PANGLIMA CHENG HO: DARI MASA KE MASA (1371 – 1433)
Panglima CHENG HO
Laksamana Muslim Kasim dari Tiongkok yang Memimpin Armada Raksasa, Mengukir Diplomasi, dan Menjembatani Peradaban Islam Nusantara
Nama Cheng Ho (Hanzi) atau Zheng He melampaui mitos. Ia adalah figur nyata yang merepresentasikan puncak kejayaan maritim Dinasti Ming Tiongkok pada abad ke-15. Karier Laksamana Muslim ini, yang berawal dari budak kasim yang sudah "dikebiri" sehingga tidak bisa mempunyai Keturunan. Memulai Karier sebagai Militer, dan akhirnya menjadi komandan tunggal armada terbesar di dunia, mencerminkan sebuah era unik dalam interaksi geopolitik dan budaya Tiongkok dengan dunia Islam, terutama di wilayah Nusantara. Tujuh ekspedisi yang ia pimpin (1405–1433 M) bukan sekadar perjalanan laut, melainkan misi diplomasi yang meninggalkan warisan agama dan budaya yang mendalam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.
1. Dari Ma He Hingga Kasim Istana (1371 – 1402)
A. Kelahiran dan Garis Keturunan Islam (1371)
Cheng Ho lahir pada 1371, di Kunyang, Provinsi Yunnan, dengan nama lahir Ma He. Ia berasal dari keluarga Muslim etnis Hui yang memiliki reputasi tinggi. Latar belakang keislaman dan keluarganya sangat kuat dan kental; ia adalah cicit dari Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar, seorang Gubernur Muslim yang berpengaruh pada masa Dinasti Yuan (Mongol). Garis keturunan ini tidak hanya memberinya akses pada pengetahuan tentang Islam dan Arab, tetapi juga membantunya dalam menjalin kontak dengan kerajaan-kerajaan Muslim yang akan ia kunjungi kelak, setelah dewasa.
B. Pengabdian kepada Zhu Di (1381 – 1402)
Titik balik hidup Ma He terjadi pada 1381 M. Setelah Dinasti Ming (Han) menaklukkan Yunnan dari kekuasaan Mongol, Ma He ditangkap. Ia kemudian menjalani prosedur kebiri dan diangkat menjadi kasim (pelayan istana) yang ditugaskan melayani Pangeran Zhu Di, putra keempat Kaisar Ming. Ma He tumbuh menjadi kasim yang loyal, cerdas, dan memiliki keahlian militer yang mumpuni. Perannya sangat menentukan dalam membantu Zhu Di merebut takhta melalui Krisis Jingnan (perang saudara), sebuah jasa besar yang kelak dibalas oleh Kaisar baru. Atas keberanian dan kesetiaannya, Zhu Di menganugerahinya gelar kehormatan "Cheng Ho" dan mempromosikannya ke posisi tertinggi di luar birokrasi tradisional Konfusianis.
2. Periode Puncak: Tujuh Ekspedisi Armada dan Harta Karun (1405 – 1433 M)
Setelah Zhu Di naik takhta sebagai Kaisar Yongle (1403 M), ia menunjuk Cheng Ho sebagai Laksamana Agung untuk memimpin Armada Harta Karun (Treasure Fleet). Armada ini luar biasa, terdiri dari lebih dari 300 kapal dan melibatkan sekitar 27.000 awak, menjadikannya yang terbesar pada masanya.
Tujuan Utama Misi Cheng Ho, bersifat politis, ekonomi dan geopolitik
-1. Penegakan Sistem Upeti: Tujuan utamanya adalah menegaskan keunggulan Tiongkok dan mendorong kerajaan-kerajaan asing mengirim upeti sebagai tanda pengakuan dan hubungan damai.
-2. Keamanan dan Perdagangan: Mengontrol perdagangan maritim resmi Tiongkok dan memberantas perompakan di jalur laut vital.
-3. Penguatan Legitimasi Kaisar: Memamerkan kemakmuran dan kekuasaan militer Ming untuk mendukung otoritas Kaisar Yongle di mata para birokrat dan dunia luar.
Cheng Ho menyelesaikan tujuh pelayaran yang mencakup rute di Asia Tenggara, Samudra Hindia, Teluk Persia, hingga pesisir Afrika Timur, secara bertahap.
Ekspedisi Pertama (1405 – 1407 M):
Pelayaran ini fokus pada keamanan jalur laut. Puncak dari misi pertama adalah aksi militer di Nusantara, di mana Cheng Ho berhasil menumpas dan menangkap perompak Chen Zuyi di Palembang, sebuah langkah krusial yang mengamankan Selat Malaka bagi perdagangan global.
Ekspedisi Kedua (1407 – 1409 M) dan Ketiga (1409 – 1411 M)
Dua pelayaran ini fokus pada India Selatan dan Sri Lanka. Dalam pelayaran ketiga, Cheng Ho menghadapi perlawanan keras dari Raja Alakeshvara di Sri Lanka, namun berhasil menangkap sang raja dan membawanya ke Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak ragu menggunakan kekuatan militer untuk melindungi misi diplomatiknya.
