Angkatan Perang Didikan LA KORO BATARA WAJO

Angkatan Perang Kerajaan Bugis

Kerajaan Wajo adalah salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan, selain kerajaan LuwuGowaBone dan Soppeng. Dikenal memiliki sistem pemerintahan yang khas, lain daripada yang lain (unik), karena ia menganut sistem demokratis kontitusional sejak tahun 1399 masehi (625 tahun lampau) dimulai pada masa pemerintahan, Paduka Yang Mulia: La Tadampare Puang Rimaggalatung, Rajo Wajo ke-4.
Dengan sistem Pengangkatan pejabat wilayah (Arung Lili) dan Raja Wajo, menggunakan demokrasi "perwakilan" secara berjenjang mulai dari pemilihan arung patappulo (pemimpin teritorial sebanyak 40) yang dilakukan oleh para bangsawan di masing-masing wilayah setingkat desa, untuk memilih pemimpinnya

Selanjutnya, Arung Patappulo ini, (40 raja bawahan) masing-masing memilih raja teritorial di wilayah kerajaan Wajo, sesuai wilayahnya yang berjumlah 6 wilayah disebut Arung Enneng. Selanjutnya Petta Enneng ini yang kemudian bermusyawarah satu orang raja yang dituakan dan dipercaya akan bisa memimpin masyarakat kerajaan Wajo, disebut Arung Mato Wajo (Raja Wajo).

Sehingga yang terpilih menjadi Raja Wajo, bisa saja berasal dari luar bangsawan Wajo, tetapi masih dekat kekerabatannya atau keluarga bangsawan Wajo, entah dari ayah, kakek atau pamannya yang dulu pernah memimpin di kerajaan Wajo. Artinya pewaris tahkta Raja tidak mesti berasal dari putra-putri raja sebelumnya, sehingga kerajaan Wajo paling kondusif dan stabil, serta terhindar dari perebutan kekuasaan (kudeta). Namun kualitas kadar kebangsawanan tetap diperhitungkan secara matang, teliti dan seksama, terutama moral.

Selain sistem pemerintahan yang  unik, bercorak aristokrat-demokratis, di seluruh sulawesi selatan. Kerajaan Wajo juga pernah membentuk prajurit militer kerajaan yang terlatih dan terorganisir dengan manajemen kepangkatan,yaitu Kapiteng (Kapten), Manyoro (Mayor), Koronele (Kolonel) dan jenerala (Jenderal).

Dengan pemerintahan yang demokratis, prajurit militer terlatih, dan tradisi Bugis Adat kerajaan, menyatu secara kental dengan modernisasi ala Eropa. Adaptasi ini dipelopori oleh Arung Matoa La Koro Arung Padali Batara Wajo Raja Wajo ke-41 (menjabat 1885–1808) dalam rangka untuk memajukan angkatan perang kerajaan Wajo melawan penjajah kolonial belanda (VOC).

Perekrutan prajurit dilakukan dengan beberapa tahapan ujian, dan harus berasal berasal dari keturunan bangsawan, sebab akan dipersiapka untuk memimpin pasukan militer adat. Dan membuka pendaftaran yang berasal dari luar kerajaan Wajo, misalnya La Sinrang putra dari La Tamma Datu Sawitto-Pinrang, La Sadapoto putra dari La Panguriseng Addatuang Sidenreng.

Adapun T​upoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) setiap jabatan militer Wajo tersebut adalah:

​I. PUNGGAWA (Kepala Pasukan Adat) adalah gelar militer tradisional, pemimpin unit pasukan yang didasarkan pada adat dan ikatan kekerabatan.
​Tupoksi Punggawa: sebagai p​emimpin Lini Depan, untuk Menggerakkan pasukan,
Motivator semangat dan Penggalang Kekuatan rakyat di wilayahnya.
Memobilisasi prajurit dengan didasari semangat Siri' Na Pacce (harga diri dan keteguhan).
Fondasi Komando: Jabatan ini menjadi dasar bagi pengembangan bagi tugas perwira di lapangan.

