Raja 2 Majapahit : JAYANAGARA (1309 - 1328)

PRABU JAYANAGARA

Pasca Ekspedisi Pamalayu, pasukan Singasari dipimpin oleh Kebo Anabrang, dengan membawa dua putri Raja, yakni Dara Petak dan Dara Jingga, diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294. 

Kedatangan pasukan Singosari diperkirakan sekitar seminggu setelah pengusiran Pasukan Mongol dari Tanah Jawa, yang dilakukan oleh Ranggalawe putra Arya Wiraja Adipati Sumenep (Madura). 

Kedua Putri tersebut (Dara Petak + Dara Jingga) adalah Anak Perempuan dari SRIMAT MAULIAWARMADEWA, Maharaja Malayu ke-2 ==> Trailokyaraja Maharaja Malayu ke-1 ==> Raja Langkasuka Sultan Suran ==>  Sanggarama Maharaja Sriwijaya

Selanjutnya, Srimat Mauliawarmadewa "menikah dengan"  TRIBHUWANARAJA Putri dari Demang Lebar Daun, yang pernah mengadakan perjanjian dengan Sang Sapurba leluhur para raja-raja melayu, sebagaimana yang tertulis dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin)

Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya, sebagai isteri ketiga, yang sebelumnya telah memperistrikan kedua putri Raja Kertanegara yang tidak memiliki keturunan. 

Dari penikahan Raden Wijaya dan Dara Petak, lahirlah Putra Mahkota, bernama : "Jayanagara" namun ibunya dari seberang seorang anak raja (putri) Raja melayu Dharmasraya, bernama Srimat Mauliawarmadewa.

Jayanagara lahir pada tahun 1294 dari Rahim Dara Petak (indreswari) yang bergelar Sri Tinuben Pura (istri yang dituakan), sebab Dara Petak paling lihai mengambil hati Sang Prabu Raden Wijaya.

Jayanagara dinobatkan menjadi Raja Majapahit kedua pada tahun 1309, (umur 15 tahun) 

Untuk mendukung kedudukannya di Majapahit, Prabu Jayanagara mengangkat sepupunya bernama "Adityawarman" putra dari Dara Jingga, sehingga keduanya adalah cucu dari Raja Dharmasraya (Melayu-Riau). 

Sebagai sepupu keduanya berasal dari rahim ibu yang berasal dari seberang (Melayu-Sumatera). Jayanegara terlahir dari Dara Petak binti Srimat Mauliawarmadewa, sedangkan Adityawarman terlahir dari Dara Jingga putri Raja Srimat Maulidawarman (Dharmasraya)

Adapun saudari perempuan Prabu Jayanagara, bernama Tribhuwana Tunggadewi menjabat sebagai "Bhre Kahuripan", sedangkan Rajadewi Maharajasa sebagai "Bhre Daha".

Selama pemerintahan Prabu Jayanagara, kondisi istana mulai goyah, sebab dia kurang mendapat dukungan akibat ulahnya ditambah lagi suka mengganggu wanita (karena belum menikah). 

Keanehan pun terjadi jikalau ada jenaka/pemuda yang ingin mendekati adik-adiknya yang perempuan dia menghalang-halangi, sebab memang sebenarnya kedua adiknya ini yang lebih berhak atas "Tahta Majapahit". Terlebih lagi ketika Tribhuwana Tunggadewi didekati oleh Kertawardana putra dari Kumala Ranggawuni yang masih "kerabat dekat" dengan Prabu Kertanegara dan Raden Wijaya. Dalam artian "Kertawardana" adalah pewaris kerajaan Singosari yang berasal dari ketiganya: Tunggul Ametung --KENDEDES--- Ken Arok

Komentar

Postingan Populer