TUNGGUL - KEN DEDES - KEN AROK - KEN UMANG: Cinta Terlarang dan Keris Mpu Ganring

Kisah Cinta Terlarang: 

 KEN AROK - KEN DEDES

Berawal ketika Ken Arok, yang gagah berani dan jago bela diri silat menjadi pengawal seorang Akuwu di Tumapel, bernama: Tunggul Ametung, sebagai bawahan dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur. 

Dengan jabatan ini, Ken Arok menjadi dekat dengan orang-orang di istana Tumapel, sehingga pernah suatu ketika: Ken Dedes "curhat" kepada Ken Arok, bahwa ia sakit hati dengan suami, sebab ia diambil paksa oleh prajurit Tunggul Ametung tanpa restu dari ayahnya "Resi Mpu Purwa" sebab ia masih muda belia.

Setelah mendengar curahan hati Ken Dedes, suatu ketika Ken Dedes turun dari kereta ada angin kencang yang bertiup sehingga busana bawah (Rok) Ken Dedes tersingkap, serta merta terpancar cahaya "bersinar" yang indah di ujung pahanya, dan tak sengaja terlihat oleh Ken Arok sehingga "Takjub + Terpesona".

Pasca kejadian itu, Ken Arok bertanya kepada beberapa orang Rsi Brahmana, semuanya mengatakan, bahwa: itu pertanda "wanita itu" kelak akan menurunkan pemimpin di Nusantara yang menyebar dari generasi demi generasi, dan siapapun yang menjadi Suaminya, kelak nantinya akan menjadi raja.

KEN AROK "minta restu"  KEN UMANG

Setelah mendengar penjelasan dari beberapa Rsi Brahmana dan Pandita. Ken Arok yang sudah beristri, menjelaskan kepada istri pertamanya Ken Umang, maksud dan tujuan untuk menikahi Ken Dedes, agar ia bisa menjadi Raja Besar.

Setelah memahami maksud dan tujuan Ken Arok, sebagai satu-satunya lelaki yang ia cinta dan kasihi semenjak kecil, ia pula sebagai kakak angkat, juga sebagai guru silatnya, sekaligus cinta pertama, yang kini sudah menjadi suaminya, sehingga oleh Ken Umang sebagai istri "menyetujui" permohonan Ken Arok, demi cita-cita dan masa depannya

Di kolam "Petirtaan" Ken Arok ungkap CINTA kepada Ken Dedes

Pada kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ken Arok untuk mengungkapkan segala isi hati, dengan sungguh-sungguh kepada Ken Dedes tentang betapa besar kecintaan Ken Arok kepada Ken Dedes yang cantik jelita dan berjanji akan membalaskan dendamnya kepada suaminya (Tunggul Ametung) yang telah memaksanya, dan tanpa restu dari ayahandanya.

Gayung pun bersambut Baik.
Dengan wajah yang agak tersipu malu (tapi mau) dengan matanya yang indah bersinar pertanda ceria bahagia, Ken Dedes memberanikan diri untuk beradu pandang walaupun sejenak dengan Ken Arok

Melihat ekspresi wajah cantik nan jelita dari Ken Dedes sebagai pertanda "Lampu hijau", maka Ken Arok tidak ingin kehilangan "moment emas" ia mempergunakan kesempatan di dalam kesempitan, untuk mengungkapkan "kembali" ketulusan dan keteguhan hatinya untuk "mengeksekusi' Tunggul Ametung yang memiliki banyak selir-selir yang diperoleh dari kembang-kembang desa yang cantik.

Melihat kesungguhan dan ketulusan Ken Arok untuk balas dendam dan melepaskan dirinya dari cengkraman Tunggul Ametung yang mirip "Kambing" doyan daun muda.

Dengan mengangkat perlahan dagunya Ken Dedes "tersenyum bahagia' sambil menatap Ken Arok yang kedua kalinya, lalu ia mengangguk pelan dan santun sembari berucap "iya".

Ketika posisi Ken Arok yang bersimpuh di depan Ken Dedes memohon-mohon di kolam petirtaan itu, ternyata beberapa pengunjung ada yang menaruh curiga, hal ini terlihat oleh Ken Dedes, sehingga ia berkata kepada Ken Arok: "Kita di lihat orang, takutnya rencana kita ketahuan".

