Ternyata ini ya? Urutan 20 Kerajaan '"TERTUA'' berdasarkan Tahun versi Blogspot RENDI TENDI
Deretan Kerajaan TERTUA di Nusantara
Menurut catatan sejarah, ada beberapa kerajaan di Indonesia yang paling tua. Hal tersebut dibuktikan dengan peninggalan yang ditemukan di dalam prasasti dan candi serta kitab-kitab kuno.
Di rangkum dari beberapa sumber, berikut ini daftar kerajaan yang tertua di Indonesia.
1. Kerajaan KANDIS - Sumatera Tengah
Kerajaan ini terletak di Pulau Sumatera, diperkirakan berdiri (sebelum masehi), diyakini sebagai kerajaan paling tertua di nusantara pada umumnya.
Nama kerajaan ini tercatat di dalam Kitab Nagarakretagama bahwa ada bekas wilayah Kerajaan Kandis dan masih disebut dengan Kandis, sebagai salah satu wilayah Majapahit dalam sebuah karya sastra, Kakawin Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365 oleh oleh Empu Prapañca, seorang bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit.
Kerajaan ini diperkirakan berdiri "$ebelum Masehi" artinya jauh mendahului Sribueja, yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatra Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Katumanggungan.
Adalah Maharaja Diraja, sebagai pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau ia membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna.
2. Kerajaan SALAKA NAGARA
"Salaka" artinya Perak sedangkan "Nagara" artinya Negeri. Jadi kerajaan Sakalanagara artinya Negeri Perak.
Didirikan pada abad ke-2 Masehi, sekitar tahun 130 M hingga 362 M, di wilayah barat Jawa atau sekitar Banten saat ini, tepatnya di daerah Pandeglang.
Menurut sumber di dalam Naskah Wangsakerta, Salakanagara adalah leluhur Suku Sunda dan didirikan oleh Dewawarman I
3. Kerajaan TARUMANAGARA
Kerajaan ini berdiri pada abad ke-4 dan runtuh pada abad ke-7 M. Pusat kerajaan Tarumanegara berada di dekat sungai "Citarum" menjadi salah satu kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Berdasarkan bukti sejarah seperti prasasti, Kerajaan Tarumanegara terletak di daerah Bogor, Jawa Barat dan berkembang antara tahun 400-600 M.
Kerajaan Tarumanegara mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu India. Hal tersebut diketahui dari kepercayaan yang dianut, bahasa Sansekerta, dan huruf Pallawa yang tertulis dalam prasasti.
Kerajaan ini , didirikan oleh Maharesi Jasingawarman, dan mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Purnawarman, namun mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Linggawarman sebab adanya serangan dari kerajaan Sriwijaya yang baru terbentuk.
Linggawarman memiliki dua orang puteri, yang pertama "Sobakancana" dijadikan permaisuri oleh Dapunta Hyang Jayasa, pendiri kerajaan Sriwijaya (Dinasti Syailendra)
Putri yang kedua, bernama: "Minasih" dijadikan sebagai permaisuri oleh Tarusbawa, pendiri kerajaan Sunda yang berada dibawah dominasi kemaharajaan Sriwijaya.
4. Kerajaan KUTAI - Kalimantan Timur
Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 Masehi. Pusat Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura) adalah Muara Kaman, di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan ini kemudian pindah ke Pemarangan (sekarang: "Desa Jembayan")
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman dan mengalami keruntuhan pada Maharaja Dharma Setia, raja terakhir kerajaan tersebut.
Periode kerajaan ini diketahui berdasarkan penemuan tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Bukit Brubus, Muara Kaman, pedalaman Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.
5. Kerajaan SUWAWA - Gorontalo
Didirikan sekitar tahun 500-an oleh Ratu Ayudugiya (Imana - Imbane) pusat pemerintahan di Bone Bolango - semenanjung utara Pulau Sulawesi.
6. Kerajaan GALUH - Jawa Barat
Didirikan oleh Wretikandayun pada tahun 612, di daerah Galuh Ciamis
7. Kerajaan KALINGGA - Jawa Tengah
Menurut catatan dari Thiongkok, kerajaan ini sudah ada pada tahun 618 Masehi. Didirikan oleh Prabu Wasumurti, dengan pusat pemerintahan di Jepara.
