Hubungan ARDHARAJA & RADEN WIJAYA sebagai Menantu Prabu Kertanegara
Asal usul ARDHARAJA
Garis dari Ibu:
Mahisa Wong Ateleng" bin Ken Arok, menikah dengan "Dewi Suhito", putri dari Jayasabha Adipati Kediri, sehingga melahirkan: "WANING HYUN".
Kemudian WANING HYUN menikah dengan WISNUWARDHANA Raja ke-3 Singasari melahirkan:
1. Kertanegara (Mertua Ardharaja)
2. Turukbali (Ibunda Ardharaja)
Garis dari Ayah :
Perkawinan antara "putri Anusapati" bin Tunggul Ametung, dengan Sastrajaya Adipati Kediri (saudara Dewi Suhito), melahirkan: "JAYAKATWANG".
Hingga kemudian Jayakatwang menikahi Turukbali putri dari Waning Hyun, melahirkan "Ardharaja" yang menikah dengan Dyah Tribhuwaneswari Putri sulung dari Prabu Kertanegara raja Singasari (terakhir)
Asal usul RADEN WIJAYA :
Dalam Negarakertagama pupuh 46-47 juga dijelaskan Dyah Lembu Taladalah Bapa Baginda Nata atau bapak Raden Wijaya. Dalam Kidung Harsawijaya, Narasingamurti memiliki putra bernama Sri Harsawijaya yang juga bergelar nama Dyah Lembu Tal
Berarti RADEN WIJAYA adalah Putra dari Dyah Lembu Tal, binti Mahisa Cempaka (bersaudara dengan WANING HYUN) putra dari Mahisa Wong Ateleng, bin Ken Arok.
Awalnya Raden Wijaya, memperistri dua dari putri dari Prabu Kertanegara, yaitu putri ke-2 dan ke-3) yang masing-masing belum memiliki keturunan.
PEMBERONTAKAN JAYAKATWANG
ARDHARAJA putra Jayakatwang berbalik arah dan berpihak kepada Ayahnya Sang Pemberontak (Jayakatwang) ia berkianat pada mertuanya dan kepada istrinya sendiri.
Ketika mertuanya (Kertanagara) tewas ditangan bapaknya (Jayakatwang), maka istri dan iparnya sebagai anak dari Prabu Kertanagara hendak dijadikan tawanan.
Sehingga: putri Sulung (Dyah Tungganeswari) dan putri Bungsu (Rajapatni/Gayatri) dijadikan tawanan oleh pasukan Jayakatwang.
Sedangkan kedua putri lainnya, berhasil diselamatkan oleh suaminya Raden Wijaya beserta para pengikut setianya.
Atas permintaan kedua istri Raden Wijaya, untuk menyelamatkan kedua saudari sulung dan saudari bungsunya, sehingga Raden Wijaya "buru-buru" menyelamatkan keduanya.
Ditengah malam Raden Wijaya mendekat ke sarang musuh yang sedang membuat api unggun, maka tampaklah wajah Dyah Tribuwaneswari bersama Dewi Gayatri bersama ditengah mereka.
Raden Wijaya bersama Lembu Sora menerobos pertahanan musuh, mengamuk sekuat tenaga hingga banyak yang tewas.
Kemudian Dyah Tribuwaneswari (istri Ardharaja) yang ditawan cepat direbut, lalu dilarikan menuju arah perkemahan Raden Wijaya bersama rombongannya.
Akan tetapi pada malam itu, Rajapatni (Gayatri) tertinggal, karena dikala terjadi ribut, ia bersembunyi dan masuk kedalam perkemahan.
Tak lama kemudian Raden Wijaya mengajak Lembu Sora untuk kembali lagi merebut Dewi Rajatpatni (Gayatri) tapi ditahan oleh Lembu Sora, agar tidak kembali, mengingat musuh sangat banyak.
