Periode KETIGA Majapahit: Konflik Internal & Kemunduran (1389–1478 M)

Masa Suram MAJAPAHIT

​1389 M: Hayam Wuruk wafat. Putrinya, Dyah Kusumawardhani, naik takhta didampingi suaminya, Wikramawardhana. Sedangkan Parameswara dari Sumatera merebut Tumasik dan mendirikannya kembali sebagai ‘Singapura’.

1398 M: Majapahit menganeksasi Singapura, sehingga Parameswara meloloskan diri ke Malaka.

1402 M: Parameswara mendirikan Kerajaan Malaka yang merdeka, kelak menjadi pesaing maritim terbesar Majapahit.

1403 M: Bhre Wirabhumi, penguasa Blambangan, memerdekakan diri dari Majapahit dan mencari pengakuan dari Cina.

1404 M (Perang Saudara): Dimulainya Perang Paregreg, perang saudara antara Keraton Majapahit Timur (Wirabhumi) dan Keraton Majapahit Barat (Wikramawardhana), yang sangat menguras sumber daya. Sunan Gresik mendirikan Walisongo.

Perang Saudara di Paregreg, menyebabkan kematian "Bhre Wirabhumi" sebagai awal kehancuran Majapahit.

1405 M: Ekspedisi Laut Dinasti Ming pimpinan Laksamana Cheng Ho mengunjungi Nusantara. Pasai dan Aru lepas dari hegemoni Majapahit dengan bantuan Cina.

1406 M: Perang Paregreg berakhir dengan kemenangan Majapahit Barat. Wirabhumi tewas. Terjadi insiden terbunuhnya 100 utusan Cina.

1408 M: Armada Ming kembali menuntut pembayaran hutang atas utusan yang terbunuh. Brunei resmi merdeka dari Majapahit. Malaka memperluas wilayahnya dan merebut Singapura dari Majapahit.

1409 M: Kesultanan Brunei memulai ekspansi besar-besaran di Kalimantan, menundukkan vasal-vasal Majapahit seperti Sambas, Landak, dan Sulu, menandai erosi cepat pengaruh Majapahit di Kalimantan.

1414 M: Kerajaan Malaka diperkirakan resmi menjadi Kesultanan Islam setelah Parameswara memeluk Islam.

1427 M: Wikramawardhana wafat. Dyah Suhita naik takhta sebagai penguasa Majapahit ke-6.

1451 M: Rajasawardhana naik takhta. Di tahun yang sama, Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampeldenta di Surabaya, yang menjadi pusat penyebaran Islam dan cikal bakal kekuatan politik baru di Jawa.

1453 M: Rajasawardhana wafat, Majapahit mengalami Fase Interregnum (Periode Tanpa Raja) hingga 1456 M, menunjukkan ketidakstabilan politik yang parah.

1459 M: Dalam pernikahan politik, Majapahit menyerahkan Keritang dan Kepulauan Siantan kepada Malaka, semakin kehilangan pengaruh atas Selat Malaka.

1474 M: Kitab Sutasoma (yang memuat frasa "Bhinneka Tunggal Ika") diperkirakan diciptakan oleh Mpu Tantular, meninggalkan warisan filosofis Majapahit.

1475 M: Raden Patah (Jin Bun) mendirikan Kesultanan Demak di pesisir utara Jawa Tengah sebagai vasal Majapahit Timur.

1478 M (Keruntuhan): Kudeta Trowulan Kedua. Girindrawardhana menyerang Trowulan dan mengangkat dirinya sebagai Maharaja Majapahit ke-12 di Daha (Kediri). Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi (hilang sirna kemakmuran bumi), yang secara tradisional dianggap sebagai akhir Majapahit sebagai kemaharajaan yang berdaulat.

Komentar

Postingan Populer