DUEL MAUT: KEBO ANABRANG (Mahisa Anabrang): Ksatria Ekspedisi Pamalayu yang Gugur Saat Pulang ke Jawa Timur di Tanah Kelahirannya
KEBO ANABRANG ("Mahisa Anabrang") Panglima Singhasari
Dari penaklukan Dharmasraya di Sumatera oleh Kebo Anabrang hingga duel maut di Sungai Tambakberas, dengan Ranggalawe Sang pengusir Tentara Mongol dari Tanah Jawa.
Sejarah Nusantara pada "Ekspedisi Pamalayu" oleh Kebo Anabrang, untuk mempererat Hubungan Singasari - Malayu
Sejarah Nusantara adalah sebuah permadani indah, namun rumit karena ditenun dari benang-benang kusut diantara dinasti, perang, dan diplomasi antarpulau. Di antara nama-nama besar yang menjembatani kekuatan Jawa dan Sumatera, muncul sosok Kebo Anabrang—atau Mahisa Anabrang—panglima perang yang menjadi simbol kejayaan Ekspedisi Pamalayu (1275–1293 M).
Ia diutus oleh Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari untuk menaklukkan Kerajaan Melayu Dharmasraya, untuk membuka jalan bagi dominasi politik Jawa di barat Nusantara. Namun kisah heroiknya berakhir tragis: gugur di tanah kelahirannya sendiri setelah duel maut dengan sesama ksatria Majapahit, Ronggolawe, pengusir Tentara Mongol yang merintis berdirinya Kerajaan Majapahit.
1. Sumatera Sebelum Dominasi Jawa (1128–1275)
Sebelum intervensi Singasari, Sumatera telah menjadi pusat maritim "strategis" di Asia Tenggara. Sekitar 1128 M, wilayah pesisir timur seperti Perlak dan Pasai dikuasai oleh pedagang Muslim dari Timur Tengah di bawah pengaruh Dinasti Fathimiyah (Syi’ah). Mereka membawa ajaran Islam dan memperkuat jaringan perdagangan rempah melalui Selat Malaka.
Namun, pada 1168 M, kekuasaan tersebut tergeser oleh tentara Kerajaan Dharmasraya yang bercorak Buddha. Dharmasraya menguasai jalur lada dan emas di pedalaman Minangkabau serta mewarisi sisa kejayaan Sriwijaya. Hingga akhir abad ke-13, Kerajaan Dharmasraya menjadi kerajaan paling berpengaruh di Sumatera.
2. Ekspedisi Pamalayu (1275–1293 M): Ambisi Kertanegara dan Keberanian Kebo Anabrang
Prabu Kertanegara, raja terakhir Singasari (1268–1292 M), ingin memperluas pengaruhnya di Sumatera sekaligus untuk membendung ancaman Mongol. Ia melancarkan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275 M, dipimpin oleh panglima tangguh Kebo Anabrang.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah menaklukkan Kerajaan Melayu Dharmasraya, serta menguasai pelabuhan strategis Melayu, dan memastikan jalur perdagangan barat berada di bawah kontrol Singasari yang perkasa.
Ekspedisi tersebut berjalan sukses. Sebagai tanda persahabatan, pada 1286 M, Kertanegara mengirim Arca Amoghapāśa Lokeśvara ke Dharmasraya. Utusan ini dipimpin oleh Mahamenteri Adwayabrahma bersama Kebo Anabrang, dan diterima langsung oleh Raja Crimat Mauliwarmadewa.
Arca ini kini dikenal melalui Prasasti Padang Roco (1286 M), yang menandai hubungan diplomatik antara Singasari dan Melayu Dharmasraya.
3. Kedatangan Ekspedisi: Dua Putri Melayu untuk Persilangan Darah Bangsawan di Nusantara
Setelah Singasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang (1292 M), Kebo Anabrang beserta pasukannya baru kembali ke Jawa sekitar 1293 M. Saat itu, kekuasaan telah diambil alih oleh Raden Wijaya, sebagai pendiri Kerajaan Majapahit.
Rombongan ekspedisi pamalayu, membawa dua putri bangsawan Melayu Dharmasraya, yakni: Dara Petak dan Dara Jingga.