Sebelum beranjak, Ken Arok memberikan sembah hormat kepada Ken Dedes sambil berkedip mata penuh makna. Ken Dedes pun mengangguk membalasnya bagaikan junjungan yang terhormat kepada bawahannya untuk menutupi kecurigaan orang-orang di kolam petirtaan itu, sambil berkata: penuh wibawa: "Ojo Ngapusi Yo".

Kutukan MPU GANRING & Hukum Karma bagi KEN AROK

Ken Arok mendatangi Mpu Ganring, sang pembuat Keris terbaik yang terkenal itu, dengan perjanjian batas tempo waktu. Ketika Ken Arok datang sesuai waktu yang telah disepakati ternyata "Keris" itu belum selesai. Akhirnya Ken Arok pun pulang kecewa dengan tangan hampa.

Demikian pula kedatangannya yang kedua kali, "Keris belum selesai'. Karena jengkel buru-buru ingin menggunakan "Keris Sakti' itu, maka Ken Arok merebut keris "meski" belum selesai dan sempurna,  dan entah apa yang ada di dalam benak Ken Arok, sekaligus membunuh Mpu Ganring. 

Mpu Ganring yang mendapat tikaman dari Ken Arok, sempoyongan dan mengutuk tindakan Ken Arok, bahwa keris itu akan memakan korban 7 orang termasuk Ken Arok, ditambah lagi keturunan Ken Arok akan saling bunuh hingga 7 orang pula.

KEN AROK "Eksekusi" TUNGGUL AMETUNG Akuwu Tumapel

Awalnya Ken Arok punya ide untuk meminjamkan "Keris Mpu Ganring' kepada sahabatnya, agar tidak ketahuan jika suatu saat nanti menjadi Barang Bukti.

Setelah dipinjam oleh sahabatnya kemudian, Ken Arok "sengaja curi" keris itu, untuk diberikan kepada Kebo Ijo, sehingga orang menyangka kalau itu keris milik Kebo Ijo

Ken Arok menemukan "Kebo Ijo" sebagai figur yang cocok untuk di korbankan, sebab ia adalah sosok yang punya sifat angkuh, arogan dan suka pamer, yaitu: "Kebo Ijo" maka Ken Arok pun mendekatinya.

Secara kebetulan Kebo Ijo, menemukan "Keris Mpu Ganring" lalu ia meminjam keris itu, dan selalu dibawa kemana-mana dan di pamer-pamer di depan orang banyak.

Pada suatu ketika: Ken Arok, "curi keris' lagi keris itu yang ada pada "Kebo Ijo'. Untuk dipergunakan oleh Ken Arok "membunuh" Tunggul Ametung yang sedang tertidur di kamarnya, bersama Ken Dedes.

Sehingga satu-satunya orang yang melihat Ken Arok "membunuh" Tunggul Ametung hanyalah Ken Dedes. Satu-satunya orang yang mengamankan "barang bukti" adalah Ken Dedes.

Sehingga gemparlah Malam itu, barang bukti pun ditunjukkan, maka yang jadi tersangka adalah "Kebo Ijo", sebab dia sering membawa kemana-mana keris itu. Esoknya, Kebo Ijo dijatuhi hukuman mati, bersama seluruh saksi-saksi.

PERNIKAHAN KEN AROK - KEN DEDES

KEN AROK sebagai AKUWU

Setelah kematian Tunggul Ametung, Ken Arok yang menggantikannya sebagai: "AKUWU TUMAPEL" sekaligus menjadikan Ken Dedes sebagai Istri Kedua. Sebab sebelumnya Ken Arok memililki istri pertama, bernama: "Ken Umang" dan mempunyai seorang anak laki-laki, bernama: "Tohjaya".

Lalu kemudian Ken Arok di dukung oleh istri pertamanya (Ken Umang) untuk menggalang dukungan dari para Brahmana untuk menyerang kerajaan Kediri, sebab Kertajaya sebagai Raja, tidak disenangi oleh para Brahmana dan pembesar kerajaan Kediri.

