KARAENG GALESONG: Putra Sultan Hasanuddin Raja Gowa, Sang Penakluk Mataram

MANINDORI Karaeng Tojeng

Terkenal dengan Nama "Karaeng Galesong". Mempunyai Nama Asli "MANINDORI". 

Tahukah Anda tentang Arti "Karaeng"?

Karaeng adalah gelar bagi yang menduduki wilayah kerajaan di lingkup Kerajaan Gowa-Tallo. Contoh misalnya: Karaeng Galesong, berarti seorang penguasab wilayah (Raja bawahan) di lingkup Kerajaan Besar Gowa-Tallo. Sementara kerajaan Gowa Tallo, bisa dikatakan sebagai  "Kerajaan Kembar'. Sebab yang siapapun yang menduduki sebagai Raja Tallo adalah keluarga dekat dari Raja Gowa. Bahkan Raja Tallo bisa juga menduduki sebagai Raja Gowa.

Jadi, penyematan gelar "Karaeng" berada di belakang nama asli, tetapi juga, di depan nama wilayah, contoh lain misalnya:

- Mariama Karaeng Pattukangang
(Berarti Mariama, Raja di Pattukangang
- La Rumanga Karaeng Barangpatola 
(Berarti La Rumanga, Raja di Barangpatola)
- Rugaiyyah Karaeng Cikoang 
(Berarti Rugaiyyah, Raja di Cikoang 
- Manindori, Karaeng Galesong
(=Manindori, Raja di Galesong - Takalar)

Penggunaan gelar "Karaeng" lebih menunjukkan pada suatu jabatan Adat di Kerajaan Gowa - Tallo. Hal ini berlaku kepada laki-laki ataupun perempuan tanpa memandang jenis kelamin (gender).
Beda halnya dengan penggunaan "Daeng" lebih menunjukkan pada status sosial (derajat kebangsawan, ataupun Gelar Penghormatan) bukan berarti dia adalah Raja (Penguasa wilayah). Gelar "Daeng" bisa diberikan kepada seseorang karena jasa dan pengabdiannya, sesuai pertimbangan Dewan Adat. Namun tidak bisa diwariskan kepada anak-cucu (keturunannya). 
Gelar Daeng pun bisa diberikan kepada laki-laki dan Perempuan, tanpa memandang jenis kelamin (gender). 
MANINDORI Kare Tojeng, Karaeng Galesong berarti ia sebagai Raja di daerah Galesong (Takalar). Pada waktu terjadi Perang Gowa - VOC yang berlangsung bertahun-tahun sehingga melelahkan kedua belah pihak, dan sangat prihatin terjadi korban jiwa lebih yang banyak, maka disepakatilah Perjanjian Bongaya (1667) namun dinilai merugikan Gowa, sehingga banyak bangsawan dan prajurit Makassar yang tidak mau tunduk pada VOC. Mereka memilih melanjutkan perlawanan ke luar Gowa Tallo, misalnya menantu Sultan Hasanuddin (La Tenri Lai To Sengngeng Raja Wajo ke-23) lebih memilih melanjutkan perlawanan, yang memilih daerah Tosora (Wajo) sebagai pusat pertahanan, dan begitupula Mappaossong sebagai Pengganti Sultan Hasanuddin, menduduki Tahkta Kerajaan Gowa ke-18, bersama Saudara kandungnya Karaeng Galesong, "memilih tetap bertempur" melawan VOC di dalam dan diluar Sulawesi. Akhirnya Mappaossong dikebumikan di Jakarta. 
Demikian pula Karaeng Galesong, selama 4 (empat) tahun pasca Perjanjian Bongayya, ia keluar Sulawesi melanjutkan perlawanan, sehingga Karaeng Galesong menjadi salah satu pemimpin terpenting dari diaspora pejuang di Banten, Batavia, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur dan Madura. Perlawanan Tiada Henti, hingga titik darah penghabisan. 

A. Persekutuan Tiga Serangkai (Trio) Melawan Amangkurat I

Karaeng Galesong menjadi katalisator bagi Pemberontakan Trunojoyo, yang berujung pada keruntuhan sementara kekuasaan Mataram. 

Trio Penyerang Mataram: Aliansi utama perlawanan di Jawa Timur terdiri dari:

​--Pangeran Trunojoyo (Pemimpin utama pemberontakan dari Madura).

​--Karaeng Galesong (Memimpin pasukan inti dari Makassar, Bugis, dan Melayu).

​--Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II (Raja Blambangan).

