Siapa dalang terbunuhnya Jayanegara, di Awal Kejayaan Majapahit?
JAYANEGARA Raja Majapahit ke-2
Sejarah Majapahit, kerajaan maritim terbesar di Nusantara, tidak hanya dipenuhi kisah heroik dan kejayaan, tetapi juga intrik politik, perebutan kekuasaan, dan misteri yang tak terpecahkan. Salah satu babak paling menarik dan penuh teka-teki adalah masa pemerintahan Prabu Jayanagara, raja kedua Majapahit. Keberadaannya, dari kelahirannya yang istimewa hingga kematiannya yang tragis, menjadi pondasi penting sebelum Majapahit mencapai puncak keemasannya di bawah Hayam Wuruk.
A. Kelahiran Sang Putra Mahkota dari Rahim Dara Petak (Isteri dari Seberang)
Kisah Jayanagara dimulai tak lama setelah Ekspedisi Pamalayu yang legendaris. Pasukan Singasari, di bawah pimpinan Kebo Anabrang, kembali ke Jawa membawa dua putri Raja Melayu Dharmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga. Diperkirakan pada 4 Mei 1293, mereka tiba di Jawa, seminggu setelah pengusiran Pasukan Mongol dari tanah Jawa oleh Ranggalawe, putra Arya Wiraja Adipati Sumenep.
Dara Petak kemudian dinikahi oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sebagai istri ketiga. Sebelumnya, Raden Wijaya telah memperistri dua putri Raja Kertanegara yang tidak memiliki keturunan. Dari pernikahan Raden Wijaya dengan Dara Petak inilah, lahir seorang putra mahkota bernama Jayanagara pada tahun 1294 [sejarahmajapahit.blogspot.com]. Ibu Jayanagara, Dara Petak, bergelar Sri Tinuben Pura atau Indreswari, dan dianggap paling lihai mengambil hati Raden Wijaya. Pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1309, Jayanagara dinobatkan sebagai Raja Majapahit kedua, meneruskan takhta sang ayah. Untuk memperkuat legitimasinya, Prabu Jayanagara mengangkat sepupunya, Adityawarman—putra dari Dara Jingga—untuk mendukung kedudukannya. Keduanya adalah cucu dari Raja Dharmasraya, menandakan kuatnya pengaruh garis keturunan Melayu dalam lingkaran istana Majapahit kala itu. Jayanagara terlahir dari Dara Petak binti Srimat Mauliawarmadewa, sementara Adityawarman terlahir dari Dara Jingga binti Srimat Adityawarman.
B. Saudara Tiri Prabu Jayanagara
Selain itu, Jayanagara memiliki dua saudari perempuan, Tribhuwana Tunggadewi yang menjabat sebagai Bhre Kahuripan, dan Rajadewi Maharajasa sebagai Bhre Daha. Masa Pemerintahan yang Penuh Gejolak dan Kontroversi. Sayangnya, masa pemerintahan Prabu Jayanagara kerap diliputi gejolak dan kurangnya dukungan dari dalam istana. Salah satu alasan utama adalah perilaku Prabu Jayanagara yang kerap mengganggu wanita, bahkan dikabarkan menghalang-halangi para pemuda yang ingin mendekati adik-adik perempuannya. Padahal, kedua adiknya ini, terutama Tribhuwana Tunggadewi, memiliki garis keturunan yang lebih kuat untuk takhta Majapahit, mengingat mereka adalah keturunan langsung dari Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari. Konflik semakin memanas ketika Tribhuwana Tunggadewi didekati oleh Kertawardana, yang merupakan kerabat dekat Prabu Kertanegara dan Raden Wijaya, sekaligus pewaris dari garis keturunan Tunggul Ametung—Kendedes—Ken Arok. Kondisi istana yang tidak stabil ini menjadi cikal bakal misteri yang menyelimuti kematian sang raja.
C. Misteri Kematian Prabu Jayanagara: Siapa Dalang di Balik Tirai?Pada Tahun 1328 menjadi saksi bisu kematian tragis Prabu Jayanagara di kamarnya sendiri, di tangan tabib pribadinya, Ra Tanca. Dikisahkan, Jayanagara menderita bisul parah dan memanggil Ra Tanca untuk mengobatinya. Namun, pisau bedah sang tabib tak mempan menembus kulit raja yang konon memakai jimat kebal. Dengan cerdik, Ra Tanca meminta raja melepas jimatnya. Saat itulah, Ra Tanca langsung menikam dada sang raja hingga tewas seketika. Detik-detik kematian Jayanagara yang penuh intrik ini memunculkan pertanyaan besar: Siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa berdarah ini?