8. Kerajaan SUNDA - Jawa Barat
Didirikan oleh Tarusbawa (menantu Linggawarman, Raja terakhir Tarumanagara) pada tahun 669 di Sunda Sembada (Bekasi - Jawa Barat)
9. Kerajaan SRIWIJAYA - Palembang
Kerajaan SRIWIJAYA adalah kerajaan Budha yang menjadi simbol kebesaran Sumatera pada masa lampau. Kebesarannya disebut-sebut dapat mengimbangi Kerajaan di Benua Asia.
Kerajaan Sriwijaya lahir pada tanggal 16 Juni 682 Masehi, dengan pendirinya yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Dinasti Syailendra). Penerusnya sering melakukan tekanan di perairan pantai utara jawa sehingga kerajaan Kalingga "berakhir" ditandai munculnya kerajaan Medang.
Puncak kejayaan kemaharajaan Sriwijaya pada masa pemerintahan Maharaja Balaputra Dewa, berhasil menjadikan ibukota Palembang sebagai Pusat pendidikan ajaran Buddha sehingga menelorkan ribuan alumni dengan cara bekerjasama dengan Universitas Nalanda (Maha Vihara Nalanda) India.
Sriwijaya mengalami kemunduran setelah ia disibukkan dengan peperangan dan menyerang kerajaan Medang di Mataram, yang terus merongrong untuk ikut menguasai Selat Malaka. Ketika prajuritnya lelah dan berperang saudara dengan kerajaan Medang, ditambah lagi dana menipis datanglah serangan dari kerajaan Cola India.
10. Kerajaan MEDANG - Mataram
Kerajaan ini juga dikenal dengan sebutan Bhumi Mataram, sebagai kelanjutan dari kerajaan Kalingga. Didirikan pada tahun 732 Masehi oleh Prabu Sanjaya, setelah ia jadi Raja Sunda ke-2 dan Raja Galuh ke-5.
Kerajaan Medang Mataram, mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Samaratungga (wangsa Syailendra) dengan menyelesaikan pembangunan Candi Borobudur, sebagai pusat ibadah agama Buddha Mahayana.
Pengganti Samaratungga adalah menantunya, bernama Rakai Pikatan (suami Pramodawardani) yang mendirikan Candi Prambanan untuk kegiatan ibadah umat Hindu Siwa.
Prasasti Canggal ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Prasasti ini juga menyebutkan tentang pendirian sebuah lingga di Bukit Sthirangga oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 M.
11. Kerajaan LUWU - Sulawesi SelatanKerajaan ini salah yang tertua di Sulawesi, setelah "Kerajaan SUWAEA" di Gorontalo, yang sudah berdiri tahun 500 Masehi.
Kerajaan Luwu, di dirikan oleh Batara Guru, diperkirakan pada tahun 900 masehi. Mulai mengadakan kerjasama dengan kerajaan tetangga dan diluar pulau sulawesi pada masa pemerintahan Batara Lattu.
Pernikahan Batara Lattu dengan We Datu Sengngeng, melahirkan Sawerigading (penemu perahu phinisi yang melegenda ke penjuru dunia) dan We Tenri Abeng (permaisuri Remmang Rilangi, Raja Suwawa di Gorontalo)
Kerajaan Luwu mencapai puncak kejayaan dalam periode kekuasaan La Patipasaung Sultan Abdullah. Sejak 1615 kerajaan Luwu mengalami perluasan pengaruh dan konsolidasi kekuasaan hingga ke ternate dan membantu kerajaan Gowa hingga ke Nusa Tenggara Timur, terutama di Kerajaan Bima. Kegiatan islamisasi yang membawa perubahan signifikan pada sistem politik, sosial, dan budaya.
Pada tahun 1619, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Malangke ke Palopo, dengan mendirikan mesjid Jami Tua. Desentralisasi pemerintahan Wilayah melalui "Ana Tellu" yakni; Maddika Bua, Maddika Ponrang dan Maddika Baebunta.
Pengaruh Majapahit: Catatan dari kitab Kakawin Nagarakretagama (abad ke-14) menyebutkan Luwu sebagai salah satu daerah di bawah pengaruh Majapahit, meskipun tidak ada bukti penaklukan dan lebih merujuk pada hubungan kekerabatan dan pengaruh budaya.
