RUNTUHNYA DHARMASRAYA (Kerajaan Melayu) oleh Singhasari - Majapahit
KERAJAAN MELAYU
Senja di Batanghari: Kisah Kejayaan dan Kejatuhan Negeri Emas di Hulu Sungai
Di tepian Sungai Batanghari, jauh sebelum republik berdiri, pernah ada sebuah negeri makmur bernama Kerajaan Dharmasraya. Negeri emas yang menjadi simpul perdagangan antara India, Tiongkok, dan Jawa. Namun sebagaimana senja yang indah sebelum malam tiba, kejayaannya pun perlahan tenggelam.
Artikel ini menelusuri perjalanan Dharmasraya: dari masa kejayaan, ancaman ekspedisi Jawa, hingga keruntuhannya yang melahirkan babak baru dalam sejarah Sumatra.
Negeri Emas di Hulu Sungai
Di hulu Sungai Batanghari, kapal-kapal dagang berlayar membawa emas, lada, dan kapur barus. Dharmasraya menjadi negeri kaya dan terbuka bagi pedagang asing. Rakyatnya ahli menulis, berdagang, dan membuat patung-patung Buddha besar sebagai simbol spiritualitas.
Raja memerintah dengan gelar Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Grahi tahun 1183 M. Ia disebut sebagai “titisan para dewa”, menunjukkan betapa tinggi wibawa penguasa Melayu di mata rakyatnya.
Namun ketika Sriwijaya , sebagai induk peradaban di Sumatra melemah, maka muncullah, kerajaan baru bernama: MALAYUPURA di daerah Dharmasraya" menjadi pusat baru yang sekaligus rentan terhadap ancaman luar.
Sejarah Awal: Munculnya Dharmasraya
Setelah keruntuhan Sriwijaya akibat serangan Raja Rajendra Chola I dari India Selatan (1025 M), wilayah Melayu berupaya bangkit. Dharmasraya muncul sebagai penerus spiritual dan ekonomi kerajaan tua itu.
Berada di tepi Batanghari yang strategis, kerajaan ini menjadi jalur emas yang menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Samudra Hindia.
Menurut para sejarawan, Dharmasraya tumbuh kuat pada abad ke-12 hingga 13 M dan disebut dalam berbagai prasasti serta sumber asing.
Layar Hitam dari Timur – Ekspedisi Pamalayu
Ketegangan antara Jawa dan Sumatra
Pada tahun 1275 M, Raja Kertanegara dari Singhasari (Jawa Timur) memerintahkan ekspedisi besar ke Sumatra, dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu. Tujuannya: memperluas pengaruh dan menjalin aliansi strategis dengan kerajaan-kerajaan Melayu.
Armada perangnya berlayar melintasi Selat Malaka dan menyusuri Batanghari. Di atas kapal, prajurit Jawa membawa tombak panjang dan panji bergambar naga emas, simbol kebesaran Singhasari.
Sementara itu, di istana Dharmasraya, para pendeta membaca pertanda buruk: hujan tak berhenti, dan bintang jatuh di langit barat. Sang raja berbisik pada penasihatnya:
“Apakah ini saatnya negeri kita runtuh?”
Senja Terakhir di Istana Dharmasraya
Ketika pasukan Jawa menjejaki daratan Sumatra, benteng-benteng Dharmasraya roboh satu demi satu. Prajurit Melayu bertempur gagah, namun jumlah mereka tak sebanding. Kobaran api membakar lumbung padi, dan asap hitam membubung ke langit Batanghari.
Raja Dharmasraya memanggil dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak. Ia tahu, takdir kerajaan telah tiba di ujung masa. Kedua putri itu akhirnya dibawa ke Jawa sebagai tanda takluk.
Dara Petak kelak dinikahi oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sedangkan Dara Jingga menjadi ibu dari Adityawarman, raja besar yang kemudian mendirikan Kerajaan Pagaruyung di tanah Minangkabau.
Dari kehancuran Dharmasraya, lahir peradaban baru di Sumatra Barat.
Mengapa Dharmasraya Runtuh?
1. Ekspansi Kekuasaan Majapahit
Setelah Singhasari tumbang, Majapahit melanjutkan ekspansi ke Sumatra. Dalam Negarakertagama (1365 M), “Melayu” disebut sebagai salah satu daerah taklukan.
Ketika Adityawarman diangkat menjadi raja bawahan pada 1347 M, Dharmasraya secara de facto kehilangan kedaulatan politik.
2. Lemahnya Stabilitas Internal
Pergantian pusat pemerintahan, konflik elite, dan melemahnya ekonomi membuat Dharmasraya kehilangan daya tahan.
Sungai Batanghari yang dulu menjadi urat nadi perdagangan mulai kehilangan peran karena jalur laut ke Selat Malaka lebih menjanjikan keuntungan.
3. Perubahan Budaya dan Agama
Pengaruh Hindu-Buddha mulai memudar seiring masuknya Islam dari pesisir timur Sumatra. Pergeseran ini menciptakan tatanan sosial baru, namun sekaligus mempercepat disintegrasi kerajaan lama.
Sebab dan Akibat Runtuhnya Dharmasraya
Sebab utama:
- Serangan militer dari Jawa (Ekspedisi Pamalayu dan dominasi Majapahit).
- Lemahnya pusat pemerintahan dan ekonomi.
- Perubahan jalur perdagangan dunia.
Akibat langsung:
- Hilangnya kedaulatan Dharmasraya sebagai kerajaan merdeka.
- Lahirnya Kerajaan Pagaruyung sebagai penerus dinasti.
- Peninggalan arkeologis dan prasasti Dharmasraya menjadi bukti peradaban Melayu yang tinggi.
Kesimpulan
Keruntuhan Kerajaan Dharmasraya bukanlah akhir dari sejarah Melayu, melainkan pintu menuju babak baru. Negeri emas di Batanghari memang tenggelam, tetapi warisannya hidup dalam budaya, bahasa, dan silsilah raja-raja Minangkabau.
Sejarah ini mengajarkan: kejayaan tidak hanya bergantung pada kekuasaan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Penutup
Senja di Batanghari menjadi simbol abadi tentang sebuah peradaban yang tak sempat bertahan, namun meninggalkan cahaya bagi masa depan. Dari reruntuhan Dharmasraya, lahirlah kebanggaan baru yang terus mengalir dalam darah Sumatra: semangat Melayu yang pantang padam.
📚 Daftar Referensi Pustaka
- Negarakertagama (Kakawin, abad 14 M) – pupuh 13–15, penyebutan negeri Melayu sebagai wilayah Majapahit.
- Slamet Muljana. “Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya.” (Jakarta: Bhratara, 1979).
- Coedès, George. “The Indianized States of Southeast Asia.” University of Hawaii Press, 1968.
- Wikipedia. Kerajaan Dharmasraya. https://id.wikipedia.org/wiki/Dharmasraya
- Detik.com. Kerajaan Dharmasraya: Sejarah, Peninggalan, dan Raja Pemerintahannya. (2024)
- Kumparan.com. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Dharmasraya di Sumatra, Indonesia. (2023)
- Minangsatu.com. Berakhirnya Kerajaan Dharmasraya, Jejak Sejarah yang Tertinggal. (2024)



Ijin menyimak
BalasHapus