Kesetiaan Abadi (Kakak-Beradik) Istri-istri Ronggolawe dalam Tradisi "Bela Pati"
KESETIAAN "KEDUA ISTRI" RANGGALAWE
Ronggolawe adalah Putra Kebanggaan Arya Wiraraja, yang telah menyelamatkan menantu Kertanegara dan putri-putrinya dari kejaran Pasukan Kediri, yang dipimpin oleh Jayakatwang. Menantu tersebut adalah Raden Wijaya. Demikian pula Ronggolawe yang memiliki karakter dan prinsip yang teguh, telah banyak jasa-jasa dalam mendirikan Majapahit. Dia berusaha mendatangkan 27 Kuda dari Sumba, meski harus bertarung dengan ganasnya ombak. Kuda perang itu digunakan untuk pasukan Majapahit dalam menghadapi invasi mongol (pasukan Tartar). Kuda ini pun juga diperuntukan bagi Pasukan Raden Wijaya dalam merebut kembali kekuasaan mertua Raden Wijaya, sebagai Raja Singosari yang diambil alih oleh Jayakatwang (Raja Kediri).
Setelah Majapahit berdiri, Ranggalawe ditempatkan sebagai Bupati Tuban, dan pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Namun dalam perjalanan waktu, Ranggalawe sangat kecewa atas pengangkatan Nambi, sebagai "Rakyan Patih". Menurut Ranggalawe, Mpu Sora (pamannya) lebih pantas atas jabatan itu. Hingga pada akhirnya terjadilah penyerangan Ranggalawe oleh Pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Kebo Anabrang. Ranggalawe tewas ditangan kebo anabrang, selanjutnya kebo anabrang juga ditikam oleh Mpu Sora (paman Ranggalawe)
Kisah gugurnya Ronggolawe di awal berdirinya Majapahit sebagai babak pemberontakan politik. Disatu sisi juga mengukir kisah kesetiaan sejati yang berakhir tragis dan membuat pilu rakyat Tuban. Adalah Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga, dua istri setia sang pahlawan, memilih jalan "Bela Pati," sebuah tradisi mulia yang menunjukkan cinta tak terbatas, jika orang yang dicintainya telah wafat, untuk bersama-sama pergi dari dunia ini.
Kisah ini adalah cerminan kompleksitas emosi, harga diri, tradisi, dan konflik politik yang mewarnai masa-masa awal pendirian Kerajaan Majapahit.
Kematian Pahlawan di Sungai Tambak Beras
Kabar gugurnya Ronggolawe di Sungai Tambak Beras saat melawan pasukan Majapahit yang menyerbu dari tiga penjuru, dia datang seperti hantaman badai di Tuban. Ronggolawe, yang merupakan salah satu pendiri utama Majapahit, tewas "mengenaskan" di tengah arus sungai. Hal ini akibat adanya konflik yang dipicu oleh rasa ketidakadilan politik di Majapahit.
Duka Keluarga di Kadipaten Tuban
Kematian Ronggolawe meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarga terdekatnya tetapi juga bagi seluruh masyarakat di Kadipaten Tuban:
- Ayahanda yang Tertunduk Lesu: Arya Wiraraja (Arya Adikara atau Banyak Wide), ayah Ronggolawe, sontak terdiam dan tertunduk lesu. Sebagai tokoh yang paling berjasa membantu Raden Wijaya, duka sang ayah menjadi potret tragis kontradiksi antara kesetiaan pada kerajaan dan kisah pilu pada anaknya (darah daging.
- Hati Hancur Dua Istri: Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga dilanda duka cita yang tak terhingga, dan tak terkira. Tangisan pilu memenuhi ruangan, disusul oleh keheningan mencekam saat "kedua-istri" Ranggalawe, jatuh pingsan, tak sanggup menanggung beban kepedihan, tak percaya akan kehilangan suami tercintanya, yang meluluhlantakkan hati kedua istrinya.
Tekad Suci Bela Pati
Ketika kesadaran kembali, setelah keduanya pingsan atas duka-pati yang melanda Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga, yang berubah menjadi tekad yang membara: mereka akan menyusul suami mereka melalui tradisi Bela Pati, sebuah janji setia hingga akhir hayat.
