DAFTAR PEJUANG TIONGHOA DI INDONESIA

PEJUANG THIONGHOA 

A. LAKSAMANA CHENG HO (1371–1433 M)

Pelaut Muslim Tiongkok yang, yang diangkat menjadi Panglima Perang Angkatan Laut (Laksamana) Tiongkok, yang telah Menghubungkan Peradaban Islam di Dunia termasuk Nusantara

A. Asal-usul Panglima Cheng Ho
Cheng Ho (Zheng He) lahir di Yunnan, Tiongkok pada tahun 1371 M dengan nama Ma He, dari keluarga Muslim Hui, keturunan Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar. Ia menjadi kasim istana setelah ditawan oleh Dinasti Ming dan kemudian dipercaya oleh Pangeran Zhu Di (Kaisar Yongle). Setelah berjasa dalam perang saudara, Ma He mendapat gelar Zheng He (Cheng Ho) dan diangkat menjadi Laksamana Agung.

B. Armada & Ekspedisi Besar (1405–1433)
Selama tiga dekade, Cheng Ho memimpin tujuh pelayaran besar dengan lebih dari 300 kapal dan 27.000 awak, menjadikan Tiongkok sebagai kekuatan maritim dunia.

Ekspedisi I (1405–1407 M): Menumpas perompak Chen Zuyi di Palembang.

Ekspedisi II & III (1407–1411 M): Mengunjungi India dan Sri Lanka, menaklukkan raja lokal yang menentang misi diplomatik.

Ekspedisi IV & V (1413–1419 M): Menjangkau Teluk Persia dan Afrika Timur, membawa jerapah “Qilin” sebagai simbol legitimasi Kaisar.

Ekspedisi VI & VII (1421–1433 M): Melanjutkan diplomasi ke Asia Tenggara dan Samudera Hindia; Cheng Ho wafat di laut dalam pelayaran terakhir.

C. Jejak Cheng Ho di Nusantara
Cheng Ho mendarat di Samudera Pasai (Aceh), Jawa, dan Malaka, membangun hubungan dagang dan diplomatik.

Di Aceh, ia menghadiahkan Lonceng Cakra Donya (1409 M).

Di Semarang, ia membangun pangkalan logistik yang kini menjadi Klenteng Sam Poo Kong.

Ia memperkuat komunitas Muslim Tionghoa pesisir, yang kelak berperan dalam penyebaran Islam di Jawa.
Beberapa keturunan awak kapalnya diyakini menetap di Lasem, Tuban, dan Jepara, menjadi bagian dari komunitas Tionghoa-Jawa.

d. Fakta dan Warisan Sejarah

Kapal “Baochuan” (kapal harta karun) panjangnya 120 meter, jauh lebih besar daripada kapal Columbus.

Ekspedisi Cheng Ho membawa astronom, dokter, penerjemah, dan imam Muslim, bukan pasukan penakluk.

Setelah Cheng Ho wafat, Dinasti Ming menghentikan ekspedisi laut dan membakar catatan pelayarannya, menandai berakhirnya era maritim Asia.

Jejak diplomasi dan akulturasi Cheng Ho menjadi simbol perdamaian antarbangsa, bukan penjajahan.

B. PEJUANG TIONGHOA DALAM SEJARAH INDONESIA

Dari Perlawanan Kolonial hingga Revolusi Kemerdekaan

a. Era Kolonial Awal – Perang Kuning (Abad ke-18)
Oei Ing Kiat (Tumenggung Widyaningrat), saudagar Lasem keturunan rombongan Cheng Ho, memimpin perlawanan melawan VOC setelah tragedi Geger Pecinan Batavia (1740 M). Ia menampung pelarian Tionghoa dan menggalang kekuatan bersama rakyat Jawa serta santri.
Perang ini dikenal sebagai Perang Kuning (1740–1750 M) — simbol solidaritas etnis dan agama.
Oei Ing Kiat gugur pada 1750 M, dikenang melalui Klenteng Gie Yong Bio di Lasem.

b. Era Revolusi & Kemerdekaan (Abad ke-20)

1Tokoh Militer dan Penyumbang Senjata

John Lie (Daniel Dharma): Laksamana Muda, “Hantu Selat Malaka”, menyelundupkan senjata untuk republik, Pahlawan Nasional (2009).