D. Gajah Mada: Pahlawan atau Dalang Tersembunyi?
Dalam situasi mencekam pasca-pembunuhan raja, Gajah Mada, yang saat itu masih seorang pengawal istana, langsung bertindak cepat. Ia membunuh Ra Tanca di tempat. Tindakan spontan ini justru melahirkan berbagai spekulasi dan perdebatan di kalangan sejarawan: Murni Aksi Balas Dendam Ra Tanca: Ada dugaan bahwa Ra Tanca cemburu karena istrinya pernah diganggu oleh Jayanagara.
Dugaan sementara dari beberapa pihak:
- Gajah Mada Bertindak Spontan, sebab Gajah Mada mungkin marah dan bertindak spontan melihat rajanya dibunuh di depan matanya.
- Gajah Mada Menghilangkan Jejak, Spekulasi paling menarik adalah bahwa Gajah Mada sengaja membunuh Ra Tanca untuk menghilangkan jejak konspirasi, demi mengkudeta Jayanagara yang ibunya berasal dari seberang, atau bahkan atas strategi dari para ibu tiri Jayanagara (empat bersaudara kandung putri Kertanegara).
- Keterlibatan Gajah Mada, menjadi Spekulasi kuat menyebutkan bahwa Gajah Mada mungkin telah mengetahui atau bahkan menjadi bagian dari rencana pembunuhan ini. Mengingat ambisinya yang besar dan karakter Jayanagara yang kurang disukai, kematian Jayanagara bisa jadi merupakan langkah awal Gajah Mada menuju kekuasaan absolut dan cita-citanya menyatukan Nusantara.
Hingga kini, misteri dalang di balik kematian Raja Jayanagara masih menjadi teka-teki abadi dalam sejarah Majapahit. Apakah Ra Tanca bertindak sendiri, ataukah ada permainan politik besar di baliknya yang melibatkan Gajah Mada atau pihak istana lain, tetap menjadi bahan diskusi yang menarik.
Kisah ini membuktikan bahwa sejarah tidak selalu tentang kejayaan, tetapi juga tentang pengkhianatan dan teka-teki yang tak terpecahkan.
E. Suksesi Takhta: Dari Gayatri ke Tribhuwana Tunggadewi
Tragedi Kematian Jayanagara menciptakan kekosongan kepemimpinan di Majapahit. Sosok berpengaruh yang muncul adalah Gayatri (Rajapatni), istri dari Raden Wijaya dan putri dari Prabu Kertanegara. Meskipun Gajah Mada mengusulkan Gayatri untuk naik takhta, namun ia menolak secara halus, bahkan sempat mengucapkan terima kasih kepada Gajah Mada.
Gayatri (Rajapatni), dengan kebijaksanaannya, justru mengusulkan kedua putrinya, Tribhuwana Tunggadewi dan Mahadewi Maharajasa, untuk menjadi Maharani Majapahit. Akhirnya, Tribhuwana Tunggadewi diangkat sebagai raja ketiga Majapahit. Ia menikah dengan Kertawardana, dan kelak melahirkan putra yang akan membawa Majapahit ke puncak kejayaan, yaitu Prabu Hayam Wuruk. Pergantian takhta ini menjadi titik balik penting, membuka lembaran baru bagi Majapahit di bawah kepemimpinan seorang ratu yang kuat dan berani.Jayanagara mungkin tidak meninggalkan warisan kejayaan militer atau ekspansi wilayah yang mencolok, hanya pemerintaha yang penuh intrik justru menjadi fase terpenting dalam pembentukan dan konsolidasi Majapahit. Kematiannya yang misterius, dengan segala spekulasi di baliknya, secara tidak langsung membuka jalan bagi munculnya pemimpin-pemimpin besar seperti Gajah Mada dan Tribhuwana Tunggadewi, yang kemudian meletakkan dasar bagi era keemasan Majapahit. Kisah ini menegaskan bahwa dalam kegelapan intrik, akan muncul benih-benih kejayaan yang dapat tertanam.



Komentar
Posting Komentar