Periode PERTAMA Majapahit: Sejarah berdirinya Kemaharajaan (1292-1328)
Periode Pendirian & Konsolidasi
Siapa yang tak kenal Majapahit? Sebuah nama yang menggema di setiap jengkal tanah Nusantara, melambangkan kejayaan maritim, kebudayaan adiluhung, dan kekuatan politik yang tak tertandingi di masanya. Dari awal pendiriannya yang dramatis hingga masa kemunduran yang penuh intrik, sejarah Kerajaan Majapahit adalah mozaik kompleks yang layak untuk dikaji. Mari kita selami perjalanan sang "Maharaja Diraja" di Bhumi Nusantara, menguak fakta-fakta menarik yang akan memukau bagi pecinta sejarah Indonesia
Awal Pendirian & Konsolidasi yang Penuh Drama (1292–1328 M)
Kisah epik Majapahit berawal dari puing-puing tragedi. Pada 1292 M, Kerajaan Singasari luluh lantak di tangan Jayakatwang dari Kediri, menyebabkan gugurnya Raja Kertanegara. Namun, dari abu kehancuran itu, muncullah sosok visioner bernama Raden Wijaya. Ia berhasil meloloskan diri dan, dengan kecerdasan politisnya, meminta bantuan Arya Wiraraja.
Tahun 1293 M menjadi tonggak bersejarah. Saat pasukan Mongol (yang dikirim Kubilai Khan) mendarat di Tuban, Raden Wijaya melihat peluang emas. Ia bersekutu dengan Mongol untuk menumpas Jayakatwang. Namun, takdir berkata lain. Setelah Jayakatwang takluk, dengan langkah cerdik yang penuh strategi, Raden Wijaya justru berbalik mengusir pasukan Mongol! Sebuah manuver brilian yang mengukuhkan posisinya. Di tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, dan Trowulan ditetapkan sebagai pusat pemerintahan baru yang kelak menjadi simbol kejayaan. Ini adalah awal mula sebuah kemaharajaan thalassokrasi yang akan menguasai sebagian besar Asia Tenggara kuno.
![]() |
| Pasukan Raden Wijaya, mengusir tentara mongolia utusan kaisar Kubhilai Khan, hingga ke Pelabuhan Tuban. |
Pada 1294 M, melalui Prasasti Kudadu, ia memberikan tanah Sima kepada penduduk yang telah berjasa. Majapahit juga menunjukkan kekuatannya dengan penyerangan ke Sambas, Kalimantan Barat, menandai awal ekspansi ke luar Jawa. Namun, tahta Majapahit bukan tanpa gejolak.
Tahun 1295 M, pecah Pemberontakan Ranggalawe, perang saudara pertama yang dipicu intrik Halayudha. Kematian Ranggalawe membuat Arya Wiraraja mengundurkan diri, dan Majapahit harus rela membagi wilayah kekuasaan dengan sang pahlawan Madura itu.
Pada tahun 1296 M, Legitimitasi dinasti diperkuat melalui Prasasti Sukamerta, yang mencatat pernikahan Raden Wijaya dengan empat putri mendiang Kertanegara, termasuk Gayatri Rajapatni yang kelak memainkan peranan penting di Majapahit.
Ekspansi awal juga terlihat dengan berdirinya Kerajaan Keritang di Indragiri, Riau, sebagai bawahan Majapahit pada 1298 M. Namun, pada 1300 M, intrik Halayudha kembali memicu Pemberontakan Lembu Sora, yang berujung tragis. Di tahun yang sama, Majapahit mulai kehilangan kendali atas vasalnya di Kalimantan yang direbut Kerajaan Tumasik (Singapura). Kontrol di Sumatra pun mulai terkikis ketika Kerajaan Aru Barumun menyerang Kampar pada 1301 M.
Pada 1309 M, Raden Wijaya wafat, mewariskan tahta kepada putranya, Jayanagara, sebagai Maharaja Majapahit ke-2. Pemerintahan Jayanagara adalah masa-masa penuh tantangan. Namun, di balik bayang-bayang pemberontakan, seorang pemuda bernama Gajah Mada mulai meniti karier militernya.
Pada tahun 1313 M Gajah Mada sebagai kepala pasukan khusus Bhayangkara Keahliannya segera diuuji, pada Pemberontakan Nambi (1316 M) dan terutama Pemberontakan Ra Kuti (1319 M) di ibu kota, keduanya berhasil ditumpas berkat kepiawaian Gajah Mada, bahkan menyelamatkan nyawa Jayanagara, kemudian oleh Jayanagara mengangkatnya menjadi Patih di Kahuripan dan menghukum mati Halayudha. Peristiwa ini menjadi langkah awal bagi sang Mahapatih legendaris.
Pada 1323 M, Arya Tadah diangkat sebagai Patih Amangkubhumi, yang bekerja keras menstabilkan administrasi pasca-pemberontakan. Selain itu, jalinan hubungan internasional Majapahit diperlihatkan dengan pengiriman Adityawarman ke Khanbaliq (Beijing) untuk misi diplomatik pada 1325 M.
Periode ini berakhir dengan tragis pada 1328 M, Sang Raja Jayanagara tewas dibunuh oleh tabib istana, bernama Ra Tanca. Tahta Majapahit kemudian jatuh kepada ibu tirinya, yakni Gayatri (Rajapatni), namun ia menolak karena ingin menjadi "Bhiksuni", maka kepemimpinan Majapahit diserahkan kepada kedua putrinya, namun yang sering tampil dan menonjol adalah Dyah Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi) sebagai penguasa ke-3, siap mengantar Majapahit ke periode keemasannya!



Komentar
Posting Komentar