Memohon Restu untuk Perjalanan Terakhir
Dengan langkah gontai namun hati yang teguh, keduanya menemui Ki Ageng Palandhongan, ayah mereka. Dengan suara bergetar, mereka mengungkapkan niat suci itu, dengan cara;
- Ciuman Hormat: Kaki Ki Ageng Palandhongan dan istrinya dicium penuh hormat, memohon restu pamit untuk terakhir kalinya, sebelum melakukan perjalanan abadi.
- Rombongan Tuban ke Majapahit: Keesokan harinya, rombongan besar dari Kadipaten Tuban bergerak menuju Kerajaan Majapahit, diiringi upacara penghormatan yang khidmat. Ki Ageng Palandhongan dan Arya Adikara memimpin barisan, mengawal kedua menantu mereka.
- Putra Belia Turut Serta: Turut hadir dalam rombongan duka tersebut adalah Kuda Anyampiani, putra Ronggolawe yang masih belia, yang auranya diselimuti kesedihan pekat.
Kesaksian Raja Wijaya dan Akhir yang Tragis
Setibanya di Majapahit, rombongan disambut langsung oleh Raja Wijaya. Di hadapan Banyak Wide, sang raja tampak muram dan menyatakan rasa duka cita yang tulus, mengakui bahwa meskipun mereka harus berperang, Ronggolawe baginya sudah seperti saudara sendiri.
Adegan Pilu di Balairung Istana
Jenazah Ronggolawe disemayamkan di tengah balairung istana, terbaring kaku diselimuti sehelai kain hijau. Raja Wijaya mempersilakan kedua istri Ronggolawe untuk melihat jenazah suami mereka.
- Runtuhnya Hati: Dengan langkah tertatih-tatih sambil dibopong, Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga mendekati jasad suaminya (sang pahlawan). Hati mereka remuk redam, air mata mengalir deras saat mereka menciumi tubuh Ronggolawe yang dingin. Tangisan pilu dan ratapan sedu-sedan menyayat hati sanubari disetiap orang yang hadir, di pemakaman itu. Hikmat.
- Puncak Kesetiaan: Setelah selesai berbela sungkawa, kedua istri kakak beradik itu, memeluk elak jasad suaminya yang penuh luka tusukan, yang menganga, dengan suara lirih yang tersendat-sendat, kedua istri Ranggalawe melanjutkan janji "Bela-Pati" mereka. Masing-masing menghunus keris. Dengan gerak cepat, tanpa ragu: Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga menusukkan keris itu ke dada masing-masing, secara bersamaan. Seketika itu, tubuh mereka ambruk, jatuh tergeletak di bawah kaki jasad Ronggolawe. Dua perempuan setia itu telah pergi untuk selama-lamanya. Kedua kakak-beradik telahvmenepati janji mereka, menyusul sang suami tercinta ke alam baka, sebagai bukti penyucian dalam keabadian
Simbol Cinta Abadi
Tragedi romantika ini, oleh Kerajaan Majapahit melaksanakan sebuah upacara yang khidmat untuk menyucikan jenazah Ronggolawe beserta kedua istrinya.
- Dibakar di Pancaka: Ketiga jenazah itu kemudian dibakar di sebuah pancaka (tempat pembakaran jenazah), api membumbung tinggi ke angkasa, membawa serta raga dan jiwa mereka "bertiga" dalam keabadian.
- Dilarung ke Samudra: Ketiga Abu Jasad-nya kemudian dilarung ke samudera, menyatu dengan luasnya laut pulau Jawa, menjadi saksi atas cinta dan kesetiaan abadi yang akan terus dikenang sepanjang masa.
Kisah dramatis ini menegaskan bahwa di balik intrik politik dan ambisi kekuasaan Majapahit, terukir kisah kemanusiaan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, menjadikan tragedi Ronggolawe sebagai salah satu cerita paling mengharukan dalam sejarah pembentukan kerajaan besar di Nusantara.


Komentar
Posting Komentar