Tawanan Perang: LA TENRI AJI Raja Bone ke-14
Didahului oleh LAMADDAREMMENG
Pada saat kepemimpinan La Maddaremmeng sebagai Raja Bone ke-13, menggantikan saudara kandung ibunya yang bernama La Tenri Pale, Raja Bone ke-12 (matinroe ri Tallo) pada saat Raja inilah, awal mula (titik awal) perseteruan kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa yang ketika di pimpin oleh Sultan Malikussaid (Ayah dari: Sultan Hasanuddin).
Ada pendapat yang mengatakan, gara-gara "Perbudakan". Konon katanya La Maddaremmeng menolak cara-cara perbudakan diwilayahnya, termasuk memaksakan hal ini kepada kerajaan sekitarnya (Soppeng dan Wajo). Diceritakan bahwa La Maddaremmeng kuat iman Islamnya, untuk menolak perbudakan di Bone. Sementara ibu kandungnya sendiri yang bernama We Tenri Soloreng Datu Pattiro, setuju dengan sistem perbudakan di Bone. Atas perseteruan itu antara anak dan ibu, terpaksa sang ibu lari ke Gowa meminta perlindungan Sultan Gowa, yang tentu saja kuat iman Islamnya dan paham tentang perbudakan apakah dilarang dalam agama Islam atau tidak? Maka terjadilah penyerangan Gowa kepada Bone, atas laporan dari ibunya belum paham ajaran Islam.
Perlawanan Bone kepada Gowa, oleh Raja Bone (La Maddaremmeng) di bantu oleh saudaranya, yang bernama: "La Tenri Aji To Senrima" yang kelak akan meneruskan kepemimpinan di Bone menjadi Raja Bone-14 menggantikan saudaranya La Maddaremmeng Raja Bone-13. Kesimpulan sementara, baik oleh Maddaremmeng maupun La Tenri Aji, sama-sama melawan ibu kandungnya sendiri,
Muncul pertanyaan dalam hati:
1. Jika memang La Maddaremmeng Raja Bone ke-13 dan La Tenri Aji To Senrima, "benar-ingin" menegakkan ajaran Islam yang anti perbudakan, lalu kenapa Sultan Malikussaid Somba Gowa turut campur, semestinya malah mendukung Raja Bone?
2. Jika memang demikian "La Tenri Aji To Senrima" berpihak kepada saudaranya (La Maddaremmeng) untuk melawan ibu kandungnya sendiri, Kenapa Dewan Adat Bone (Ade' Pitu) masih mengangkat dan menobatkan La Tenri Aji To Senrima menjadi Raja Bone ke-14, bukankah masih banyak anak mattola yang lebih pantas, selain La Tenri Aji To Senrima, misalnya anak mattola dari La Tenri Ruwa Raja Bone ke-11, ataukah dari La Tenri Pale Raja Bone ke-12, agar tidak berlarut-larut, selalu terjadi perang saudara Gowa - Bone, yang pada akhirnya diwariskan "perang itu" kepada pewaris/pengganti masingmasing.
3. Apakah setelah itu tidak ada lagi perbudakan, di Sulawesi Selatan "setelah" Kerajaan Bone diserang saat kepemimpinan La Tenri Aji To Senrima, Raja Bone ke-14 ?
Pada masa pemerintahan La Tenri Aji To Senrima, disinilah terjadi perang saudara secara besar-besaran, sebab Wajo berpihak kepada Gowa, demikian pula Luwu berpihak ke Gowa. Penyerangan besar-besaran dilakukan, Gowa menyerang dari Arah selatan melalui armada laut, sedang Wajo dan Luwu bersama-sama menyerang Bone dari Utara, sehingga bangsawan Bone beserta pasukannya bertahan untuk yang terakhir kalinya di Pasempe, akhirnya mereka ditangkap dan ditawan, sehingga disebut "Beta Pasempe". Raja Bone (La Tenri Aji) diasingkan ke Siang dan wafat di sana, sehingga di sebut "MatinroE ri Siang". Siang adalah daerah "Pangkep" sekarang.
Atas kemenangan Gowa dan sekutunya (Wajo dan Luwu), maka sebagai sanksi (hukuman) bagi yang kalah perang akan dijadikan 'Ata Alabessi" oleh sang pemenang.
Akibat kekalahan Bone dibantu Soppeng, maka Bone dan Soppeng dibagi 3 bahagian, yakni: La Pottobunne bersama anak dan istrinya dibawah ke Gowa, kala itu "La Tenri Tatta to Unru" masih berumur 11 tahun. Inilah yang nantinya bergelar "Arung Palakka, Petta Malampe Gemne'na". Dari tawanan itu, dibagi lagi ke Bate Salapang (Sembilan Dewan Adat Gowa)
(Kasim, 2002 dalam makkulawu 2009).
Hal ini dilakukan oleh Raja Wajo kepada masyarakat Bone, sebab Raja Wajo masih ingat Perjanjian Tellu MpocoE dikenal "AllamamungMpatuE" setelah berperang membantu Gowa "mengalahkan" Bone-Soppeng.
Ketika La Tenri Aji To Senrima, beserta pasukannya ditawan oleh Gowa, Luwu, dan Wajo, maka terjadilah kekosongan pemimpin di Bone, dewan Adat Bone (Ade' Pitu) tidak bisa lagi menentukan siapa yang bisa menjadi Raja Bone selanjutnya, setelah kalah perang. Atas kekosongan raja Bone (Vacuum) Sultan Malikussaid, Raja Gowa, maka menunjuk Karaeng Summana, sebagai Pejabat Sementara, tapi karena selalu mendapatkan rongrongan dari orang Bone, maka Karaeng Summana melapor ke Karaeng Gowa, bahwa ia tidak sanggup menghadapi orang Bone. Akhirnya Sultan Malikussaid (Ayah Sultan Hasanuddin) menunjuk "JennanG" sebagai pelaksana tugas raja Bone.
La Tenri Aji To Senrima, Raja Bone ke-14, memiliki anak bernama La Tenri Sau Arung Mare' , dan La Pabbelle (matinroe ri batu-batu) inilah yang melahirkan; "Daeng Manessaa Arung Kading".
==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Komentar
Posting Komentar