Sejarah berdirinya Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau, tahun 1347 Masehi

 ADITYAWARMAN 

Terlahir sebagai Putera Dara Jingga "binti" Mauliawarmadewa Raja Dharmasraya, kelak menjadi "Jembatan Emas" Jawa - Melayu, sebagai Pendiri kerajaan PAGARUYUNG berkat dukungan Majapahit

Sejarah Nusantara adalah permadani rumit yang ditenun dari benang-benang dinasti, ambisi politik, dan akulturasi budaya yang saling berpadu. Di antara tokoh-tokoh sentral yang menghubungkan dua kekuatan besar—Kerajaan Singasari/Majapahit di Jawa dan Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera—tersimpan nama besar: Adityawarman. Kisahnya tidak hanya tentang berdirinya kerajaan megah Pagaruyung, tetapi juga tentang legitimasi darah, manuver geopolitik, dan warisan peradaban unik yang kelak menjadi cikal bakal identitas Minangkabau.

A. D​inamika Awal dan Intervensi Singasari (1128 M - 1293 M)
​Sebelum dominasi Jawa, Sumatera telah mengalami pergeseran kekuasaan signifikan. Sekitar tahun 1128 M, kawasan strategis di sekitar muara Sungai Perlak dan Pasai mulai dikendalikan oleh pedagang asing yang disokong Dinasti Fathimiyah (Islam Syi'ah). Namun, pada 1168 M, kekuatan ini tergeser oleh Kerajaan Melayu Dharmasraya yang bercorak Buddha, yang kemudian mengendalikan penuh hasil lada dari Minangkabau.
​Keseimbangan ini berubah drastis setelah Prabu Kertanegara dari Singasari (Hindu) melancarkan Ekspedisi Pamalayu pada 1275 M di bawah pimpinan Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang). Tujuannya jelas: menaklukkan Dharmasraya, menguasai Selat Malaka, dan membendung ancaman Mongol. Kertanegara bahkan mengirimkan Arca Amoghapaca (1286 M) kepada Raja Melayu, Crimat Mauliwarmadewa, sebagai simbol aliansi dan status bawahan.
​Rombongan ekspedisi ini baru kembali ke Jawa pada 1293 M, tak lama setelah pengusiran tentara Mongol di Tuban. Mereka membawa dua putri Raja Melayu: Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diperistri Raden Wijaya, melahirkan Jayanegara (Raja Majapahit ke-2). Sementara Dara Jingga, yang dalam Hikayat Minangkabau diyakini sebagai Bundo Kanduang, diperistri oleh Mahamenteri Adwayabrahma, dan melahirkan Adityawarman pada tahun 1295 M.

B. Karier Politik dan Misi Diplomatik Adityawarman di Majapahit

​Lahir dari persilangan darah Melayu-Jawa, Adityawarman dididik di istana Majapahit bersama sepupunya Jayanegara. Pada masa pemerintahan Jayanegara, ia diangkat sebagai Punggawa Kerajaan.
​Adityawarman menunjukkan peran sentral di kancah global. Ia dipercaya sebagai Duta Besar Majapahit ke Tiongkok (Dinasti Yuan) pada 1325 M dan 1332 M—sebuah misi penting untuk memperbaiki hubungan pasca-perang Mongol. Dalam catatan Tiongkok, ia disebut Sengk’ia-li-yulan. Kedudukannya saat itu dinilai sangat tinggi, bahkan beberapa sumber menyebutnya sebagai Wreddhamantri (Perdana Menteri), lebih tinggi dari Gajah Mada muda. Ia juga turut serta bersama Gajah Mada dalam ekspedisi penaklukan Bali (1343 M).
​Gajah Mada, Sumpah Palapa, dan Pengiriman ke Sumatera

​C. Penugasan Adityawarman ke Sumatera pada setelah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa

Sumpah Mahapatih Gajah Mada, diucapkan dihadapan "Tribhuwana Tunggadewi" Raja Majapahit ke-3, pada tahun 1336. Berselang 3 (tiga) tahun, yakni pada tahun 1339, Adityawarman ditugaskan ke wilayah kakeknya berkuasa sebagai Uparaja (raja bawahan), sebuah langkah yang diinterpretasikan sebagai penegakan hegemoni Majapahit, sekaligus penyingkiran halus terhadap seorang bangsawan berdarah ganda yang berpotensi menjadi rival politik Gajah Mada di pusat kerajaan Majapahit.

​Di Sumatera, Adityawarman mendirikan kerajaan baru bernama "Pagaruyung" ibu kotanya di Minangkabau, pada tahun 1347 M, (kemudian dikenal sebagai Malayapura) dan menobatkan diri dengan gelar kebesaran Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa.
​Gelar ini menggabungkan nama raja-raja Sriwijaya dan Dharmasraya, menegaskan bahwa ia sebagai penerus sah semua wangsa Melayu, sekaligus memenuhi syarat legitimasi dari keturunan Crimat Mauliwarmadewa.

D. Legitimasi Ganda dan Perlawanan Terselubung Adityawarman
​Adityawarman membangun legitimasi kekuasaan melalui sinkretisme agama dan tradisi ​Arca Amoghapasa: Ia menggunakan arca warisan Kertanegara untuk menyatakan dirinya sebagai pelindung persatuan (menentang perpecahan) di Bhumi Malayu.
Sinkretisme: Prasasti-prasastinya menyetarakan dirinya dengan dewa-dewa Buddha (Adibuddha dan Avalokitesvara) dan dewa Hindu (Dewa Indra). Peninggalan ini mencerminkan corak Hindu-Buddha Tantrayana di Pagaruyung.
​Pada 1371 M, Adityawarman mengambil langkah berani: ia mengirim utusan ke Tiongkok (Ming) untuk memberitakan bahwa San-Fo-Tsi (Sriwijaya) sudah terpecah menjadi tiga: Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung. Ini adalah manuver diplomatik untuk mencari pengakuan kedaulatan langsung dari Tiongkok, melepaskan diri dari status bawahan Majapahit.
​Perlawanan ini memuncak pada 1376 M, ketika upaya Raja Melayu pengganti (Maharaja Mauli) mengirim utusan ke Tiongkok dicegat oleh tentara Jawa (Majapahit). Peristiwa ini adalah serangan terakhir dari Majapahit terhadap sisa-sisa kekuatan Melayu di Sumatera, yang akhirnya memperkuat kontrol Majapahit atas Palembang.
​Kontras: Intrik Darah di Majapahit (1295 M)
​Sementara Adityawarman membangun kerajaan di seberang lautan, Majapahit awal justru diselimuti konflik politik dan darah yang menewaskan para perintis-perintisnya. Pembangkangan dilakukan oleh Adityawarman, pada saat Mahapatih Gajah Mada, menemui banyak kekalahan di Sumatera, terutama pada kegagalan atas serangan Pasukan Gajah Mada melawan kerajaan islam (kesultanan) Samudera Pasai

Komentar

Postingan Populer