Dara Petak dinikahi oleh Raden Wijaya, melahirkan Jayanegara, Raja Majapahit ke-2.
Dara Jingga menikah dengan Adwayabrahma, melahirkan Adityawarman, yang kelak mendirikan Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau atas dukungan Majapahit.
Dengan demikian, ekspedisi yang dipimpin Kebo Anabrang bukan sekadar misi militer, dan perdagangan melainkan juga membuka jalur genealogis dan budaya antara Jawa dan Sumatera.
4. Duel Maut: Ksatria Majapahit di Sungai Tambakberas
Setelah sekian tahun mengabdi, kisah Kebo Anabrang berakhir tragis di tanah Jawa. Dalam naskah Kidung Ronggolawe dan Kidung Panji Wijayakrama, disebutkan bahwa Ronggolawe, Bupati Tuban yang berjasa besar pada masa Raden Wijaya, merasa kecewa dengan keputusan raja mengangkat Mpu Nambi sebagai Mahapatih.
Ronggolawe menilai bahwa jabatan itu semestinya diberikan kepada Lembu Sora atau dirinya sendiri. Rasa kecewa itu menjadi pemberontakan. Dalam situasi genting, Kebo Anabrang maju sebagai panglima perang majapahit untuk menumpas Ronggolawe.
Pertempuran dahsyat pun terjadi di Sungai Tambakberas, Jombang. Dalam duel satu lawan satu, kedua ksatria besar itu sama-sama gugur. Kebetulan Ranggalawe terperosok ke sungai, kesempatan itu digunakan oleh Kebo Anabrang untuk membunuh Ranggalawe. Pada saat Ranggalawe terkapar disungai, dengan angkuh Kebo Anabrang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, sehingga membuat Mpu Sora (paman Ranggalawe) tersinggung, dia pun terjun menyelesaikan Kebo Anabrang hingga gugur bersama dengan Ranggalawe.
Darah mereka mengalir di sungai tambakberas sehingga air sungai tambak beras berubah warna menjadi merah oleh dua darah ksatria yang mengucur ditubuhnya, menjadi simbol kesetiaan dan kehormatan yang saling menelan korban.
Gugurnya Ranggalawe dan Kebo Anabrang, sebagai akhir bagi panglima Singasari yang ikut melahirkan Majapahit. Namun namanya tetap harum sebagai pahlawan ekspedisi yang membawa kejayaan Jawa hingga ke Sumatera.
5. Sejarah Singashari-Majapahit: Dari Ekspedisi ke Peradaban Nusantara
Catatan sejarah tentang perjuangan Kebo Anabrang melampaui masa hidupnya. Melalui ekspedisi yang ia pimpin, Singasari (dan kemudian Majapahit) membuka pengaruh luas di Sumatera. Dari ekspedisi itulah muncul Adityawarman, cucu darah Melayu-Jawa, yang membawa gagasan pemerintahan Majapahit ke tanah Minangkabau dan mendirikan Kerajaan Pagaruyung sekitar pertengahan abad ke-14.
Ibu Adityawarman bernama Dara Jingga, yang dibawa oleh Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang) pada ekspedisi Pamalayu. Setelah dewasa, Adityawarman menjadi raja di Pagaruyung, bahkan pernah mengirim utusan ke Tiongkok pada tahun 1371 M, membawa persembahan berupa burung merak dan surat emas untuk Kaisar. Hal ini menegaskan bahwa pengaruh Majapahit di Sumatera masih bertahan hingga beberapa generasi setelah wafatnya Kebo Anabrang.
Demikian pula, ibu dari Prabu Jayanagara Raja Majapahit ke-2, yang bernama Dara Petak yang dibawa oleh Kebo Anabrang dari Malayu.
Kesimpulan dan Penutup
Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang) bukan sekadar panglima perang, melainkan penentu arah bagi sejarah Nusantara. Melalui keberaniannya, Singasari menancapkan pengaruh di Sumatera, dia sebagai simbol kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Ekspedisi Pamalayu yang ia pimpin bukan hanya kisah penaklukan, tetapi kisah penyatuan budaya dan darah antara Jawa dan Melayu, yang kelak melahirkan identitas Nusantara sejati hingga kini dan nanti.
.png)


Komentar
Posting Komentar