Awal Masuknya Pengaruh ISLAM di Tanah LUWU Sulawesi Selatan
Sejarah masuknya Islam
di Tana Luwu, propinsi Sulawesi Selatan, diawali dengan sebuah pertanda yang dialami sebelumnya oleh Maddika Bua, yang bernama TANDI PAU, "berupa mimpi" dan kebetulan diikuti pula kedatangan tiga mubalig (orang minangkabau) yang pernah berguru di Aceh, dari Ulama Turki. Kedatangan ketiga Mubaligh ini, terjadi pada tahun 1603 Masehi (1013 Hijriah).
A. Arti Opu Maddika Bua
Secara keseluruhan, "Opu Maddika Bua" dapat diartikan sebagai Pemimpin (bangsawan) di daerah Bua dalam tatanan adat Kedatuan Luwu. Gelar ini dipegang oleh tokoh adat yang berperan penting dalam menjalankan dan menjaga tradisi di wilayah tersebut. Salah satu pemegang gelar ini saat ini adalah Andi Syaifuddin Kaddiraja.
Wilayah Opu Maddika Bua mencakup area Bua, Ware', Walmas (Walenrang dan Lamasi), hingga ke Kolaka, sebagai bagian dari pemangku adat Kedatuan Luwu. Selain Maddika Bua, adapula Maddika Ponrang dan Maadika Baebunta, wilayahnya hingga ke Poso dan Morowali (Sulawesi Tengah).
B. Pertanda Kedatangan Tiga Mubalig
Maddika Bua, ketika dijabat oleh Tandi Pau, ia bermimpi melihat tiga matahari terbit di ufuk timur di wilayah Bua, dengan sinar yang sangat terang. Meskipun risau, sinar terang tersebut diyakini oleh Maddika Bua sebagai pertanda baik bagi dirinya dan rakyatnya.
Dalam budaya dan tradisi tertentu, mimpi tentang tokoh-tokoh sejarah atau leluhur sering kali dianggap memiliki makna spiritual atau simbolis yang mendalam, bukan sekadar mimpi biasa.
Mimpi bertemu atau berhubungan dengan Opu Maddika Bua Tandi Pau dapat diinterpretasikan secara beragam, tergantung pada konteks mimpi dan kepercayaan pribadi masing-masing, Apakah itu sebuah Petunjuk, Pesan Leluhur:, Hubungan dengan Sejarah atau Asal Usul, Simbol Kepemimpinan, Pertanda Perubahan, atau Refleksi Spiritual
Penting untuk dicatat: Tafsir mimpi bersifat sangat subjektif dan pribadi. Tidak ada makna tunggal yang benar untuk semua orang. Jika mimpi ini terasa sangat kuat atau bermakna bagi Anda, mungkin berguna untuk membicarakannya dengan tokoh adat setempat, pemuka agama, atau anggota keluarga yang lebih tua yang memahami sejarah dan tradisi setempat.
C. Kedatangan Mubalig Minangkabau
Kedatangan Tiga mubalig (mujāhid) pertama kali tiba di Pandoso, muara Sungai Pa'barasseng, daerah Bua, menggunakan perahu layar bernama "Qimara".
Mereka adalah orang dari Minangkabau, aslinya dari Lima Puluh Kota, yang datang dari Kerajaan Johor, dan singgah di Makassar, untuk meminta saran penguasa Gowa-Tallo, yaitu I Mangngurangi Daeng Mangrabia, yang terlebih dahulu memeluk islam. Oleh Raja Gowa-Tallo, menunjuk Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone sebagai Raja terbesar di Sulawesi Selatan selain Gowa. Dugaan sebelumnya, Ketiga Mubaligh ini telah banyak mempelajari Adat Istiadat Bugis Makassar, sewaktu masih di Johor dan Pattani, prihal hubungan Kemuliaan Raja - dan Kesetiaan Rakyat, dan Spiritualnya.
Tujuan utama misi pertama ini adalah Kerajaan Luwu karena dipandang sebagai negeri paling mulia dan tertua di Sulawesi.
Adapun dari Ketiga mubalig tersebut adalah:
- Abdul Makmur (Khatib Tunggal), bergelar Dato' ri Bandang.
