HAYAM WURUK: Keturunan SRIWIJAYA, SUNDA GALUH dan Maharaja MALAYU Sumatera

PRABU HAYAM WURUK

Sebelum melihat asal usul kedua orangtua (Ayah dan Ibu) dari Prabu Hayam Wuruk, Raja ke-4 Kemaharajaan Majapahit, marilah kita telusuri mulai dari awal, dari sebuah kerajaan tertua di Nusantara, yaitu Kerajaan Salakanagara (Banten) hingga ke kerajaan Kediri (Jawa Timur), secara berurut runtun dari episode ke episode disetiap generasi. 

Tujuan artikel ini, untuk membuka cakrawala berpikir tentang wawasan kebangsaan kita (Indonesia) agar tidak terjebak dalam pemikiran sempit (primordial) kedaerahan, suku, ras, dan agama. Ternyata kita semua berasal dari dari berbagai daerah dan suku-suku di Indonesia, bahwa kita memiliki garis keturunan dari nenek moyang yang sama, sebab mereka telah kawin mawin sekitar 1.800 tahun dari lintas daerah dari sekian puluh tingkatan generasi dimulai dari tahun 130 Masehi hingga sekarang tahun 2025. 

Melalui Artikel ini, saya mau mengatakan bahwa, Kerajaan tertua di Salakanagara (Banten), Kejayaan Sriwijaya (Palembang) dan Keemasan Majapahit (Mojokerto) adalah kebanggaan kita semua yang patut kita syukuri bersama sebab beliau-beliau itu adalah leluhur kita sebagai bangsa Indonesia.

Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dari Salakanagara hingga Kerajaan Kediri

Sejarah kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dimulai dari periode awal di Pandeglang Banten dengan Kerajaan Salakanagara (sekitar 130-362 M), yang dianggap sebagai kerajaan tertua di wilayah tersebut, bercorak Hindu dengan pengaruh India melalui perdagangan.
Kerajaan ini berpusat di Rajatapura (sekitar Pandeglang, Banten), dan silsilahnya didasarkan pada naskah seperti Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara serta catatan Tiongkok, meskipun bukti arkeologisnya terbatas.

Selanjutnya, periode Jawa Barat berlanjut ke Tarumanagara (358-669 M), penerus Salakanagara, yang meninggalkan prasasti seperti Ciaruteun dan Tugu, menunjukkan kemajuan irigasi dan pemujaan Wisnu.

Pada periode Jawa Tengah, Kerajaan Medang (Mataram Kuno, 732-929 M) mendominasi dengan dua dinasti utama: Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha), yang membangun candi megah seperti Borobudur dan Prambanan. Pusatnya di sekitar Yogyakarta-Magelang, dan silsilah ini tercatat dalam prasasti Canggal serta Kalasan. Kemudian, periode Jawa Timur dimulai dengan perpindahan Medang ke Watugaluh (929-1016 M) di bawah Dinasti Isyana, diikuti Kahuripan (1019-1045 M) yang didirikan Airlangga, dan akhirnya Panjalu (Kediri, 1042-1222 M), yang mencapai kejayaan sastra dan perdagangan hingga runtuh di tangan Kertajaya.

Daftar berikut mencakup raja-raja utama secara kronologis, dengan masa pemerintahan perkiraan berdasarkan sumber primer seperti prasasti dan kakawin.

Periode BANTEN:
Kerajaan Salakanagara (130-362 M)

Kerajaan ini fokus pada agraris dan ritual Hindu, dengan 9 (sembilan) raja yang tercatat, menandai awal Hindunisasi di Banten, yaitu;
1. Dharama Lokapala (130-168 M): Pendiri, memperkenalkan sistem pemerintahan Hindu.
2. Digwijagakasa Dewa Warmanputra (168-195 M): Memperluas wilayah dan perdagangan.
3. Singha Sagara Bimayayasa Wirya (195-212 M): Memperkuat aliansi dengan komunitas lokal.
4. Purnawarman I (212-242 M): Membangun infrastruktur irigasi awal.
5. Lingga Dewata (242-270 M): Masa stabilitas ekonomi dan ritual.
6. Ratu Hyang Kumara (270-287 M): Ratu pertama tercatat, memimpin transisi.
7. Prabu Jayasingha (287-313 M): Mempertahankan pengaruh Hindu.
8. Prabu Purnawarman II (313-340 M): Puncak kejayaan, meninggalkan prasasti awal.
9. Prabu Dharanindra (340-362 M): Raja terakhir, runtuh akibat konflik internal.

