LA PAREPPA: Raja GOWA ke-20, Raja BONE ke-19 dan Raja SOPPENG ke-21

LA PAREPPA TO SAPPEWALI 
(Pernah menduduki Jabatan sebagai Arung Palakka, Karaeng Ana' Moncong, Raja Gowa-18, Raja Bone-19, dan Raja Soppeng-19)

       Adalah Putra pertama, dari Paduka Yang Mulia "La Patau Matanna Tikka" (Raja Bone , Raja Soppeng, Ranreng Tuwa Wajo) yang terlahir dari permaisuri Mariama Karaeng Pattukangang binti Mappadulung Raja Gowa ke-18, Putra dari Sultan Hasanuddin Raja Gowa (Pahlawan Nasional). Beliau La Pareppa to Sappewali, menggantikan bapak dari ibunya (kakeknya) bernama Mappadulung Raja Gowa ke-18. 

Sesuai keputusan dari Dewan Adat Gowa (Bate Salapang), La Pareppa Sappewali dilantik sebagai "Somba" Raja Gowa ke-19, yang sebelumnya menjabat sebagai Karaeng Ana' Moncong, dan Arung Palakka-Bone. Jadi ibunda dari La Pareppa adalah putri dari Mappadulung Raja ke-18, bin Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16, berarti ibunya La Pareppa adalah "cucu kandung" dari: Sultan Hasanuddin, Raja Gowa-16.

Ketika "La Pareppa to Sappewali" menduduki tahta Raja Gowa, disaat yang sama (kebetulan) adiknya bernama "La Padang sajati" melanggar di Kerajaan Bone, dan hendak dihukum berat oleh Sang Raja (ayahnya), yang juga merupakan Ayah Kandung dari La Pareppa Sappewali, Raja Gowa. ketika La Padassajati lari berlindung kepada Kakaknya di Kerajaan Gowa, atas kejaran tentara Bone, oleh sang kakak (La Pareppa) membela dan melindungi La Padang Sajati sebagai tamu yang meminta perlindungan dari kejaran pasukan ayahanda mereka (La Patau, Raja Bone).

Mendengar kabar tersebut, Sang Ayah La Patau Matanna Tikka, semakin marah dan murka, dan hendak menyerang Sappewali (Raja Gowa), yang notabene adalah putranya sendiri (anak kandung), jikalau tidak mengembalikan La Padang sajati ke Kerajaan Bone untuk dihukum berat. 

Namun dari segi jabatan dan demi 'marwah-wibawa' kerajaan Gowa, La Pareppa Sappewali melawan Raja Bone, meskipun itu ayahnya sendiri, dengan cara mengutus orang kepercayaannya ke Bone untuk menyampaikan pesan, agar kiranya Raja Bone tidak menyerang kerajaan Gowa, sebab meskipun Raja Gowa kini dijabat oleh anak kandungnya sendiri, tapi La Pareppa sebagai Raja Gowa (sesuai jabatan) wajib membela nama baik kerajaan Gowa meskipun itu berhadapan dengan Ayah kandungnya sendiri (Raja Bone), terhadap tamu yang meminta perlindungan. Jadi, Posisi La Padang Sajati adalah Tamu yang butuh perlindungan.

Atas ultimatum, dari La Pareppa Raja Gowa (anak) membuat La Patau Matanna Tikka Raja Bone (Ayah) mengurungkan niat menyerbu ke Gowa untuk mencari  La Passajati (anaknya), karena Raja Bone (La Patau) diingatkan oleh Dewan Adat Bone, mengenai perjanjian antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, untuk saling hormat- menghormati dan saling menghargai.

Setelah Raja Bone wafat, La Patau Matanna Tikka digantikan oleh Putrinya yang bernama: "We Batari Toja", saudara se-ayah (lain ibu) dengan La Pareppa Sappewali (Raja Gowa). Selang beberapa tahun, setelah We Batari Toja (Putri Sulung La Patau Matanna Tikka, dari istrinya We Ummung binti Settiaraja, Raja Luwu) menduduki jabatan sebagai Ratu di Bone yang ke-17, datang pula orang Luwu (Dewan Adat) meminta "We Batari Toja" untuk menjadi pemimpin orang-orang di tanah Luwu, untuk menggantikan Settiaraja (kakeknya), sebagai Pajung/Ratu di Luwu.

Jadi kesimpulannya, baik La Pareppa (Gowa) maupun Batari Toja (Luwu) masing-masing (keduanya) menggantikan Ayah dari ibundanya (kakeknya), untuk diangkat oleh Dewan Adat menjadi Raja/Ratu. 