- Khatib Sulaiman (Khatib Sulung), bergelar Datu' Pattimang.
- Abdul Jawad (Khatib Bungsu), bergelar Datu' Tiro.
D. Kedatangan di wilayah Bua - Luwu
Mubalig menyampaikan amanah, melalui nelayan bernama Latiwajo untuk diteruskan kepada Maddika Bua (Raja Bua), selanjutnya
Maddika Bua kemudian mengutus cendekiawannya, bernama Langkai Bukubuku, untuk menyambut dan mengetahui apa maksud kedatangan ketiga tamu tersebut. Apakah Latiwajo ini, nelayan biasa, saudagar atau ada hubungan dekat dengan Maddika Bua, sehingga berani menghadap langsung dan diterima untuk menyampaikan maksud kedatangan, ketiga Mubaligh (orang minang dari Johor) untuk Menyebarkan syiar Islam di Wilayah Luwu? Sebuah ajaran baru yang dianggap dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Setelah mendengar maksud tersebut, Maddika Bua teringat mimpinya, maka dicocokkanlah dengan hal ini, tentang Sinar Terang dari Timur.
E. Pelaksanaan Dialog (SINGKARUME')
Kemudian, Maddika Bua bersama perangkat adatnya (termasuk To Pabbicara, Pabbunture', dan Opu To Malompo) berangkat ke Pandoso menggunakan perahu perang "La Uli' Bue". Mendatangi langsung menemui ketiga Mubaligh tersebut atas info dari Nelayan yang bernama "Latiwajo"
Dialog (Singkarume') dilakukan di atas perahu "Qimara". Datu' Sulaiman menjadi juru bicara utama dari pihak mubalig.
Poin-point Penting Dialog :
Maddika Bua, bertanya: Apakah yang namanya Islam, tidak merusak tatanan adat istiadat yang sudah ada?
Mubaligh, menjawab: Islam tidak merusak peradaban, justru islam menguatkannya, berdasarkan ajaran MAN LAA AADABA LAHUU LAA DIINA LAHUU (Barang siapa tidak beradab, maka tidak ada agama baginya).
Kegunaan Agama: Islam membahagiakan dunia dan memberikan keselamatan di akhirat.
Contoh Perbandingan: Jika Budi pekerti diibaratkan "kayu kecil" yang terbatas, sedangkan Islam diibaratkan "kayu raksasa" yang serba guna (dapat dibuat rumah, dapat dibuat perahu untuk mengarungi samudra hingga ke akhirat).
Hakikat Kehidupan: Pada dasarnya Islam adalah agama yang paling mulia, paling baik, suci tanpa paksaan, cinta damai, melarang berbuat zina, melarang menyakiti dan membunuh, menciptakan persamaan derajat kemanusiaan tanpa tingkatan (kasta), memberikan kenyamanan, pengasih dan penyayang, bahagia dunia-akhirat, dan rahmat bagi alam semesta dan seluruh ciptaan Tuhan.
F. Pengislaman Maddika Bua (TANDI PAU) dan Raja Luwu (LA PATTIWARE)
Setelah dialog selesai dan Maddika Bua menyadari tingkat pemahaman aqidah yang dibawa, maka Maddika Bua (Raja Bua) dan para pemangku adat memeluk agama Islam dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Kemudian, Maddika Bua mengantar para mubalig ke Malangke (Pattimang), pusat Kedatuan Luwu.
Datu' Luwu yang memerintah adalah Patiarase atau La Pattiware (1585-1610).
Kedatangan Maddika Bua (Raja Bua) mengantarkan Mubaligh (Tiga Datuk) yang dipimpin oleh Datuk Sulaiman untuk menemui Sang Raja Luwu. Namun Maddika Bua menyembunyikan (rahasia) bahwa ia sudah terlebih dahulu memeluk islam, sebab dikhawatirkan Sang Raja "tersinggung" karena mendahului Sang Raja, dan memikirkan bagaimana cara menanggung resiko jikalau sang Raja, justeru menolak masuk islam.
Singkat cerita, Sang Raja La Pattiware "sah" memeluk Islam pada hari Jumat, 15 Ramadhan 1013 H, tahun 1603. Setelah mengucapkan: "Dua Kalimat Syahadat".