Periode JAWA BARAT: 
Kerajaan Tarumanagara (358-669 M
Penerus kerajaan Salakanagara, berpusat di Sundapura (sekitar Bekasi-Jakarta), terkenal dengan prasasti Pallawa yang menunjukkan kemakmuran agraris dan maritim.
1. Jayasingawarman: Ia sebagai Pendiri Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat. Ia memerintah dari tahun 358–382 M.
2. Dharmayawarman: memerintah dari tahun 382–395 M. Putra Jayasingawarman, mempromosikan Buddha
3. Purnawarman: memerintah dari tahun 395–434 M. Raja ikonik, membangun saluran Chandrabhaga; disebut juga sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.
4.  Wisnuwarman: memerintah dari tahun 434–455 M. Fokus pertahanan maritim.
5. Candrawarman: memerintah dari tahun 515–535 M. Masa kemakmuran ekonomi, memperluas perdagangan.
6. Suryawarman: memerintah dari tahun 535–561 M. Memindahkan ibu kota timur, meninggalkan Sunda Pura.
7. Kertawarman: memerintah dari tahun 561–628 M. Penguatan pembangunan infrastruktur.
8. Sudhawarman: memerintah dari tahun 628–639 M. Fokus stabilitas internal.
Hariwangsawarman: memerintah dari tahun 639–640 M. 
9. Hariwangsa: (Aliansi Politik)
10. Nagajayawarman: memerintah dari tahun 640–666 M. 
11. Linggawarman: memerintah dari tahun 666–669 M. Raja Terakhir Tarumanagara, yang kemudian pecah menjadi Sunda-Galuh.

SANJAYA sebagai Jembatan Emas Hubungan kekerabatan JAWA dan SUNDA
Hubungan kekerabatan terbentuk melalui pernikahan antara keturunan dari kedua kerajaan (Tarumanegara dan Kalingga). Contohnya adalah pernikahan antara Bratasena (dari Galuh) dengan Sanaha (dari Kalingga), yang menghasilkan Raja Sanjaya (dari Kalingga).
Kaitan Silsilah: Raja Sanjaya yang berasal dari Kalingga merupakan keturunan dari Ratu Shima. Ia juga memiliki garis keturunan dari Tarumanegara melalui pernikahan tersebut.

Hubungannya semakin baik, terbukti Sanjaya mendirikan kerajaan Medang di Jawa Timur, sebagai penerus dari kerajaan Kalingga. Dia juga pernah menjadi Raja ke-2 di Kerajaan Sunda, (669-723) menggantikan mertuanya Tarusbawa. Setelah menjadi Raja di Sunda, Sanjaya mendirikan kerajaan baru, bernama: Kerajaan Medang (732-760)

Periode JAWA TENGAH:
Dapunta Syailendra

Kerajaan Kalingga terletak di wilayah pesisir utara Jawa Tengah, yang sekarang dikenal sebagai Kecamatan Keling di pantai utara Kabupaten Jepara. Namun, beberapa temuan arkeologis di sekitar Kabupaten Pekalongan dan Batang menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan mungkin menjadi pelabuhan kuno yang dikenal sebagai Pe-Kaling-an dan nama kota ini kemungkinan diubah menjadi Pekalongan.

Pusat Perdagangan dan Pelabuhan Kerajaan Kalingga adalah salah satu pusat kegiatan perdagangan dan pelabuhan penting di masa lalu. Kerajaan ini terletak di wilayah yang strategis, sehingga menjadi salah satu kerajaan yang makmur dan stabil di Jawa Tengah pada masa itu.

Dengan demikian, Kerajaan Kalingga dan raja pertamanya, Prabu Wasumurti, memiliki sejarah yang kaya dan menarik. Mereka berhasil membangun fondasi kuat untuk kerajaan dan menjaga kestabilan politik, sehingga menjadi salah satu kerajaan yang makmur dan stabil di Jawa Tengah pada masa itu.

Daftar Raja Kalingga

1. Prabu Wasumurti: Raja pertama Kerajaan Kalingga (594–605 M).
2. Prabu Wasugeni: Putra Prabu Wasumurti, memerintah setelah ayahnya (605–632 M).
3. Prabu Wasudewa: Putra Prabu Wasugeni yang naik takhta setelah ayahnya (632–652 M).
4. Prabu Kirathasingha: Menantu dari Prabu Wasugeni, memerintah dari 648 hingga 674 M.
5. Ratu Shima: Istri dari Prabu Kartikeyasingha, menggantikan suaminya dan membawa Kalingga ke masa kejayaannya (674–695 M

Kerajaan Medang (Mataram Kuno 732-929)

Setelah menjadi raja dj Kerajaan Sunda-Galuh ia mendirikan dinasti Kerajaan Medang sebagai kelanjutan daerah Kerajaan Kaling yang berpusat di Pantai Utara Jawa, tetapnya di Jepara Jawa Tengah.

