PRABU SANJAYA: Trah Sunda-Jawa, melahirkan Kerajaan Medang Mataram
Prabu SANJAYA.
"Silsilah Lengkap Maharaja Prabu SANJAYA Raja Sunda ke-2, Raja Galuh ke-5 sebagai Pendiri Kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah.."
Prabu Sanjaya, atau Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, dikenal sebagai tokoh legendaris dalam sejarah kerajaan Nusantara, khususnya sebagai pendiri Kerajaan Medang Mataram pada abad ke-8 Masehi. Namanya diabadikan dalam Prasasti Canggal tahun 732 M, yang menceritakan perjalanan kepemimpinannya dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.
Namun, sebelum menjadi raja agung yang membangun kerajaan Hindu-Siwa yang kuat, faktor asal usul garis keturunan dari Ayah, Ibu dan Istri dari Prabu Sanjaya sangat dipengaruhi oleh silsilah bangsawan dari empat dinasti besar, yakni Kerajaan Sunda-Galuh-Kendan dan keluarga bangsawan Kalingga di Jepara Jawa Tengah.
Ayah Sanjaya bernama Barata Sena (Sena) ia merupakan keturunan dari kerajaan Tarumanagara, dan juga keturunan dari Kerajaan Medang Kamulan (Kendan) yang berpusat di Nagreg Bandung. Baratasena (Sena) juga merupakan keturunan dari Dewi Mutyasari putri dari "Kudungga", Raja Kutai Martapura Kalimantan
Kisahnya, berakar pada naskah Carita Parahyangan, dan beberapa prasasti sehingga menjadi fondasi politik dan budaya yang mendukung pendirian Kerajaan Medang Mataram kuno di Jawa Tengah menjadikannya sebagai simbol kebesaran sejarah Jawa kuno dan sejarah Sunda - Galuh (Pajajaran) di Jawa Barat.
Asal Usul Ayah Sanjaya: BRATASENA
Ia dikenal juga dengan nama Sanna atau Sena), Ia adalah Raja Bijak di Kerajaan Galuh, Putra dari AMARA bin Wretikandayun. Sena dalah raja ketiga Kerajaan Galuh yang memerintah sekitar 709-716 M. Dalam naskah Carita Parahyangan, Sena digambarkan sebagai pemimpin adil yang dicintai rakyat, cucu dari raja pendiri Galuh, dan terhubung langsung dengan dinasti Sunda kuno. Ia menggantikan pamannya "Sugrahana" sekaligus mertuanya sebagai Raja Galuh.
Asal Usul Ibu Sanjaya: SANNAHA
Ia adalah putri dari SUGRAHA (Mandiminyak), Raja Galuh II, dan Raja Kalingga Utara. Istri Sugraha bernama DEWI PARWATI, putri dari Kartikeyasinga, Raja Kalingga IV, dari istrinya yang bernama Ratu Shima, Rani V (terakhir) kerajaan Kalingga, yang berpusat di Jepara Jawa-Tengah.
PERKAWINAN POLITIK LEGITIMASI;BRATA (SENA) merupakan putra dari AMARA Raja Kalingga Utara ke-1/ bin WRETIKANDAYUN (Pendiri Kerajaan Galuh)/ bin KANDIAWAN/ bin RAJAPUTRA SURALIMAN, Raja Kendan II yang menikahi DEWI MUTYASARI putri dari Kudungga, Raja Kutai Martapura- Kalimantan,
"Menikah dengan" :
SANNAHA, ia merupakan putri dari SUGRAHA Raja Galuh ke-2/ bin WRETIKANDAYUN/ bin KANDIAWAN/ bin RAJAPUTRA SURALIMAN, Raja Kendan II yang menikahi DEWI MUTYASARI putri dari Kudungga, Raja Kutai Martapura- Kalimantan,
Hasil pernikahan (BRATASENA) dengan SANNAHA, melahirkan : 'SANJAYA"
Catatan: Ayah SENA (Amara) dan Ayah SANNAHA (Sugraha) bersaudara tiri, satu ayah tapi lain ibu, sehingga antara SENA dan SANNAHA adalah sama-sama cucu dari "Wretikandayun" sebagai hubungan sepupu, lalu kemudian ia dinikahkan, maka lahirlah: Maharaja Sunda-Galuh Prabu "SANJAYA"
Dari pihak ayah (Baratasena), Sanjaya mewarisi legitimasi kerajaan Sunda-Galuh; sedangkan dari pihak ibu (Sannaha), Sanjaya mewarisi legitimasi, sebagai Raja di kerajaan Galuh Jawa Barat, dan Kalingga Jawa Tengah, sebab (kakek + nenek) Sannaha adalah raja ke-4 dan ratu ke-5 di Kerajaan Kalingga (mereka suami istri).