​Target Utama, adalah Perlawanan ini tidak hanya ditujukan kepada VOC, tetapi juga kepada Sri Susuhunan Amangkurat I dari Kasultanan Mataram, yang dianggap telah lemah dan terlalu bergantung pada Belanda. Para pemberontak ini, yang di pimpin oleh Tiga Serangkai, bertekad menumbangkan Amangkurat I yang dianggap tirani.

A. Pasukan Elit Makassar dan Kejatuhan Ibu Kota Mataram

​Pasukan Makassar yang dibawa Karaeng Galesong memiliki reputasi sebagai prajurit laut yang tangguh dan ahli dalam pertempuran darat.

​Pukulan Telak 1677: Pada pertengahan tahun 1677, pasukan gabungan Trunojoyo dan Karaeng Galesong berhasil melancarkan serangan besar-besaran dan merebut Karta (Plered), yang merupakan ibu kota Mataram saat itu.

​Pelarian Amangkurat I: Serangan ini sangat mengejutkan dan memaksa Amangkurat I melarikan diri dari istana Mataram. Ia kemudian meninggal dalam pelariannya di Tegalwangi. Kejatuhan ibu kota ini menjadi salah satu peristiwa paling memalukan bagi Mataram dan menjadi puncak kejayaan pemberontakan.

​Penjarahan Pusaka: Pasukan Makassar dan Madura berhasil menguasai istana dan menjarah banyak harta dan pusaka kerajaan Mataram. Penjarahan pusaka inilah yang sering disebut sebagai salah satu faktor yang sangat melemahkan wibawa Mataram. 

B. Aksi Perlawanan Karaeng Galesong.

Ia memimpin pasukannya berlayar ke Banten untuk membantu Sultan Ageng Tirtayasa, Raja Banten, dalam melawan VOC. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur dan Jawa Tengah atas permintaan Raden Kanjoran (mertua Pangeran Trunojoyo), untuk mendukung perjuangan rakyat Madura melawan VOC.

Maka terjadilah pertemuan "​Trio Pejuang" atas Kedatangan Karaeng Galesong disambut oleh Panembahan Maduretno Pangeran Trunojoyo (Sampang, Madura) dan Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II (Blambangan). Ketiganya (Trio) membentuk aliansi kuat dan masing-masing memimpin perlawanan terhadap Kerajaan Mataram yang bersekutu dengan Belanda (VOC) sekitar tahun 1676–1679. Hubungan Galesong dan Trunojoyo semakin erat. Kemudian, Karaeng Galesong menikah dengan putri Trunojoyo, bernama Kanjeng Suratna, dan melahirkan anak bernama Soleman Daeng Mannaba.

C. Akhir Perjuangan di Pulau Jawa

​Meskipun berhasil menaklukkan ibu kota Mataram, nasib Karaeng Galesong dan Trunojoyo akhirnya berbeda karena Mataram meminta bantuan penuh dari VOC. Sehingga terjadi "Konflik Internal": Setelah kemenangan besar, terjadilah perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo, sebagian besar terkait strategi bagaimana perlawanan selanjutnya.

​Pengejaran oleh  VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman (yang juga memimpin penaklukan Gowa) kemudian berbalik membantu putra Amangkurat I, yaitu Amangkurat II.

D. Wafatnya Karaeng Galesong

Karaeng Galesong, yang terus melanjutkan perjuangan, akhirnya wafat di Malang, Jawa Timur, sekitar tahun 1679. Makamnya di daerah Ngantang, Malang, sehingga menjadi simbol pengorbanan pejuang Makassar yang berjihad hingga ke Pulau Jawa. Dari pernikannya dengan Kanjeng Suratna putri Pangeran Trunojoyo, beliau meninggalkan 1 (satu) orang keturunan bernama:
     "SOLEMAN DAENG MANNABA"
Inilah menjadi simpul kekeluargaan Antara Makassar - Madura. Dari sini pulalah beberapa mewarisi kepahlawan pendahulunya, misalnya Dr. Wahidin Soedirohusudo & KRT Radjiman. 
Pada masa kemerdekaan keturunannya menjadi pengusaha papan atas dan menjadi musisi di Kantata Taqwa bersama Iwan Fals.

E. Asal Usul Karaeng Galesong dan Keluarganya di Sulawesi.

Karaeng Galesong, sebagai salah satu putra terbaik​ dari Pahlawan Nasional dari Gowa: Sultan Hasanuddin, yang bergelar Raja Gowa ke-16, memiliki nama asli Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia yang gigih melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan dijuluki "Ayam Jantan dari Timur" oleh Belanda. 


