Hubungan segitiga: SRIWIJAYA - PAJAJARAN - MATARAM

Dinasti Syailendra + Dinasti Sanjaya

Pada masa kepemimpinan Linggawarman, kerajaan Tarumanagara mengalami kemunduran yang parah, untunglah dibangkitkan oleh kedua menantunya.

Linggawarman, menikah dengan Dewi Ganggasari putri dari Prabu Wisnumurti, melahirkan dua orang putri;
1. Manasih, permaisuri Tarusbawa, pendiri kerajaan Sunda, sebagai kelanjutan dari kerajaan Tarumanagara yang berpusat di Sundapura (Bekasi-Jawa Barat)
Ia mempunyai putri bernama Teja Kencana yang diperistri oleh Sanjaya, sehingga generasi penerus mereka disebut "Dinasti Sanjaya" bercorak Hindu Siwa
2. Sobakancana permaisuri Dapunta Hyang Jayasa (Syailendra) pendiri kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang (Sumatera Selatan) pada tahun 682 masehi berdasarkan prasasti kedukan bukit. Keturunan mereka selanjutnya disebut "Dinasti Syailendra"  bercorak Buddha Mahayana.

A. Kerajaan Sunda - Galuh
Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa (mertua Sanjaya) sedangkan kerajaan Galuh didirikan oleh Wretikandayun (kakek Sanjaya). Pada periode berikutnya Prabu Sanjaya menjadi Raja Sunda ke-2 menggantikan mertuanya, lalu menjadi Raja ke-4 Galuh menggantikan ayahnya. Lalu kemudian ia sendiri mendirikan kerajaan Medang Mataram di jawa tengah sebagai kelanjutan dari kerajaan Kalingga yang berpusat di Jawa Tengah.
Dari pernikahan Sanjaya, melahirkan;
-1. Tamperan Barmawijaya, mewarisi secara turun temurun kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, yang akhirnya menjadi "Pajajaran" pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Jayadewata ("Prabu Siliwangi")
-2. Rakai Panangkaran, mewarisi kerajaan Medang Mataram kuno, sebagai kelanjutan dari kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Keturunan mereka inilah yang nantinya membangun candi Borobudur dan Candi Prambanan, ketika terjadi perkawinan gabungan antara dinasti Sanjaya dengan dinasti Syailendra.

Adapun hubungan antara kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh sering putus nyambung, kadang berpisah dan bersatu lagi. Puncaknya pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Jayadewata "Prabu Siliwangi" kedua kerajaan ini dipersatukan dengan pusat kerajaan disatukan di Pakuan Pajajaran (Bogor) sehingga disebut "Pajajaran". Disinilah mencapai puncak keemasan dan kejayaan. 

Namun setelah prabu siliwangi wafat, kerajaan Pajajaran selalu mendapat rongrongan dan serangan dari kesultanan Islam Banten dan Cirebon. Puncak kekalahan kerajaan Pajajaran setelah dikepung oleh Banten dan Cirebon dengan mendapat bala bantuan dari kesultanan Islam Demak dari Jawa Tengah, sehingga tamatlah riwayat Pajajaran (Sunda-Galuh)

B. Kerajaan Sriwijaya
Sobakancana binti Linggawarman menjadi permaisuri, mendampingi suaminya sebagai raja di Sriwijaya. Dari hasil perkawinan mereka, salah satu anaknya bernama: "Dharmasetu" Maharaja Sriwijaya ke-4.
Ia memiliki anak bernama Dewi Tara, yang menikah dengan Samaragwira (Rakai Warak) raja medang mataram ke-4, putra dari Rakai Panunggalan => bin Rakai Pikatan => bin Prabu Sanjaya.

Dari perkawinan Dewi Tara (dinasti Syailendra-Buddha) dengan Rakai warak Samaragwira (Dinasti Sanjaya-Hindu), melahirkan:
-1. Samaratungga (Raja Medang Mataram ke-5) yang menyelesaikan pembangunan candi Borobudur dan beberapa irigasi.
-2. Balaputra Dewa, Maharaja Sriwijaya ke-7

C. Kisah BALAPUTRA DEWA

Ia lahir besar di pulau jawa dalam istana kerajaan Medang, bersaudara kandung dengan Samaratungga. Ayah mereka adalah seorang Raja Medang Mataram dari dinasti Sanjaya, sedangkan ibunya adalah putri Raja Sriwijaya dari dinasti Syailendra.

