KARAENG GALESONG: Putra Sultan Hasanuddin Raja Gowa, Sang Penakluk Mataram
MANINDORI Karaeng Tojeng
Terkenal dengan Nama "Karaeng Galesong". Mempunyai Nama Asli "MANINDORI".
Tahukah Anda tentang Arti "Karaeng"?
Karaeng adalah gelar bagi yang menduduki wilayah kerajaan di lingkup Kerajaan Gowa-Tallo. Contoh misalnya: Karaeng Galesong, berarti seorang penguasab wilayah (Raja bawahan) di lingkup Kerajaan Besar Gowa-Tallo. Sementara kerajaan Gowa Tallo, bisa dikatakan sebagai "Kerajaan Kembar'. Sebab yang siapapun yang menduduki sebagai Raja Tallo adalah keluarga dekat dari Raja Gowa. Bahkan Raja Tallo bisa juga menduduki sebagai Raja Gowa.
Jadi, penyematan gelar "Karaeng" berada di belakang nama asli, tetapi juga, di depan nama wilayah, contoh lain misalnya:
(Berarti Mariama, Raja di Pattukangang
- La Rumanga Karaeng Barangpatola
(Berarti La Rumanga, Raja di Barangpatola)
- Rugaiyyah Karaeng Cikoang
(Berarti Rugaiyyah, Raja di Cikoang
A. Persekutuan Tiga Serangkai (Trio) Melawan Amangkurat I
Karaeng Galesong menjadi katalisator bagi Pemberontakan Trunojoyo, yang berujung pada keruntuhan sementara kekuasaan Mataram.
Trio Penyerang Mataram: Aliansi utama perlawanan di Jawa Timur terdiri dari:
--Pangeran Trunojoyo (Pemimpin utama pemberontakan dari Madura).
--Karaeng Galesong (Memimpin pasukan inti dari Makassar, Bugis, dan Melayu).
--Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II (Raja Blambangan).
Target Utama, adalah Perlawanan ini tidak hanya ditujukan kepada VOC, tetapi juga kepada Sri Susuhunan Amangkurat I dari Kasultanan Mataram, yang dianggap telah lemah dan terlalu bergantung pada Belanda. Para pemberontak ini, yang di pimpin oleh Tiga Serangkai, bertekad menumbangkan Amangkurat I yang dianggap tirani.
A. Pasukan Elit Makassar dan Kejatuhan Ibu Kota Mataram
Pasukan Makassar yang dibawa Karaeng Galesong memiliki reputasi sebagai prajurit laut yang tangguh dan ahli dalam pertempuran darat.
Pukulan Telak 1677: Pada pertengahan tahun 1677, pasukan gabungan Trunojoyo dan Karaeng Galesong berhasil melancarkan serangan besar-besaran dan merebut Karta (Plered), yang merupakan ibu kota Mataram saat itu.
Pelarian Amangkurat I: Serangan ini sangat mengejutkan dan memaksa Amangkurat I melarikan diri dari istana Mataram. Ia kemudian meninggal dalam pelariannya di Tegalwangi. Kejatuhan ibu kota ini menjadi salah satu peristiwa paling memalukan bagi Mataram dan menjadi puncak kejayaan pemberontakan.
Penjarahan Pusaka: Pasukan Makassar dan Madura berhasil menguasai istana dan menjarah banyak harta dan pusaka kerajaan Mataram. Penjarahan pusaka inilah yang sering disebut sebagai salah satu faktor yang sangat melemahkan wibawa Mataram.
B. Aksi Perlawanan Karaeng Galesong.
Ia memimpin pasukannya berlayar ke Banten untuk membantu Sultan Ageng Tirtayasa, Raja Banten, dalam melawan VOC. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur dan Jawa Tengah atas permintaan Raden Kanjoran (mertua Pangeran Trunojoyo), untuk mendukung perjuangan rakyat Madura melawan VOC.
Maka terjadilah pertemuan "Trio Pejuang" atas Kedatangan Karaeng Galesong disambut oleh Panembahan Maduretno Pangeran Trunojoyo (Sampang, Madura) dan Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II (Blambangan). Ketiganya (Trio) membentuk aliansi kuat dan masing-masing memimpin perlawanan terhadap Kerajaan Mataram yang bersekutu dengan Belanda (VOC) sekitar tahun 1676–1679. Hubungan Galesong dan Trunojoyo semakin erat. Kemudian, Karaeng Galesong menikah dengan putri Trunojoyo, bernama Kanjeng Suratna, dan melahirkan anak bernama Soleman Daeng Mannaba.
C. Akhir Perjuangan di Pulau Jawa
Meskipun berhasil menaklukkan ibu kota Mataram, nasib Karaeng Galesong dan Trunojoyo akhirnya berbeda karena Mataram meminta bantuan penuh dari VOC. Sehingga terjadi "Konflik Internal": Setelah kemenangan besar, terjadilah perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo, sebagian besar terkait strategi bagaimana perlawanan selanjutnya.