Ia diberi gelar Arab, yaitu Sulthan Muhammad Mudharuddin. Setelah Raja Luwu, memeluk Islam yang dipandu oleh ketiga Mubaligh, maka pada saat ini pula maka Agama Islam menjadi Agama Resmi di seluruh wilayah Kerajaan Luwu. Untuk memperkuat hal ini, maka dibangun lah, "Mesjid Jami Palopo" pada tahun 1604.
G. Tantangan terhadap Adat Istiadat
- To Manurung: Orang yang datang secara tiba-tiba, ada pula menganggap turun dari khayangan.
- Batara Guru: Dianggap sebagai manusia pertama dan leluhur masyarakat Bugis, yang juga merupakan raja pertama di Kerajaan Luwu. Sosoknya diyakini memiliki kekuatan magis dan dihubungkan dengan mitologi dalam epos La Galigo.
- Kepercayaan terhadap Dewata Sewwae: Kepercayaan pada kekuatan gaib yang mendiami alam raya, yang diwujudkan melalui ritual sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan.
- Maccera Tasi: Ritual syukuran para nelayan yang dilakukan di tepi pantai untuk merayakan hasil laut dan sebagai bentuk ritual untuk mengembalikan semangat.
- Mappacekke Wanua: Ritual adat yang secara harfiah berarti "mendinginkan negeri" atau untuk menyejukkan bumi, sering dilakukan dalam rangka hari jadi kabupaten.
- Arajang: Benda sakral yang dianggap memiliki kekuatan magis dan berhubungan dengan mitologi To Manurung. Tidak semua orang bisa
Maka, pelaksanaan ajaran Islam dilakukan secara bertahap, sedangkan nilai-nilai lama yang tidak bertentangan tetap diberlakukan, dan jika bertentangan sebaiknya dibuang dari tatanan sosial, agar sesuai ajaran Agama.
Adapun Suku Toraja dan Orang Rongkong yang berada di wilayah Kerajaan Luwu, sulit diislamkan, namun Raja Luwu (Datu') tidak memaksakan. Kemudian oleh, Patunru Mustafa memasukkan ajaran Islam ke dalam ungkapan adat Luwu, terutama nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, dan kebenaran.
Terdapat pemahaman di Cerekang dan Ussu yang menyamakan Sawerigading dan Muhammad:
"IYA, MUTO...IYA, MUTO..." (Dia juga.. Itu juga..)
H. Penolakan Saudara Raja Luwu
Saudara kandung Datu' Luwu, bernama: Patiparessa Manjawari (PETTA PAO), ia berdalih nanti sesudah makan barulah ia menjawab atas keragu-raguan untuk memeluk Islam. Namun makanannya tidak bisa habis sebab selalu di tambah, hal ini dianggap menyalahi janji untuk menghabiskan daging babinya.
Akibat penundaan janji, Datu' Luwu memerintahkan algojonya, La Bucai, untuk membunuh Petta Pao (saudara kandungnya)
Akibat kejadian dari ini, melahirkan tradisi di masyarakat Pao (Malangke) untuk menutup pintu rumah saat makan malam.
Sebuah hikayat di masyarakat, mengatakan bahwa: Anak dari Patiparessa, menyingkir ke daerah toraja dan beranak pinak disana.
J. Penghormatan, Amanah dan Sanksi Kepada Maddika Bua (Raja Bua)
1. Penghormatan
Datu' Luwu (Raja) Patiarase memberi penghormatan kepada Tandi Pau atas jasanya mengislamkan dirinya dan rakyatnya, dengan memberikan gelar kehormatan: "Opunna Ware'.
2. Amanah
Amanah Utama: Mengembangkan ajaran Agama Islam di wilayahnya dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab.
3. Sanksi Setiap masuk bulan suci Ramadhan, Maddika Bua diharuskan melapor ke istana Datu' Luwu. Hal ini sebagai sanksi karena telah mendahului Datu' Luwu memeluk Islam.
Tradisi pelaporan ini berlangsung hingga masa Datu' Luwu ke-33, Andi Kambo Opu Daeng Risompa, dan ditiadakan dengan catatan agar Maddika Bua tidak mendahului Datu' berpuasa.


Komentar
Posting Komentar