Ekspedisi Keempat (1413 – 1415 M):
Ini adalah ekspedisi terjauh hingga saat itu, mencapai Teluk Persia (Hormuz) dan Arab. Di Nusantara, Cheng Ho mendarat di Samudera Pasai/Aceh dan menghadiahi sebuah lonceng perunggu, yang kini dikenal sebagai Lonceng Cakra Donya, menjadi saksi bisu hubungan Tiongkok-Islam Aceh.
Ekspedisi Kelima (1417 – 1419 M):
Rute kembali menjangkau Arab (Aden) dan Afrika Timur, hingga ke kota pelabuhan seperti Malindi. Perjalanan ini menghasilkan hadiah paling ikonik: seekor jerapah, yang cerdiknya diposisikan oleh Cheng Ho sebagai Qilin (makhluk mitologi pembawa keberuntungan) untuk meningkatkan legitimasi Kaisar Yongle di hadapan birokrasi Konfusianis.
Ekspedisi Keenam (1421 – 1422 M):
Pelayaran ini sebagian besar merupakan misi pengantaran, mengembalikan duta-duta asing yang telah memberikan upeti di Beijing kembali ke negara asal mereka di Asia Tenggara dan India. Cheng Ho sendiri hanya memimpin sebagian rute.
3.Periode Akhir: Jeda, Pelayaran Pamungkas, dan Wafat (1424 – 1433 M)
Jeda Politik dan Kebijakan Isolasi (1424 – 1430)
Setelah wafatnya Kaisar Yongle pada 1424 M, terjadi pergeseran politik. Kebijakan maritim yang mahal dikritik keras oleh birokrat Konfusianis, yang menganjurkan isolasi dan fokus pada pertahanan darat. Ekspedisi laut dihentikan sementara, dan Cheng Ho ditugaskan di Nanjing untuk proyek pembangunan.
Pelayaran Ketujuh dan Kematian (1431 – 1433 M)
Kaisar Xuande, yang menyadari nilai strategis pelayaran, memerintahkan Cheng Ho untuk memimpin pelayaran ketujuh yang menjadi misi pamungkas. Perjalanan ini kembali menegaskan pengaruh Tiongkok, namun menjadi yang terakhir bagi sang laksamana. Cheng Ho wafat di tengah perjalanan pulang pada 1433 M, diperkirakan di perairan dekat Calicut (India), pada usia sekitar 62 tahun. Jenazahnya konon dimakamkan di laut. Makam simboliknya yang terkenal berada di Nanjing, Tiongkok, dengan prasasti dwi-bahasa Arab-Tionghoa yang mengabadikan identitas Muslimnya.
4. Jembatan Peradaban dan Multikulturalisme
Meskipun Tiongkok mengadopsi kebijakan isolasi tak lama setelah wafatnya Cheng Ho, warisannya di Asia Tenggara tak terhapuskan.
Akulturasi dan Islamisasi Nusantara
Cheng Ho dikenang sebagai pelindung dan katalisator komunitas Muslim Tionghoa (Sino-Jawa) di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura). Kehadiran komunitas ini mempercepat akulturasi budaya Islam ke dalam kebudayaan Jawa.
Bukti Fisik (Peninggalan): Jejaknya jelas terlihat di Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, yang awalnya merupakan pangkalan logistik armadanya. Selain itu, arsitektur masjid tua di Pantura Jawa, termasuk Masjid Agung Demak, disinyalir mendapatkan pengaruh desain dari komunitas Tionghoa Muslim yang ia lindungi.
Simbol Toleransi: Di era modern, nama Cheng Ho diabadikan dalam Masjid Cheng Ho di Surabaya, Palembang, dan berbagai kota lain, menjadikannya ikon multikulturalisme dan persaudaraan lintas etnis.
Kontradiksi Historis Ekspedisi Cheng Ho
Kisah Cheng Ho adalah kontras tajam dengan narasi penjelajahan Eropa yang dimulai beberapa dekade kemudian. Sementara Christopher Columbus membawa misi imperialisme dan kolonialisme, Cheng Ho berlayar untuk diplomasi, upeti, dan perdagangan yang damai. Armada Ming memiliki kemampuan menaklukkan, namun memilih untuk tidak melakukannya, sebuah fakta yang menggarisbawahi kekuatan soft power Asia pada abad ke-15.
Cheng Ho adalah simbol sejarah yang kompleks dan kaya maknaa: Dia adalah seorang Kasim, Muslim taat, dan Laksamana Agung dan Duta Besar Tiongkok. Kisahnya menegaskan bahwa hubungan antara Tiongkok dan Nusantara memiliki akar sejarah yang kuat dan damai, jauh melampaui konflik-konflik etnis dan politik di masa-masa berikutnya.


Komentar
Posting Komentar