Pengejaran oleh VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman (yang juga memimpin penaklukan Gowa) kemudian berbalik membantu putra Amangkurat I, yaitu Amangkurat II.
D. Wafatnya Karaeng Galesong
"SOLEMAN DAENG MANNABA"
Karaeng Galesong, sebagai salah satu putra terbaik dari Pahlawan Nasional dari Gowa: Sultan Hasanuddin, yang bergelar Raja Gowa ke-16, memiliki nama asli Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia yang gigih melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan dijuluki "Ayam Jantan dari Timur" oleh Belanda.
Paduka Yang Mulia Sultan Hasanuddin memiliki beberapa keturunan, di antaranya melalui pernikahan dengan istrinya:
1. Talele Puanna Petta Daeng Nisali,
Melahirkan:
---MAPPADULUNG Raja Gowa ke-19, memiliki Putri, bernama; Mariama Karaeng Pattukangang, Petta Bau Bone), putri dari Raja Bima ke-2 (Sultan Abdul Khair Sirajuddin). Selanjutnya Mariama Karaeng Pattukangan,, Putri Mappadulung Raja Gowa ke-19, yang kemudian menjadi permaisuri dari La Patau Matanna Tikka (Raja Bone ke-16, Ranreng Tuwa Wajo ke-17, Raja Soppeng ke-18).
---FATIMAH DAENG TAKONTU (Laskar Perempuan) yang dijuluki Garuda Betina dari Timur, berangkat bersama-sama pangeran dan bangsawan Gowa, serta ulama besar "Syech Yusuf Almakassary" ke Tanah Jawa (Banten-Batavia) untuk membantu kesultanan Banten melawan VOC
2. Majannang Lo'mo Tobo Karaeng Bainea:
Melahirkan:
---. MAPPAOSSONG Daeng Mangewai Karaeng Bisei, Raja Gowa ke-18, yang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta-Selatan.
---. RUGAIYAH: Permaisuri La Tenri Lai To Sengngeng (Raja Wajo ke-23) salah satu menantu dari Paduka Yang Mulia Sultan Hasanuddin, yang menolak perjanjian Bongayya dan memilih bertempur habis-habisan melawan VOC yang dibantu oleh Arung Palakka, sehingga mengakibatkan hancurnya Tosora akibat ledakan gudang senjata. Dari pernikahannya, melahirkan Bau Cella. Bau Cella diperistri oleh La Settiaraja (Raja Luwu ke-18 dan ke-20), dan melahirkan putri bernama: We Sundari Datu Baringeng (istri ke-3) dari La Patau Matanna Tikka (Raja Bone ke-16, Datu Soppeng ke-18, Ranreng Tuwa Wajo ke-17).
---. MANINDORI Kare Tojeng (Dikenal sebagai Karaeng Galesong).
Peran Heroik Karaeng Galesong, tercatat dalam sejarah Melawan VOC di Tanah Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur dan Madura). Beliau adalah salah satu keturunan Sultan Hasanuddin, yang sangat gigih, gagah berani melawan VOC. Karaeng Galesong (Manindori Kare Tojeng) putra Sultan Hasanuddin adalah tokoh penting dalam perjuangan melawan penjajah di luar Sulawesi, terutama di Jawa.
Jejak Keturunan Sultan Hasanuddin dalam Pergerakan Nasional Indonesia, melalui Garis keturunan Karaeng Galesong berlanjut hingga melahirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
F. Silsilah Keturunan Soleman Daeng Mannaba
Soleman Daeng Mannaba => Kyai Dadu => Kyai Prasuto (Soediro Leksono) => Kyai Mertodiono => Soeto Leksono.
Keturunan Soeto Leksono yang berkontribusi pada Pergerakan Nasional, yaitu melalui:
--ARYO SUDIRO: Ayah dari Dr. Wahidin Soedirohusodo. Beliau adalah seorang dokter, pejuang kemerdekaan, dan salah satu penggagas lahirnya organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo.
--Nyi SOETO DRONO: Ibu dari KRT Radjiman Wedyodiningrat. Beliau adalah Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan Pembukaan UUD 1945.
Catatan Penting:
3. Nama Dr. Wahidin Soedirohusodo, keturunan dari pahlawan nasional Sultan Hasanuddin, kini diabadikan pada sebuah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Makassar, Sulawesi Selatan, tempat kelahiran leluhurnya.
4. Mariama sebagai Cucu Sultan Hasanuddin, sedangkan We Sundari sebagai Cicit dari Sultan Hasanuddin. Baik Mariama maupun We Sundari adalah istri dari La Patau Matanna Tikka Raja Bone-16, Raja Soppeng ke-18, Ranreng Tuwa ke-17




Komentar
Posting Komentar