​Paduka Yang Mulia Sultan Hasanuddin memiliki beberapa keturunan, di antaranya melalui pernikahan dengan istrinya:

1. Talele Puanna Petta Daeng Nisali,

Melahirkan: 

---MAPPADULUNG Raja Gowa ke-19, memiliki Putri, bernama; Mariama Karaeng Pattukangang, Petta Bau Bone), putri dari Raja Bima ke-2 (Sultan Abdul Khair Sirajuddin). Selanjutnya Mariama Karaeng Pattukangan,, Putri Mappadulung Raja Gowa ke-19, yang kemudian menjadi permaisuri dari La Patau Matanna Tikka (Raja Bone ke-16, Ranreng Tuwa Wajo ke-17, Raja Soppeng ke-18). 

---FATIMAH DAENG TAKONTU (Laskar Perempuan) yang dijuluki Garuda Betina dari Timur, berangkat bersama-sama pangeran dan bangsawan Gowa, serta ulama besar "Syech Yusuf Almakassary" ke Tanah Jawa (Banten-Batavia) untuk membantu kesultanan Banten melawan VOC

2. Majannang Lo'mo Tobo Karaeng Bainea:

​Melahirkan:

---. ​MAPPAOSSONG Daeng Mangewai Karaeng Bisei, Raja Gowa ke-18, yang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta-Selatan.

---. RUGAIYAH: Permaisuri La Tenri Lai To Sengngeng (Raja Wajo ke-23) salah satu menantu dari Paduka Yang Mulia Sultan Hasanuddin, yang menolak perjanjian Bongayya dan memilih bertempur habis-habisan melawan VOC yang dibantu oleh Arung Palakka, sehingga mengakibatkan hancurnya Tosora akibat ledakan gudang senjata. Dari pernikahannya,     melahirkan Bau Cella. Bau Cella diperistri oleh La Settiaraja (Raja Luwu ke-18 dan ke-20), dan melahirkan putri bernama: We Sundari Datu Baringeng (istri ke-3) dari La Patau Matanna Tikka (Raja Bone ke-16, Datu Soppeng ke-18, Ranreng Tuwa Wajo ke-17). 

---. ​MANINDORI Kare Tojeng (Dikenal sebagai Karaeng Galesong).

​Peran Heroik Karaeng Galesong, tercatat dalam sejarah Melawan VOC di Tanah Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur dan Madura). Beliau adalah salah satu keturunan Sultan Hasanuddin, yang sangat gigih, gagah berani melawan VOC. Karaeng Galesong (Manindori Kare Tojeng) putra Sultan Hasanuddin adalah tokoh penting dalam perjuangan melawan penjajah di luar Sulawesi, terutama di Jawa.

​Jejak Keturunan Sultan Hasanuddin dalam Pergerakan Nasional Indonesia, melalui Garis keturunan Karaeng Galesong berlanjut hingga melahirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

F. Silsilah Keturunan Soleman Daeng Mannaba

​Soleman Daeng Mannaba => Kyai Dadu => Kyai Prasuto (Soediro Leksono) => Kyai Mertodiono => Soeto Leksono.

​Keturunan Soeto Leksono yang berkontribusi pada Pergerakan Nasional, yaitu melalui:

--​ARYO SUDIRO: Ayah dari Dr. Wahidin Soedirohusodo. Beliau adalah seorang dokter, pejuang kemerdekaan, dan salah satu penggagas lahirnya organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo.

--​Nyi SOETO DRONO: Ibu dari KRT Radjiman Wedyodiningrat. Beliau adalah Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan Pembukaan UUD 1945.

Catatan Penting:

1. Hanya beberapa Nama Istri dan Keturunan Sultan Hasanuddin yang ditampilkan disini, supaya tidak bias pembahasan tentang Karaeng Galesong

2. Peran Karaeng Galesong di Jawa bukan hanya melawan VOC, tetapi juga memimpin kekuatan militer yang sangat efektif sehingga berhasil menumbangkan tahta Raja Mataram Amangkurat I dan merebut istana Mataram, sebuah prestasi militer yang luar biasa di luar tanah kelahirannya (Luar Sulawesi) 

3. Nama Dr. Wahidin Soedirohusodo, keturunan dari pahlawan nasional Sultan Hasanuddin, kini diabadikan pada sebuah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Makassar, Sulawesi Selatan, tempat kelahiran leluhurnya. 

4. Mariama sebagai Cucu Sultan Hasanuddin, sedangkan We Sundari sebagai Cicit dari Sultan Hasanuddin. Baik Mariama maupun We Sundari adalah istri dari La Patau Matanna Tikka Raja Bone-16, Raja Soppeng ke-18, Ranreng Tuwa ke-17

Komentar

Postingan Populer