Tarung Duel CIUNG WANARA Raja Galuh dengan HARIANG BANGA Raja Sunda
Banyak orang mengatakan bahwa Tamperan Barmawijaya adalah orang yang sama dengan Permana Dikusumah, sehingga menyangka bahwa Ciung Wanara dibuang oleh Ayah kandungnya sendiri. Padahal Tamperan Barmawijaya adalah ayah tiri ciung wanara, ia mengawini kedua istri raja galuh, setelah ia menyuruh orang untuk membunuh sang raja (Permana Dikusumah). Untuk lebih jelasnya, mari kita telusuri bersama asal usul Ciung Wanara dengan Hariang Banga, apakah ia bersaudara??
Asal usul Sang Manarah (Ciung Wanara).
Ia adalah putra dari Permana dikusumah Adi Mulya Raja Galuh, /bin Raden Wijaya Kusumah Mahapatih Saunggalah, //bin Rahyang Purbasora Raja Galuh, //bin Rahyang Sempakwaja, //bin Wretikandayun pendiri kerajaan Galuh.
Asal usul Hariang Banga (Kamarasa):
Ia adalah Putra Tamperan Barmawijaya patih Galuh, //Prabu Sanjaya, Raja Sunda ke-2, //bin Bratasena Raja Galuh, //bin Amara, Raja Kalingga Utara //bin Wretikandayun pendiri kerajaan Galuh
Berikut ini silsilah lengkap "Prabu Sanjaya" sebagaivPemersatu Kembali Kerajaan Sunda-Galuh, setelah berpisah pasca Kerajaan Tarumanagara..."
Prabu Sanjaya, atau Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, dikenal sebagai tokoh legendaris dalam sejarah kerajaan Nusantara, khususnya sebagai Pemersatu kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Ia juga merupakan pendiri Kerajaan Medang Mataram Kuno di Jawa Tengah. Namanya diabadikan dalam Prasasti Canggal tahun 732 M, yang menceritakan perjalanan kepemimpinannya dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.
Namun, sebelum menjadi raja agung yang membangun kerajaan Hindu-Siwa yang kuat, terutama mempersatukan kembali SUNDA-GALUH, faktor asal usul garis keturunan dari Ayah, Ibu dan Istri dari Prabu Sanjaya sangat dipengaruhi oleh silsilah bangsawan dari empat dinasti besar, yakni Kerajaan Sunda-Galuh-Kendan (Mendang Kamulan) di Jawa Barat dan Kalingga di Jepara Jawa Tengah.
Ayah Sanjaya bernama Barata Sena (Sena) ia merupakan keturunan dari kerajaan Tarumanagara, dan juga keturunan dari Kerajaan Medang Kamulan (Kendan) yang berpusat di Nagreg Bandung. Baratasena (Sena) juga merupakan keturunan dari Dewi Mutyasari putri dari "Kudungga", Raja Kutai Martapura Kalimantan
Kisahnya, berakar pada naskah Carita Parahyangan, dan beberapa prasasti sehingga menjadi fondasi politik dan budaya yang mendukung pendirian Kerajaan Medang Mataram kuno di Jawa Tengah menjadikannya sebagai simbol kebesaran sejarah Jawa kuno dan sejarah Sunda - Galuh (Pajajaran) di Jawa Barat.
Asal Usul Ayah Sanjaya: BRATASENA
Ia dikenal juga dengan nama Sanna atau Sena), Ia adalah Raja Bijak di Kerajaan Galuh, Putra dari Amara bin Wretikandayun. Sena dalah raja ketiga Kerajaan Galuh yang memerintah sekitar 709-716 M. Dalam naskah Carita Parahyangan, Sena digambarkan sebagai pemimpin adil yang dicintai rakyat, cucu dari raja pendiri Galuh, dan terhubung langsung dengan dinasti Sunda kuno. Ia menggantikan pamannya "Sugrahana" sekaligus mertuanya sebagai Raja Galuh.
