Tragedi Pemberontakan RANGGALAWE
Ketika Kesetiaan Jadi Dendam
Pergulatan Ksatria Tuban antara Keadilan, Tahta, dan Harga Diri
Dua tahun setelah berdirinya Majapahit, badai politik mulai mengguncang kerajaan muda itu. Di tengah kejayaan Raden Wijaya sebagai pendiri dan raja pertama, muncul gejolak di Tuban, wilayah penting di pesisir utara Jawa yang dipimpin oleh Ranggalawe, salah satu panglima perang yang paling berjasa dalam pengusiran Mongol. Namun di balik kesetiaan dan keberaniannya, terpendam luka batin yang dalam. Ranggalawe merasa tersisih dan dikhianati oleh kekuasaan yang dulu ia perjuangkan. Tahun 1295 M, sejarah mencatatnya sebagai pemberontak pertama Majapahit, meski rakyat melihatnya sebagai Ksatria jadi korban intrik kalangan istana.
1. Awal Ketegangan di Tuban
Setelah penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pada 10 November 1293, kerajaan mulai menata sistem pemerintahan dan pembagian wilayah. Jabatan penting seperti Rakryan Patih dan Rakryan Mahapatih dibagikan kepada tokoh-tokoh terdekat raja, seperti Mpu Sora dan Nambi.
Namun, Ranggalawe yang berjasa besar dalam kemenangan melawan Mongol tidak mendapat posisi strategis yang sepadan.
2. Pemberontakan Ranggalawe
Ketegangan antara Ranggalawe dan pejabat istana akhirnya memuncak. Menurut Kidung Ranggalawe, konflik ini bermula dari laporan yang menuduh Ranggalawe hendak menggulingkan tahta kerajaan Majapahit. Raden Wijaya yang kala itu baru menstabilkan kekuasaan, tidak ingin mengambil risiko atas isu kudeta dari Ranggalawe. Maka pasukan kerajaan dikirim ke Tuban di bawah pimpinan Mpu Sora dan Nambi, dua sahabat sekaligus rekan seperjuangan Ranggalawe. Pertempuran pun tak terelakkan. Di tepi sungai Tambak Beras, Tuban, darah ksatria Majapahit tumpah untuk pertama kalinya di bawah panji yang sama.
3. Pertarungan Terakhir Seorang Ksatria
Dalam pertempuran yang heroik itu, Ranggalawe menunjukkan keberanian luar biasa. Ia menolak mundur meski pasukannya terdesak. Dikisahkan, Ranggalawe bertempur langsung melawan Mpu Sora, sahabat lamanya. Dengan luka parah, ia akhirnya gugur di medan laga. Kematian Ranggalawe menjadi luka moral bagi Majapahit, karena kerajaan yang baru berdiri justru menumpahkan darah pejuangnya sendiri. Banyak rakyat Tuban meratapinya sebagai ksatria sejati yang mati demi keadilan, bukan ambisi, bukan gengsi.
4. Gugurnya Ranggalawe
Kematian Ranggalawe menimbulkan gelombang kesedihan di Tuban dan Madura. Arya Wiraraja, ayahnya, dikisahkan menyesalkan sikap keras kepala anaknya, namun juga menyalahkan intrik istana yang memperkeruh keadaan.
Raden Wijaya pun menyesali keputusan tersebut. Menurut beberapa sumber babad, raja bahkan mengadakan upacara penghormatan bagi Ranggalawe setelah perang usai, sebagai tanda bahwa pengkhianatan yang dituduhkan padanya tak sepenuhnya benar.
Sejak saat itu, kisah Ranggalawe menjadi simbol kesetiaan dan keberanian oleh politik kekuasaan.
5. Kenangan Abadi Ranggalawe
Nama Ranggalawe abadi dalam Kidung Ranggalawe dan berbagai tradisi lisan masyarakat Jawa Timur. Di Tuban, ia dihormati sebagai tokoh yang berani melawan ketidakadilan, bahkan ketika berhadapan dengan tahta yang pernah ia bela. Kisahnya menjadi pelajaran sejarah bahwa tidak ada kerajaan yang kokoh tanpa keadilan, dan tidak ada kekuasaan yang kekal tanpa kejujuran. Dalam perjalanan Majapahit selanjutnya, banyak pemberontakan lain muncul, tapi kisah Ranggalawe tetap menjadi kisah heroik yang paling dikenang, karena ia berawal dari cinta dan kesetiaan terhadap Majapahit yang dikhianati oleh politik teman seperjuangan. Diawali perjuangan heroik namun berakhir pilu dicap "Pengkhianat".



Komentar
Posting Komentar