Struktur Hierarki Kepangkatan
​Sistem kepangkatan militer adat wajo, mengadopsi nomenklatur Belanda, guna menciptakan rantai komando yang terstruktur.

​A. Jenerala (Jenderal)
Tupoksi: Pemimpin Strategis dan Panglima Tertinggi. Bertanggung jawab merumuskan seluruh strategi pertahanan. Ia memimpin kontingen pasukan utama (Komando Puncak).
Tokoh Penting: Gusti Jalante' (Petta Jinirala Tempe) dan Ishak Manggabarani (kemudian menjadi Arung Matoa Wajo ke-43).

​B. Koronele (Kolonel)
Tupoksi: Sebagai pelaksana Operasional dan Pemimpin Komando tempur dalam skala besar. Berfungsi untuk melaksanakan strategi puncak menjadi tindakan operasional, memimpin satuan besar (setara Brigade/Resimen), dan mengawasi dan mengkomandoi para perwira di bawahnya.

​C. Manyoro (Mayor)
​Tupoksi: Komandan Distrik, untuk melakukan pengorganisasi Taktis. 

Selanjutnya di sebut "Petta Monyoro'", ia ditugaskan sebagai Komandan Teritorial di wilayah spesifik (Arung Lili), dan menyusun taktik pertempuran, dan mengawasi serta memgkoordinir para Kapiteng (Kapten)
Tokoh Penting, tersebut diantaranya:
-Manyoro Pance (Bontouse),
-Manyoro Paleppang (Ujunge), 
-Manyoro La Walinga (Tempe).
-Manyoro Rumpang Megga (Sidenreng)

​D. Kapiteng (Kapten)
Tupoksi: Pemimpin Unit Tempur di tingkat Dasar, sebagai Pelaksana di Garis Depan.
Biasanya yang terpilih adalah bangsawan muda (Perwira junior) yang pemberani, dan mampu memimpin unit taktis kecil (Kompi/Peleton). 

Selanjutnya disebut "Puang Kapitang". Fungsi sebagai pelaksana langsung perintah di garis depan, serta bertanggung jawab atas disiplin prajurit dalam pertempuran.
Nama-nama yang pernah menjadi Kapiteng:
-Kapitan Massalanra (Lowa - Wajo)
-Kapitan Bolong (Lise - Sidrap)
-Dan lain-lain yang tidak sempat disebut.

Kesemua ini, adalah militer yang dididik oleh dewan adat dan raja wajo, yang "ogah" bekerjasama dengan penjajah belanda. Meskipun dikemudian hari ada ajakan dan bujukan dari pemerintah kolonial untuk direkrut sebagai prajurit didikan belanda atau didikan Jepang seperti KNILPETA HEIHO, prajurit ini tetap "ogah"

Kesimpulan
Kerajaan Wajo pada masa pemerintahan La Koro Batara Wajo, menjadi pusat latihan bagi para prajurit militer, bagi masyarakat Wajo, Sidrap dan Pinrang, serta dari daerah lainnya.

Struktur ini dibuat untuk memastikan rantai komando yang kuat, dari strategi tertinggi hingga ke pelaksanaan taktis di lapangan, yang umumnya diisi oleh kalangan bangsawan yang cakap (Anak Maddio atau Anak Cera').

​Sumber Rujukan (Referensi):

​Informasi ini dikumpulkan dari berbagai sejarah dan lontara (naskah tradisional) Sulawesi Selatan, khususnya yang berkaitan dengan Kerajaan Wajo.

Andi Zainal Abidin Farid, Wajo pada Abad XV-XVI: Suatu Penggalian Sejarah Terpadu. (Buku-buku karya sejarawan Bugis yang fokus pada sistem pemerintahan dan militer Wajo).

Publikasi Akademik dan Tesis mengenai struktur komando militer Bugis-Makassar, yang seringkali mengutip arsip kolonial Belanda terkait reorganisasi militer kerajaan.

Silsilah dan Genealogi Bangsawan Wajo: Catatan yang mengaitkan tokoh militer dengan garis keturunan Arung Matoa Wajo.​

Komentar

Postingan Populer