ARYA DAMAR Adipati PALEMBANG, Putra dari Maharaja Majapahit.

Arya Damar (Swan Liong) adalah nama seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-15 Masehi sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Arya Damar berasal dari Jawa Timur putra dari Raja Majapahit.

Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang, ia memiliki nama Tionghoa yaitu Swan Liong (Naga Berlian) tanpa nama marga di depannya, karena ibunya merupakan wanita peranakan Tionghoa.

Arya Damar (Swan Liong) adalah putra raja Majapahit yang bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak dan pembuatan Meriam Cetbang di Semarang.

Kemudian, pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Tionghoa di Palembang oleh Gan Eng Cu, seorang Kapten Tionghoa di Jawa. Waktu itu Majapahit dibawah kepemimpinan Ratu Suhita putri Wirakramawardhana.

Arya Damar (Swan Liong) di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat perguruan agama Islam di Surabaya, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

A. Arya Damar "menikahi" bekas Selir Kertabumi, (Brawijaya VII)

Arya Damar (Swan Liong) selama di Palembang, ia memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi raja Majapahit. Mungkin Kung-ta-bu-mi adalah ejaan Tionghoa untuk Bhre Kertabhumi.

Di kota pelabuhan Palembang yang kala itu banyak dihuni komunitas Tionghoa, Siu Ban Ci melahirkan putranya pada tahun 1455 M, yang kelak dikenal sebagai Jin Bun atau Raden Patah (Raden Hasan).

Setelah Raden Patah lahir, Siu Ban Ci dinikahi oleh Arya Damar (Adipati Palembang) putra dari Hyang Wisesa, Brawijaya III (Wikramawardhana) Raja Majapahit.

Arya Damar (Adipati Palembang) putra dari Hyang Wisesa bin Wikramawardhana Raja Majapahit ke-5, selanjutnya mengindahkan pesan dari Raja Majapahit (Brawijaya V) agar tidak bercampur sebelum anaknya lahir.

Dari hasil pernikahan Arya Damar dengan Siu Ban Ci, mereka memiliki putra lain bernama Raden Kusen. Ketika Raden Patah dibesarkan selama 20 tahun di Palembang, ia ingin mewarisi darah bangsawan Majapahit di Jawa, tapi dengan semangat keislaman dari ibunya.

Dari wanita itu (SIU BAN CI) lahir dua orang putra bernama, dengan bapak yang berbeda:

- JIN BUN (= Orang Kuat) putra dari Kung-ta-bu-mi, Raja Majapahit, dan

- KIN SAN (= Gunung Emas) putra dari Arya Damar (Swan Liong) bin Hyang Wisesa bin Wikramawardhana.


Jadi, Raden Patah (Jin Bun) putra dari Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), menjadi Anak Tiri dari Arya Damar. Sedangkan Raden Kusen adalah anak kandung bernama Arya Damar (Adipati Palembang). 

Jadi, antara Raden Patah dan Raden Kusen, adalah "saudara tiri" sama-sama putra dari Siu Ban Ci, tapi lain bapak. Raden Patah bin Kertabhumi Raja Majapahit, sedangkan Raden Kusen adalah Putra dari Arya Damar bin Hyang Wisesa.

B. Pendapat lain tentang : ARYA DAMAR

Sumber lain buku berjudul: Runtuhnya Kerajaan Hindu - Jawa, dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. 

Narasi yang dibangun oleh sang professor Slamet Muljana, dalam bukunya itu, adalah bahwa ibu yang melahirkan Arya Damar adalah seorang Raksasa wanita (Raksasi) yang berparas cantik dan suka bertapa di Hutan, bernama Ni Endang Sasmitapura, yang bermimpi ingin dikawini oleh raja Majapahit, lalu diantarlah wanita itu oleh Mahapatih Gajah Mada untuk dipersembahkan kepada Sang Prabu.

Setelah Arya Damar lahir, ia akan dibunuh oleh suruhan bapaknya prabu kertabhumi. Namun ketika Arya Damar dewasa, ia diangkat menjadi Adipati Palembang, ia diberikan hadiah oleh ayah kandungnya yaitu seorang wanita cantik yang sudah diperisteri oleh Prabu Kertabhumi, bernama "Siu Ban Ci" yang masih sedang mengandung tiga bulan.