Ken Arok pun "Sukses" mengalahkan Kertajaya, berkat bantuan Ken Umang, namun setelah ia dinobatkan sebagai Raja Kediri, ia mengangkat Ken Dedes sebagai "Permaisuri", sebab ialah pembawa berkah dan keberuntungan.

Sedangkan Ken Umang, sudah cukup senang diangkat sebagai "selir" karena Bahagia melihat Ken Arok, berhasil meraih cita-citanya menjadi "Raja'.

Raja Singasari - Dinasti Rajasa

Setelah Ken Arok, berhasil menumbangkan Kertajaya (Raja terakhir kediri) ia mendirikan kerajaan baru bernama: "Singasari" dan menjadikan bekas kerajaan Kediri sebagai raja bawahan (Adipati).

Untuk membangun kepercayaan publik, dan menyambungkan dengan Dinasti Sanjaya, maka Ken Arok  melantik 'Jayasabha sebagai Adipati Kediri. Dan menjodohkan Anak Jayasabha dengan anak sulung Ken Arok, bernama: "Mahesa Wong Ateleng".

KEN DEDES "cemburui" TOHJAYA

Ken Dedes "kasihan + iba" kepada Anusapati ketika ia diperlakukan kasar dan tidak adil, semenjak ia kecil. Di sisi lain, Ken Dedes cemburu kepada Tohjaya yang diperlakukan istimewa sebagai "Pangeran" bahkan ia diberikan jabatan oleh ayah kandungnya, sementara tidak demikian dengan Anusapati, hanya anak sambung.

Tohjaya adalah kandung dari Ken Umang (madu) dengan Ken Arok. Sehingga Tohjaya adalah adalah anak bawaan Ken Arok, sedangkan Anusapati adalah Anak bawaan Ken Dedes, didalam bahtera rumah tangga mereka.

Disisi lain 'ANUSAPATI justru "cemburu" kepada adiknya Mahesa Wong Ateleng karena ia diperlakukan berbeda, sebab Anusapati belum tahu kalau ia bukanlah anak kandung dari Ken Arok. Anusapati "belum tahu" kalau Ken Arok itu bukan ayah kandungnya, tapi hanya "Ayah Sambung"

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berganti Anusapati semakin tumbuh menjadi remaja yang suka cemberut, meski berbalut senyum kecewa penuh kepalsuan, ketika melihat kecerian saudara-saudaranya di dalam istana. Akhirnya ia pun mengadu dan bertanya kepada ibu kandungnya Ken Dedes sebagai taman surga dan penglipur laranya karena ia satu-satunya yang peduli padanya.

Oleh ibunya (Ken Dedes) meski dipenuhi perasaan bersalah dan perasaan tak tega, kepada putra sulungnya itu Ken Dedes "tetap" menyimpan rahasia itu dengan rapat-rapat agar tidak melukai hati puteranya itu, dengan penuh dalih dan alibi jika Anusapati menanyakannya.

Ternyata, Anusapati memberanikan diri bertanya kepada ayahnya (Ken Arok) namun lagi-lagi dengan Ken Arok ia tidak menemukan jawaban. Hal ini dilakukan oleh Ken Arok karena sesuai perjanjian Pra-Nikah yang telah disepakati dengan Ken Dedes (ibu kandung Anusapati).

Kebetulan dalam percakapan antara Ken Arok dengan Anusapati, terdengar pula selintas oleh  Ken Umang istri pertama Ken Arok, dengan mengatakan kepada Anusapati: Sampeyan beda "sikap" dengan adikmu Mahesa Wong Ateleng.

Pembicaraan mereka sampai juga ke telinga Ken Dedes sehingga ia murka di dalam hati kepada madunya (Ken Umang) atas kelancangan kepada putranya (Anusapati) meski dia hanya mengatakan "beda sikap" dengan adiknya.

