​Kerajaan MEDANG (Mataram Kuno): Perpindahan Istana, Perubahan Agama, dan Pengaruh Dinasti Sanjaya

 MEDANG : Mataram Kuno

Kerajaan Medang, yang sering disebut juga sebagai Mataram Kuno di Jawa Tengah, yang merupakan salah satu fondasi utama dalam sejarah politik Kerajaan di Nusantara. Kisahnya ditandai oleh perubahan dinasti,  perpindahan pusat kekuasaan, dan penyebaran pengaruh agama serta politik hingga ke wilayah Sunda (Jawa - Barat)

1. Raja Terakhir: Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa

​Periode Akhir Kerajaan Medang di Jawa Tengah berakhir di bawah kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga. Ia adalah raja terakhir Medang yang berkuasa di Jawa Tengah, dengan perkiraan masa pemerintahan sekitar 927–929 M, menggantikan Sri Maharaja Pu Wagiswara.
​Dyah Wawa memiliki rekam jejak yang tercatat dalam beberapa prasasti. 

Dalam Prasasti Sukabumi (7 Maret 927), ia disebutkan menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, semacam pegawai peradilan. Selain bergelar Rakai Sumba, ia juga dikenal sebagai Rakai Pangkaja. Dalam Prasasti Wulakan (14 Februari 928), Dyah Wawa mengaku sebagai putra dari Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas (putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan), yang diduga identik dengan Rakryan Landhayan. Masa akhir kekuasaan Dyah Wawa menjadi titik balik penting dalam sejarah Kerajaan Medang.

II. Transisi Kekuasaan: Peralihan

Berakhirnya kerajaan Medang di Jawa Tengah dan lahirnya Wangsa Isyana, ​ditandai dengan perpindahan istana yang fundamental ke Jawa Timur. Bukti prasasti menjadi penanda kuat transisi ini. Prasasti terakhir atas nama Dyah Wawa di tahun 928 M, sementara prasasti tertua atas nama Mpu Sindok telah ditemukan pada tahun 929 M.

Perpindahan ini memastikan berakhirnya era Medang di Jawa Tengah dan menandai awal periode baru yang dipimpin oleh Wangsa Isyana, yang didirikan oleh Mpu Sindok. Ia memindahkan ibu kota dan membangun pusat kekuasaan baru di wilayah timur, dikenal sebagai masa Medang periode Jawa Timur.

​Perpindahan pusat kerajaan dari Mataram ke Tamwlang (Jawa Timur) sempat memunculkan teori bencana alam. Teori yang diajukan oleh van Bammel menyebutkan perpindahan istana disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat, yang konon menghasilkan geseran lapisan tanah dan menciptakan Gunung Gendol serta Pegunungan Menoreh.

Namun, teori ini telah dibantah oleh penelitian modern. Kajian tahun 2016 oleh Alva Kurniawan (UGM) menyimpulkan bahwa Perbukitan Gendol merupakan hasil vulkanisme purba insitu (pembentukan di tempat), bukan akibat debris avalanche (longsoran) dari letusan Merapi abad ke-10. Penelitian ini menegaskan bahwa formasi geologis tersebut tidak terkait langsung dengan keruntuhan Medang.

III. Perubahan Keagamanan

Dari Hindu Siwa Menuju Harmoni Buddha
​Seiring dengan perubahan politik, Medang juga mengalami pergeseran signifikan dalam praktik keagamaan di kalangan bangsawan, dari dominasi Hindu Siwa menuju Buddha. Peralihan agama ini ditandai sejak pergantian dari Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya ke Sri Maharaja Panangkaran.
Prasasti Wanua Tengah III membuktikan bahwa Buddha telah diterima jauh sebelum transisi dinasti. Prasasti tersebut berisi riwayat panjang mengenai tanah sīma (tanah bebas pajak) yang ditetapkan oleh Rakai Panangkaran untuk menopang kehidupan sebuah vihara Buddha di Pikatan. Vihara ini didirikan oleh pamannya, Rahyangta i Hara, yang merupakan adik dari Rahyangta ri Mdang (Sanjaya). Meskipun terjadi pergantian raja (dari Rakai Panangkaran, Rakai Panaraban, Rakai Warak, Dyah Gula, hingga Rakai Garung), riwayat prasasti ini mencatat alur penguasa yang secara bergantian memelihara, mencabut, dan merehabilitasi status tanah sīma untuk bihara tersebut. Penting dicatat bahwa ajaran Buddha sudah menyebar di Pulau Jawa jauh sebelum era Medang mencapai puncak kejayaan, sebagaimana dibuktikan oleh keberadaan pemuka agama Buddha terkenal bernama Janabadra pada masa Kerajaan Holing (Kalingga).