Ketika Raden Wijaya, masih bersikeras ingin merebutnya, maka Lembu Sora berkata: Kalau dipaksakan nanti "bagaikan" laron masuk kedalam kobaran api, Raden Wijaya pun menurut.
Kemudian keesokan harinya, ia dikejar lagi oleh pasukan Daha, sampai di telaga Pager terjadilah pertempuran seru kembali. Pasukan Raden Wijaya lari ke utara "sambil melawan" mempertahankan diri terhadap serangan.
Karena barisan musuh lebih banyak maka Gajah Pagon kena tombak betisnya dan luka tembus. Setelah musuh agak menurunkan dan mengendorkan penyerangannya, maka Raden Wijaya bersama pengikutnya kembali ke dusun Telaga Pager.
Selanjutnya menyusup ke hutan yang sangat lebat, ditelah hutan mereka berunding untuk melakukan langkah selanjutnya. Kemudian, Lembu Sora mengusulkan kepada Raden Wijaya untuk mengungsi ke Madura yakni di kadipaten Arya Wiraraja di Sumenep.
Rupanya usul itu, masih menjadi pertanyaan bagi Raden Wijaya, apakah kira-kira Arya Wiraraja Adipati Sumenep, mau menerima mereka?.
Pertanyaan itu dijawab secara bersamaan oleh Ranggalawe, Lembu Sora dan Nambi mengatakan bahwa Arya Wiraraja tidak akan melupakan jasa baik leluhur dari Raden Wijaya.
Leluhur yang dimaksud oleh Ranggalawe putra Wiraraja dan Lembu Sora (paman Ranggalawe) adalah yang bernama : Mahisa Campaka (Narasingamurti), sebab ia adalah pembimbing Arya Wiraja, sehingga pasti akan menerima kedatangannya.
Raden Wijaya dibantu oleh pengikut setianya (Lembu Sora) berhasil menyelamatkan "Dyah Tribhuwaneswari" (istri Ardharaja).
Sehingga sudah 3 putri Prabu Kertanegara yang diselamatkan oleh Raden Wijaya, selain dari kedua putri yang telah diperistri, sebelum terjadi Prahara di Kerajaan Singhosari.
Menurut kitab Negarakartagama para pengikut Raden Wijaya adalah Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Lembusora, Dangdi dan Gajah Pagon.
Pernikahan ke 3, 4, 5 RADEN WIJAYA
Penemuan Gayatri:
Setelah Raden Wijaya berhasil membangun kekuatan kembali, ia bersekutu dengan pasukan Mongol, dan mengalahkan Jayakatwang di Kediri,.
Ia kemudian menemukan kembali Gayatri dan para putri kerajaan lainnya yang sempat hilang atau ditawan.
Pernikahan Raden Wijaya & Pendirian Majapahit
Raden Wijaya menikahi keempat putri Kertanegara, termasuk Gayatri Rajapatni, agar mereka tidak dinikahi oleh musuh-musuh politiknya yang akan mengancam keselamatan Kerajaan Majapahit yang baru berdiri.
Tindakan ini , sekaligus untuk memperkuat legitimasinya sebagai penerus takhta Singhasari dan menjadi dasar berdirinya Kerajaan Majapahit oleh Dyah Wijaya (Raden Wijaya) sebagai raja pertamanya bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Bekas istri Ardharaja putra Jayakatwang (Dyah Tribhuwaneswari) dijadikan sebagai istri ketiga, sedangkan Rapatni (Gayatri) yang bungsu dijadikan sebagai istri keempat.
Sedangkan istri kelima adalah Dara Petak putri dari Srimat Mauliwarmadewa, Raja Dharmasraya Jambi-Sumatera, yang kelaj melahirkan: "Jayanagara" Raja Majahit ke-2
KESIMPULAN :
ARDHARAJA dan RADEN WIJAYA adalah sama-sama cucu dari MAHISA WONG ATELENG dengan istrinya yang bernama DEWI SUHITO putri dari Jayasabha bin Prabu Kertajaya , raja kediri (terakhir).

Komentar
Posting Komentar