Kemudian Sanjaya mendirikan kerajaan Medang (Mataram Kuno) di daerah Watugaluh dekat Sungai Brantas Jombang Jawa Timur. Kerajaan Medang ini pada masa Sanjaya menganut agama Hindu, kemudian pada masa Syailendra menganut Buddha.

Dinasti Sanjaya (Hindu):
1. Sanjaya (732-760 M): Pendiri, prasasti Canggal.
2. Rakai Panangkaran (760-780 M): Membangun Candi Kalasan.
3. Rakai Panunggalan (780-800 M): Stabilitas dinasti.
4. Rakai Warak (800-819 M): Aliansi dengan Syailendra.
5. Rakai Garung (819-838 M): Pembangunan irigasi.
6. Rakai Pikatan (838-850 M): Menikah dengan Pramodhawardhani, menyatukan dinasti.
7. Rakai Kayuwangi (850-898 M): Ekspansi ke timur.
8. Dyah Balitung (898-910 M): Memindahkan ibu kota ke Prambanan.
9. Dyah Daksa (910-919 M): Fokus administrasi.
10. Dyah Tulodong (919-924 M): Transisi akhir.
11. Dyah Wawa (924-929 M): Raja terakhir periode Jawa Tengah.

Dinasti Syailendra (Buddha):
12. Samaratungga (792-835 M): Membangun Candi Borobudur.
13. Pramodhawardhani (835-856 M): Ratu, peran politik penting.

Periode JAWA TIMUR:

Kerajaan Medang (929-1016 M)
Perpindahan dilakukan oleh Mpu Sindok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur akibat bencana alam.

sedangkan kerajaan dan Kahuripan (1019-1045 M) didirikan oleh Airlangga.

Dinasti Isyana (Medang Jawa Timur):

1. Mpu Sindok (929-947 M): Pendiri, memindahkan ke Watugaluh.
2. Sri Isyanatunggawijaya (947-985 M): Putri Sindok, stabilitas ekonomi.
3. Makutawangsa Wardhana (985-1006 M): Ayah Airlangga, hadapi invasi Srivijaya.
4. Dharmawangsa Teguh (1006-1016 M): Raja terakhir, runtuh akibat Pralaya Mataram.

KERAJAAN KAHURIPAN

Sebagai kelanjutan dari Kerajaan Medang kuno yang runtuh, akibat serangan dari "wurawari" raja bawahan Medang, yang sakit hati karena lamaran cintanya di tolak oleh Dewi Galuh Sekar Kedhaton, dengan memilih Airlangga sebagai suaminya. Hal ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Sriwijaya untuk bersama-sama raja wurawari, untuk menghancurkan kerajaan Medang di Jawa.

Setelah kerajaan medang (mataram kuno) hancur, maka Kerajaan Kahuripan di dirikan oleh Airlangga (1019-1045 M): untuk menyatukan Jawa Timur; dengan membagi wilayah menjadi Janggala dan Panjalu.

Daftar Raja Panjalu (Kediri 1042-1222 M);
1. Sri Samarawijaya (1042-1051 M): Raja pertama, putra Airlangga.
2. Sri Jayawarsa (1051-1115 M): Putra Samarawijaya, stabilitas awal.
3. Bameswara (1115-1135 M): Putra Jayawarsa, fokus irigasi.
4. Jayabhaya (1135-1159 M): Cucu Airlangga, kejayaan sastra dan ramalan.
5. Sri Aryeswara (1159-1169 M): Putra Jayabhaya, keadilan sosial.
6. Bameswara II (1169-1194 M): Saudara Aryeswara, pelindung Hindu.
7. Srengga (1194-1200 M): Putra Bameswara II, ekspansi militer.
8. Kertajaya (1200-1222 M): Putra Srengga, raja terakhir, sebagai penerus kerajaan Kahuripan yang konflik dengan para brahmana, lalu kemudian dipimpin oleh Ken Arok, akhirnya dikalahkan di Pertempuran Ganter di daerah Ngantang Kabupaten Malang Jawa Timur.

Silsilah ini menunjukkan evolusi dari kerajaan agraris di Jawa Barat menuju sebagai kerajaan maritim-budaya di Jawa Timur, dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat melalui prasasti dan candi. Variasi nama muncul karena adaptasi naskah Jawa Kuno.

