Pengkhianatan ARDHARAJA "kepada Mertuanya" KERTANEGARA
DARAH & TAHTA Singasari
Pengkhianatan Ardharaja, awal Keruntuhan Singasari, konflik Dinasti Rajasa: Pengkhianatan Keluarga, Dendam Politik, dan Kelahiran Kerajaan Majapahit Terbesar di Nusantara.
I. Tragedi di Balik Kejayaan Singhasari
Menjelang akhir abad ke-13 Masehi, Nusantara menjadi saksi drama politik terbesar dalam sejarah Jawa Timur: keruntuhan Kerajaan Singhasari pada 1292 M dan lahirnya Kerajaan Majapahit pada 1293 M. Di tengah kebijakan ekspansi ambisius Raja Kertanegara, muncul konflik berdarah antara mertua, besan, dan ipar—terutama Ardharaja, Jayakatwang, dan Raden Wijaya. Dari pengkhianatan keluarga ini, lahir kerajaan yang mengubah wajah peradaban Jawa, sebagaimana tercatat dalam naskah Pararaton dan Negarakertagama.
II. Ekspansi Raja Kertanegara dan Kehancuran Singasari
Kertanegara, Raja Singhasari terakhir (1268–1292 M), dikenal dengan kebijakan ekspansinya, seperti Ekspedisi Pamalayu pada 1275 M yang memperluas pengaruh Singhasari ke Sumatra (Melayu). Namun, kebijakan ambisius ini, ditambah lagi keberanian Kertanegara menghina utusan kerajaan mongol, yang datang menagih upeti kepada Raja Kertanegara, untuk dipersembahkan kepada Kaisar Mongol (Kubhi Lai Khan). Raja Kertanegara menghina utusan Kaisar Mongol, dengan cara memotong kuping utusan tersebut.
Kedua hal ini membuka celah bagi Jayakatwang (besannya) untuk mengadakan pemberontakan internal di Kerajaan Singosari. Pada 1292 M, Jayakatwang, adipati Gelanggelang (Kediri) yang merupakan keturunan raja lama Kediri, memberontak dan menewaskan Kertanegara di Tumapel (sekarang Malang). Pengkhianatan ini difasilitasi oleh Ardharaja, menantu Kertanegara sebab ia adalah putra Jayakatwang, yang bergabung dengan pasukan ayahnya. Peristiwa ini disebut sebagai “pengkhianatan sang besan” dalam sumber sejarah, mempercepat keruntuhan Singhasari.
III. Silsilah dan Legitimasi Dinasti Rajasa
Setelah kematian Ardharaja, putra Jayakatwang, Raden Wijaya menikahi Tribhuwaneswari, putri sulung Kertanegara, yang pernah diperistri Ardharaja, sebagai langkah politik yang tercatat dalam Negarakertagama. Ia juga menikahi tiga putri Kertanegara lainnya—Isanabumi (atau Narendraduhita), Prajnaparamita, dan Gayatri Rajapatni—untuk menyatukan garis darah kerajaan. Langkah ini merupakan strategi legitimasi, menghubungkan warisan Tumapel–Singhasari–Majapahit, sebagaimana dijelaskan dalam silsilah Dinasti Rajasa.
IV. Konflik dan Kejatuhan SingasariA. Pengkhianatan Ardharaja
Pada tahun 1292 Jayakatwang menyerang Singhasari. Ardharaja, yang ditugaskan oleh mertuanya (Raja Kertanegara) untuk menumpas pemberontakan ayahnya, tapi malah bergabung dengan pasukan ayahnya dan membocorkan strategi pertahanan Singhasari ke pihak Jayakatwang. Menurut Pararaton, tindakan ini menjadi faktor utama kehancuran kerajaan. Dalam Kidung Harsawijaya, Ardharaja digambarkan menyesal setelah kematian Kertanegara (mertuanya) tetapi terlambat.
B. Perceraian dan Tragedi Keluarga
Pilihan Ardharaja berpihak pada Jayakatwang menyebabkan perceraiannya dengan Tribhuwaneswari, simbol runtuhnya ikatan keluarga kerajaan. Perceraian ini menjadi metafora pengkhianatan menantu kepada mertua sekaligus pamannya sendiri. Sebab ibu dari Ardharaja bersaudara dengan "Turuk Bali" keduanya adalah anak Wisnuwardhana.
C. Kematian Ardharaja Putra Jayakatwang
Setelah Singhasari runtuh, Raden Wijaya berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang dan diberi izin membuka Hutan Tarik (cikal bakal Trowulan). Ketika pasukan Mongol datang pada 1293 M untuk menghukum Jawa atas pembunuhan utusan mereka, Raden Wijaya bersekutu untuk sementara dengan pasukan Mongol untuk menyerang balik kerajaan Kediri.
Dalam Pertempuran Daha (Mei 1293 M), Jayakatwang tewas, dan Ardharaja dibunuh oleh Raden Wijaya sendiri — baik dalam duel maupun eksekusi, menurut Pararaton.
Setelah itu, Raden Wijaya berbalik melawan Mongol dan mengusirnya, lalu kemudian ia mendirikan Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293 M.
IV. Pernikahan Politik untuk Legitimasi Majapahit
Raden Wijaya kemudian menikahi Tribhuwaneswari, bukan sekadar tindakan romantis berdasarkan cinta, melainkan strategi politik.
Dalam Negarakertagama pupuh 13–14, pernikahan itu digambarkan sebagai penguatan garis suksesi Singhasari menuju Majapahit, memperkokoh klaim Wijaya sebagai pewaris sah Dinasti Rajasa.
KESIMPULAN
1. Keruntuhan Kerajaan Singosari akibat Tragedi Keluarga yang pada akhirnya Melahirkan Kekaisaran (Majapahit)
2. Kisah antara Ardharaja dan Raden Wijaya menggambarkan jaringan darah rumit antara Tumapel, Singhasari, Kediri, dan Majapahit, di mana Ken Dedes menjadi figur sentral “darah biru” kerajaan-kerajaan Jawa Timur abad ke-13 dan 14.
3. Keruntuhan Singhasari bukan sekadar hasil perebutan kekuasaan, melainkan tragedi keluarga besar: besan, ipar, dan sepupu saling menghancurkan demi tahta.
Namun dari kehancuran itulah, lahir Majapahit, kerajaan terbesar Nusantara yang menguasai wilayah hingga Semenanjung Malaya.
Bagi pecinta sejarah, situs Candi Singosari dan Trowulan menjadi saksi bisu dari pergulatan darah dan ambisi yang melahirkan peradaban Jawa klasik, silahkan berkunjung kesana sambil berwisata di Jawa Timur.

Komentar
Posting Komentar