SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY: Ulama Sufi, Pejuang Multinasional, dan Warisan Islam Global

ARTI: AL MAKASSARY

Al-Makassari" berarti "dari Makassar," yang merujuk pada asal usul seseorang dari daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Secara spesifik, frasa ini sering digunakan untuk merujuk pada Syekh Yusuf Al-Makassari, seorang ulama dan pahlawan nasional, yang juga mendapat jululkan "Tuanta Salamaka Ri Gowa", yang artinya "Guru Kami yang Agung dari Gowa"

Pemberian nama Gelar: "Syeck, Al-Makassari, Al-Bantani, Al-Bugisi, Abu Mahasin, Tajul Khalwati" adalah untuk keilmuan dan perjuangan dalam islam, bukan berarti ada garis keturunan Arab.

Mari kita menelusuri, Asal-usul Keluarga, Jejak Sejarah dan Spiritual Sang Permata Nusantara, mulai dari Gowa, Banten, Damaskus hingga Afrika Selatan.

​Nama Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassary Al-Bantani bersinar sebagai permata tak ternilai dalam sejarah Islam Nusantara. Beliau adalah sosok ulama besar yang lahir di Gowa Sulawesi Selatan. Beliau menimba ilmu di pusat-pusat peradaban Islam dunia, serta memimpin perlawanan heroik bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten melawan VOC, hingga akhirnya diasingkan ke Sri Lanka dan Afrika Selatan. Namun, pengasingan itu justru menjadikan ia sebagai cahaya bagi perjuangan dan keilmuannya, sehingga namanya semakin bersinar terang benderang. Syekh Yusuf bukan hanya dikenal sebagai ulama sufi, pejuang kemerdekaan, dan arsitek jaringan dakwah internasional, tetapi juga pahlawan di dua benua (Asia dan Afrika)

​Asal-Usul dan Fondasi Spiritual

​Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1626 M (8 Syawal 1036 H) di Lakiung, Moncong Loe, dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Nama kecilnya adalah Muhammad Yusuf.

​Beliau tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan terkemuka. Ayah beliau, bernama Abdullah Khaidir, merupakan tokoh istana dan Gallarang Moncong Loe, sementara ibundanya, bernama, Aminah Itubianai Daeng Kunjung, berasal dari keluarga bangsawan Gowa dan Tallo, serta memiliki hubungan kekerabatan (dekat) dengan elite Kerajaan Bone.

​Lingkungan istana kerajaan Gowa dan Tallo yang kaya akan tradisi Islam dan suasana intelektual islami membentuk pribadi Muhammad Yusuf kecil, menjadi pribadi yang taat, cerdas, disiplin dan kuat.

Fondasi keislaman dan spiritualitasnya sangat dipengaruhi oleh dakwah Tiga Datuk dari Minangkabau—Dato’ ri Bandang, Dato’ Patimang, dan Dato’ ri Tiro—yang telah berhasil menyebarkan ajaran Islam secara mendalam di Sulawesi pada akhir abad ke-16. Syekh Yusuf adalah produk intelektual dari proses Islamisasi tersebut, yang telah berhasil dirintis oleh para ulama pendahulu tersebut. Ketiga Dato' (Datuk) tersebut berasal dari Kabupaten 50 Kota, yang merupakan alumni dari Pesantren Aceh.

​Perjalanan Lintas Benua dan Keilmuan

​Masa Pendidikan di Nusantara

​Sejak usia dini, Syekh Yusuf telah mempelajari Al-Qur'an, Hadis, Fikih, dan ilmu dasar Islam di pusat pendidikan Kerajaan Gowa serta pendidikan keagamaan di daerah Cikoang. Pada usia 15 tahun, beliau memulai pengembaraan spiritual dan intelektual yang panjang. Beliau melanjutkan pendidikan di Banten dan Aceh, dua kota yang dikenal sebagai pusat ilmu Islam Nusantara kala itu. Di Aceh, beliau berguru kepada Syekh Nuruddin ar-Raniri, seorang ulama besar yang sangat berpengaruh di dunia islam - Melayu.

​Pengembaraan ke Timur Tengah

​Di dorong oleh haus ilmu dahaga pengetahhan, Syekh Yusuf kemudian berlayar ke Timur Tengah. Selama kurang lebih dua dekade (sekitar 20 tahun), beliau mendalami berbagai disiplin keislaman di kota-kota suci dan pusat keilmuan, seperti: Mekkah, Madinah, Yaman, dan Damaskus.

