Pengaruh JAWA (Majapahit) di Sulawesi

Kitab NAGARA KRETAGAMA

Temuan tertua tentang pengaruh Siwa Budha di Sulawesi adalah arca Budha dari bahan perunggu yang ditemukan di muara Sungai Karama di Desa Karama, Kecamatan Sempaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Diperkirakan arca Budha ini sengaja ditempatkan menghadap ke laut untuk melindungi rakyat dari musuh sekaligus melindungi para pelaut seperti kebiasaan orang Budha di India. Arca serupa ditemukan di Jepara, Dong Duong (Vietnam), dan Kalimantan. 

Sedangkan catatan tertua tentang Sulawesi dalam sumber Jawa adalah dari sumber Nagarakrtagama yang menyatakan bahwa Banggawi adalah salah satu wilayah pengaruh Singhasari yang diperintah Kertanagara (1268-1292 M). Pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi (1328-1350 M) dari Majapahit, sang patih yang baru, Gajah Mada, bersumpah untuk menyatukan seluruh Nusantara di bawah Majapahit. Khusus wilayah di Sulawesi diriwayatkan dalam Nagarakrtagama: "Negeri-negeri di Bantayan (yaitu Sulawesi), yang utama adalah Bantayan, di sisi lain ada Luwuk, lalu negeri-negeri Uda, menjadi tiga serangkai; semua ini adalah negeri yang paling penting di pulau itu, secara bersamaan. Mereka yang disebutkan, pulau demi pulau (adalah), Makasar, Butun, Banggawi, Kunir, Galiyao, dan Salaya."

Penegasan tentang daerah tersebut sebagai daerah pengaruh Majapahit disebutkan dalam Nagarakrtagama pupuh XV bahwa pada musim-musim tertentu pemerintahan di Majapahit mengirim pegawai dan pendeta ke daerah seberang untuk menarik upeti dan memberantas penyesatan. Dari sumber lain disebutkan bahwa setelah menundukkan Bali dan Sumbawa tahun 1343, Gajah Mada bersama Panglima Ringgih Lalu berlayar untuk menyerang Bone di Sulawesi. 

1. LUWUK

Nama Luwuk ditemukan di dua tempat, yaitu Sulawesi Selatan dan Tengah. Toponim Luwuk kemungkinan adalah Luwu di Sulawesi Selatan. Selain bekas kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, juga ditunjang beberapa data sejarah yang menyebutkan hubungan dengan Majapahit, misalnya dalam Lontara Galigo disebutkan bahwa Kerajaan Luwu menjalin hubungan dengan Majapahit sekitar abad ke-14 M. Oleh Pelras, hubungan itu diduga dalam bentuk perdagangan, kemungkinan Majapahit berdagang kerajinan yang ditukar dengan biji nikel dari Luwu (sebagai bahan baku pembuatan pamor keris).

Dalam Lontara Luwu disebutkan bahwa raja-raja Luwu pada masa silam, ketika meninggal mayatnya dibakar yaitu suami Raja Luwu ke-8 bergelar ManingoE ri JampuE, setelah wafat mayatnya dibakar dengan kayu jambu dan Raja Luwu ke-9 bergelar ManingoE ri Bajo, mayatnya dibakar dengan kayu bajo. 

Di Lontara Galigo disebutkan pula beberapa istilah pengaruh Hindu, seperti Batara Guru, Batara Lattu Ana Aji, Sawerigading, Oro Kelling, Patiangjala, Paratiwi, Sangiang Seri, Bissu dan sebagainya. Di bagian lain menyebutkan bahwa Raja Anak Aji telah mempersunting We Tappa'cinna, putri dari raja Majapahit. Diceritakan pula bahwa Sawerigading dalam perjalanannya menuju Cina, telah menyerang Majapahit dan Sriwijaya. Sawerigading tidak berhasil menaklukkan Majapahit, tetapi berhasil naik tahta di Sriwijaya.

Selain petunjuk di atas, di daerah tersebut terdapat sebuah masjid kuno yang memiliki unsur pengaruh Hindu. Bahkan sampai sekarang di daerah Luwu masih ditemukan sebuah kampung kuno yang disebut Mancapai.

2. BANTAYAN

Toponim Bantayan kemungkinan adalah Bantaeng di Sulawesi Selatan. 

Petunjuk yang mendukung antara lain ditemukan sebuah penutup muka orang mati yang terbuat dari emas, tiga buah temuan arca perunggu Dwarawati, dan tidak jauh dari Bantaeng dijumpai sebuah makam kuno yang oleh masyarakat setempat disebut makam To Mancapai ri Bira (makam orang Majapahit di Bira). 

Sampai abad ke-19 di daerah Bantaeng dan Bulukumba terdapat pesta tahunan di tempat keramat Karaeng Lowe di Gantarang Keke. Di antara benda yang dipuja adalah batu berbentuk lingga dan yoni. Sedangkan menurut catatan tahun 1883 gaukang (pusaka kerajaan) Bantaeng adalah patung emas berwujud dewa Hindu. 

