Pemberontakan JAYAKATWANG KEPADA KERTANEGARA (SEPUPU, IPAR, BESAN)
JAYAKATWANG vs KERTANEGARA
Hubungan Kekerabatan yang sangat dekat, komplit dan kompleks namun melahirkan konflik keluarga atas nama dendam dan kekuasaan yang berasal dari hasutan pihak ketiga yakni Arya Wiraraja yang menjabat sebagai Adipati Sumenep yang terkenal cerdik dan ahli strategi dalam peperangan. Padahal hubungan antara Prabu Kertanegara (Raja Singhosari) dan Jayakatwang (Adipati Gelanggelang) memiiki Jalinan Darah, Ikatan Perkawinan. Namun menyimpan Dendam Politik dan ambisi kekuasaan yang akhirnya, Berujung Tragis.
Sejarah Jawa abad ke-13 telah menyuguhkan drama politik yang pelik melibatkan dua tokoh sentral, yakni Sri Maharaja KERTANEGARA, raja terakhir Singasari yang visioner, melawan JAYAKATWANG, adipati Gelang-Gelang yang kemudian merebut takhta Kediri.
Hubungan mereka bukan sekadar persaingan politik, melainkan jalinan kekerabatan yang masih dekat, yakni sepupu, ipar sekaligus besanan. Namun karena politik berdasarkan hasutan sehingga perjalanan sejarah kerajaan Singhosari yang tersohor hingga ke pulau Sumatera, akhirnya menjadi berliku, ironis, dan tragis dengan pertumpahan darah, dan tumpahan air mata kesedihan akibat perang saudara dari sebuah keluarga kerajaan yang memiliki ikatan Kekerabatan yang erat dan berlapis antara Prabu Kertanegara Raja Singhosari dan Jayakatwang Adipati Kediri.
Kertanegara dan Jayakatwang terikat dalam setidaknya tiga jenis hubungan kekerabatan yang erat, yang seharusnya menjadi fondasi persatuan, namun justru dihancurkan oleh dendam masa lalu, yakni Sepupu, Ipar, Besan.
Sebagai SEPUPU : Berdasarkan Prasasti Mula Malurung dan berbagai sumber sejarah, Kertanegara dan Jayakatwang memiliki ikatan darah sebagai sepupu. Ayah Kertanegara, yaitu Raja Wisnuwardhana dari Singasari, adalah saudara kandung dari ibunda Jayakatwang. Hal ini menempatkan mereka dalam garis kekerabatan yang sangat dekat.
Sebagai ADIK IPAR: Ikatan ini terbentuk melalui pernikahan antara Jayakatwang dengan Nararya Turukbali (Adik Bungsu Kertanegara). Banyak sejarawan meyakini Nararya Turukbali adalah adik perempuan Kertanegara atau setidaknya kerabat perempuan dekat dari trah Singasari. Dengan demikian, Jayakatwang berstatus ipar bagi Kertanegara. Baik Kertanegara maupun Turukbali, serta Dyah Lembu Tal, ketiganya adalah saudara kandung dari pasangan Wisnuwardhana (seminingrat) dengan istrinya Waning Hyun.
Posisi BESANAN: Upaya Kertanegara untuk mempererat hubungan kekeluargaan terlihat dari pernikahan putri sulung Kertanegara dengan putra Jayakatwang, Ardharaja. Pernikahan ini menjadikan Kertanegara dan Jayakatwang sebagai besan, sebuah status yang biasanya membawa kehormatan dan jaminan perdamaian.
Kontradiksi dan Perseteruan Tragis
Ketika Dendam yang Lebih Kuat daripada Kekerabatan dan kerukunan keluarga meski terikat dalam hubungan sepupu, ipar, dan besan. Namun Takdir Kertanegara dan Jayakatwang diwarnai oleh dendam politik yang mengakar jauh ke masa lalu, yakni antara Singasari vs Kediri.
Latar Belakang Dendam Turun-Temurun.
Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya, raja terakhir Kerajaan Kediri yang ditaklukkan dan digulingkan oleh Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa—garis leluhur Kertanegara—pada tahun 1222 M. Meskipun Kertanegara telah memberinya jabatan adipati di Gelang-Gelang, Jayakatwang tidak pernah melupakan kehancuran kerajaan leluhurnya. Dendam ini terus membara, ketika semakin diperkuat oleh hasutan dari patihnya, yakni Arya Wiraraja, yang cerdik. Arya Wiraraja adalah Adipati Tuban (Bapak dari Ranggalawe)
Pemberontakan Jayakatwang dan Kejatuhan Kerajaan Singhosari ditangan Prabu Kertanegara.
Raja Singosari (Kertanegara) yang tersohor itu merasa aman setelah mengikat Jayakatwang dalam jaring kekerabatan dan kekuasaan, dan perkawinan putra-putrinya sehingga antara Jayakatwang adalah "berbesanan". Kekuasan jabatan telah diberikan kepada Jayakatwang selaku Adipati di wilayah Gelang gelang.