Biasanya penaklukan itu ditandai dengan membawa putri raja untuk dipersembahkan atau menyerah Arca sebagai bukti pengakuan. Namun apa yang terjadi? Ditemukan "Surya Majapahit" dan salah satu puteri raja Majapahit "diperistri' oleh Paduka Yang Mulia Anakaji, raja luwu ke-4.
Sampai detik ini, belum ada bukti penaklukan kepada kerajaan Luwu yang berada di Sulawesi Selatan. Namun satu hal yang pasti, bahwa bubarnya kerajaan Luwu setelah Andi Jemma Raja Luwu 34 & 36, bersama mertuanya Andi Mappanyukki Raja Bone ke 32 & 34 mendapat kunjungan langsung dari Ir. Soekarno untuk bergabung didalam sebuah negara yang berbentuk republik, dengan menjadikan kerajaan Luwu sebagai Daerah Istimewa seperti di Jogjakarta dan Aceh Darussalam.
12. BEDAHULU - Gianyar Bali
Didirikan pada tahun 914 Masehi, oleh Raja Sri Aji Kresna Kepakisan. Pusat pemerintahan di daerah Pejeng - Gianyar. Kerajaan ini pernah dikepung oleh Prajurit Majapahit, dari barat dipimpin oleh Adityawarman, dari utara dipimpin Gajah Mada, dan dari Selatan di pimpin Arya Kenceng.
Pada itulah kerajaan Bali Kuno "Runtuh" pada masa pemerintahan Åšri Astasura Ratna Bumi Banten
(ca. 1332-1343) (etimologi)
Asta= Delapan, Sura= Dewa, Ratna= Permata, Bumi Banten= Tanah Bali) adalah Raja terakhir dari Kerajaan Bedahulu, Bali yang berkuasa pada tahun 1332 sampai dengan 1343 Masehi
13. KAHURIPAN - Jawa Timur
Muncul setelah kerajaan Medang, hancur berantakan pada tahun 1016, atas Serangan dari Kemaharajaan Sriwijaya, dibantu oleah Raja bawahan Worawari, karena sakit hati ditolak cintanya oleh Putri Raja Dharmawangsah Teguh, karena ia memilih Airlangga sebagai pendamping hidupnya. Tragedi berdarah ini yang juga menyebabkan tewasnya Dharmawangsah, Raja Medang (terakhir) sehingga di sebut: "Tragedi Pralaya", yang terjadi tahun 1016.
Kemudian, 3 (tiga) tahun berselang tepatnya di tahun 1019, menantu Dharmawangsah (Airlangga) berhasil mendirikan kerajaan "Kahuripan".
Nama "Kahuripan" berasal dari kata Jawa kuno "urip" yang berarti "hidup", sehingga KAHURIPAN secara umum diartikan sebagai "tempat yang penuh kehidupan" atau "tanah yang subur".
Tahun 1042 kerajaan ini terbagi dua;
- Janggala (Bagian Timur) meliputi Malang, Pasuruan dan Surabaya
- Panjalu (Bagian Barat) meliputi Daha, Kediri dan Madiun
14. TIDORE
Didirikan pada tahun 1081 oleh Muhammad Nagil (Sahjati) di Pulau Tidore. Dengan melihat tahun berdirinya maka kerajaan inilah yang pertama bercorak islam. Adapun status sebagai "Kesultanan" yang terhubung dengan Ottoman-Turki (Kekhalifahan Utsmaniyah)
perlu kajian lebih mendalam lagi.
15. Kerajaan DHARMASRAYA - Jambi
Didirikan pada tahun 1183, yang merupakan "Reinkarnasi" dari kerajaan Sribueja, yang diperkirakan berdiri tahun 500 Masehi, sebelum akhirnya diserang oleh Kerajaan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya mengalami kemunduran, maka diteruskan oleh dengan nama kerajaan Malayupura, berlokasi di Dharmasraya.
Didirikan oleh : "Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (Dinasti Mauli) putra dari Sanggarama Maharaja Sriwijaya ke-21 (terakhir).
