Invasi Mongol ke Jawa: Siasat Raden Wijaya Melawan Khubilai Khan dan Kelahiran Majapahit yang Penuh Gejolak-Politik

PERANG MELAWAN PASUKAN MONGOL CINA YANG KEJAM

​Sejarah Nusantara mencatat, sebuah babak baru perjuangan dalam mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsa (jawa) dari tekanan/invasi bangsa Asing (Cina-Mongol), ketika Kerajaan Singhasari (Kertanegara) dan kemudian Majapahit (Raden Wijaya) berhadapan dengan kekuatan ekspansi dari Kekaisaran Mongol pimpinan Khubilai Khan. Invasi tentara tartar dari mongol ini terkenal lihai bertarung dan sangat kejam membunuh lawan-lawannya. Pada tahun 1293 ini tidak hanya menjadi ujian bagi kedaulatan bagi tanah Jawa, tetapi juga melahirkan taktik cerdik yang mengubah arah sejarah, sehingga menjadi pondasi berdirinya salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.

Ancaman dari Timur: Penghinaan Kertanegara dan Armada Yuan

​Ambisi Khubilai Khan, Kaisar Dinasti Yuan (Mongol), untuk menguasai jalur perdagangan maritim Asia mengarahkannya untuk menuntut pengakuan dari negeri-negeri di Asia Tenggara. Jawa, melalui Kerajaan Singhasari, menjadi target utama, sebab telah menaklukkan Kerajaan Dharmasraya, dan menguasai perdagangan di muara sungai perlak, samudera pasai hingga selat Malaka. Raja yang memerintah di Singhasari pada masa kejayaannya bernama Kertanegara, keturunan dari Anusapati putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung

Penolakan Tegas Prabu Kertanegara (Raja Singhasari) Terhadap Utusan Mongol

​Sejak tahun 1280, Khubilai Khan berulang kali mengirim utusan. Tuntutan untuk tunduk ditolak mentah-mentah oleh Raja Kertanegara. Penolakan ini memuncak pada tahun 1289 ketika utusan Mongol, dibawah pimpinan, Meng Qi, justru dipermalukan dengan dirusak wajahnya, kemudian dipotong telinganya. (Rujukan: Yuan Shi / Sejarah Dinasti Yuan). Slamet Muljana mencatat, "Raja Kertanegara yang sadar akan keagungannya dan kekuasannya tidak sudi menyerah." Tindakan berani ini menjadi pemicu kemarahan besar Khubilai Khan (Kaisar Mongol) Sang Penakluk Dunia.

Ekspedisi Militer Mongol: Armada Perkasa Dikerahkan Menuju Jawa

​Sebagai respons balik, atas penghinaan Raja Singhasari terhadap utusan kaisar Mongol, maka Khubilai Khan sebagai Kaisar Ahli Strategi perang, yang mewarisi kakeknya "Jenghis Khan" memberangkatkan ekspedisi militer secara besar-besaran pada tahun 1292. Kekuatan ini diperkirakan melibatkan 20.000 hingga 30.000 prajurit elit pilihan dan terlatih dan 500 hingga 1.000 kapal dengan perbekalan setahun. 

Ekspedisi ini dipimpin oleh tiga panglima, sekaligus, yakni: Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing

Catatan Sejarah Dinasti Yuan secara eksplisit menyebutkan: "Invasi ke Jawa sebagai operasi militer tunggal dan signifikan bagi Dinasti Yuan.

Siasat Cerdik Raden Wijaya: Aliansi Politik Berbalik Jebakan

​Ketika pasukan Mongol tiba di Jawa, pada 1 Maret 1293, ternyata Kerajaan Singhasari telah runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri (1292). Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang melarikan diri, melihat kedatangan Mongol sebagai peluang balas dendam.

Aliansi Palsu: Memanfaatkan Musuh untuk Menghancurkan Musuh (H3)

​Raden Wijaya menyambut Mongol dengan berpura-pura tunduk dan berjanji membayar upeti, tetapi dengan satu syarat: Mongol harus membantunya mengalahkan Jayakatwang terlebih dahulu. Raden Wijaya berhasil meyakinkan para panglima Mongol bahwa Jayakatwang adalah musuh bersama karena ia telah membunuh raja yang menghina Kaisar Mongol (Kertanegara).

Kuda Sumba NTT dan Kemenangan Atas Jayakatwang 

​Aliansi tak terduga antara pasukan Raden Wijaya dan Mongol, didukung oleh logistik dan pasukan kavaleri berkuda tangguh dari Pulau Sumba (disediakan oleh Ranggalawe), berhasil mengepung dan mengalahkan Jayakatwang pada 20 Maret 1293. Lebih dari 5.000 pasukan Jayakatwang tewas, dan ia menyerah. Kemenangan ini menyingkirkan Jayakatwang dan membersihkan jalan bagi Raden Wijaya untuk mendirikan Majapahit.