Ternyata kesemua itu, telah membuat Prabu Kertanegara lengah dan kurang waspada. Ia terlalu percaya bahwa ikatan keluarga akan mencegah pengkhianatan (Pemberontakan). Pada tahun 1292, ketika sebagian besar kekuatan militer Singasari dikerahkan dalam Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera dan ekspedisi ke Bali,
Atas hasutan dari Arya Wiraraja (Adipati) dan pengkhianatan Ardharaja (Menantu) maka Jayakatwang "tertarik" dan melihat ini sebagai momentum emas. Kemudian, Ia melancarkan serangan ganda ke ibu kota Singasari ketika sebagian besar pasukan kerajaan terkonsentrasi untuk melakukan ekspansi perluasan wilayah di Sumatera guna menguasai perdagangan di Perlak dan Pasai, serta Selat Malaka.
Siapa itu, Jayakatwang ?
Diriwayatkan bahwa Jayakatwang memiliki banyak nama, seperti Sanjaya, Aji Katong, Jayakatyeng, serta Ha-Ji-Ka-Tang dalam catatan China. Menurut Kitab Negarakertagama, dijelaskan bahwa Jayakatwang adalah cucu dari Kertajaya (1194-1222), raja terakhir Kerajaan Kediri. Sebab pada tahun 1222, Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok dari Kerajaan Singasari, yang mengakibatkan kerajaan kediri runtuh.
Dalam perjalanan waktu Jayakatwang sebagai cucu kertajaya menikahi Turukbali yang notabene adalah cucu dari Ken Arok. Dari pernikahannya, lahirlah Ardharaja.
Pembalasan dan Strategi Perang
Atas saran dan petunjuk dari Arya Wiraraja, maka Pasukan Jayakateang melakukan Penyerangan Ganda terhadap Singhosari, yang dilakukan dengan dua cara strategi, yaitu serangan pertama dari arah utara yang dipimpin oleh Jaran Guyang, tapi berhasil dipadamkan oleh Pasukan Singhosari dibawah pimpinan Raden Wijaya. Ternyata serangan ini hanya untuk mengecoh dan mengalihkan perhatian saja. Selanjutnya dilakukan serangan kedua (yang sesungguhnya) berasal dari arah Selatan yang dilakukan secara besar-besaran dipimpin oleh Mahisa Mundarang yang menyerbu jantung pusat istana secara diam-diam, sehingga menewaskan Prabu Kertanegara di dalam istana. Semua itu Atas info dari Ardharaja (menantu) ketika melihat Kertanegara, yang saat itu sedang khusyuk dalam Upacara Tantra (kemungkinan Panca Makara Puja atau Ganacakra) di istana, akhirnya Prabu Kertanegara gugur dalam serangan mendadak tersebut yang dilakukan oleh Jayakatwang. Keberhasilan Jayakatwang mengakhiri dominasi Kerajaan Singasari atas Kediri dan secara singkat "membangkitkan kembali" Kerajaan Kediri di bawah kepemimpinannya.
Ada dua menantu Kertanegara, yang mana keduanya adalah Keponakannya sendiri, yakni: ARDHARAJA putra dari Turukbali yang bersuamikan Jayakatwang dan RADEN WIJAYA putra dari Dyah Lembu Tal yang bersuamikan Rakyan Jayadarma Raja Sunda Galuh ke-26.
Dalam artian, Ardharaja menikahi sepupu, demikian pula Raden Wijaya menikahi sepupu. Bahkan Antara Ardharaja dan Raden Wijaya juga masih sepupu. Mereka semua adalah cucu dari Prabu Wisnuwardhana (Seminingrat)
Ardharaja adalah keponakan sekaligus menantu dari Raja Singhosari. Namun berkhianat dan berpihak kepada bapaknya (Jayakatwang) dengan cara memata-matai Kertanegara (sang mertua).
Adapun Raden Wijaya, yang merupakan keponakan sekaligus menantu dari Kertanegara lebih berpihak kepada Kertanegara (mertua) daripada Jayakatwang (pamannya). Bahkan Raden Wijaya berhasil membawa lolos keluarga Kertanegara ke pengungsian dibawah perlindungan Adipati Tuban Arya Wiraraja (bapaknya Ranggalawe).
Atas saran dan petunjuk dari Arya Wiraraja, sehingga Raden Wijaya diterima oleh Jayakatwang, kemudian diberikan lahan di desa Tarik untuk membentuk Perkampungan. Selanjutnya Kampung itu diberi nama Desa Majapahit.
Invasi Pasukan Mongol (Tartar)
Namun, kemenangan Jayakatwang tak bertahan lama. Setahun kemudian, ia sendiri harus menghadapi pembalasan. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, yang berhasil meloloskan diri dari serangan Jayakatwang, ia berhasil menyatukan kekuatan, termasuk dengan bantuan pasukan Mongol yang awalnya datang untuk menghukum Kertanegara.