Pusat pemerintahan kerajaan "Malayupura" awalnya terletak di tepi Sungai Batanghari, yang kini menjadi wilayah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Sehingga kerajaan "Malayupura" ini, juga dikenal sebagai Kerajaan Dharmasraya.
16. Kerajaan SINGASARI - Jawa Timur
Setelah terjadinya pertempuran di Ganter, antara Akuwu Tumapel didukung oleh Brahmana, mengakibatkan tewasnya "Kertajaya" Raja Kediri.
Maka lahirlah Kerajaan "Singasari" berdiri pada tahun 1222 oleh
Ken Arok dengan gelar: Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi.
Kerajaan ini, mendapat serangan balas dendam, dari Jayakatwang (Cucu Raja Kediri) ketika dipimpin oleh Prabu Kertanagara. Padahal Jayakatwang adalah sepupu, ipar dan besan dengan Prabu Kertanagara.
Penguasaan Jayakatwang tidak berlangsung lama "datanglah" invasi dari prajurit mongolia, yang khusus dikirim oleh Kaisar Kubhilai Khan, untuk menuntut balas atas penghinaan yang telah dilakukan oleh Prabu Kertanagara yang telah memotong kuping utusannya beberapa tahun lalu.
Pasukan mongolia (Tartar) menyangka, bahwa yang menghina utusan kaisar mongol adalah Jayakatwang, padahal yang melakukan itu adalah Prabu Kertanegara yang tewas di tangan Jayakatwang, pada saat itulaj kerajaan Kediri dan kerajaan Singhosari (berakhir)
17. Kerajaan TERNATE - Maluku
Didirikan pada tahun 1257 oleh Baal Mashur Malamo di Pulau Ternate.
Kerajaan ini, sebagai kerajaan yang "kedua" bercorak islam di Nusantara. Adapun status sebagai "Kesultanan" yang terhubung dengan Ottoman-Turki (Kekhalifahan Utsmaniyah)
perlu kajian lebih mendalam lagi.
18. Kesultanan SAMUDERA PASAI - Aceh
Didirikan pada tahun 1267 oleh Meurah Silu alias Sultan Malik as Saleh. Pusat pemerintahan di daerah Lhokseumawe.
19. Kerajaan MAJAPAHIT - Jawa Timur
Didirikan pada tanggal 15 November 1293 Masehi oleh Naraya Sanggarama (Raden Wijaya) putra dari Dyah Lembu Tal (Dyah Singhamutri) setelah runtuhnya Kerajaan Singasari.
Raden Wijaya sebagai raja pertama dengan gelar Kertajasa Jayawardhana. Ia adalah keturunan dari Dinasti Rajasa, yang memperisteri empat Putri Raja Singasari terakhir (Prabu Kertanegara).
Dinasti Rajasa mengalami pasang surut "karena" kutukan Keris Mpu Gandring, sehingga berakhir pada perang saudara, mengakibatkan Bhre Wirabumi "dipenggal lehernya" oleh Wikramawardhana, ia adalah sepupu sekaligus ipar, dalam "Perang Paregreg"
Demikian pula nasib tragis yang menimpa Prabu Kertabhumi (Brawijaya V), yang mendapat serangan dari anak kandungnya yang bernama "JIN BUN" yang terlahir dari rahim "Siu Ban Ci".
Ketika "Siu Ban Ci" mengandung bayinya, ia dikirim sebagai hadiah kepada Arya Damar adipati Palembang, dengan syarat tidak bercampur sebelum bayinya lahir. Ketika lahir, Bayi lak-laki tersebut diberi nama "JIN BUN" = Orang Kuat.
Ketika JIN BUN yang terlahir di Palembang, tumbuh menjadi remaja ia dikenal dengan nama "RADEN PATAH" yang kelak memperistri cucu dari Sunan Ampel (Tionghoa: Bong Swi Hoo).
RADEN PATAH membuka wilayah di Demak Bintara bersama dengan para mertua-mertuanya, "Walisongo", yakni: - - Sunan Ampel (Mertua Raden Patah)
- Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim) anak Sunan Ampel
- Sunan Drajat (Raden Qasim/Raden Syarifuddin).
- Sunan Giri, karena ibunya, Dewi Murtasimah, adalah putri Sunan Ampel dan menikahi Sunan Giri.