Ketika ayahnya wafat, kakaknya (Samaratungga) yang menjadi raja. Tapi begitu kakaknya mangkat, ia hendak menggantikannya sebagai anak laki-laki. Tapi karena ada hasutan dari Rakai Pikatan sehingga ia bertengkar dengan keponakannya Pramodawardhani, setelah kematian ayahnya Samaratungga. 

Ia memperebutkan tahkta kerajaan medang mataram atas hasutan dari suami Pramodawardhani. Namun ternyata, takhta kerajaan itu dijabat oleh Rakai Pikatan menantu Samaratungga. 

Akhirnya, Balaputra dewa menyingkir ke Sumatera malahan disambut oleh para pembesar/bangsawan di Sriwijaya, kemudian didukung untuk menduduki tahkta kemaharajaan Sriwijaya ke-7, sehingga kemaharajaan Sriwijaya mencapai puncak keemasan dengan membawahi 15 raja bawahan mulai dari Nusantara hingga ke Thailand, Kamboja, Vietnam dan sebagian Malaysia

D. Serangan Sriwijaya ke Pulau Jawa

Jawa Barat: Ketika Sriwijaya dipimpin oleh Balaputra dewa, ia berhasil mengantarkan Sriwijaya menuju puncak kejayaan yang gemilang. Sriwijaya tercatat memiliki 15 kerajaan yang berada dibawah dominasi Kemaharajaan Sriwijaya yang menguasai hendak menguasai Nusantara hingga ke Thailand, Kamboja dan sebagian Malaysia, mereka wajib mengirimkan upeti kepada pemerintah Sriwijaya di setiap tahunnya. Hal ini berlangsung ratusan tahun hingga kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran.

Jawa Tengah: Pada masa pemerintahan Ratu Shima, kerajaan Kalingga mengalami kemunduran, akibat dominasi kerajaan Sriwijaya diperairan pulau Jawa. Setelah runtuhnya kerajaan Kalingga, maka lahirlah kerajaan Medang yang didirikan oleh Sanjaya. Namun hubungan harmonis terjadi ketika ada pertalian perkawinan antara dinasti Syailendra (Buddha-Sumater) dengan dinasti Sanjaya (Hindu-Jawa)

Kerajaan Medang; ketika dipimpim oleh raja Dharmawangsa Teguh, ia mencoba melakukan penyerangan ke kemaharajaan Sriwijaya untuk menguasai perairan selat malaka. Namun serangan itu gagal total, dan malah mendapat serangan balik dari pasukan Sriwijaya yang bergabung dengan Raja bawahan Medang Mataram, bernama: "Worawari". 

Worawari berkhianat kepada kerajaan Medang Mataram karena ia sakit hati lamaran cintanya ditolak oleh putri raja Dharnawangsa Teguh. Pada peristiwa ini kerajaan Medang Mataram hancur berkeping-keping, bahkan raja dharmawangsa pun gugur didalam pertempuran, sehingga disebut "Peristiwa Pralaya" ini terjadi sekitar tahun 1016 Masehi.

Untuk membangun kembali, melanjutkan kerajaan Kahuripan yang hancur berantakan, dilakukan oleh menantu Raja Dharmawangsa, bernama: "Airlangga" ia membentuk kerajaan baru, yang bernama; "Kerajaan Kahuripan", pada tahun 1019, terdiri dari dua kerajaan yakni, Jenggala dan Kediri.

E. Bangkitnya: Malayu Dharmasraya

Pada masa Sriwijaya sibuk berperang melawan kerajaan di jawa, sehingga menyebabkam persediaan dana menipis dan menguras tenaga dan pikiran. Pada saat inilah, kesempatan terbaik bagi Rajendra Cola dari Korola India, merebut kekuasaan kemaharajaan Sriwijaya.
Karena kemunduran Sriwijaya, maka beberapa kerajaan bawahan Sriwijaya mulai melepaskan diri, termasuk kerajaan Malayupura "bangkit kembali" pada tahun
Kerajaan Malayupura ingin menguasai kembali, bekas wilayah Sriwijaya dengan cara melakukan penyerangan ke pulau Jawa.
Pada periode ini kerajaan Malayupura dipindahkan ke Dharmasraya, sehingga dikenal dengan nama: Kerajaan Dharmasraya". Namun ia mengalami keruntuhan pada sekitar tahun 1293-1294, pada masa pemerintahan Mauliwarmadewa, melalui ekspedisi Pamalayu yang dikirim oleh Prabu Kertanegara, raja terakhir Singhosari.

