Asal-usul nama "ANDI" di Sulawesi Selatan
"...Jejak Sejarah, Arti dan Makna "ANDI", serta Perubahan Gelar Kebangsawanan Bugis-Makassar: Dulu, Sekarang dan Nanti..."
Nama depan "Andi" sangat akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan Bugis-Makassar, dan Mandar. Namun, tidak semua orang tahu bahwa nama ANDI, hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu, sebagai gelar kebangsawanan yang memiliki makna sejarah panjang (history). Gelar Andi mencerminkan identitas sosial, status, prestise, wibawa hingga penghormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri asal usul, makna, dan perkembangan penggunaan nama "Andi" di Sulawesi Selatan.
Asal Usul nama "Andi"
Latar Belakang Penggunaan Gelar "Andi" untuk membedakan bangsawan terpelajar dan berpendidikan, untuk diangkat sebagai pejabat pemerintahan dan petugas administrasi di perusahaan-perusahaan. Penggunaan Nama depan "Andi" merupakan gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan, khususnya bagi yang terpelajar/terdidik.
Penggunaan nama "Andi" memiliki makna dalam, akar sejarah yang kuat, pertanda berasal dari keturunan bangsawan tinggi, serta memiliki peran sosial yang penting di masyarakat, sehari-hari dan untuk proses pernikahan (tata cara lamar-melamar, Mahar bagi pengantin Wanita, dan prosesi pernikahan).
Gelar ini dulunya menjadi penanda status bangsawan, namun kini telah mengalami pergeseran makna. Mari kita telusuri lebih jauh asal usul, fungsi, dan perkembangan penggunaan nama depan "Andi" dalam budaya Bugis-Makassar sebagai simbol keturunan bangsawan. Dalam Tradisi Bugis-Makassar, "ANDI" adalah sebuah Gelar yang digunakan oleh keturunan bangsawan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kerajaan atau "arung/Karaeng" (penguasa) di Sulawesi Selatan.
Hubungan Sistem Sosial - Adat
Penggunaan gelar Andi erat kaitannya dengan sistem sosial yang membedakan "status-derajat" bangsawan tinggi dan bangsawan biasa. Secara teori, bangsawan biasa tidak berhak atas nama depan "Andi". Dan meskipun ia bangsawan tinggi di daerahnya, namun sebaiknya berasal dari keturunan "La Patau Matanna Tikka" Raja Bone ke-16, dan Raja Soppeng ke-18, untuk tatanan yang lebih luas diseluruh Sulawesi Selatan.
Sekitar tahun 1930-an dibuatlah "Stamboom" hingga cera' dua bone (25%), ternyata rumpun keluarga bangsawan di Soppeng, kurang memenuhi persyaratan atas kriteria tersebut sehingga dibuatlah kesepakatan cera' tiga bone (12,5%). Ternyata hal inipun kurang lagi pesertanya di luar bone-soppeng, maka dibuat lagi kebijaksanaan 6%. Kenapa demikian? Sebab perhitungan itu berdasarkan "Ambe Mappabati Indo Mappatahang". Jika BACO dan BESSE adalah bersaudara kandung menikah dengan orang yang derajatnya sama (suami/istri), maka hasilnya berbeda.
Contoh misalnya:
Maka; 50 + 0= 50 dibagi 2 = 25% (ANDI)
Maka; Anaknya BESSE ikut ke Ayahnya (Ambe Mappabati) yakni: 0% (Tosama)
Kesimpulan:
Anak dari Andi Baso, masih bisa menyandang gelar Andi sebab, kadar/tingkat kebangsawanannya 25%, meskipun ibunya orang biasa (tosama) terserah dari mana saja asalnya, apakah dia Jawa, Sunda, Palembang dan lain-lain.
Hal ini berbeda dengan nasib Anak dari Andi Besse, statusnya sebagai orang biasa (tosama) meskipun mertua perempuannya adalah tante kandungnya sendiri (bangsawan tinggi), cuma karena mertua laki-lakinya orang biasa (tosama) padahal asli Bugis-Makassar, maka tetap saja anak status suami dari Andi Besse adalah Orang Biasa (0%), sehingga meskipun ia menikah dengan sepupu (anak tante) maka anak-anaknya (0%)
Oleh karena secara Adat Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi garis keturunan, (pengadereng / pengadekang) sehingga gelar "Andi" ini diwariskan turun-temurun sebagai bentuk kedudukan / status sosial di masyarakat Sulawesi Selatan yang diakui.
(Berdasarkan Asal Kata dan Filosofi)
"...Darimana kah, "ANDI" berasal? Apakah ini warisan kerajaan di Sulawesi Selatan, secara turun-temurun, seperti halnya gelar "RADEN" untuk bangsawan Pulau Jawa? ..."
