletak Jawa Timur, ketika Ken Arok berhasil menumbangkan Tunggul Ametung pada abad ke-13 dan menikahi Ken Dedes—seorang perempuan suci yang diyakini membawa "cahaya wahyu kerajaan" menurut legenda Jawa. Konon ada Cahaya berkilau di dekat Paha Ken Dedes, tersirat makna dan tanda-tanda alam, bahwa "Dari rahim Ken Dedes kelak akan  lahir bibit-bibit pemimpin di Nusantara". Namun dibalik itu ada karma pada "Keris Mpu Ganring" yang dilakukan oleh Ken Arok, sehingga kelak anak cucunya saling membalas dendam, bermula dari Anusapati "balas dendam" atas pembunuhan ayahnya, kepada Ken Arok (ayah tiri) dan kemudian mewariskan darah-darah kerajaan kepada Wisnuwardhana. Garis keturunan ini berlanjut ke Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang ambisius dengan politik ekspedisi keluar Pulau Jawa. Sementara itu, putri Kertanegara bernama Turuk Wati (atau Turukbali) menikah dengan Jayakatwang, adipati Kediri, dan melahirkan Ardharaja—seorang tokoh kunci dalam tragedi selanjutnya. Di sisi lain, keturunan Ken Dedes melalui garis Ken Arok—melalui Wisnuwardhana dan Narasinghamurti—melahirkan Dyah Lembu Tal, ayah dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Dari dua garis darah ini—Tumapel yang penuh ambisi dan Kediri yang penuh intrik—lahir sejarah Majapahit, di mana dua trah saling bertemu dalam perang saudara dan perebutan tahta, membentuk fondasi kerajaan terbesar Nusantara, yakni Majapahit.

2. Pemberontakan Jayakatwang dan Pengkhianatan Ardharaja yang Mengguncang Singhasari

Pada tahun 1292 M, Jayakatwang, adipati Kediri yang haus kekuasaan, melancarkan pemberontakan besar-besaran melawan Raja Singhasari Kertanegara. Ironisnya, keberhasilan pemberontakan ini tak lepas dari pengkhianatan Ardharaja, menantu Kertanegara sendiri sebagai suami Turuk Wati, yang justru berpihak pada ayahnya, Jayakatwang. Dalam pertempuran sengit di Tumapel, Kertanegara terbunuh, menandai akhir tragis Kerajaan Singasari dan membuka babak baru dalam sejarah Jawa Timur (Nusantara)

Meski demikian, seorang ksatria muda bernama Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang selamat dari pembantaian "bersumpah untuk membalas dendam". Kisah pengkhianatan Ardharaja ini menjadi simbol betapa rapuhnya ikatan keluarga di tengah ambisi politik, sekaligus pemicu lahirnya Majapahit sebagai pewaris Singhasari. 

3. Majapahit sebagai pewaris Singhasari: "Raden Wijaya" dan Politik Ariawiraraja Melawan Invasi Mongol

Dengan kecerdikan politik yang legendaris, atas petunjuk dan arahan dari Arya Wiraraja, maka Raden Wijaya "berpura-pura" tunduk kepada Jayakatwang, sehingga ia diberi tanah di hutan Tarik, yang kemudian dibukanya menjadi perkampungan bernama Majapahit—diambil dari pohon maja lae (buahnya pahit seperti getirnya nasib). Saat pasukan Mongol di bawah Kubilai Khan mendarat di Jawa pada 1293, untuk menghukum pembunuhan utusan mereka, yang dilakukan oleh Kertanegara. Kesempatan ini dipergunakan oleh Raden Wijaya secara cerdik bersekutu dengan pasukan mongol guna menggulingkan Jayakatwang, ini juga ide dari Aryawiraja.

Setelah Jayakatwang tewas, Raden Wijaya dengan cepat membalikkan situasi, ia mengusir pasukan Mongol dari Jawa melalui serangan balik yang tak terduga, yang dipimpin oleh "Ranggalawe" putra Aryawiraja Adipati Sumenep (madura). Pada tahun yang sama, 1293, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, mewarisi darah Tumapel dan Singhasari. Pendirian Majapahit ini bukan hanya kemenangan militer, tapi juga sebagai tonggak baru kekuasaan di Jawa yang menginspirasi persatuan Nusantara.

4. Ranggalawe, Sora, dan Nambi: Tragedi Ksatria yang Mengguncang Majapahit Muda.

Kerajaan Majapahit yang baru lahir tak luput dari gejolak internal. Tiga kali terjadi tragedi besar mengguncang fondasinya, menyoroti kehancuran moral di balik tahta:
- Pemberontakan Ranggalawe (1295)
- Pemberontakan Mpu Sora (1298 )
- Kematian Nambi (1310–1323 ) Patih bijak era Jayanegara ini difitnah oleh Halayudha, pejabat ambisius, namun akhirnya tewas dalam upaya kudeta yang gagal.
Ketiga kisah ini menjadi simbol betapa fitnah lebih mematikan daripada pedang di Majapahit awal, di mana kesetiaan sering dibalas dengan kematian, akibat Fitnah.

5. Dari Pengorbanan Para Ksatria "hingga" Sumpah Gajah Mada: Kebangkitan Moral Nusantara

Setelah wafatnya Jayanegara pada 1328 M, tahta Majapahit beralih kepada Ratu Tribhuwana Tunggadewi, putri Raden Wijaya yang memerintah dengan tegas. Di era ini, munculnya "Gajah Mada", prajurit Bhayangkara yang menyaksikan langsung kehancuran moral dari tragedi Ranggalawe hingga Nambi. Diangkat sebagai Mahapatih Amangkubumi pada 1336, Gajah Mada bersumpah Sumpah Palapa: "Aku tidak akan menikmati palapa (kenikmatan dunia) sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah Majapahit."Sumpah Palapa ini bukan sekadar janji pribadi, melainkan simbol kebangkitan moral dan nasionalisme.
Gajah Mada bekerja dengan tulus dengan pengabdian mutlak, penuh integritas. Di masa Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M), sumpah itu terwujud: Majapahit mencapai puncak kejayaan, menguasai Nusantara dari Sumatra, semenanjung melayu hingga Papua.

Komentar

Postingan Populer