Selanjutnya: Berikut kisahnya silahkan disimak

Dalam Kitab Pararaton raja Kertajaya disebut juga dengan nama Prabu Dhandhang Gendhis, diceritakan pada akhir masa kepemimpinannya kondisi kestabilan sosial di kerajaan Kadiri mulai menurun. Kondisi ini disebabkan kesewenang-wenangan dari sang raja terhadap golongan pandita, kesewenang-wenangan Kertajaya yang berlaku otoriter terhadap para pendeta tersebut dikisahkan dalam Kitab Tantu Panggelaran, dalam Tantu Panggelaran raja Kertajaya disebut dengan Sri Maharaja Taki.

Dalam bagian ke VII dalam kitab Tantu Panggelaran dikisahkan bahwa Sri Maharaja Taki hendak berkeinginan untuk membunuh pendeta sakti yang bernama Pu Bharang.

"Ya ta matus ri sang sogata kalih sanak, mangaran sirā Pu Tapa-Wangkeng mwang Pu Tapa-palet. Kalih pada kinon de sang prabhu hamkahana sirā Pu Bharang"...
(Pigeaud, 1924:112)

Terjemahan: (Maka diutuslah dua orang pendeta Buddha bersaudara bernama Pu Tapa-Wangkeng dan Pu Tapa-Palet. Keduanya disuruh oleh sang Prabhu supaya membunuh Pu Bharang"...)

PERKAWINAN POLITIK LEGITIMASI KETURUNAN KERTAJAYA DAN KEN AROK

Pasca runtuhnya Kerajaan Kediri dibawah pimpinan Kertajaya, yang dilakukan oleh Ken Arok Akuwu Tumapel, yang dibantu oleh para Pandita, maka Ken Arok menguasai Kerajaan Kediri, lalu mengangkat
"Jayasaba" Putra dari Prabu kertajaya sebagai bupati Kediri, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Singosari yang telah didirikan Ken Arok.

Lalu kemudian, untuk memperkuat kedudukan wangsa rajasa di kediri, maka Putri Jayashaba bernama "Dewi Suhito" dinikahkan dengan "Mahisa Wong Ateleng",  putra Ken Arok dengan Ken Dedes

Pernikahan antara "Mahisa Wong Ateleng" Putra Sulung Ken Arok, yang menikah dengan Dewi Suhito putri Jayasaba Adipati Kediri, melahirkan; "MAHESA CEMPAKA"

Kemudian Mahesa Cempaka, menikah dengan istrinya, melahirkan; 

-1. SRI HISMATUPA KUMALA RANGGAWUNI SINGSARI (Adwajabrahman) ayahanda dari Adityawarman Pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau - Sumatera.
-2. DYAH LEMBU TAL (ibu dari Raden Wijaya Pendiri Kemaharajaan Majapahit) 
-3. DYAH TAPASI 

Ketika Wisnuwardhana menjadi Raja, maka untuk menyatukan pewaris tahta kerajaan ia didampingi oleh Mahesa Cempaka, sehingga ini disebut "Dwi Tunggal". Wisnuwardana, cucu dari Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, sedangkan "Mahesa Cempaka" adalah cucu dari Ken Arok Pendiri Kerajaan Singasari sekaligus cucu dari Kertajaya (Raja Terakhir Kerajaan Kediri)

Sedangkan pernikahan WISNUWARDHANA dengan WANING HYUN juga adalah Putri dari Mahesa Wong Ateleng bin Ken Arok, melahirkan; 
-1. KERTANEGARA (Raja Singasari Terakhir)
-2. TURUK BALI (Isteri Jayakatwang Raja Kediri) 

Kemudian,
DYAH LEMBU TAL menikah dengan RAKYAN JAYADARMA Raja Sunda ke-26, yang sebelumnya menjadi "Yudha di Majapahit", melahirkan: "RADEN WIJAYA" pendiri kerajaan Majapahit yang memperistri keempat putri dari Prabu Kertanegara Raja Singosari Terakhir. 

Dari istrinya yang bernama Rajapatni (Gayatri) melahirkan: "Tribhuwana Tunggadewi" (Maharani Majapahit).

TRI BHUWANA TUNGGADEWI Maharani ke-3 Majapahit, menikah dengan KERTAWARDANA (Cakradara) putra dari Sri Hismatupa Kumala Ranggawuni (Adwayabrabman = Sira Dewa Alaki) dari istri yang bernama Puti Reno Marak (Dara Jingga) yang merupakan anak perempuan dari Srimat Mauliwarmadewa Maharaja Malayu di Dharmasraya - Jambi - Sumatera.

Pernikahan Tribhwuna Tunggadewi (Ratu Maharani Majapahit) dengan Kertawardana, melahirkan: "HAYAM WURUK"​ Raja Majapahit ke-4.

Komentar

Postingan Populer