- Sunan Kalijaga: Murid Sunan Ampel yang juga menantu dari Sunan Ampel
[Buku: Walisongo: Sebuah Biografi
Karya : Asti Musman]
RADEN PATAH mendirikan Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa, pada tahun 1478, di dekat Sungai Demak, dan sudah mulai mengadakan serangan kepada kemaharajaan Majapahit, pada masa pemerintahan Bhre Kertabhumi (Brawijaya VII) ayah dari Raden Patah.
Dari tahun 1478 Kesultanan Demak selalu mengadakan serangan hingga tahun 1527, serangan terakhir yang membuat Majapahit runtuh. Pengikut Majapahit yang "menolak" pengaruh kesultanan Demak, pergi menyingkir ke berbagai daerah, di Jawa Timur dan Bali.
20. Kesultanan GOWA - Sulawesi Selatan
Diperkirakan berdiri pada tahun 1320 oleh Tumanurung Bainea, yang mempersatukan 9 (sembilan) komunitas wilayah didaerah tersebut. Dari sembilan komunitas adat tradisional ini, sudah terbentuk ratusan tahun sebelum tahun 1320, pusat penyatuan di Sungguminasa.
Menjadi Kerajaan yang bercorak islam, yang berstatus "Kesultanan" pertama di Sulawesi Selatan pada tahun 1600
masa pemerintahan raja Gowa ke-14, yaitu Mangnga'rangi Daeng Manrabia (1593-1639).
Pada tahun 1605: Kerajaan Gowa resmi memeluk Agama Islam, sebagai Sultan Pertama, yang bergelar "Sultan Alauddin', mengeluarkan Dekrit, bahwa pusat perkembangan dan peradaban islam di sulawesi berada di Gowa. Atas Dekrit Sang Raja tersebut, sehingga Kerajaan Gowa tampil sebagai Pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, menurut catatan Portugis, ada Raja Suppa yang menyatakan ketertarikannya pada agama Kristen dan meminta misionaris Portugis, de Payva, untuk membaptisnya. Setelah dibaptis, ia kembali ke Suppa sebagai penganut Kristen Katolik dengan nama Don Luis.
Namun setelah masuknya Islam (1605) jejak Don Luis sudah hilang dari Suppa dan beberapa dari Siang Pangkep.
Beberapa perkawinan antar kerajaan Gowa, yaitu Cucu Sultan Alauddin dengan Kerajaan lain, yaitu;
- Opu Daeng Masalle menikah dengan Palissubaya Daeng Mattuju, Raja Luwu ke-17. Dari pernikannya, melahirkan:
Settiaraja Raja Luwu ke-18 & ke-20
- Sani Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je'ne, menikah dengan Mantau Uma Jati Ambela Raja Bima ke-2
Pada masa pemerintahan "Mannuntungi" Sultan Malikussaid, ia mengadakan penyebaran islam ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan, misalnya di Wajo Ia memfasilitasi terbentuk "Karaeng Akkotengeng". Satu-satunya jabatan kerajaan Wajo pengaruh dari Gowa.
Nah, itulah sederet kerajaan tertua di Indonesia berdasarkan catatan sejarah dari berbagai sumber.
Catatan:
Beberapa Kerajaan yang muncul di Indonesia, pada setelah tahun 1320 Masehi, yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Sekitar tahun 1350, pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Baru, sudah mulai bergairah.
Beberapa kerajaan tersebut antara lain:
- KAIMANA - Papua Barat,
- MUNASELI - Alor Nusa Tenggara,
- WOLIO/BUTON - Sulawesi Tenggara,
- PASIR - Kalimantan Timur
- BONE - Sulawesi Selatan.
- Dan lain sebagainya yang bisa disebutkan dan diberikan nomor urut.
Mengutip buku Sejarah SMA/MA Kls XI IPS oleh Ignaz Kingkin Teja Angkasa, J. Sumardianta, A. Ferry T. Indratno dan H. Purwanta, Prasasti Canggal menjadi salah satu bukti sejarah kerajaan ini.
Bila ada kekeliruan saya, mohon kiranya dimaafkan. Kirim di Kolom Komentar, untuk dapat kami perbaiki.
Terima Kasih, Hormat - Santun.

Komentar
Posting Komentar