Narasi diatas yang ditulis dalam buku sang professor itu tidak masuk akal logika sehat, sebab: 

1. Arya Damar, terlahir dari seorang ibu yang raksasi (ghoib) merindukan dinikahi oleh seorang raja yang sudah memiliki istri lebih dari seratus.

2. Seorang Ayah Kandung mempersembahkan istrinya yang sedang mengandung (Hamil) 3 bulan untuk dinikahi oleh anak kandungnya sendiri, sehingga Arya Damar menikahi ibu tirinya.

3. Padahal Gajah Mada sudah meninggal, pada tahun 1364, pada umur 74 tahun, yaitu hampir 5 tahun sebelum kertabhumi menjadi Raja di Majapahit. 

4. Jika Arya Damar, sudah menjabat sebagai Adipati di Palembang tahun 1447, maka pada saat yang sama umur Mahapatih Gajah Mada sudah berapa ketika mengantarkan "Siu Ban Ci" untuk diperistri oleh Arya Damar? 

5. Catatan dari Kronik Klenteng Sam Poo Kong, dikatakan bahwa Swan Lion (Arya Damar) adalah putra dari Yang Wi Se Sa (Hyang Wisesa) yakni Wikramawardana.

6. Jika Swan Lion adalah putra dari Hyang Wisesa bin Wikramawardhana (Brawijaya III), maka hubungan kekerabatannya dengan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) adalah "Paman'. Sebab Arya Damar (Swan Liong) bersaudara dengan ayah dari Prabu Kertabumi (Kertawijaya).

C. Perjalanan Raden Patah ke Jawa dan Berdirinya Kesultanan Demak

Arya Damar menghendaki supaya Raden Patah yang naik Takhta Kerajaan di Palembang untuk menggantikannya dan Raden Kusen sebagai Patihnya.

Namun, Raden Patah dan Raden Kusen berkeberatan atas niat ayahnya dengan alasan ia segan menjadi ejekan orang banyak. Mendengar hal itu Arya Damar pun terdiam.

Ketika keduanya sering gagal lolos dari Palembang menuju Jawa, maka keduanya mendaki Gunung Rasamuka yang mengangkang diatas laut, untuk "bertapa" sambil menunggu "kalau-kalau' ada kapal lewat.

Akhirnya keduanya berhasil kabur hingga tiba di Pelabuhan Surabaya, mereka melihat Menara Mesjid Ngampel Denta lalu dihampirinya diterima oleh Jagawasita untuk menghadap Sunan Ngampel.

Singkat cerita, Raden Kusen mengingatkan agar Raden Patah melanjutkan perjalanannya ke Majapahit untuk bertemu ayahnya. Ajakan tersebut ditolak oleh Raden Patah karena ia tak tega mengabdi pada Kafir. Raden Kusen disuruh berangkat sendiri.

D. Bekas anak buah Arya Damar, yakni Boo Swi Hoo (Sunan Ampel) jadi Mertua Raden Patah.

Raden Patah tetap tinggal di Ngampel lalu dinikahkan dengan Cucu Sunan Ngampel (Boong Swi Hoo). Sementara Raden Kusen tetap melanjutkan perjalanan ke Majapahit dan berhasil diterima magang di Pura Majapahit hingga akhirnya menjadi Adipati Terung.

Dengan restu dan dukungan penuh dari para Wali Songo, Raden Patah kemudian mendirikan pusat dakwah di Glagah Wangi (Demak Bintara) di pesisir utara Jawa.

Pusat dakwah ini berkembang pesat dan menjadi cikal bakal Kesultanan Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Jawa. Melalui kecerdasan, kewibawaan, dan dukungan strategis para wali.

Raden Patah berhasil menyatukan berbagai daerah pesisir, menegakkan pemerintahan Islam yang kuat, dan membangun Demak sebagai pusat perdagangan, pendidikan, serta kekuatan politik baru yang menggantikan dominasi kekuasan ayahnya di Majapahit.

Sumber buku berjudul

-1. "Runtuhnya Kerajaan Hindu - Jawa, dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara."

Karya: Prof. DR. Slamet Muljana

​-2. Dikutip dari berbagai Sumber.

Komentar

Postingan Populer