Ekspedisi Pamalayu di Dharmasraya - Jambi

 EKSPEDISI SINGASARI-MAJAPAHIT

​Menelusuri jejak Sejarah Nusantara kaya akan interaksi dinamis antara kerajaan-kerajaan besar. Salah satu babak paling menarik adalah ekspedisi militer Kerajaan Singasari ke Pamalayu, sebuah peristiwa yang tidak hanya membentuk lanskap politik Sumatera tetapi juga meninggalkan jejak budaya dan kekuasaan yang mendalam. Artikel ini akan mengupas tuntas narasi tersebut, dari sudut pandang lokal hingga dampak ekspansi Majapahit, menghadirkan sudut pandang segar yang relevan dengan sejarah Indonesia, kerajaan kuno Nusantara, dan jejak Singasari di Sumatera.

​A. Misteri Jaka Dolog dan Ekspedisi Pamalayu

​Ketika membahas era Singasari dan ekspansinya, nama Kertanegara seringkali muncul sebagai figur sentral. Namun, menurut IR. Parlindungan, di kalangan masyarakat Batak Karo/Simalungun, justru nama Jaka Dolog lah yang lebih dikenal sebagai inisiator ekspedisi penting ke Pamalayu. Namun Secara historis, Arca Jaka Dolog sendiri adalah perwujudan Raja Kertanegara.

​Jaka Dolog inilah yang mengutus ekspedisi militer ke Pamalayu. Misi ini yang bermula pada tahun 1275, dipimpin oleh seorang panglima bernama Indrawarman, yang didampingi oleh Mahamenteri Adwayabrahman—sosok penting yang kelak menjadi ayah dari Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

​Ekspedisi ini bukan sekadar penjelajahan wilayah. Martuaraja, seorang sejarawan, mengungkapkan fakta-fakta kunci mengenai operasi militer yang mengubah peta kekuasaan di Sumatera:

​Motif Lada: Pada tahun 1275, tentara Singasari dikirim ke berbagai wilayah Melayu. Tujuan utamanya adalah merebut Kerajaan Dharmasraya/Jambi, sebuah langkah strategis untuk menguasai hasil lada yang melimpah di Dareh-Minangkabau. Lada, komoditas berharga pada masanya, menjadi daya tarik utama bagi kerajaan-kerajaan besar untuk memperluas dominasinya.

​Pengamanan Komoditas: Pengamanan jalur perdagangan lada ini sangat krusial. Untuk mencegah dominasi asing (disebutkan sebagai Dinasti Fatimiah), sebagian tentara Singasari ditempatkan di Muara Sungai Asahan. Penempatan pasukan ini menunjukkan betapa strategisnya lokasi tersebut dalam menjaga rantai pasok komoditas penting.

​B. Sikap Pemberontakan Indrawarman dan Berdirinya Kerajaan Silo

​Dinamika politik berubah drastis pasca-keruntuhan Singasari dan berdirinya Majapahit. Selama Singasari dilanda perang saudara dengan Kediri, banyak kerajaan bawahan yang memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan diri. Setelah Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, menantu raja terakhir Singasari, beberapa bekas kepercayaan Singasari enggan mengakui kedaulatan Majapahit.

​Pada tahun 1293, Panglima Indrawarman menunjukkan sikap perlawanan, setelah lama tinggal di Sumatera, dengan menolak tunduk kepada Majapahit yang baru saja berdiri di Jawa. Keputusan ini mengantarkan Indrawarman pada langkah monumental, yakni mendirikan Kerajaan Silo di Pedalaman Simalungun. Pendirian kerajaan ini merupakan upaya nyata untuk menciptakan basis kekuatan baru dan menghindari ancaman serta tekanan dari Majapahit yang tengah mengkonsolidasikan kekuasaannya.

​C. Penyatuan Nusantara: Majapahit Menundukkan Kerajaan Silo

​Selama empat puluh tahun, tepatnya dari 1294 hingga 1336, Kerajaan Majapahit, sebagai penerus Singasari, berjuang keras untuk merebut kembali kerajaan-kerajaan bawahan dan memperluas wilayah kekuasaannya. Era ini mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada (antara tahun 1331-1364), yang visinya untuk menyatukan Nusantara terangkum dalam Sumpah Palapa.

​Takdir Kerajaan Silo berubah di bawah ambisi Gajah Mada. Tentara Majapahit mendirikan Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Langkah ini diprakarsai dengan diutusnya Adityawarman ke Sumatera pada tahun 1339 untuk mendukung agenda Sumpah Palapa. Pendirian Pagaruyung sebagai misi Majapahit secara ironis berujung pada pemusnahan Kerajaan Silo yang didirikan oleh mantan panglima Singasari Indrawarman yang menolak tunduk. Ini menunjukkan betapa kuatnya determinasi Majapahit dalam menyatukan Nusantara dan menghapus sisa-sisa penentangan dari loyalis Singasari di Sumatera.

​D. Kekuatan dan Jangkauan Majapahit di Sumatera

​Kekuatan dan jangkauan Majapahit di Sumatera didokumentasikan dalam Kakawin Nagarakretagama. Dalam pupuh 13/1, secara gamblang disebutkan daerah-daerah tundukan di Sumatera, termasuk: Aru/Barumun, Kuntu/Kampar, Jambi, Palembang, Toba, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Panai, Kampai Haru atau Mandailing, Tumihang, Perlak, Samudera, Lamuri, Batan, Lampung, dan Barus.

​Daftar panjang ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Majapahit dan bagaimana kerajaan ini berhasil menancapkan kekuasaannya di berbagai penjuru Sumatera, menciptakan jaringan politik dan ekonomi yang kompleks. Kisah ekspedisi Pamalayu dan perkembangannya hingga era Majapahit adalah cermin dari ambisi, strategi politik, dan keteguhan para pemimpin dalam membentuk Nusantara. Dari Jaka Dolog hingga Gajah Mada, setiap tokoh memainkan peran krusial dalam menorehkan sejarah yang patut kita pelajari dan pahami lebih dalam.

Komentar

Postingan Populer