Sejarawan menyebutkan bahwa kata Andi, berasal dari kata Yunani "Andreas atau Andrew" yang berarti jantan, berani, kuat, dan maskulin. Nama Andi juga ditemukan dalam bahasa Sansekerta, yang berarti murid/kader, adapula persepsi menurut bahasa Arab, namun ini kurang mendukung (meragukan). Dari sekian banyak sumber, saya sendiri (penulis) lebih cenderung ke bahasa Prancis, "Andier" yang berarti "tuan muda" atau "pangeran". Kronologinya: Para pedagang asing yang datang ke Makassar, bila melihat Putra Raja Gowa, yang bernama "Mappanyukki" mereka menyebutnya "Andier". Sehingga arti dan makna "Andi" adalah istilah yang merujuk pada "orang-orang Patut yang dimuliakan." Filosofinya adalah untuk penghargaan dan penghormatan kepada keturunan raja atau bangsawan yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi panutan, teladan yang baik bagi masyarakat luas. Kenapa Masyarakat Sulawesi Selatan "Memuliakan" Bangsawan? Karena para bangsawan banyak berjasa pada negeri ini, melawan para Penjajah, dan rela melepaskan kerajaannya, dan banyak berkorban harta demi bernaung di bawah Merah-Putih.
Narasumber: Arti nama "ANDI"
1. INCE NURDIN : (Mantan Guru STOVIA), mengatakan: Pemerintah Belanda ingin menjadikan Bugis - Makassar sebagai "Standen Stelsel di Zuid Celebes", Artinya ingin membuat sistem kelas ditengah masyarakat Sulawesi Selatan, seperti halnya yang dilakukan di Jawa.
2. PROF. MATTULADA : Professor pertama bidang Antropologi di Sulawesi Selatan (Dosen Unhas), mengatakan: "Digunakan sebagai sapaan kepada yang lebih muda namun ia patut dimuliakan". Nama depan Andi, baru ditemukan setelah tahun 1930-an
3. ANDI MATTALATTA : Pejuang dan Mantan Pangdam Hasanuddin, mengatakan: "Untuk menempuh pendidikan di sekolah STOVIA, harus melampirkan "Stamboom" tentang asal-usul (Bugis: "Assaleng", Makassar: "Kabattuang", yang berasal dari Garis keturunan "La Patau Matanna Tikka" serta Lembar kesetiaan kepada Pemerintah Hindia-Belanda, sebelum bersekolah.
Daftar nama Raja-raja Bugis-Makassar yang pertama kali, menggunakan nama "ANDI":
1. Andi Idjo Daeng Mattawang, Raja Gowa ke-35, yang memerintah (1956-1960)
2. Andi Kambo, Ratu Luwu ke-33, yang memerintah (1901-1935)
3. Andi Mappanyukki, Raja Bone ke-32, sekaligus bupati pertama kab. Bone.
4. Andi Wana, Raja Soppeng ke-35, yang memerintah, mulai tahun 1940-1957, sekaligus sebagai Bupati Soppeng yang Pertama.
5. Andi Mangkonna, Raja Wajo ke-45, yang memerintah (1933-1949)
Perubahan Makna "ANDI" di Era Modern
Sejatinya, Gelar Bangsawan "ANDI" disematkan pada keturunan dari "La Patau Matanna Tikka" atau dari Raja tertentu, sesuai kriteria dan persyaratan dari Dewan Adat, yang hanya bisa diturunkan sampai ke "Anak", selanjutnya bagi cucu, dan seterusnya, berpatokan kepada Keputusan Dewan Adat, yakni berasal dari Keturunan "La Patau Matanna Tikka, sebagaimana yang tertuang di dalam "Stamboom"
Di masa kini, fenomena yang terjadi, nama depan "Andi" tidak hanya dipakai oleh keturunan bangsawan, sesuai keputusan Dewan Adat terdahulu. Banyak orang tua (bapak-ibu) memberi nama Andi pada anaknya, "ketika Sukses diperantauan" sehingga dihormati oleh masyarakat sekitarnya diperantauan yang sama sekali tidak mengerti asal-usul, syarat dan kriteria untuk penggunaan Nama depan "Andi", di Sulawesi Selatan. Mereka menggunakan nama "ANDI" pada anak-anaknya meski tidak memiliki garis kebangsawanan yang terukur, sehingga maknanya menjadi lebih universal (umum). Meskipun maknanya bergeser, dari jaman kerajaan sebagai "Gelar" untuk Jabatan di kerajaan dan masa kini sebagai "$imbol" pertanda keturunan Bangsawan, keberadaan nama Andi tetap menjadi warisan budaya yang penting, menegaskan betapa kayanya tradisi Bugis-Makassar dalam menjaga identitasnya.
KESIMPULAN ;
GELAR ANDI sama sekali bukan Gelar Adat sebab baru resmi di gunakan tahun 1938, berdasarkan pada silsilah kerajaan besar di Sulawesi Selatan (LUWU-BONE-GOWA). Juga "bukan dari" Pemberian Belanda, cuma Belanda yang membantu mengatur tata tertib administrasi kependudukan, untuk mengetahui mana keluarga bangsawan tinggi, bangsawan menengah, dan keluarga bangsawan, yang tertuang didalam "Stamboom" (istilah belanda) yang akan dijadikan pedoman untuk mengikuti pendidikan di sekolah belanda, guna ditempatkan sebagai pejabat administratif di pemerintahan kolonial belanda.
==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Gelar ANDI di berikan olh Belanda kepada Raja/Keturunanx pada waktu terjadi Perdamaian antara Belanda dengan Kerajaan Bone setelah Bone kalah pada peperangan yg di istilahkan Rumpa'na Bone.
BalasHapusPada perdamaian tersebut Belanda dengan Bone saling mengangkat saudara. Bangsawan Bone sebagai saudara-muda, maka digelar: ANDI,
Belanda sebagai saudara-tua, maka digelar: DAENG.
Demikian Yg Sesungguhx!