Kombinasi ini membentuk SANJAYA sebagai pemimpin visioner, ketika ia menjadi Raja ke-2 di Kerajaan Sunda, dan Raja ke-5 di kerajaan Galuh, ia juga mendirikan Kerajaan "Medang" Mataram pada 732 M, menggabungkan pengaruh Hindu-Siwa dari kedua wilayah dan menandai era baru dalam sejarah Jawa kuno.
Istri Sanjaya, bernama: TEJA KENCANA
Ia adalah cucu dari raja Tarumanagara bernama Linggawarman, yang memiliki dua orang puteri:
-1. Manasih (isteri Tarusbawa)
-2. Sobakancana (Permaisuri Dapunta Hyang Tri Janasa, Pendiri Kerajaan Sriwijaya Palembang
Manasih putri Linggawarman dinikahi oleh Tarusbawa, melahirkan "TEJA KENCANA'". Oleh karena Linggawarman tidak mempunyai anak laki-laki, maka ia digantikan oleh menantunya (Tarusbawa) sebagai Raja Tarumanagara terakhir, yang kemudian diganti menjadi Kerajaan Sunda. Kenapa disebut "SUNDA...?" Sebab Tarusbawa dilahirkan di Sundapura (Bekasi) ibukota Tarumanagara.
Selanjutnya:
TEJA KENCANA Putri Tarusbawa (Pendiri Kerajaan Sunda) menikah dengan SANJAYA Putra dari Raja Galuh ke-3, melahirkan:
-1. Tamperan Barmawijaya: Selanjutnya mewarisi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, yang akhirnya kelah akan menjadi Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.
-2. Rakai Panangkaran:
Selanjutnya mewarisi kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah hingga kelak, menjadi Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.
Ketika ia dilantik menjadi Raja Sunda pada tanggal 19 mei 669, ia bergelar; "Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa" hal ini memancing kemarahan Raja Galuh (Wretikadayun) sebab ia ingin memerdekakan diri (berpisah).
Walaupun kerajaan sudah dibagi dua kekuasaannya oleh Wretikadayun, Tarusbawa masih sempat memberitakan penobatannya sebagai penerus tahta Tarumanagara, ke negara tetangga.
Oleh karena itu dalam sumber berita China yang terakhir, menyebutkan bahwa ada utusan dari Tarumanagara tahun 669 M. Tarusbawa mempunya pribadi yang damai. Dia tidah ingin ada sengketa dengan Wretikadayun, walaupun Kerajaan Sunda belum tentu kalah ketika perang melawan Kerajaan Galuh. (Jika ia mau).
Prinsipnya lebih baik memimpin setengah negara tangguh daripada harus memaksakan diri, untuk memimpin satu negara penuh dengan keadaan yang belum tentu.
kemudian ia pindahkan ibukotanya dari Sundasembada (Bekasi) ke Pakuan (Bogor) untuk merubah citra kerajaan Tarumanagara yang lumpuh.
Dari pernikahan Manasih binti Linggawarman dengan Tarusbawa, melahirkan "Teja Kancana Ayupurnawangi' (istri Prabu Sanjaya)
Untuk menyatukan kembali Tarumanagara yang terbagi dua menjadi Sunda dan Galuh. Maka SANJAYA bin Baratasena Raja Galuh bin Wretikadayun, menikah dengan TEJA KANCANA binti Tarusbawa, pendiri kerajaan Sunda, melahirkan dua putra, yakni:
Tamperan Barmawijaya, sebagai pewaris di dua kerajaan yakni Sunda Galuh, sebagai kelanjutan dari kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat. Sedangkan Rakai Panangkaran, sebagai pewaris di kerajaan Medang Kuno, sebagai kelanjutan dari kerajaan Kalingga di Jawa Tengah hingga nantinya sampai Jawa Timur.
TAMPERAN BARMAWIJAYA;
- Ia diangkat sebagai raja ketiga di Kerajaan Sunda menggantikan Sanjaya yang telah mendirikan kerajaan di Jawa Tengah pada tahun 732 M.
- Ia di angkat sebagai Raja di Kerajaan Galuh, setelah peristiwa tewasnya Premana Dikusuma, karena jasanya, sehingga ia menguasai kedua kerajaan tersebut.
Pemerintahan bersama: Tamperan Barmawijaya memerintah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh secara bersamaan sejak kematian Premana Dikusuma pada tahun 732 M hingga perebutan kekuasaan oleh Manarah (Ciung Wanara) pada tahun 739 M.
Ia mewarisi kerajaan Mataram Kuno (Medang) sebagai kelanjutan dari Kerajaan Kalingga. Kemudian Kerajaan Mataram Kuno, generasi inilah yang berhasil mendirikan Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang tersohor dunia hingga kini.