3. MAKASAR

Kemungkinan toponim Makasar adalah Sombaopu (Gowa) yang merupakan salah satu kerajaan terbesar dan terkenal di Sulawesi Selatan. Menurut La Galigo, jauh sebelum Tumanurunga ri Tammalate atau raja Gowa pertama turun dari kayangan dan memerintah Gowa, Gowa diperintah oleh Batara Guru. Gelar Batara juga dipakai oleh raja Gowa ke-7 yaitu Batara Gowa atau Tumananga ri Parallakkena. 

Dalam Nagarakrtagama disebut bahwa kerajaan ini pada abad ke-14 sudah merupakan kerajaan yang mapan. Selain bukti keramik dan genting yang banyak ditemukan di daerah itu, sampai sekarang tidak ada lagi petunjuk yang menunjang hubungan Makassar dengan Majapahit.

4. SALAYA

Toponim Salaya diduga sekarang adalah Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Berdasarkan banyaknya temuan keramik kuno di daerah tersebut, diperkirakan hubungan perdagangan Selayar dengan daerah luar sudah terjalin sejak abad ke-12 M dan mencapai puncaknya sekitar abad ke-14 M. Dalam hukum pelayaran Amanagappa menyebutkan bahwa pada musim tertentu Selayar adalah daerah yang menjadi persinggahan pedagang yang akan menuju Maluku dan Mindanao. Ditemukan juga bangkai perahu kuno dengan ukiran naga dan relief kaligrafi yang sangat indah dan inskripsi Malik Tuban. Pada awal abad ke-16, penguasa Tuban sudah menjadi Islam tetapi masih setia kepada kerajaan Majapahit.

5. BANGGAWI

Toponim Banggawi dijumpai di Sulawesi Selatan dan Tengah. Di Sulawesi Selatan terdapat daerah Banggae dan di Sulawesi Tengah ada Pulau Banggai. Banggae adalah nama sebuah kerajaan kuno yang pernah ada di Majene, Sulawesi Barat. Di daerah itu sampai sekarang masih dijumpai sebuah kampung dengan nama Mancapai yang konon masyarakat kampung tersebut mengaku dirinya sebagai To Pole-pole yaitu orang pendatang yang hidup secara turun temurun. Di daerah itu ditemukan juga makam kuno yang memiliki unsur pengaruh Hindu.

Sedangkan di Banggai di Sulawesi Tengah pada masa kuno ada kisah yang menyebutkan bahwa seorang dari Jawa pernah diangkat menjadi raja Banggai. Dikisahkan pada masa silam Banggai diperintah oleh Adi Lambal. Lalu datanglah seorang keturunan raja di Jawa dari Ternate. Saat mendatangi Banggai, ia menikah dengan saudara dari istri raja Adi Lambal. Melihat raja Jawa itu pandai mengatur pemerintahan maka Adi Lambal menyerahkan pemerintahan Banggai kepada raja dari Jawa itu yang digelari Tomundoi Doi Jawa (Raja dari Jawa). 

6. BUTUN

Toponim Butun kemungkinan adalah Buton di Sulawesi Tenggara. Dugaan itu diperkuat dengan beberapa petunjuk, seperti temuan sebuah makam kuno yang oleh masyarakat setempat dianggap makam Gajah Mada. Juga dijumpai suatu bentuk kepercayaan terhadap dewa yang memiliki kemiripan dengan Trimurti, dan sampai sekarang kepercayaan tersebut masih hidup.

Selain daerah-daerah tersebut di atas, yang diduga sebagai daerah pengaruh Majapahit disebut pula daerah Bone sekitar 1343 mendapat serangan dari pasukan Majapahit. Dari Lontara Bone disebutkan juga adanya tradisi pembakaran mayat bagi raja-raja Bone pada masa silam. Misalnya Raja Bone La Tenrirawe Bongkange MatinroE ri Gucinna pada saat meninggal mayatnya dibakar dan abunya disimpan dalam guci. Hasil penggalian yang dilakukan van Heekeren (1947) di Desa Bukaka, yang menemukan beberapa guci Cina (abad XIV-XV M) yang berisi abu jenazah memperkuat dugaan tersebut. Begitupula dengan Raja Wajo ke-4 La Tadang Mparek Puang ri Maggalatung pemakamannya dengan cara dibakar lalu abu jenazah disimpan di guci. 

Bagaimana pendapat Anda, tentang Kitab Nagarakretagama dan pelaksanaan Sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada di masa keemasan Majapahit mempersatukan Nusantara?

Sumber:

1. Wilayah Pengaruh Majapahit di Daratan Sulawesi (Majalah Kebudayaan)

2. Pengaruh Hindu-Budha di Sulawesi: Kajian Pendahuluan Terhadap Data Arkeologis dan Historis (Amerta Berkala Arkeologi)

3. Sultan Hasanuddin Menentang VOC

4. Kekuasaan Raja Syeikh dan Ambtenaar

5. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah

Komentar

Postingan Populer