RANGGALAWE KSATRIA TUBAN DI AWAL BERDIRI MAJAPAHIT
Ranggalawe Putra Adipati Sumenep
Nama Ranggalawe sering kali tenggelam di balik gemerlap kisah Raden Wijaya dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Padahal, sosok ksatria asal Tuban ini memiliki peran vital dalam sejarah Nusantara. Panglima perang yang gagah, simbol kesetiaan dan harga diri prajurit Jawa.
Antara Ketika Kesetiaan, Darah,
dan Politik Menguji Awal
Berdirinya Majapahit.
![]() |
| RANGGALAWE 'Kesatria Tuban" sang pengusir tentara mongolia (utusan Kaisar Kubilai Khan) dari tanah jawa. |
Dari pengusiran pasukan Mongol hingga konflik batin melawan kekuasaan yang ia bantu dirikan sendiri, kisah Ranggalawe adalah cermin dari pergulatan antara loyalitas dan keadilan di masa awal Majapahit.
1. Asal-Usul dan Keberanian Ranggalawe
Ranggalawe, atau dikenal juga dengan nama Lembu Ranggalawe, adalah putra Adipati Arya Wiraraja dari Madura, salah satu tokoh politik cerdas di balik strategi berdirinya Majapahit. Sejak muda, Ranggalawe dikenal sebagai prajurit tangguh yang berani dan memiliki kepekaan tinggi terhadap keadilan. Ia kemudian dipercaya menjadi panglima dalam pasukan Raden Wijaya, khususnya saat melawan kekuatan besar Mongol dari Dinasti Yuan.
2. Strategi Pengusiran Mongol: Siasat Wiraraja dan Keberanian Ranggalawe
Setelah kekalahan Kediri, Jenderal Shih Pi dari pasukan Mongol menuntut janji atas “putri-putri Jawa” yang dijanjikan Adipati Arya Wirataja sebagai simbol kemenangan. Namun dengan kecerdikan Arya Wiraraja, pasukan Mongol yang dipimpin Jenderal Kau Tsing (Gaoxing) justru dijebak di desa Majapahit. Atas permintaan Raden Wijaya dan Wiraraja, mereka datang tanpa senjata. Di saat itulah, Ranggalawe dan Mpu Sora melancarkan serangan kilat dari balik gerbang desa. Pasukan Mongol pun tercerai-berai dan kalah telak di Ujung Galuh (Surabaya) serta Kediri.
Kemenangan ini menjadi tonggak lahirnya Majapahit (1293 M) — kemenangan Jawa atas kekuatan asing, yang tak lepas dari peran ksatria Tuban tersebut, dialah "Ranggalawe".
3. Ranggalawe dan Bayangan Politik di Balik Tahta
Namun setelah Raden Wijaya naik tahta menjadi Raja Majapahit, bergelar Kertarajasa Jayawardhana, politik istana berubah menjadi arena intrik dan perebutan pengaruh. Ranggalawe yang menjunjung tinggi keadilan merasa kecewa terhadap ketidakadilan dalam pengangkatan pejabat tinggi kerajaan. Ia menganggap Mpu Sora dan Nambi lebih dihargai dibanding dirinya, padahal ia telah berjuang mati-matian untuk berdirinya kerajaan Majapahit.
Kekecewaan ini memuncak menjadi pemberontakan Ranggalawe di Tuban (1295 M), yang berakhir tragis. Sang ksatria gugur di tangan pasukan kerajaan yang dulu ia bela. Inilah Pemberontakan Pertama Majapahit.
4. Warisan Seorang Ksatria
Meski dianggap pemberontak oleh istana, namun rakyat mengenang Ranggalawe sebagai simbol keberanian dan kejujuran sebagai seorang prajurit patriot sejati. Kisahnya diabadikan dalam Kidung Ranggalawe dan berbagai babad Jawa sebagai pelajaran bahwa kesetiaan tanpa keadilan adalah pengorbanan yang sia-sia. Dalam banyak versi rakyat Tuban dan Madura, Ranggalawe tidak mati sia-sia — ia hidup dalam ingatan bangsa sebagai ksatria yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan, bahkan di hadapan tahta yang ia dirikan sendiri.



Komentar
Posting Komentar