Karena dipenuhi perasaan bersalah dan rasa "cemburu" kepada Tohjaya, ditambah rasa jengkel kepada Ken Umang yang lebih disayang daripada dirinya meski ia jauh lebih cantik darinya, meski ia permaisuri Ken Umang selir. Akhirnya teringat kenangan "memory" Ken Dedes pada Ken Arok perihal tujuan ia menjadikan istri demi dapat "karomah" agar Ken Arok bisa menjadi raja, jika memperistrikannya, sementara Ken Umang adalah cinta pertama Ken Arok, guru silat dan adik angkatnya yang telah banyak menolong dan berjasa atas hidup dan nasib Ken Arok, ketika masih "Begajul, Kere, dan Gembel" dari kecil.

Berdasarkan semua itu, berkumpul jadi satu yang membuat Ken Dedes merasa dikhianati cinta dan hatinya, serta rasa iba pada Anusapati yang semakin tumbuh dewasa agar ia tidak salah sangka, agar ia bisa mengerti posisinya sebagai anak sambung, agar ia tidak menuntut banyak sebab ia bukan dari darah daging Ken Arok, agar ia tidak menuntut jabatan sebab bukan "Wangsa Rajasa"

Kutukan MPU GANRING "Terbukti"

Ketika Anusapati "mengadu" lagi, karena diperlakukan berbeda dengan Mahesa Wong Ateleng oleh Ayahnya Ken Arok. Sebagai wanita Ken Dedes pun "keceplosan" bahwa Ken Arok itu adalah "ayah sambung". Jika ayah kandung yang sebenarnya adalah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel (terakhir).

Sehingga muncullah "dendam kusumat" didalam dada Anusapati, tapi bagaimana caranya?? Agar tidak ketahuan dari saudara tirinya yang lain, menjadi beban pikiran siang-malam bagi Anusapati.

Akhirnya Anusapati menemukan orang yang bisa disuruh untuk mengeksekusi Ken Arok. Namun berdasarkan informasi dari telik sandi (inteligen) Anusapati mendapatkan informasi, bahwa Ken Arok adalah bukan orang sembarangan meski menggunakan keris sakti sebab ia Sakti Mandraguna.

Dalam perkembangan selanjutnya, Anusapati mendengar cerita dari bekas anak buah Tunggul Ametung, bahwa ia adalah orang yang sakti mandraguna, kekal senjata namun ia tewas dengan menggunakan "Keris Sakti Mpu Ganring" meski bentuknya tidak sempurna.

Singkat cerita, Anusapati menemukan juga letak keris sakti itu yang belum selesai pengerjaannya oleh Sang Empunya. Kemudian keris sakti itu dibawa oleh Anusapati lalu diserahkan kepada orang kepercayaannya untuk "mengeksekusi" Ken Arok yang Sakti Mandraguna dan jago silat.

Selain "Kutukan KERIS Mpu Ganring' yang akan meminum darah 7 orang, adapula "Sumpah Serapah" dari Mulut Mpu Ganring, untuk kematian Ken Arok, beserta anak cucunya yang 'tragis'

Kematian Ken Arok adalah "Bukti Pertama" kutukan dari Mpu Ganring yang akan membawa korban didalam anak cucu Ken Arok, atas "kebringasan" dan kelicikan Ken Arok sehingga kena karma atas perlakuannya kepada Mpu Ganring.

Daftar urutan nama yang terbunuh;
1. KEN AROK oleh suruhan Anusapati
2. TOH JAYA dibunuh Ranggawuni
3. KERTANEGARA duel Jayakatwang
4. ARDHARAJA tewas invasi Mongol
5. JAYANAGARA dibunuh Ra Tanca
6. BHRE WIRABHUMI - Wikramawardana
7. KERTABHUMI oleh Dyah Ranawijaya

Runtuhnya kemaharajaan Majapahit, ketika salah satu diantara 117 Putra-putri Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) dari selir Tionghoa bernama Siu Ban Ci, melahirkan anak bernama JIN BUN. yang kemudian dikenal dengan RADEN PATAH, membangun kesultanan Demak di daerah Bintara, yang didukung oleh Walisongo, terutama dari guru dan kakek mertuanya (Sunan Ampel)

Demikianlah ulasan singkat ini karena dibikin diburu-buru, bilamana ada kekurangan dan koreksi. Silahkan bagikan dan tulis pendapatnya di kolom komentar. Terima kasih. 'Hormat Santun'

Komentar

Postingan Populer