LA MADDAREMMENG Raja Bone ke-13
Raja Bone ke-13
Pada masa pemerintahan inilah, titik awal (spot) perang dengan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Malikussaid, putra dari Sultan Alauddin (Sultan Pertama GOWA).
Kebijakan Raja Bone untuk menghapus perbudakan mendapat Penolakan dari kaum bangsawan, termasuk ibunya (We Tenri Soleng), kemudian ibunya mengadu kepada kerajaan Gowa, sehingga Gowa menyerang Bone pada tahun 1644 di Cimpu. Meskipun Bone kalah dan La Maddaremmeng diasingkan, pertempuran ini memicu konflik yang lebih besar, menjadikan Bone sebagai taklukan Gowa.
Penyebab perang: Pelaksanaan syariat Islam yang ketat: La Maddaremmeng (memerintah 1631-1644) berupaya menerapkan syariat Islam secara murni di Kerajaan Bone, termasuk melarang perbudakan.
Penolakan bangsawan: Kebijakan ini ditentang oleh para bangsawan, termasuk ibunya, We Tenrisoleng, yang memiliki banyak budak.
Tekanan kepada Gowa: Para bangsawan Bone meminta bantuan kepada Kerajaan Gowa, yang saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad Said (dalam sumber lain disebut Malikussaid), untuk menghentikan kebijakan La Maddaremmeng.
Penolakan La Maddaremmeng: La Maddaremmeng menolak ajakan dialog dari Gowa, bahkan setelah utusan dikirimkan untuk berunding.
Jalannya perang Gowa - Bone
Gowa menyerang Bone pada tahun 1644, sehingga terjadi Pertempuran di Cimpu, yang mengakibatkan kekalahan pasukan Bone. Pengasingan La Maddaremmeng, ke Gowa sebagai Tawanan Perang akibat laporan ibunya. Selanjutnya Kerajaan Bone dipimpin saudaranya La Maddaremmeng yang bernama: "La Tenri Aji To Senrima" yang juga merupakan anak dari We Tenri Soleng.
Pertanyaan:
1. Apakah benar "La Maddaremmeng" diserang oleh Gowa hanya karena campur tangan Gowa tentang urusan Budak antara ibu dan anak?
2. Jika benar "La Maddaremmeng" ingin menegakkan syariat islam, kenapa justru Kesultanan Gowa melarangnya?
3. Apakah didalam ajaran islam dilarang perbudakan?
4. Sejak kapan munculnya sistem perbudakan di tanah Sulawesi Selatan?
5. Apakah sungguh tega, bagi seorang ibu (We Tenri Soleng) tega melihat kedua anak kandungnya yang berasal dari rahimnya yang sudah menjadi Raja Bone, harus "Hancur oleh Dominasi" Gowa hanya gara-gara budak?
La Maddaremmeng, menikah dengan beberapa orang istri, antara lain;
1. La PakokoE (Ayah dari: La Patau Matanna Tikka, Raja Bone ke-15
2. La Tenri Bali to Pasarai, Arung itterung, (Ayah dari La To Saddeng Datu Cinnong Soppeng)
1. To Ancalo (Ayah dari: To Aggamette Arung Jaling, Petta Ponggawa Dinrue)
1. Da Ompo Arung Mare (ibu dari: La Uncung Arung Paijjo)
2. Ponggawa Dinru Bone (Ayah dari: I Bali Ri Sailong)
- I lolowasa Petta Nappo (ibu dari: I Mangumpea Arung Manimpahoi)
1. La Towekkeng AnreguruE (Ayah dari: La To Wekkeng AnreguruE)
LA PAKOKOE
Dari pernikahannya La Pokokoe dengan We Tenri Wale, lahirlah:
TO ANCALO
Menjabat sebagai Arung Jaling, menikah dengan We Bunga Bau Arung Macege, putri dari La So'nia Karaeng Massepe Addatuang Sidenreng ke-10, dengan We Impu Arung Maccero, melahirkan;
1. To Aggamette, Arung Jaling Ponggawa Dinrue, matintoe ri Larompong, menikah dengan Rakkiyah Karaeng Agangjene, Addatuang Sidenreng ke-14, melahirkan: "La To Appo Abdullah Karaeng Massepe, Addatuang Sidenreng ke-15.
2. Jennang To Bala, Arung Tanete Riawang Petta Pakkanyarengnge
3. La Paulangi Daeng Parukka
Menjabat sebagai Arung Manisang, menikah dengan We Tenri Awaru Arung Gilireng, melahirkan:
La Borahima Arung Gilireng ini menikah dengan Tenri Paona Arung Rappang, melahirkan: La Canno (Petta LampE Uttu) Arung Gilireng dan La Bangkung (Petta Cambang) Arung Gilireng.
KESIMPULAN
1. Raja-raja di Gilireng adalah Keturunan dari "La So'nia Karaeng Massepe" Addatuang Sidenreng (Cucu Bate Salapang Gowa) yang berperang mati-matian di medan laga membantu Bone-Soppeng (Arung Palakka) melawan Gowa. Beliau dijuluki "Manuk Ketti-kettinna Sidenreng "Mammaling-maling" Mammusu Ri Tengnga PadangngE.
2. Borahima Arung Gilireng sepupu 1x dengan "To Appo Abdullah" Karaeng Massepe Addatuang Sidenreng
==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Komentar
Posting Komentar