Pemberontakan RA KUTI "Paling Berbahaya" di Kerajaan Majapahit

Dharma Putra

Sejarah Kerajaan Majapahit, imperium maritim terbesar di Nusantara, tak lepas dari gejolak internal yang membentuk dinamika kekuasaannya. Di antara serangkaian pemberontakan di Majapahit, adalah Pemberontakan Ra Kuti pada 1319 M sering disebut sebagai yang "paling berbahaya" karena mengancam nyawa Raja Jayanegara dan hampir meruntuhkan fondasi kerajaan yang masih rapuh.

Pemberontakan Dharma Putra

Dharma Putra adalah sebutan untuk sekelompok pengawal setia raja yang bertugas dekat dengan istana pada masa Kerajaan Majapahit, yang dibentuk oleh Raden Wijaya. Anggotanya berjumlah tujuh orang dan memiliki kedekatan serta kewenangan istimewa dengan raja, tetapi akhirnya menimbulkan pemberontakan pada masa pemerintahan Jayanagara karena ambisi dan ketidakpuasan mereka. 

Fungsi dan Kewenangan:
1. Bertugas mengawal istana dan raja.
2. Bertanggung jawab mengatur logistik prajurit dan administrasi gaji.
3. Memiliki kewenangan istimewa karena kedekatannya dengan raja, seperti dapat mengatur prajurit pengawal.

Anggota awal tujuh orang, yaitu:

Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa.

Ketidakpuasan Ra Kuti dan para bangsawan lainnya, dilatar belakangi intrik Politik di dalam istana Masa Pemerintahan Jayanegara, sebab ibunya berasal dari seberang anak dari Mauliwarmadewa Raja Dharmasraya (Melayu-Sumatera) sehingga ia terlahir dari seorang ibu yang berstatus "selir"

Masa pemerintahan Raja Jayanegara (1309–1328 M) adalah periode paling rawan bagi Kerajaan Majapahit. Sebagai putra Raden Wijaya, Jayanegara menghadapi berbagai tantangan besar dari intrik politik di dalan istana dan ketidakpuasan para bangsawan.

Ra Kuti, seorang anggota kelompok kesatria Dharmaputra yang dibentuk oleh Raden Wijaya (raja sebelumnya) untuk melindungi kerajaan, justru malah memberontak karena merasa tidak puas dengan pembagian kekuasaan dan pengaruh Mahapatih Nambi.

PEMBERONTAKAN RA KUTI
Pemberontakan ini meletus tak lama setelah Pemberontakan Ra Semi (1318 M), melanjutkan gelombang konflik internal yang dimanfaatkan oleh faksi-faksi ambisius. Situasi semakin genting ketika pasukan pemberontak mendekati ibu kota Trowulan. Sehingga Raja Jayanegara terpaksa mengungsi ke Desa Bedander, meninggalkan kekosongan kekuasaan yang bisa memicu disintegrasi di kerajaan.


Ancaman ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas Majapahit di tangan Jayanagara, di mana fondasi politik masih bergantung pada loyalitas pribadi daripada institusi yang kuat. Konflik ini bukan hanya catatan kelam bagi majapahit, tapi titik balik yang melahirkan tokoh legendaris seperti Gajah Mada.

Kronologi Pemberontakan Ra Kuti dan Perjuangan Gajah Mada yang Menyelamatkan Takhta Majapahit

Awal Pemberontakan dengan cara melakukan Pengepungan Trowulan, Pada tahun 1319 M. Ra Kuti dan pasukannya tiba-tiba menyerang dan berhasil menduduki istana Majapahit di Trowulan, sehingga Raja Jayanegara terdesak dan terpaksa melarikan diri dari ibukota untuk menyelamatkan diri, didampingi oleh sekelompok pengawal elit yang dikenal sebagai Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada.

​Pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh seorang perwira muda bernama Gajah Mada membawa Raja Jayanegara bersembunyi di sebuah desa terpencil yang aman, yaitu Bedander. 

Gajah Mada, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan Pasukan Bhayangkara (pengawal kerajaan), mengambil inisiatif tanpa perintah resmi.

Ia memobilisasi pasukan setia bhayangkara untuk melawan pemberontak, dengan menunjukkan strategi militer yang cerdas dan keberanian luar biasa. Pertempuran berlangsung sengit, tapi Gajah Mada berhasil menumpas Ra Kuti dan sekutunya secara heroik.

Keberhasilan ini tidak hanya mengamankan kembali Jayanegara, tapi juga mengakhiri ancaman langsung terhadap kelangsungan Majapahit. Menurut sumber sejarah, eksekusi Ra Kuti menjadi simbol penegakan disiplin, meskipun beberapa catatan menyoroti peran Gajah Mada sebagai penyelamat utama yang layak mendapat penghargaan besar.

Dampak Pemberontakan Ra Kuti

Terjadinya pergeseran Kekuasaan, perombakan pengurus, menuju Keemasan Majapahit. Pemberontakan Ra Kuti meninggalkan warisan mendalam bagi sejarah pemberontakan Majapahit.

1. Kenaikan jabatan Gajah Mada 
sebagai Tokoh Kunci, atas keberhasilannya menyelamatkan Raja Jayanagara beserta keluarganya ketika RA KUTI menguasai istana kerajaan selama 5 (lima) hari. Kemudian Gajah Mada, menghimpun kekuatan untuk menumpas pemberontakan ini, dan merebut kembali istana Majapahit, sehingga melonjakkan popularitas Gajah Mada. Ia segera diangkat ke posisi lebih tinggi, dari Patih Kahuripan hingga Patih Amangkubumi, sehingga membuka jalan baginya untuk melaksanakan misi politik "Sumpah Palapa dan ekspansi Nusantara". 

2. Penguatan Kebijakan Sentralisasi
Insiden ini mendorong perubahan kebijakan menuju konsolidasi kekuasaan pusat. Majapahit mulai fokus pada loyalitas militer dan penumpasan intrik internal, mengurangi risiko pemberontakan serupa di masa depan.

Penguatan Loyalitas Pasukan Khusus Bhayangkara, yang memiliki Peran vital bagi Raja dan Istana serta keluarga yang dilakukan oleh pasukan Bhayangkara dalam melindungi secara efektif, terhadap segala kemungkinan yang atas keselamatan raja.

Meskipun Jayanegara digambarkan memiliki karakter yang lemah oleh beberapa sumber sejarah (seperti Pararaton yang menyebutnya Kalagemet), keberhasilan penumpasan pemberontakan ini secara efektif menyingkirkan salah satu faksi ketidakpuasan terbesar (kelompok Dharmaputra yang dipimpin Ra Kuti) yang mengancam takhtanya.

3. Stabilitas Politik Jangka Panjang
Dengan selamatnya Prabu Jayanagara, maka menjadi momentum terbaik untuk membangun fondasi di dalam periode keemasan Majapahit, di mana fokus bergeser ke arah penyatuan nusantara, terutama wilayah Bali dan Sumatera.

Secara keseluruhan, Pemberontakan Ra Kuti sebagai pemberontakvyang "paling berbahaya" justru memperkuat kedisiplinan prajurit Majapahit, dengan cara mengubah ancaman menjadi sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya arti dari sebuah: kesetiaan, persiapan dan kewaspadaan. 

Dengan perubahan Paradigma tersebut, membuka peluang bagi kebangkitan Majapahit untuk menjadi "imperium" Dengam memahami peristiwa ini membantu kita mengapresiasi kompleksitas politik Kemahajaraan Majapahit, sebagai Negara Maritim terbesar di Asia Tenggara, ketika itu.

Komentar

Postingan Populer