Raden Patah Kelahiran Palembang: Raja Islam pertama di Pulau Jawa
RADEN PATAH (JIN BUN)
"...Menguak Jejak Darah Raja Majapahit, Budaya Tionghoa, dan Strategi Dakwah Para Wali dalam Membangun Peradaban Islam di Tanah Jawa, melalui Kerajaan Islam Demak..."
Raden Patah, Pangeran Terbuang kelahiran Palembang, Pendiri Kesultanan Demak di dukung oleh Wali Songo. Raden Patah adalah Nama yang tak asing dalam lembaran sejarah Nusantara, dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama yang menjadi mercusuar peradaban di Pulau Jawa.
Namun, kisah hidupnya jauh lebih kompleks dan dramatis serta penuh lika liku, dari sekadar seorang putra sang Maharaja. Lahir di Palembang pada tahun 1455 M, Raden Patah adalah darah keturunan Majapahit, keturunan Tionghoa Muslim, yang mendapat bimbingan spiritual Wali Songo untuk membentuknya menjadi pemimpin visioner, kelak nantinya.
1. Asal-Usul Raden Patah
Sebuah Drama Percintaan, yang bermula dari Istana Kemaharajaan Majapahit. Ayahnya adalah Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), Raja terakhir Majapahit, sedangkan Ibunya adalah Siu Ban Ci, putri jelita dari Syekh Bantong (Tan Go Hwat), seorang ulama dan saudagar Muslim dari etnis Tionghoa terkemuka yang berdomisili di Gresik, Jawa Timur. Kecantikan Siu Ban Ci memikat Prabu Brawijaya V, yang kemudian menjadikannya selir meskipun ada perbedaan keyakinan. Namun, cinta Sang Prabu kepada Siu Ban Ci memicu kecemburuan permaisuri utama, Ratu Dhawarawati dari Campa. Ketika Siu Ban Ci "hamil" Ratu Dhawarawati mendesak agar ia disingkirkan dari Tanah Jawa. Maka Prabu Brawijaya V, demi menjaga stabilitas istana, mengambil keputusan sulit untuk mengasingkan Siu Ban Ci yang sedang mengandung tiga bulan. Sang Raja memerintahkan patihnya untuk mengantarkan kepada Arya Damar di Gresik dengan sepucuk surat agar jangan bercampur sebelum Siu Ban Ci melahirkan. Sang Raja menitipkan Siu Ban Ci kepada putranya, yang bernama Arya Damar (Adipati Palembang), dengan syarat khusus: "Jangan menyentuh Siu Ban Ci, sebelum ia melahirkan anaknya, tapi Arya Damar boleh menikahi Siu Ban Ci setelah anaknya lahir, dan bayi itu harus diberi nama yang menunjukkan keperkasaan.
2. Arya Damar "menikahi" Selir Raja Kertabumi (Brawijaya VII)
Di kota pelabuhan Palembang yang kala itu banyak dihuni komunitas Tionghoa, Siu Ban Ci melahirkan putranya pada tahun 1455 M, yang kelak dikenal sebagai Jin Bun atau Raden Patah (Raden Hasan). Setelah Raden Patah lahir, Siu Ban Ci dinikahi Arya Damar (Adipati Palembang) putra dari Brawijaya III (Wikramawardhana) Raja Majapahit yang bergelar Hyang Wisesa.
Arya Damar (Adipati Palembang) putra dari Hyang Wisesa bin Wikramawardhana Raja Majapahit ke-5, selanjutnya Arya Damar pun mengindahkan pesan dari Raja Majapahit (Brawijaya V) agar tidak bercampur sebelum anaknya lahir.
Dari hasil pernikahan Arya Damar dengan Siu Ban Ci, mereka memiliki putra lain bernama Raden Kusen. Ketika Raden Patah dibesarkan selama 20 tahun di Palembang, ia ingin mewarisi darah bangsawan Majapahit di Jawa, tapi dengan semangat keislaman dari ibunya.
Jadi, Arya Damar adalah Bapak tiri Raden Patah (Jin Bun) putra dari Brawijaya V (Bhre Kertabhumi). Sedangkan Raden Kusen adalah mempunyai ayah kandung bernama Arya Damar (Adipati Palembang).
Jadi antara Raden Patah dan Raden Kusen "saudara tiri" sama-sama putra dari Siu Ban Ci, tapi lain bapak. Raden Patah bin Kertabhumi dan Raden Kusen bin Hyang Wisesa.
Karya: Prof. DR. Slamet Muljana (Hal: 35-37)
Narasi yang dibangun oleh sang professor dalam bukunya itu, bahwa ibu yang melahirkan Arya Damar adalah seorang Raksasa wanita (Raksasi) yang berparas cantik dan suka bertapa di Hutan, bernama Ni Endang Sasmitapura, yang bermimpi ingin dikawini oleh raja Majapahit, lalu diantarlah wanita itu oleh Mahapatih Gajah Mada untuk dipersembahkan kepada Sang Prabu.
Setelah Arya Damar lahir, ia akan dibunuh oleh suruhan bapaknya prabu kertabhumi. Namun ketika Arya Damar dewasa, ia diangkat menjadi Adipati Palembang, ia diberikan hadiah oleh ayah kandungnya yaitu seorang wanita cantik yang sudah diperisteri oleh Prabu Kertabhumi, bernama "Siu Ban Ci" yang masih sedang mengandung tiga bulan.
