SKEPTIS CINA? PANGLIMA CHENG HO, PENYEBAR ISLAM DI NUSANTARA — INI FAKTANYA!
Panglima Tiongkok - Muslim
Mari kita bersama-sama menelusuri Fakta-fakta Sejarah Laksamana Cheng Ho, Pelaut Muslim Tiongkok, dari Dinasti Ming, yang Berperan Besar dalam Hubungan Diplomasi, Budaya, dan Penyebaran Islam di Nusantara.
Skeptis terhadap Etnis “Cina” Tidak Berdasar Secara Historis dan Filosofis.
Lihatlah beberapa Fakta Sejarah, tentang hubungan Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sejak berabad-abad silam, bahkan sebelum kolonialisme Barat datang. Salah satu tokoh penting dalam kisah itu adalah Panglima Cheng Ho (Zheng He), pelaut dan diplomat Muslim dari Dinasti Ming. Kiprahnya bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga penyebaran Islam di Nusantara, serta pertukaran budaya, transfer ilmu pengetahuan dan hubungan diplomasi di bidang maritim yang membentuk wajah Nusantara modern.
A. Panglima Cheng Ho: Muslim Hui dan Kasim Istana
Cheng Ho (Zheng He atau Ma He) lahir pada 1371 M di Yunnan, Tiongkok, dari keluarga Muslim etnis Hui yang memiliki tradisi Islam kuat. Nama aslinya, “Ma He”, diperkirakan berasal dari kata “Muhammad”. Setelah Dinasti Ming berkuasa, Ma He ditangkap pada usia 11 tahun, dikebiri, dan dijadikan Kasim istana. Statusnya sebagai Kasim justru memberinya kedudukan sangat tinggi, sebab dia anggap tidak punya garis keturunan (sudah dikebiri) yang dapat mengancam takhta, sehingga ia dipercaya menjadi laksamana (panglima perang) kepercayaan Kaisar Yongle.
Meskipun berstatus Kasim, Cheng Ho adalah Muslim yang taat. Ia diberi gelar "San Bao" (Tiga Permata), dan memimpin tujuh ekspedisi besar (1405–1433 M) dengan lebih dari 300 kapal dan 35.000 awak (kru kapal), menjadikannya sebagai pelaut ulung terbesar pada masanya. Ia dikenang di Nusantara sebagai jembatan awal hubungan diplomatik Tiongkok–Indonesia.
B. Geopolitik dan Kemenangan Militer di Palembang
Cheng Ho tiba di Nusantara pada saat Majapahit mulai melemah dan pelabuhan-pelabuhan pesisir ramai pedagang. Misinya adalah membangun hubungan diplomatik Tiongkok dan memperkenalkan kekuatan maritim Dinasti Ming, sambil menyebarkan ajaran islam melalui "mubaligh-mubaligh" yang ia bawa keatas kapal. Disamping itu beberapa pemuda China Muslim dibawa serta dengan harapan bisa tinggal di daerah yang disinggahi, dengan cara menikahi penduduk asli (setempat)
1. Ekspedisi Maritim dan Pembersihan Selat Malaka
Rombongan Armada raksasa Cheng Ho mengunjungi pelabuhan-pelabuhan penting seperti Palembang, Semarang, Gresik, Cirebon, dan Aceh. Salah satu pencapaian militernya yang paling terkenal di Nusantara terjadi di Palembang pada 1407 Masehi, di mana ia menumpas perompak ganas bernama Chen Zuyi.
Chen Zuyi adalah seorang Tionghoa yang melarikan diri dari Guangdong dan mendirikan basis-basis perompakan di Palembang, mengganggu perdagangan di Selat Malaka. Berkat bantuan informasi dari perantau Tionghoa Muslim setempat, Cheng Ho berhasil mengalahkan, lalu menangkap Chen Zuyi hidup-hidup, dan membawanya ke Nanjing untuk dieksekusi. Aksi ini memulihkan keamanan maritim, memberikan citra positif pada Tiongkok, dan menghilangkan ancaman perompakan yang saat itu turut didukung oleh kepentingan politik lokal (kerajaan setempat)
2. Memperkuat Sino-Jawa Muslim
Cheng Ho secara tidak langsung memperkuat Islamisasi dengan melindungi dan membimbing komunitas Muslim Tionghoa bermazhab Hanafi di perantauan. Salah satu awak kapalnya, Ma Huan, menulis catatan historis berharga (Ying-yai Sheng-lan) yang mengonfirmasi keberadaan tiga komunitas besar di pelabuhan Jawa: Tionghoa Muslim, Arab Muslim, dan pribumi non-Muslim. Kehadiran Cheng Ho mempercepat interaksi antar umat dan memperkuat jejaring budaya Tionghoa-Islam.
C. Jejak Budaya Melawan Propaganda
Kisah Cheng Ho meninggalkan warisan budaya yang tak terbantahkan, sekaligus meluruskan narasi kebencian terhadap etnis china:
1. Warisan Arsitektur Akulturatif
Jejak warisan Cheng Ho masih terlihat hingga kini melalui arsitektur unik di Jawa dan Sumatra. Masjid Cheng Hoo Palembang dan Masjid Cheng Hoo Surabaya dibangun untuk mengenang peran komunitas Muslim Tionghoa yang ia bentuk. Arsitekturnya khas: kubah bergaya pagoda dengan ornamen kaligrafi Arab-Mandarin, menjadi simbol harmoni budaya Tionghoa-Islam. Bahkan, arsitektur masjid tua di pesisir utara Jawa, termasuk Masjid Agung Demak, disinyalir memiliki sentuhan Tionghoa Muslim pada masa Dinasti Ming.
2. Narasi Kebangsaan dan Legenda
Di era modern, figur Cheng Ho dijadikan ikon persaudaraan lintas etnis dan simbol diplomasi damai. Menariknya, dalam beberapa kronik lokal, Cheng Ho bahkan dikaitkan dengan legenda Walisongo. Terdapat beberapa Narasi yang menyebut salah satu anak buahnya, Gan Si Chang, diidentifikasi sebagai Sunan Kalijaga, meski klaim ini masih diperdebatkan akademisi. Legenda ini menunjukkan betapa dalamnya akar interaksi Tionghoa Muslim dalam pembentukan peradaban Islam Nusantara.
Jika ditelusuri melalui jejak Cheng Ho, jelas bahwa hubungan antara “Cina” dan Nusantara tidak didasari permusuhan.
Tapi kenapa masih ada kebencian terhadap “Cina” sering muncul berbentuk politik dan propaganda, bukan dari sejarah yang jujur. Panglima Cheng Ho membuktikan bahwa bangsa Cina pernah menjadi bagian integral dari penyebaran Islam dan pembentukan peradaban Nusantara.
KESIMPULAN
1. Kedatangan rombongan Armada Laut, Panglima Cheng Ho, ke nusantara, bukan untuk balas dendam kepada Singasari - Majapahit
2. Kehadiran Panglima Cheng Ho di Nusantara dalam rangka siar islam dilakukan secara bermartabat dan damai
3. Jika ada orang yang masih skeptis, pada etnis cina-hokkian-tionghoa, mungkin saja dia belum membaca sejarah dengan benar dan jujur.
4. Beberapa Walisongo "yang kita kenal" di pulau Jawa, berkat dedikasi dan perjuangan Panglima Cheng Ho dalam ekspedisinya.


Komentar
Posting Komentar