Periode KEDUA Majapahit: Kehebatan Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Hayam Wuruk: Dua Penguasa Emas

TRIBHUWANA TUNGGADEWI

Dari tangan seorang ratu perkasa dan raja bijaksana, Majapahit mencapai puncak kejayaan dan menaklukkan Nusantara.

Majapahit memiliki luas wilayah kekuasaan di Nusantara, yang pernah memiliki dua sosok "pemimpin" yang luar biasa dalam menuntun kerajaan ini menuju masa emasnya, yakni: Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Raja Hayam Wuruk. Keduanya menjadi simbol kepemimpinan yang memadukan kebijaksanaan politik, kekuatan militer, serta visi penyatuan Nusantara. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur, bukan hanya Jawa, Sumatera dan Kalimantan saja, melainkan sebagai kekaisaran maritim terbesar di Asia Tenggara abad ke-14.

A. Latar Belakang Kepemimpinan Tribhuwana Wijayatunggadewi

Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri dari Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni, naik takhta pada tahun 1328 M setelah Jayanegara wafat tanpa keturunan. Meski seorang perempuan, kepemimpinannya disambut dengan penghormatan besar. Ia dikenal tegas, strategis, dan sangat cerdas dalam mengelola pemerintahan.

Tribhuwana menjadi ratu Majapahit ketiga yang memimpin bersama dukungan Adityawarman, dan Mahapatih Gajah Mada. Dalam masa pemerintahannya, ia memantapkan pondasi politik, ekonomi, dan militer kerajaan, sekaligus menumbuhkan rasa kebangsaan yang kelak menjadi cikal bakal wilayah “Indonesia”.

B. Sumpah Palapa dan Awal Ekspansi Majapahit

Pada masa pemerintahannya, terjadi peristiwa monumental: Sumpah Palapa (1334 M) yang diucapkan oleh Gajah Mada. Dalam sumpah itu, Gajah Mada berikrar (Sumpah-setia) tidak akan menikmati kehidupan duniawi sebelum berhasil menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji (bendera) Majapahit.
Tribhuwana mendukung penuh ikrar itu. Ia memberikan kuasa penuh kepada Gajah Mada untuk melaksanakan ekspedisi penaklukan ke berbagai wilayah, untuk bertindak sebagai "Mahapatih". Inilah awal era ekspansi besar-besaran Majapahit.

C. Periode Kejayaan & Ekspansi (1328–1389 M)

1330 M: Awal Era Ekspansi

Gajah Mada dilantik sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, menandai awal periode ekspansi terencana.

1334 M (Sumpah Palapa)

Gajah Mada dilantik menjadi Mahapatih dan mengucapkan Sumpah Palapa, ikrar suci penyatuan Nusantara. Di tahun yang sama, Hayam Wuruk lahir—kelak menjadi penerus kebesaran Majapahit.

1337 M

Wang Dayuan, pelancong Yuan-Mongol, melaporkan keberadaan komunitas Muslim Hui di Sidoarjo yang memperkenalkan senjata api (cetbang dan lantaka) kepada militer Majapahit.

1339 M

Dimulainya Invasi Sumatra, dipimpin Gajah Mada dan Adityawarman, menaklukkan Palembang, Lampung, Bangka, dan Belitung.

1343 M

Invasi Majapahit ke Bali dan Lombok berhasil. Bali menjadi vasal utama Majapahit. Takluknya "KEBO IWA" di Bali

1347 M

Adityawarman mendirikan Kerajaan Malayapura di Minangkabau. Ini menandai pergeseran politik Sumatra dari pusat kekuasaan Majapahit.

1350 M (Puncak Kekuasaan)

Tribhuwana turun takhta; Hayam Wuruk dinobatkan sebagai Raja Majapahit ke-4 (Sri Rajasanagara). Gajah Mada melanjutkan ekspansi ke Samudera Pasai.

1351 M

Prasasti Gajah Mada mencatat pembangunan caitya untuk Kertanegara, serta pengakuan vasal dari Brunei dan Melanau (Kalimantan Utara).

1356 M

Majapahit gagal dalam Invasi Pertama ke Nan Sarunai (Kalimantan Selatan).

1357 M (Tragedi Bubat)

Terjadi Insiden Bubat, konflik diplomatik antara Majapahit dan Kerajaan Sunda yang menewaskan Dyah Pitaloka. Peristiwa ini mengguncang Hayam Wuruk dan mengakhiri karier Gajah Mada di medan politik.

1358 M

Invasi Kedua ke Nan Sarunai berhasil; Kerajaan Tumasik (Singapura) dan kepulauan Riau berhasil ditaklukkan.

1359 M

Disusun Kitab Kutaramanawa, hukum dasar kerajaan yang menandai kemajuan administrasi hukum Majapahit.

1365 M (Puncak Kejayaan)

Mpu Prapanca menulis Kakawin Nagarakretagama, yang mendokumentasikan wilayah kekuasaan Majapahit dari Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua.

1371–1377 M

Tribhuwana wafat; Ekspedisi Majapahit ke Palembang menumpas pemberontakan Dharmasraya. Brunei mulai bernegosiasi dengan Kekaisaran Ming.

1381 M

Prasasti Walandit dikeluarkan, menyoroti pengelolaan sumber daya alam dan pertanian. Ini menunjukkan kemakmuran dan stabilitas ekonomi Majapahit menjelang akhir abad ke-14.

D. Hayam Wuruk dan Masa Keemasan Majapahit

Hayam Wuruk dikenal sebagai raja yang adil, arif, dan berwawasan luas. Ia mengembangkan sistem pemerintahan yang efisien, memperkuat perdagangan antar-pulau, dan membina hubungan diplomatik dengan negara lain seperti Cina, Champa, dan Siam.
Di bawah kepemimpinannya, Majapahit menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan internasional, dengan ibu kota Trowulan sebagai kota metropolitan pertama di Nusantara.

E. Kejatuhan Moral & Awal Kemunduran

Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada 1389 M, Majapahit perlahan kehilangan arah. Gajah Mada telah tiada, dan penggantinya tak mampu mempertahankan stabilitas politik. Perebutan kekuasaan di istana serta munculnya kerajaan Islam di pesisir utara Jawa mempercepat kemunduran kerajaan.

Namun, jejak kejayaan Majapahit tetap hidup dalam berbagai bentuk: sistem pemerintahan, bahasa, hukum, dan nilai persatuan yang kelak diwarisi oleh bangsa Indonesia.

Kutipan dari Kakawin Nagarakretagama (Mpu Prapanca, 1365 M)

Adapun tanah Jawa yang termasyhur itu, seluruhnya tunduk kepada baginda raja;
Dari Sabang sampai Wanin, dari Swarnabhumi sampai Gurun, semuanya dalam naungan Majapahit.
Negeri-negeri yang jauh datang membawa upeti,
Laut pun beriak memuja kebesaran Sri Rajasanagara.

Kutipan ini menandai puncak kekuasaan dan pengaruh Majapahit, menggambarkan kejayaan yang menyatukan pulau-pulau Nusantara dalam satu semangat persaudaraan dan kemakmuran.

          Kesimpulan  Penutup

Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Hayam Wuruk adalah dua pilar keemasan Majapahit. Dari tangan seorang ratu yang berani dan raja yang bijaksana, lahirlah imperium maritim terbesar di Asia Tenggara.
Mereka membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal gender, tetapi visi, keberanian, dan kesetiaan terhadap cita-cita besar: menyatukan Nusantara di bawah satu panji, Merah Putih.

Komentar

Postingan Populer