Perang Paregreg: Sejarah Majapahit, dan kedatangan "Panglima Cheng Ho" dan lahirnya Islam di Nusantara
Panglima Cheng Ho
Panglima Cheng Ho, adalah Panglima armada laut Dinasti Ming, yang beragama Islam namun ia sudah di kebiri sejak kecil, sehingga ia tak bisa punya keturunan.
Kedatangannya di Nusantara, membawa Pengaruh besar pada beberapa kerajaan di Nusantara. Ekspedisi Cheng Ho (1405–1433 M) memiliki pengaruh terhadap konflik internal Majapahit, stabilitas maritim, perdagangan Nusantara, dan penyebaran Islam.
Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Majapahit pada tahun 1405 adalah salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Nusantara. Momen tersebut bertepatan dengan Perang Paregreg (1404–1406 M), perang saudara yang meruntuhkan kejayaan Majapahit.
Ekspedisi raksasa Dinasti Ming yang dipimpin Panglima Cheng Ho, bukan hanya menyaksikan kondisi Majapahit yang terpecah, tetapi juga memberi pengaruh besar terhadap keamanan laut, perdagangan, perkembangan Islam, hingga terciptanya komunitas Tionghoa-Peranakan di Nusantara.
![]() |
| Ekspedisi Terbesar "Panglima Cheng Ho" yang mengunjungi lebih dari 30 Negara di dunia, termasuk Sumatera dan Jawa. |
1. Pengertian dan Latar Peristiwa
Kedatangan Laksamana Cheng Ho (Zheng He) adalah bagian dari ekspedisi maritim terbesar Dinasti Ming yang berlangsung pada 1405–1433 M. Pada periode yang sama, Majapahit sedang diguncang Perang Paregreg (1404–1406 M), konflik antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi pasca wafatnya Hayam Wuruk (1389 M).
Terjadinya dua peristiwa besar ini secara bersamaan menunjukkan bagaimana kondisi politik Majapahit pada waktu itu, terekam dalam catatan dunia internasional, khususnya catatan dari Tiongkok.
2. Kedatangan Cheng Ho ke Majapahit, pada Masa Perang Paregreg
Ekspedisi pertama Cheng Ho dimulai tahun 1405 M, dan ia singgah ke Jawa sekitar 1406 M, tepat ketika Perang Paregreg memanas.
Catatan Dinasti Ming menyebut “kekacauan Jawa” yang menggambarkan kondisi Majapahit yang terbelah menjadi dua pusat kekuasaan (Majapahit Barat dan Majapahit Timur).
Dari sisi geopolitik, kedatangan Cheng Ho menjadi saksi atas turunnya stabilitas Majapahit setelah masa keemasan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
3. Interaksi Sosial: Lahirnya Komunitas Tionghoa-Peranakan
Kedatangan orang Tionghoa bersama ekspedisi Ming membawa dampak sosial besar:
-1. Banyak awak kapal dan pedagang Tionghoa menikahi perempuan setempat, terutama di pesisir.
-2. Dari hubungan tersebut lahirlah komunitas Tionghoa-Peranakan, yang kemudian berkembang di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan kawasan pesisir lainnya.
-3.Gelombang kedatangan Tionghoa berikutnya kerap mencari keluarga Peranakan untuk dijadikan pasangan, memperkuat jaringan sosial dan budaya Tionghoa di Nusantara.
-4. Fenomena ini menjadi bagian terpenting dalam sejarah Majapahit, dan lahirnya identitas budaya Indonesia.
4. Peran Cheng Ho dalam Keamanan Laut dan Perdagangan Nusantara
Laksamana Cheng Ho memiliki jasa besar bagi stabilitas wilayahnya. Ia ditugaskan Kaisar Yongle (Jongle) untuk menumpas bajak laut dan perompak yang mengganggu jalur perdagangan terutama di selat malaka. Armada Cheng Ho membersihkan perairan Selat Malaka, Laut Jawa, dan perairan Asia Tenggara.
Dampaknya: perdagangan Majapahit dan Nusantara meningkat, pelabuhan menjadi ramai dan lebih aman, serta ekonomi masyarakat di pesisir pantai, kembali hidup.
Peran ini membuat Cheng Ho dihormati tidak hanya sebagai utusan kerajaan Cina, tetapi sebagai penjaga stabilitas maritim Nusantara.
5. Misi Diplomatik, Perdagangan, dan Dakwah Islam
Selain membawa misi dagang dan diplomasi, Cheng Ho juga membawa: para mubaligh Muslim, ahli agama, dan pedagang Muslim Tionghoa. Mereka berinteraksi dengan masyarakat pesisir, demikian disebutkan di dalam beberapa kronik Tiongkok dan tradisi Jawa.
Interaksi Tionghoa ini, berdampak pada perkembangan awal penyebaran Islam di Nusantara, baik itu di Aceh, Sumatera dan Jawa. Sebagian tradisi lokal mengaitkan mubaligh dari ekspedisi Cheng Ho ini, dengan jaringan yang kelak dikenal sebagai Wali Songo, terutama di daerah pesisir seperti Semarang, Gresik, dan Tuban.
Sumber:
Graaf & Pigeaud – Kerajaan Islam di Jawa, Chaudhuri – Trade and Civilisation in the Indian Ocean.
6. Hubungan Sebab-Akibat Cheng Ho dan Perang Paregreg
Sebab Utama: Terjadi Perebutan legitimasi (kekuasaan) atas tahta Majapahit (1389–1406 M), antara Anak Prabu Hayam Wuruk dari selir (Bhre Wirabhumi) dengan keponakan Hayam Wuruk sekaligus menantunya (Wikramawardhana) suami dari Kusumawardhani.
Ketika "Perang Paregreg" melemahkan politik dan militer Majapahit. Datang pula utusan dari Dinasti Ming, melalui Panglima Cheng Ho yang beragama Islam dari Yunan datang pada saat kekacauan mencapai puncak.
Akibat Historis:
-1. Majapahit tercatat sebagai kerajaan yang tidak stabil dalam dokumen Tionghoa pada masa Dinasti Ming.
-2. Diplomasi Majapahit dan Kaisar Ming tidak sekuat era sebelumnya.
-3. Keamanan laut Nusantara membaik berkat armada Laksamana Cheng Ho
-4. Ekonomi pesisir tumbuh karena jalur perdagangan aman dan terkendali.
-5. Terbentuknya Komunitas Tionghoa-Peranakan di Nusantara, terutama di (Aceh, Palembang, Cirebon, Semarang, Tuban dan Majapahit) sebab banyak Kru dan Mubaligh yang ikut dalam pelayaran Armada Cheng Ho "memilih untuk" tinggal dan memperistri penduduk setempat.
-6. Penyebaran Islam di pesisir Nusantara memperoleh fondasi baru.
-7. Kemunduran Majapahit semakin cepat hingga runtuh pada 1527 M.
7. Kesimpulan dan Penutup
Kedatangan Laksamana Cheng Ho (1406 M) dan terjadinya Perang Paregreg (1404–1406 M) adalah dua peristiwa besar yang saling berkaitan. Cheng Ho menjadi saksi sejarah kemunduran Majapahit, sekaligus memberikan kontribusi besar bagi keamanan maritim, perdagangan, perkembangan Islam, dan interaksi budaya yang menciptakan komunitas Tionghoa-Peranakan. Perpaduan peristiwa ini menunjukkan bahwa sejarah Nusantara tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan dinamika dunia internasional.
Sumber Referensi:
-Ming Shilu, Pararaton, Ricklefs – A History of Modern Indonesia,
Komentar
Posting Komentar