Asal Usul Ibu Sanjaya: SANNAHA
Ia adalah putri dari AMARA, Raja Galuh II, dan Raja Kalingga Utara. Istri Amara bernama DEWI PARWATI, putri dari Kartikeyasinga, Raja Kalingga IV, dari istrinya yang bernama Ratu Shima, Rani V (terakhir) kerajaan Kalingga, yang berpusat di Jepara Jawa-Tengah.
PERKAWINAN POLITIK LEGITIMASI;
BRATA (SENA) merupakan putra dari AMARA Raja Kalingga Utara ke-1/ bin WRETIKANDAYUN/ bin KANDIAWAN/ bin RAJAPUTRA SURALIMAN, Raja Kendan II yang menikahi DEWI MUTYASARI putri dari Kudungga, Raja Kutai Martapura- Kalimantan,
SANNAHA, merupakan putri dari SUGRAHA Raja Galuh ke-2/ bin WRETIKANDAYUN/ bin KANDIAWAN/ bin RAJAPUTRA SURALIMAN, Raja Kendan II yang menikahi DEWI MUTYASARI putri dari Kudungga, Raja Kutai Martapura- Kalimantan,
SENA dan SANNAHA adalah sama-sama cucu dari "Wretikandayun" hubungan sebagai sepupu, lalu kemudian ia dinikahkan, maka lahirlah: "SANJAYA"
Dari pihak ayah (Baratasena), Sanjaya mewarisi legitimasi kerajaan Sunda-Galuh; sedangkan dari pihak ibu (Sannaha), Sanjaya mewarisi legitimasi, sebagai Raja di kerajaan Galuh Jawa Barat, dan Kalingga Jawa Tengah, sebab bapak dan ibu Sannaha adalah raja dan ratu di Kerajaan Kalingga.
Kombinasi ini membentuk SANJAYA sebagai pemimpin visioner, ketika ia menjadi Raja ke-2 di Kerajaan Sunda, dan Raja ke-5 di kerajaan Galuh, ia juga mendirikan Kerajaan Medang Mataram pada 732 M, menggabungkan pengaruh Hindu-Siwa dari kedua wilayah dan menandai era baru dalam sejarah Jawa kuno.
Istri Sanjaya, bernama: TEJA KENCANA
TEJA KENCANA Putri Tarusbawa (Pendiri Kerajaan Sunda) menikah dengan SANJAYA Putra dari Raja Galuh ke-3, melahirkan:
-1. Tamperan Barmawijaya: Selanjutnya mewarisi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, yang akhirnya menjadi Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.
-2. Rakai Panangkaran:
Selanjutnya mewarisi kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah hingga menjadi Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.
Perseteruan SUNDA dan GALUHWalaupun kerajaan sudah dibagi dua kekuasaannya oleh Wretikadayun, Tarusbawa masih sempat memberitakan penobatannya sebagai penerus tahta Tarumanagara, ke negara tetangga.
Oleh karena itu dalam sumber berita China yang terakhir, menyebutkan bahwa ada utusan dari Tarumanagara tahun 669 M. Tarusbawa mempunya pribadi yang damai. Dia tidah ingin ada sengketa dengan Wretikadayun, walaupun Kerajaan Sunda belum tentu kalah ketika perang melawan Kerajaan Galuh.
Prinsipnya lebih baik memimpin setengah negara tangguh daripada harus memaksakan memimpin satu negara penuh dengan keadaan yang belum tentu.
kemudian ia pindahkan ibukotanya ke Pakuan (Bogor) untuk merubah citra kerajaan Tarumanagara yang lumpuh.
Dari pernikahan Manasih binti Linggawarman dengan Tarusbawa, melahirkan "Teja Kancana Ayupurnawangi' (istri Prabu Sanjaya)
Untuk menyatukan kembali Tarumanagara yang terbagi dua menjadi Sunda dan Galuh. Maka SANJAYA bin Baratasena Raja Galuh bin Wretikadayun, menikah dengan TEJA KANCANA binti Tarusbawa, pendiri kerajaan Sunda, melahirkan dua putra, yakni:
Tamperan Barmawijaya, sebagai pewaris di dua kerajaan yakni Sunda Galuh, sebagai kelanjutan dari kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat. Sedangkan Rakai Panangkaran, sebagai pewaris di kerajaan Medang Kuno, sebagai kelanjutan dari kerajaan Kalingga di Jawa Tengah hingga nantinya sampai Jawa Timur.
