Rebutan Pengaruh di Perlak dan Pasai oleh ISLAM, BUDDHA dan HINDU

Sejarah Maritim Nusantara

Kawasan muara Sungai Perlak dan Pasai di Sumatera bagian utara memiliki peran krusial dalam jaringan perdagangan maritim kuno, menjadi saksi bisu perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan besar dengan latar belakang agama yang berbeda: Islam, Buddha, dan Hindu. Dinamika politik dan ekonomi di wilayah ini membentuk corak sejarah Nusantara, terutama dalam penyebaran agama dan pembentukan kerajaan-kerajaan baru.

A. Awal Mula Perebutan Kekuasaan
Disamping alam sumatera yang subur, dengan berbagai hasil bumi, serta letak geografis yang strategis selat malaka dalam perdagangan dunia. Sejak tahun 1128, wilayah strategis ini telah berada di bawah kendali pedagang asing yang disokong oleh Dinasti Fathimiyah dari Mesir yang menganut Islam Syi'ah . Kehadiran mereka menandai awal dominasi Islam di jalur perdagangan penting ini. Namun, dominasi ini tidak berlangsung lama.

B. Dikuasai oleh Dharmasraya-Buddha

Pada tahun 1168, pusat perdagangan di muara Sungai Perlak dan Pasai direbut oleh tentara Kerajaan Dharmasraya  yang bercorak Buddha. Perebutan ini menggeser kekuasaan Dinasti Fathimiyah atas daerah Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Akibatnya, seluruh hasil lada dari wilayah Minangkabau, yang diangkut melalui pelayaran Selat Malaka dan Sungai Batanghari menuju Pelabuhan Melayu di Jambi, kini berada di bawah kendali Raja Dharmasraya.

C. Ekspansi Singasari-Hindu

Ekspedisi Pamalayu dan Hegemoni Singasari, adalah dinamika kekuasaan dari Kerajaan Singasari di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Kepemimpinan kembali berubah drastis pada tahun 1275 dari Kerajaan Singasari dari Jawa, yang beragama Hindu di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara, melancarkan ekspedisi militer besar-besaran yang dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu. Tujuan utama ekspedisi ini adalah merebut Pelabuhan Melayu dan menguasai Selat Malaka, jalur perdagangan vital yang menghubungkan dunia barat dan timur. Keberhasilan ekspedisi ini menempatkan Kerajaan Dharmasraya yang bercorak Buddha di bawah hegemoni Singasari yang beragama Hindu.

D. Perlawanan Sumatera dan Lahirnya Kesultanan Aru/Barumun:
Ekspedisi Pamalayu tidak berjalan mulus. Meskipun Ekspedisi Pamalayu pertama diluncurkan pada tahun 1275, ternyata perlawanan di Sumatera tetap berjalan tiada henti, bahkan masih kuat. Oleh karena itu, ekspedisi kedua dikirim pada tahun 1268 (perlu dikonfirmasi ulang tahun ini, karena biasanya ekspedisi kedua dilakukan setelah yang pertama jika masih ada perlawanan). Perlawanan terhadap pendudukan tentara Jawa (Singasari) di Minangkabau terus berlangsung dan berlanjut hingga tahun 1294. Pada periode ini, Kerajaan Singasari sendiri menghadapi berbagai gejolak internal dan eksternal. Terjadi perang saudara dengan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang "besan sekaligus ipar" dengan Prabu Kertanegara, serta adanya ancaman invasi dari pasukan Tartar Mongol yang dikenal sebagai Ekspedisi Mongol ke Jawa, sebagai balasan atas kekejaman dan penghinaan dari Kertanegara kepada Kaisar Khubilai Khan. Kondisi ini melemahkan kontrol Singasari atas wilayah Sumatera. Ekspedisi Pamalayu, yang dipimpin oleh Mahisa Anabrang, akhirnya "menyerah kalah" atau setidaknya kehilangan kendali efektif karena melemahnya kekuasaan pusat. Dari kekosongan dan pergeseran kekuasaan ini, lahirlah Kesultanan Aru/Barumun pada tahun 1299, menandai babak baru dalam sejarah Islam di Sumatera.

             KESIMPULAN
Kisah Perlak dan Pasai adalah gambaran kompleks dari interaksi perdagangan, politik, dan agama di Nusantara. Perebutan kekuasaan antara Dinasti Fathimiyah, Kerajaan Dharmasraya, dan Kerajaan Singasari, yang melibatkan Islam, Buddha, dan Hindu, menunjukkan betapa dinamisnya kawasan ini dalam membentuk identitas sejarah dan budaya maritim Indonesia. Lahirnya Kesultanan Aru/Barumun menjadi penanda kuatnya pengaruh Islam yang terus berkembang di wilayah Sumatera.

Komentar

Postingan Populer