Ia yang bergelar resmi Śrī Mahārāja Rakai Panangkaran Dyah Pañcapana, menjadi raja di Kerajaan Medang (dikenal juga sebagai Mataram Kuno) periode Jawa Tengah.
PERKEMBANGAN KERAJAAN MATARAM KUNO (MEDANG)
Oleh karena Prabu Sanjaya memiliki dua orang putra, yang mewarisi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Maka pada artikel ini, fokus ke periode Jawa Tengah, sedangkan periode Jawa Barat akan di kupas dalam artikel lain.
Daftar Raja Dinasti Sanjaya (Hindu) di Kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah;
1. Sanjaya (732-760 M): Pendiri Kerajaan Medang, sebagai kelanjutan dari Kerajaan Kalingga, tercatat dalam prasasti Canggal.
2. Rakai Panangkaran (760-784 M): Menggantikan ayahnya sebagai Raja Medang. Ia Membangun Candi Kalasan.
3. Rakai Panunggalan (784-800 M): Stabilitas dinasti, Ia sebagai Inisiator pertama pembangunan candi Borobudur.
4. Rakai Warak (800-827 M): Ia dikenal pula dengan nama Samaragrawira. Ia adalah Aliansi dengan Syailendra, menikahi Dewi Tara binti Dharmasetu Raja ke-7 Sriwijaya.
5. Dyah Gula. (827-828) Namanya baru diketahui setelah ditemukannya Prasasti Wanua Tengah III (908 M), Ia memerintah antara 5 Agustus 827 s.d. 24 Januari 828 M (6 bulan memerintah)
6. Rakai Garung (828-838 M): Ia dikenal pula dengan nama (Samaratungga), ia melakukan Pembangunan irigasi dan Penyelesaian Candi Borobudur.
7. Rakai Pikatan (838-855M): Ia adalah Menantu dari Rakai Garung (Samaratungga) ia Menikah dengan Pramodhawardhani, menyatukan dinasti Sanjaya dengan Dinasti Syailendra.
8. Rakai Kayuwangi (855-885 M): Menggantikan Ayah dan Ibunya yang merupakan kepemimpinan bersama di Kerajaan Medang. Ia dikenal pula dengan nama Dyah Lokapala.
9. Dyah Tagwas memerintah sekitar tahun 885. Namanya ada di Dalam Prasasti Wanua Tengah III (908), ia memerintah antara 17 Februari 885 s.d. 25 Agustus 885. (6 bulan). Gelar lengkapnya Maharaja Dyah Tagwas Sri Jayakirtiwardhana.
10. Rakai Panumwangan. Menurut Prasasti Wanua Tengah III (908), ia memerintah antara 25 Agustus 885 s.d. 18 Januari 887 M. Nama Dyah Dewendra selain dikenal dalam Prasasti Wanua Tengah III, juga terdapat dalam Prasasti Poh Dulur (890 M), dengan gelar Sri Maharaja Rake Limus Dyah Dewendra.
11. Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra. Ia adalah kakak tiri dari Kayuwangi. Dalam Prasasti Wanua Tengah III (908 M), ia memerintah antara 18 Januari 887 s.d. 14 Februari 887 M. Sesudahnya, terjadi masa kekosongan pemerintahan (interregnum) selama 7 tahun.
10. Rakai Watuhumalang (894-898) naik takhta pada 21 November 894 M, setelah terjadi kekosongan selama 7 tahun lamanya.
11. Dyah Balitung (898-910 M): Menantu Watuhumalang, ia Memindahkan ibu kota ke Prambanan. Wilayah kekuasaannya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Ia berhasil mengalahkan Rakai Gurunwangi (kakak tiri Kayuwangi). Ia juga adalah Menantu dari Watuhumalang. Dan mengangkat MPU Daksa sebagai Mahamenteri I Hino.
12. Dyah Daksa (913-919 M): Putra dari Rakai Watuhumalang, Fokus pada administrasi. Beliau ini adalah Ayah dari Mpu Sindok yang kelak memindahkan Kerajaan Medang pindah ke Jawa Timur.
13. Dyah Tulodong (919-924 M): Transisi akhir. Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodong disebut sebagai putri dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Dalam pemerintahannya, yang menduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti, sedangkan yang menjabat Rakryan Halu adalah Mpu Sindok.
14. Dyah Wawa (924-929 M): Inilah Raja terakhir yang beragama Hindu, periode Jawa Tengah. Ia adalah keponakan dari istri Kayuwangi. Adapun Nama Rakai Sumba tercatat dalam Prasasti Sukabumi tanggal 7 Maret 927, menjabat menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja
Periode JAWA TIMUR:
Kerajaan Medang (929-1016 M)
Perpindahan dilakukan oleh Mpu Sindok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur akibat bencana alam.