Ong Tjong Bing: Dokter militer di Pertempuran 10 November 1945.

Tjia Giok Thwam: Anggota Pasukan 19 Corps Mahasiswa Djawa Timur.

Djoni Matius: Pejuang komando dalam Operasi Dwikora.

Tokoh Politik dan Konstitusi

Liem Koen Hian: Pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI) dan anggota BPUPKI; menggagas gagasan “Menjadi Indonesier sejati”.

Yap Tjwan Bing: Anggota PPKI, satu-satunya wakil Tionghoa.

Sie Kong Liong: Pemilik rumah bersejarah Kramat 106 (Sumpah Pemuda, 1928).

Lie Eng Hok: Wartawan dan informan perjuangan bawah tanah.

2Pejuang Sipil dan Perempuan

Djiaw Kie Siong: Pemilik rumah Rengasdengklok tempat Soekarno-Hatta diamankan.

Ong Hok Djoe: Pahlawan logistik dari Ciamis.

The Sin Nio & Ho Wan Moy: Dua pejuang perempuan Tionghoa di bidang medis dan pertempuran.

c. Nilai Historis dan Makna Sosial Perjuangan para tokoh Tionghoa memperlihatkan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dari keberagaman, bukan keseragaman.
Mereka berjuang sebagai bagian dari rakyat Indonesia — melawan kolonialisme, memperjuangkan keadilan, dan mempertahankan kemerdekaan.

Dari Laksamana Cheng Ho hingga John Lie, inilah kisah pelaut Muslim dan pejuang Tionghoa yang membentuk sejarah maritim dan kemerdekaan Indonesia, sebagai kerangka berpikir dalam merajut persaudaraan lintas etnis dan keagamaan di Nusantara.”

PESAN sebagai PENUTUP

Warisan Cheng Ho dan para pejuang Tionghoa menunjukkan bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh tangan-tangan dari berbagai latar belakang, yang bersatu padu dengan tujuan yang sama, yakni membangun bangsa tanpa sekat etnis, ras, suku, golongan atau agama.

Dari lautan Samudera Hindia hingga medan pertempuran perang Surabaya, dari lonceng Cakra Donya di Aceh hingga rumah Sumpah Pemuda di Jakarta adalah jejak-jejak mereka menegaskan bahwa semangat Indonesia sejati adalah keberagaman untuk berjuang bersama, bagi sesama bangsa Indonesia. 

Bahkan kalau kita telusuri lebih jauh lagi, secara jujur dengan cara yang benar, banyak p​edagang dari thionghoa yang datang berdagang ke Nusantara, lalu menikah dengan penduduk pribumi, peranakan tersebut menikah lagi dengan pribumi (kawin mawin) lalu beranak pinak hingga puluhan generasi sampai sekarang, Mereka telah datang sejak ratusan hingga ribuan tahun di sini, contoh: Orang dari Etnis Thionghoa lebih dulu menempati Pulau Bali bersama Bali-Aga, daripada Orang Majapahit-Hindu yang datang dari Jawa (menyingkir), pada pendatang Jawa ini yang kita kenal namanya: Putu, Wayan, Made, Komang, Nyoman, Ketut, dan lain-lain.

Jika kita mau jujur, Orang Thionghoa lebih dulu datang ke Bali (sesuai artefak jembrana) dari pada pelarian Hindu-Majapahit dari Pulau Jawa. 

Pertanyaan: Siapakah penduduk Bali Asli yang sebenarnya:
1. Apakah Baliaga, Tionghoa atau Pelarian Majapahit tersebut dari Jawa?
2. Kenapa para pelarian Majapahit, lebih senang disebut Orang Bali, padahal asal-usul mereka dari para bangsawan Jawa Majapahit?

Komentar

Postingan Populer