Narasi diatas yang ditulis dalam buku sang professor itu tidak masuk akal logika sehat, sebab:
2. Seorang Ayah mempersembahkan istrinya yang sedang mengandung (Hamil) 3 bulan untuk dinikahi oleh anak kandungnya sendiri, sehingga Arya Damar menikahi ibu tirinya.
3. Padahal Gajah Mada sudah meninggal, pada tahun 1364, pada umur 74 tahun, yaitu hampir 5 tahun sebelum kertabhumi menjadi Raja di Majapahit.
4. Jika Arya Damar, sudah menjabat sebagai Adipati di Palembang, maka disaat yang sama umur Mahapatih Gajah Mada sudah berapa ketika mengantarkan "Siu Ban Ci" untuk diperistri oleh Arya Damar?
5. Catatan dari Kronik Klenteng Sam Poo Kong, dikatakan bahwa Swan Lion (Arya Damar) adalah putra dari Yang Wi Se Sa (Hyang Wisesa) yakni Wikramawardana.
6. Jika Swan Lion adalah putra dari Hyang Wisesa bin Wikramawardhana (Brawijaya III), maka hubungan kekerabatannya dengan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) adalah "Sepupu'. Sebab ayah dari Arya Damar (Hyang Wisesa) bersaudara dengan ayah dari Prabu Kertabumi (Kertawijaya).
3. Perjalanan Raden Patah ke Jawa dan Berdirinya Kesultanan Demak
Arya Damar menghendaki supaya Raden Patah yang naik Takhta Kerajaan di Palembang untuk menggantikannya dan Raden Kusen sebagai Patihnya. Namun Raden Patah dan Raden Kusen berkeberatan atas niat ayahnya dengan alasan ia segan menjadi ejekan orang banyak. Mendengar hal itu Arya Damar pun terdiam. Ketika keduanya sering gagal lolos dari Palembang menuju Jawa, maka keduanya mendaki Gunung Rasamuka yang mengangkang diatas laut, untuk "bertapa" sambil menunggu "kalau-kalau' ada kapal lewat. Akhirnya keduanya berhasil kabur hingga tiba di Pelabuhan Surabaya, mereka melihat Menara Mesjid Ngampel Denta lalu dihampirinya diterima oleh Jagawasita untuk menghadap Sunan Ngampel.
Singkat cerita, Raden Kusen mengingatkan agar Raden Patah melanjutkan perjalanannya ke Majapahit untuk bertemu ayahnya. Ajakan tersebut ditolak oleh Raden Patah karena ia tak tega mengabdi pada Kafir. Raden Kusen disuruh berangkat sendiri.
Raden Patah tetap tinggal di Ngampel lalu dinikahkan dengan Cucu Sunan Ngampel. Sementara Raden Kusen tetap melanjutkan perjalanan ke Majapahit dan berhasil diterima magang di Pura Majapahit hingga akhirnya menjadi Adipati Terung.
Dengan restu dan dukungan penuh dari para Wali Songo, Raden Patah kemudian mendirikan pusat dakwah di Glagah Wangi (Demak Bintara) di pesisir utara Jawa. Pusat dakwah ini berkembang pesat dan menjadi cikal bakal Kesultanan Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Jawa. Melalui kecerdasan, kewibawaan, dan dukungan strategis para wali, Raden Patah berhasil menyatukan berbagai daerah pesisir, menegakkan pemerintahan Islam yang kuat, dan membangun Demak sebagai pusat perdagangan, pendidikan, serta kekuatan politik baru yang menggantikan dominasi kekuasan ayahnya di Majapahit.
4. Peran Strategis Wali Songo dalam Kejayaan Demak
Wali Songo memainkan peran yang tak tergantikan dalam pendirian dan kejayaan Kesultanan Demak. Mereka sebagai penyebar agama, arsitek politik dan simbol spiritual sekaligus sebagai Pendukung Utama Raden Patah. Sunan Ampel, sebagai mentor utama, membimbing Raden Patah dalam tata kelola pemerintahan Islam. Para wali juga secara kolektif menunjuk dan mengukuhkan Raden Patah sebagai sultan pertama dengan gelar Sultan Al-Fatah, memastikan transisi kekuasaan yang sah. Pembangun Infrastruktur Keislaman: Mereka berperan aktif dalam pembangunan Masjid Agung Demak pada tahun 1479, yang menjadi simbol kekuatan Islam dan pusat dakwah. Arsitektur masjid yang dirancang Sunan Kalijaga memadukan unsur Jawa-Hindu, menunjukkan pendekatan akulturasi budaya yang efektif. Penasihat dan Pengawas Moral Pemerintahan: Wali Songo bertindak sebagai penasihat spiritual dan pengawas bagi para sultan Demak. Di masa Sultan Trenggana, mereka memastikan kebijakan kerajaan selaras dengan syariat Islam, bahkan membentuk sistem peradilan berbasis Islam (seperti yang dilakukan Sunan Kudus). Strategi Dakwah yang Inovatif: Metode dakwah Wali Songo yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal melalui seni seperti wayang dan gamelan, memungkinkan Islam diterima secara damai dan luas oleh masyarakat Jawa. Pendekatan ini menjadikan Islam Nusantara dikenal toleran dan inklusif. Perluasan Pengaruh Demak: Para wali juga terlibat dalam strategi militer dan perluasan wilayah, seperti penaklukan Sunda Kelapa (kini Jakarta) oleh Fatahillah pada 1527, yang semakin mengukuhkan Demak sebagai kekuatan regional.
Sumber buku berjudul:
"Runtuhnya Kerajaan Hindu - Jawa, dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara."
Karya: Prof. DR. Slamet Muljana
.png)


Komentar
Posting Komentar