Atas saran dan masukan dari Arya Wiraraja, sehingga Raden Wijaya "bersekutu" dengan Tentara Mongol yang ingin membalas dendam kepada Raja Singhosari (Kertanegara) yang telah menghina utusannya dengan cara memotong telinganya ketika datang meminta upeti kepada Kerajaan Singhosari.
Pasukan Mongol (Tartar) tidak tahu kalau Kertanegara sudah meninggal "terbunuh" oleh Jayakatwang. Sehingga mereka menilai bahwa sosok Jayakatwang itu adalah Kertanegara sang penguasa kerajaan singosari-kediri.
Pasukan gabungan antara Majapahit dan Pasukan Tartar "bersekutu" menyerbu Raja Kediri (Jayakatwang) secara bersama-sama dalam tiga penjuru mata angin, yakni Selatan, Timur dan Barat. Akhirnya Kerajaan Kediri Runtuh, bersamaan tewasnya Jayakatwang bersama putranya (,Ardharaja).
Berkat bantuan pasukan mongol (Tartar) Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang (Raja Kediri).
Atas kemenangan itu, pimpinan pasukan Tartar menagih janji kepada Adipati Tuban Arya Wiraraja. Lalu kemudian rombongan pasukan tentara mongol diarahkan kepada suatu tempat dan diharapkan agar mereka tidak membawq senjata. Kemudian wilayah itu sudah terkepung oleh pasukan Raden Wijaya dan pasukan Ranggalawe yang siap menyerang. Dalam posisi terkepung itulah tentara mongol disuguhi minuman keras (miras/tuak) untuk merayakan kemenangan. Dalam suasana bahagia dan meriah, dalam kondisi "mabuk" sempoyongan tanpa senjata mereka secara tiba-tiba diserbu oleh pasukan Raden Wijaya dan pasukan Ranggalawe. Akhirnya mereka kocar kacir melarikan diri melalui di Pelabuhan Tuban.
Setelah berhasil mengusir tentara mongol yang telah membantu untuk menyerang kediri, kemudian Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar yang kelak akan mencapai puncak kejayaannya di Nusantara. Untuk lebih menguatkan posisi dan kedudukannya, maka Raden Wijaya memperisteri seluruh putri dari Prabu Kertanegara (Raja Singhosari terakhir).
Sekitar seminggu pasca pengusiran tentara mongol (Tartar), maka pulanglah utusan singhosari dari Sumatera dalam tugas ekspedisi Pamalayu. Kepulangan mereka membawa dua putri dari Raja Melayu, yakni Dara Petak dan Dara Jingga. Sang adik (Dara Petak) diperisteri oleh Raden Wijaya, sedangkan Sang Kakak (Dara Jingga) diperisteri oleh Mahamenteri Singhosari yakni Adwajabrahman, sehingga lahirlah:
- Adityawarman (Pendiri Pagaruyung)
- Kertawardana (Suami Tribhuwana)
- Arya Kenceng (Raja Tabanan - Bali)
Kisah perseteruan antara Kertanegara dan Jayakatwang adalah gambaran tragis bagaimana dendam politik, yang diwarisi dari generasi ke generasi, dapat meluluhlantakkan ikatan kekeluargaan terkuat sekali pun (Sepupu, Ipar, Besan)
Karena adanya hasutan dari pihak ketiga yakni Arya Wiraja adipati sumenep, maka terjadilah penyerangan yang mengakibatkan Perang Saudara. Padahal posisi dari putra Jayakatwang (Ardharaja) sebagai keturunan dari Raja Kediri lebih kuat daripada posisi Raden Wijaya, sebab Ayahanda Raden Wijaya berasal dari kerajaan Sunda Galuh.
Narasi ini tentang ambisi kekuasaan, hasutan (provokator) pengkhianatan, dan konsekuensi yang tak terhindarkan dalam perebutan kekuasaan di dalam panggung sejarah Jawa kuno pada kerajaan (Singhosari - Kediri.
KESIMPULAN
3. Atas hasutan dari Adipati Tuban (Arya Wiraraja), maka Raden Wijaya "bersekutu" dengan Tentara Mongol (Tartar) untuk menyerbu Jayakatwang, yang mengakibatkan Jayakatwang terbunuh bersama putranya.
4. Penyerangan Jayakatwang kepada besanannya menyebabkan berakhirnya kisah Singhosari yang tersohor itu.
5. Pembalasan Raden Wijaya kepada Jayakatwang, meskipun sebagai Pamannya menjadikan cikal bakal lahirnya Kemaharajaan Majapahit yang menguasai Nusantara (Nuswantoro)
6. Setelah Majapahit berdiri, Putra dari Arya wiraraja bernama Ranggalawe yang sudah diangkat menjadi Adipati tuban melakukan pemberontakan, akhirnya ia pun terbunuh di sungai Tambakberas yang dilakukan oleh Kebo Anabrang.
7. Dari dua istri Ranggalawe, turut dukapati, yakni kesetiaan sehidup semati dengan cara menusukkan keris ke dadanya secara bersamaan sehingga jenasah mereka bertiga dibakar bersamaan dengan suaminya (Ranggalawe)



Komentar
Posting Komentar