​Di Damaskus, beliau memperoleh ijazah sebagai mursyid utama Tarekat Khalwatiyah, serta turut mempelajari tarekat-tarekat besar lainnya, seperti Syattariyah, Naqsyabandiyah, dan Qadiriyah. Dari sinilah beliau dianugerahi gelar prestisius “Tajul Khalwati” atau “Mahkota Khalwatiyah”. Perjalanan ini membuktikan bahwa ulama Nusantara telah menjadi bagian integral dari jaringan keilmuan global.

​Gelar dan Pengakuan Internasional

​Kedalaman ilmu dan kiprah Syekh Yusuf tercermin dalam berbagai gelar yang disandangnya:

  • Tuanta Salamaka ri Gowa: "Guru keselamatan kami dari Gowa," gelar kehormatan dari masyarakat asalnya.
  • Al-Makassary dan Al-Bantani: Merujuk pada asal daerahnya dan peran signifikannya di Banten.
  • Abul Mahasin Tajul Khalwati: Gelar sufi tertinggi sebagai mursyid Tarekat Khalwatiyah.

Kesaksian Dunia Islam sebagai Pahlawan Dua Benua

​Pengabdian dan perjuangan Syekh Yusuf diakui secara luas di era modern:

  1. Pahlawan Nasional Indonesia: Beliau diakui dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995.
  2. Order of Companions of O. R. Tambo: Beliau juga menerima anugerah kehormatan tertinggi dari Afrika Selatan pada tahun 2005.

​Bahkan, Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, secara khusus menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik”, mengakui jasanya dalam perjuangan dan pembangunan komunitas Muslim di Cape Town.

Peran Spiritual, Keilmuan, dan Perjuangan Melawan VOC

​Syekh Yusuf dikenal mampu memadukan dunia spiritual dengan perjuangan fisik, mengajarkan bahwa tasawuf adalah energi moral yang mendorong pembebasan umat dari kezaliman.

Peran Keilmuan dan Mufti

​Beliau dikenal melalui karya-karya monumental seperti Zubdatul Asrar dan Safinatul Salik. Beliau memainkan peran sentral sebagai Mufti Kesultanan Banten, guru spiritual bagi Sultan Ageng Tirtayasa, dan pemimpin tarekat yang memiliki dampak luas.

Perjuangan Fisik

​Ketika VOC Belanda mulai merusak kedaulatan Banten, Syekh Yusuf berdiri teguh bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau memimpin barisan pejuang dari berbagai daerah, termasuk Bugis-Makassar, Banten, dan Jawa, menggerakkan semangat jihad melawan kolonialisme. Karena pengaruhnya yang sangat kuat dan strategis dalam perlawanan, VOC menangkapnya melalui tipu muslihat pada tahun 1683.

​Pengasingan: Jejak Abadi di Sri Lanka dan Afrika Selatan

​Penangkapan dan pengasingan Syekh Yusuf justru tidak memadamkan semangatnya, melainkan menyebar dakwahnya.

  • Sri Lanka (1684–1694): Di pengasingan pertamanya, beliau terus berdakwah dan menjadi pusat rujukan bagi umat Muslim di Asia Selatan, menyebabkan VOC panik.
  • Cape Town, Afrika Selatan (1694–1699): Di tempat pengasingan terakhirnya, beliau mendirikan komunitas Muslim pertama. Tempat pengasingannya bahkan diberi nama "Macassar" sebagai penghormatan. Ajaran dan semangatnya sangat mempengaruhi para budak Muslim dari berbagai wilayah, sehingga melahirkan Cape Malay Community, komunitas Muslim tertua dan paling berpengaruh di Afrika Selatan.

​Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 M di Afrika Selatan, meninggalkan warisan spiritual dan perjuangan lintas benua. Makamnya di Cape Town saat ini menjadi situs cagar budaya.

Warisan Lintas Benua: Jembatan Emas Peradaban

​Syekh Yusuf Al-Makassary adalah jembatan vital yang menghubungkan:

  • ​Tasawuf dan Perjuangan Politik (Zikir dan Jihad).
  • ​Tradisi Keilmuan Gowa dengan Jaringan Islam Global.
  • ​Dunia Melayu, Timur Tengah, India, dan Afrika.

​Beliau mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan keberanian, dan spiritualitas harus menginspirasi pembebasan. Warisan Syekh Yusuf adalah warisan kemuliaan, keberanian, dan keteguhan di atas kebenaran yang relevan sepanjang masa.

Komentar

Postingan Populer