Dinasti Isyana (Medang Jawa Timur):
15. Mpu Sindok (929-947 M): Pendiri, memindahkan ke Watugaluh.
16. Sri Isyanatunggawijaya (947-985 M): Putri Sindok, stabilitas ekonomi.
17. Makutawangsa Wardhana (985-1006 M): Ayah Airlangga, hadapi invasi Srivijaya.
18. Dharmawangsa Teguh (1006-1016 M): Raja terakhir, runtuh akibat Pralaya Mataram.
KERAJAAN KAHURIPAN
Sebagai kelanjutan dari Kerajaan Medang kuno yang runtuh, akibat serangan dari "wurawari" raja bawahan Medang, yang sakit hati karena lamaran cintanya di tolak oleh Dewi Galuh Sekar Kedhaton, dengan memilih Airlangga sebagai suaminya. Hal ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Sriwijaya untuk bersama-sama raja wurawari, untuk menghancurkan kerajaan Medang di Jawa.
Masa ini disebut sebagai "Masa Pralaya". Setelah kerajaan medang (mataram kuno) hancur, maka Kerajaan Kahuripan di dirikan oleh Airlangga (1019-1045 M): untuk menyatukan Jawa Timur; dengan membagi wilayah menjadi Janggala dan Panjalu.
Daftar Raja Panjalu (Kediri): 1042-1222 M;
1. Sri Samarawijaya (1042-1051 M): Raja pertama, putra Airlangga.
2. Sri Jayawarsa (1051-1115 M): Putra Samarawijaya, stabilitas awal.
3. Bameswara (1115-1135 M): Putra Jayawarsa, fokus irigasi.
4. Jayabhaya (1135-1159 M): Cucu Airlangga, kejayaan sastra dan ramalan.
5. Sri Aryeswara (1159-1169 M): Putra Jayabhaya, keadilan sosial.
6. Bameswara II (1169-1194 M): Saudara Aryeswara, pelindung Hindu.
7. Srengga (1194-1200 M): Putra Bameswara II, ekspansi militer.
8. Kertajaya (1200-1222 M): Putra Srengga, raja terakhir, sebagai penerus kerajaan Kahuripan yang konflik dengan para brahmana, lalu kemudian dipimpin oleh Ken Arok seorang Akuwu Tumapel, akhirnya Kerajaan Panjalu (Kediri) dikalahkan di Pertempuran Ganter di daerah Ngantang Kabupaten Malang Jawa Timur.
RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI
Kerajaan Kediri, mulai runtuh ketika dipimpin oleh Prabu Kertajaya yang arogan, sering berselisih dengan para pandita golongan Brahmana. Kesempatan ini digunakan oleh Ken Arok, yang ketika itu menjadi Akuwu di Tumapel, dengan cara menghimpun para golongan brahmana untuk melawan Kertajaya yang terkenal kejam dan arogan.
Setelah Kerajaan Kediri dikuasai oleh Ken Arok Akuwu Tumapel, mengangkat anak dari Raja Kertajaya Kediri, yang bernama: "Jayasabha' sebagai adipati Kediri ketika Ken Arok sudah resmi mendirikan kerajaan baru yang bernama "Singhasari". Dari sinilah dimulai dinasti Rajasa.
Lalu kemudian, untuk memperkuat kedudukan wangsa rajasa di kediri, maka Putri Jayashaba bernama "Dewi Suhito" dinikahkan dengan "Mahisa Wong Ateleng", putra Ken Arok dengan Ken Dedes
Pernikahan antara "Mahisa Wong Ateleng" Putra Sulung Ken Arok, yang menikah dengan Dewi Suhito putri Jayasaba Adipati Kediri, melahirkan; "MAHESA CEMPAKA"
Kemudian Mahesa Cempaka, menikah dengan istrinya, melahirkan;
-1. SRI HISMATUPA KUMALA RANGGAWUNI SINGSARI (Adwajabrahman) ayahanda dari Adityawarman Pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau - Sumatera.
-2. DYAH TAPASI.
-3. DYAH LEMBU TAL (ibu dari Raden Wijaya Pendiri Kemaharajaan Majapahit)
Sebagai Pendiri Kemaharajaan Majapahit adalah "RADEN WIJAYA", yang memiliki nama asli "Nararya Sanggramawijaya" bergelar Kertarajasa Jayawardhana
Silahkan, bagikan pendapat Anda di komentar: Bagaimana silsilah Sanjaya mempengaruhi perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara selanjutnya?



Komentar
Posting Komentar