TAMPERAN BARMAWIJAYA
Ia diangkat sebagai raja ke-3 di Kerajaan Sunda menggantikan ayahnya (Prabu Sanjaya) yang telah mendirikan kerajaan di Jawa Tengah pada tahun 732 M.
Kemudian ia di angkat sebagai Raja ke-6 di Kerajaan Galuh, menggantikan pamannya.
-2. NAGANINGRUM binti Bima Raksa
Pemerintahan Tamperan Barmawijaya.
Ia memerintah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh secara bersamaan sejak kematian Permana Dikusuma pada tahun 732 M hingga perebutan kekuasaan yang oleh Manarah (Ciung Wanara) putra Permana Dikusumah, pada tahun 739 M.
Kisah Sedih dan Pembalasan CIUNG WANARA (Raden Suratama)
Ciung Wanara, mempunyai lain adalah Sang Manarah, Prabu Mandaleswara Salakabuana Jaya Prakosa, Prabu Suratama, atau Buyut Maja
Ketika Dewi Naganingrum melahirkan seorang putra, namun difitnah oleh Dewi Pangrenyep yang bersekongkol dengan suami keduanya "Tamperan Barmawijaya" sebab takut menjadi saingan kelak di kemudian hari, sehingga Sang pangeran kemudian dihanyutkan ke Sungai Citanduy menggunakan keranjang dan dibesarkan oleh Aki Balangantrang. Ia tumbuh menjadi anak yang gagah dan kuat, pemuda itu kemudian diberi nama Ciung Wanara. Dia kemudian mengetahui bahwa orang tuanya bukan berasal dari desa dimana ia dirawat dari kecil kemudian mencoba menelusuri asal usul orang tuanya dengan cara mendatangi Kerajaan Galuh.
Raja Prabu Barma Wijaya memiliki ayam jago aduan yang hebat dan tak pernah kalah saat bertarung, bernama Si Jeling. Dia selalu membuat sayembara, jika ada ayam dari rakyatnya atau siapapun yang bisa mengalahkan ayam jago andalannya, maka akan diberikan apa saja yang dimintanya.
Ciung Wanara yang mendengar kabar tersebut kemudian menerima tantangan sang raja, syaratnya adalah ketika ayamnya menang, maka meminta setengah dari Kerajaan Galuh sebagai hadiah.
Akhirnya, janji itu terwujud karena ayam sang raja, bernama "Si Jeling" dikalahkan oleh ayam milik Ciung Wanara yang meski berukuran kecil namun jauh lebih kuat.
Ciung Wanara kemudian menjadi raja di daerah yang diserahkan oleh Prabu Barma Wijaya. Saat itu dia pun mendengar cerita Uwa Batara Lengser, bahwa dirinya saat itu disingkirkan dari istana oleh Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep.
Pada akhirnya Ciung Wanara, mengetahui bahwa ibu kandungnya bernama Dewi Naganingrum yang merupakan Permaisuri Permana Dikusumah, Sang Raja Galuh. Dalam hati ia ingin merebut kembali tahkta kerajaan Galuh milik ayahandanya.
Sehingga ia memenjarakan Ayah tirinya (Tamperan Barmawijaya) bersama Dewi Pangreyep, sehingga datanglah anak mereka yang bernama: "Hariang Banga" maka terjadilah adu kesaktian dan ilmu kanuragan, di sungai Cipamali.
Akhirnya mereka berdamai, dimana Ciung Wanara (Sang Manarah) mewarisi kerajaan Galuh dari ayahnya, kemudian menikah dengan Kancanawangi binti Kretananggala Raja Tanjungsari, melahirkan; "PURBASARI" yang kelak menjadi Raja Galuh yang ke-8
Sementara Hariang Banga (Kamarasa), menjadi Maharaja Sunda IV menikah dengan Kancanasari binti Demunawan Raja V Tanjungsari, melahirkan "HULUKUJANG", yang kelak menjadi Maharaja Sunda ke V.

.png)


Komentar
Posting Komentar