--La Pareppa bin La Patau, Raja Gowa
--We Batari Toja binti La Patau, Ratu Luwu.

Sedangkan posisi "Mangka Bone" (Raja Bone) selanjutnya (setelah di jabat oleh Batari Toja) digantikan oleh saudara se-ayah, yaitu Padassajati sebagai Raja Bone ke-18. Setelah beberapa tahun dijabat oleh La Padassajati, jabatan Raja Bone (Mangkau) di serahkan kepada Arung Palakka La Pareppa sebagai Raja Bone ke-19 (mantan Raja Gowa). 

Dalan artian La Pareppa To Sappewali, menggantikan adik kandungnya, La Passajati To Appaware, sebagai Raja Bone ke-19, selanjutnya jabatan Raja Bone, diserahkan juga ke adik kandungnya yang lain, bernama: La Panaongi To Pawawoi, sebagai Raja Bone ke-20.

Selanjutnya Jabatan Raja Bone ke-21 dijabat oleh We Batari Toja untuk kedua kalinya sebagai Raja/Ratu di Bone, setelah melaksanakan tugas sebagai Pajung/Ratu di kerajaan Luwu. Selanjutnya, Pimpinan Kerajaan Bone, diserahkan kepada adik Kandung We Batari Toja, kepada La Temmasonge sebagai Raja Bone ke-22.

Keterangan: La Pareppa To Sappewali
"...bersaudara kandung dengan La Padassajati dan La Panaongi, mereka adalah anak dari Mariama (Permaisuri) putri Raja Gowa, sedangkan saudara se-ayah lain ibunya adalah We Batari Toja dan La Temmasonge, anak dari We Ummung (Permaisuri), putri Raja Luwu."

Mereka adalah Putra dan Putri dari "La Patau Matanna Tikka" yang mana kesemuanya, pernah menduduki jabatan sebagai Raja Bone + Raja Soppeng, kecuali La Panaongi tidak pernah menjabat sebagai Datu/Raja di Soppeng. Padahal mereka juga sebenarnya bisa menduduki jabatan di kerajaan Wajo, sebab mereka semua adalah keturunan bangsawan dari Kerajaan Wajo.

Perkawinan antar anak - cucu Raja 

Putra dari La Pareppa To Sappewali, bernama La Masselomo menikahi sepupu 2X bernama We Banrigau Petta icado (keturunan Bone-Luwu-Gowa), melahirkan La Mappapenning yang kemudian menikahi We Hamidah Karaeng Takalara, putri La Temmasonge Raja Bone ke-22, melahirkan:
--La Tenri Tappu Raja Bone ke-23, dan 
--We Yallu (permaisuri) Raja Soppeng.

Selanjutnya... 
Ada pula cucu dari La Pareppa To Sappewali Raja Gowa ke-19, bernama La Muanneng, dinikahkan dengan sepupu 1X dengan We Pakkemme, putri dari La Temmasonge Raja Bone kw-22, melahirkan anak: 
--La Pajarungi Arung Majang. 

Ada juga putrinya bernama Sitti Amira Karaeng Mangara Bombang, menikah dengan Makkasu'mang Raja Tallo ke-14, putra dari Mappaurangi Karaeng Kanjilo, Karaeng Boddia Raja Gowa ke 21 dan 23, (Sultan Sirajuddin) melahirkan: 
-- La Mappatunru (Mangijarang) Raja Tallo ke-16, Raja Gowa ke-30 (bersaudara)

Dari hasil pernikahan tersebut diatas, sudah terlihat jelas adanya menggabungkan darah keturunan bangsawan (Penyatuan-Bangsawan) dari Luwu, Bone, Gowa, Tallo, Soppeng dan Wajo. 

Jumlah putra-putri dari La Pareppa Sappewali, lebih dari 20 orang, Kesemuanya itu untuk mempererat kekerabatan dan tali persaudaraan para raja-raja di Sulawesi Selatan, untuk saling mendukung, saling bahu-membahu, saling menolong dan saling menghormati. Pada akhirnya keturunan inilah yang menyebar "untuk" ditempatkan sebagai pemimpin di daerah, bersama keturunan dari anak cucu LA PATAU MATANNA TIKKA, dan Keturunan lainnya dari Paduka Yang Mulia "SULTAN HASANUDDIN" (Pahlawan Nasional), guna melawan para penjajah Belanda dan Jepang.

==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun 

Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜

Komentar

Postingan Populer