Pengusiran Mongol: Strategi 'Pesta Pora' dan Iklim Tropis 

​Setelah kemenangan, Raden Wijaya melancarkan tahap kedua siasatnya. Ia meminta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti, dikawal oleh dua perwira Mongol dan 200 prajurit tanpa senjata lengkap. Ini adalah jebakan.

​Pasukan Majapahit segera membunuh para pengawal dan melancarkan serangan mendadak ke markas utama Mongol di Daha dan Canggu. Serangan ini terjadi saat pasukan Mongol tengah berpesta dan lengah akibat mabuk arak lokal. (Rujukan: Kidung Panji Wijayakrama).

Faktor-Faktor Kekalahan Fatal 

  1. Kelicikan Raden Wijaya: Serangan tiba-tiba di tengah kondisi lengah.
  2. Kelelahan dan Iklim: Tentara Mongol tidak tahan dengan iklim tropis Asia Tenggara yang terik dan asing. Slamet Muljana dengan tepat menyatakan, "Pada hakikatnya terik matahari daerah khatulistiwa yang mendorong Raden Wijaya mengusir tentara Tartar dari Jawa."
  3. Medan Perang: Pasukan kavaleri Mongol kesulitan bergerak di medan hutan dan rawa Jawa.

​Kekalahan ini sangat besar bagi Mongol. Mereka kehilangan sekitar 3.000 prajurit, dan para panglima Shi Bi serta Ike Mese dihukum mati setibanya di Tiongkok. Sisa pasukan Mongol melarikan diri pada 24 April 1293. Peristiwa ini kemudian dijadikan penanda Hari Jadi Kota Surabaya (31 Mei), yang merupakan lokasi pertempuran penentuan di muara Kali Mas.

Majapahit Berdiri dan Intrik Para Pendirinya

​Kemenangan strategis atas Mongol menempatkan Raden Wijaya sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit (1293 M), bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Pilar Kekuatan Awal Majapahit (H3)

  • Raden Wijaya: Sang pendiri, arsitek strategi aliansi palsu.
  • Arya Wiraraja: Penasihat ahli yang memberikan perlindungan dan menyarankan siasat licik. Sebagai imbalan, ia mendapatkan kekuasaan di Majapahit Timur (Lamajang Tigang Juru)—sebuah pembagian wilayah yang kelak menjadi sumber konflik Perang Paregreg.
  • Nambi: Mahapatih (Patih Amangkhubumi) pertama Majapahit, dikenal dengan kecerdasan administrasi.
  • Ranggalawe: Perwira pemberani, pemasok kuda Sumba, dan Adipati Tuban.
  • Mpu Sora (Lembu Sora): Pengikut paling setia, dikenal karena duel heroiknya melawan Kebo Mundarang.

Tragedi Para Pahlawan: Peran Mahapati sebagai Dalang Fitnah

​Ironisnya, para perintis berdirinya Majapahit ini tidak gugur di tangan musuh, melainkan oleh hasutan HALAYUDA (Sengkuni-Majapahit) berupa fitnah, adu domba diantara para perintis berdirinya Kerajaan Majapahit (intrik internal) yang dicetuskan oleh seorang pejabat licik bernama Halayuda terutamaa pada masa pemerintahan Jayanegara (putra Raden Wijaya) yang masih muda belia (15 tahun) yang berambisi menjadi patih, melakukan adu domba dan fitnah yang berujung tragis:

  1. Ranggalawe tewas pada tahun 1295 M karena memberontak, dipicu fitnah Mahapati.
  2. Lembu Sora tewas dikeroyok di istana pada tahun 1300 M, setelah difitnah akan memberontak.
  3. Nambi tewas bersama keluarganya pada tahun 1316 M di Lamajang setelah difitnah oleh Mahapati bahwa ia berencana memisahkan diri dari Majapahit.

​Kelicikan Mahapati Halayuda, yang digambarkan seperti Sengkuni, akhirnya terbongkar. Ia pun sendiri kena hukum karma, sehingga dihukum mati pada tahun 1319 dengan cara yang sadis: "cineleng-celeng" (dicincang seperti babi hutan), setelah pemberontakan Ra Kuti ditumpas oleh seorang perwira Bhayangkara yang kelak menjadi Mahapatih terbesar: Gajah Mada. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa pondasi Majapahit diletakkan di atas kecerdasan politik dan ditandai oleh konflik yang berdarah.

Komentar

Postingan Populer