F. Berdirinya kerajaan PAGARUNG
Ketika kerajaan Dharmasraya menjadi bawahan kerajaan Singosari, utusan ekspedisi Pamalayu membawa dua putri Raja Dharmasraya, yakni Dara Petak dan Dara Jingga ke Jawa Timur. Sekitar satu minggu sebelum kedatangannya ternyata, kerajaan Singhosari sudah bubar, dan lahirlah kerajaan baru bernama; "Kerajaan Majapahit".
Singkat cerita, Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya pendiri Majapahit, melahirkan: "Jayanagara alias Kala Gemet' yang nantinya menjadi Raja Majapahit ke-2
Sedangkan Dara Jingga diperistri oleh Mahamenteri Adwajabrahman, melahirkan tiga pendekar tangguh, yakni:
-1. Cakradara (Suami Tribhuwana Tunggadewi Maharani Majapahit ke-3)
-2. Arya Kenceng (Sang Penakluk Bali, dan menjadi Raja di Tabanan)
-3. Adityawarman sang pendekar, yang diakui keberaniannya dan merupakan kunci sukses Gajah Mada, sebagai Mahapatih.

Pada tahun 1339, ketika Adityawarman berumur 45 tahun, sudah lama malang melintang mengabdi pada majapahit, ia pulang ke negeri ibunya di Sumatera guna memerdekakan kembali kerajaan kakeknya "Mauliwarmadewa" dari dominasi kekuasaan Majapahit, dengan cara membangun kerajaan baru, disamping dua kerajaan yang sudah ada yakni: Palembang dan Dharmasraya.

Setelah Adityawarman pindah ke Sumatera, kerajaan Majapahit sudah mulai mengalami kemunduran, bahkan pamor Gajah Mada sudah mulai menurun.
Ketika Majapahit mulai mengalami kemunduran, dan gajah mada sudah mengalami kegagalan di Sumatera. Maka pada saat itu, Adityawarman berusaha memerdekakan Pagaruyung dan Dharmasraya dari dominasi kekuasaan Majapahit.
Keberanian Adityawarman ini, diikuti pula oleh kerajaan bawahan yang lain di Sumatera, untuk melepaskan diri dengan Majapahit.

Kesimpulan

1. Kemaharajaan Sriwijaya sudah berakhir, ketika Singhosari dan Majapahit belum lahir.

2. Penguasaan wilayah Jawa Barat oleh Sriwijaya dan Dharmasraya, sekitar 200 tahun, kemungkinan ada kaitannya dengan persepsi orang tentang rumpun 'Malayu".

3. Selama pemerintahan kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah, hubungan dengan kerajaan Sunda-Galuh, di Jawa Barat cukup harmonis karena ada pertalian hubungan darah dari "Dinasti Sanjaya".

4. Awal mula gesekan berasal dari lamaran Maharaja Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka citraresmi putri dari Raja Galuh melalui mahapatih Gajah Mada, sehingga terjadilah perang Bubat.

5. Serangan kedua ketika kerajaan majapahit runtuh, digantikan oleh kesultanan Islam Demak yang datang tepat waktu membantu kesultanan Banten dan kesultanan Cirebon, sehingga tamatlah riwayat kerajaan Pajajaran, pada masa pemerintahan Prabu Surya Kancana.

6. Sejak adanya pertalian perkawinan antara Dinasti Syailendra dengan Dinasti Sanjaya, terjalin hubungan baik dan kerjasama yang harmonis antara kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan Medang Mataram.

7. Hancurnya kerajaan Medan Mataram pada masa kepemimpinan Dharmswangsah Teguh, yang ingin mencoba mengganggu kemaharajaan Sriwijaya di selat Malaka malahan mendapat serangan balik oleh Sriwijaya didukung oleh Raja Worswari membuat kerajaan Medan Mataram Hancur lebur pada tahun 1016 sehingga disebut Peristiwa Pralaya.

Komentar

Postingan Populer