IV. Jejak Dinasti Sanjaya/Isyana di Tatar Pasundan (Jawa Barat)
​Pengaruh dinasti yang berkuasa di Medang tidak terbatas pada Jawa Tengah dan Jawa Timur saja, tapi melainkan menjangkau hingga ke wilayah Sunda (Jawa Barat). Hal ini menunjukkan bahwa, jaringan politik dan dinasti yang luas.
​Bukti keberadaan wangsa Sanjaya-Isyana di wilayah Sunda tampak pada Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi, di mana gelar abhiseka (penobatan) yang digunakan jelas merupakan ciri khas raja Medang periode Jawa Timur. 

Selain itu, sumber internal Sunda juga mendukung adanya keterikatan dinasti. Tradisi Sunda menyebut Hariang Bangga, salah satu leluhur Sunda, sebagai putra dari Tamperan Barma Wijaya, yang merupakan keturunan dari Sanjaya. Pada masa Mpu Sindok, Sunda diyakini diberi status sebagai mandala Medang, yaitu wilayah yang diberikan otonomi penuh untuk memerintah sendiri, menandakan adanya aliansi atau pengakuan politik.

​Hubungan ini, ternyata memicu konflik internal di Sunda. Sekitar 1006 M, ketika Medang mengalami Mahapralaya (kehancuran besar) saat Darmawangsa Teguh gugur, putra mahkota Medang yang melarikan diri ke Sunda kemudian menyatakan diri sebagai Maharaja Sunda. Hal ini memicu konflik sengit di Tatar Sunda, yaitu antara wangsa pendatang Sanjaya/Isyana dengan wangsa lokal Sunda dari garis Demunawan, sebagaimana tercatat dalam naskah Carita Parahyangan.
Dinamika kekuasaan ini berlanjut hingga tahun 1111 M, ketika wangsa lokal Sunda berhasil menggulingkan pengaruh Sanjaya/Isyana.

V. Tansformasi dan Prasasti
​Sejarah Kerajaan Medang adalah kisah tentang transformasi. Ia dimulai dengan kepemimpinan raja terakhir Dyah Wawa di Jawa Tengah, berpindah ke timur dan melahirkan Wangsa Isyana di bawah Mpu Sindok, menunjukkan peralihan agama dari Hindu ke Buddha di kalangan bangsawan, dan membuktikan bahwa perpindahan istana lebih didorong oleh faktor politik-dinasti daripada bencana alam semata. Terakhir, pengaruh Medang meluas dan menimbulkan dinamika sosial-politik yang kompleks, termasuk konflik dan aliansi, hingga ke Tatar Sunda, menjadikannya fondasi politik yang menentukan sebelum munculnya era Singhasari dan Majapahit. 

Referensi Historis Utama:
​Kajian sejarah Kerajaan Medang didukung oleh sumber-sumber primer dan sekunder

Prasasti Kunci: Prasasti Sukabumi (927 M) dan Wulakan (928 M) sebagai penanda akhir Jawa Tengah; Prasasti Turyan (929 M) dan Wanua Tengah III sebagai bukti transisi Isyana dan toleransi agama.

Kajian Historiografi: Karya-karya J. G. De Casparis dan R. M. Ng. Poerbatjaraka menjadi fondasi interpretasi silsilah raja dan dinasti.

Bukti Geologis: Jurnal ilmiah seperti "Kajian Genesis Perbukitan Gendol..." (Kurniawan, UGM) yang menganalisis penyebab perpindahan.​

Komentar

Postingan Populer