Akal Licik HALAYUDA: Orang Jahat (Sengkuni) MAHAPAHIT yang ambisi jabatan
Halayuda adalah tokoh yang berpengaruh besar dalam perjalanan sejarah Majapahit, tokoh inilah yang tertulis dalam serat Pararaton dan prasasti tahanaru Sidareja.
Halayuda dalam sejarah Majapahit dalam Prasasti Sidateka (1323 M) terdapat nama "Mahapatih Majapahit" yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Sebab yang dikenal sebelumnya adalah istilah "Mahamenteri" Singhosari, seperti yang pernah dijabat oleh Sri Hismatupa (Adwajabrahman) dalam ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Sri Hismatupa menikahi Dara Jingga putri dari Srimat Mauliwarmadewa Maharaja Dharmasraya, melahirkan "Adityawarman" pendiri Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.
Jika demikian, lalu apa arti istilah "Mahapatih?"
Pada tahun 1295, Halayuda lah orangya, yang menghasut Ranggalawe, agar memprotes pengangkatan Nambi sebagai Patih, sebab yang lebih pantas adalah paman Ranggalawe, yakni Lembu Sora.
Sebalik, ketika Ranggalawe mengusulkan agar pamannya Lembu Sora, sebagai yang lebih pantas menjadi Patih, namun ditolak oleh Dewan Kerajaan sehingga Ranggalawe melakukan pembangkangan dihadapan Dewan Kerajaan dengan cara pulang tanpa pamit (Walk Out)
Pada waktu itu, Patih Nambi mengusulkan kepada Sang Prabu, agar memerintahkan Lembu Sora untuk meredakan pemberontakan keponakannya Ranggalawe.
Salah satu anggota pasukan yang dipimpin oleh Lembu Sora, bernama "Kebo Anabrang" menemui Ranggalawe, malah terjadi pertarungan "duel" di tepi sungai Tambak Beras.
Dalam pertarungan itu, secara kebetulan kaki Ranggalawe tergelincir di sungai, pada kesempatan itu digunakan oleh Kebo Anabrang untuk membunuh Ranggalawe, sehingga air sungai menjadi merah akibat cucuran darah Ranggalawe, akhirnya ia pun tewas.
Secara spontan Kebo Anabrang bersorak-sorai atas kemenangannya membunuh Ranggalawe, melihat gelagat angkuh itu, Lembu Sora langsung membunuh Kebo Anabrang yang telah membunuh keponakannya.
Pada tahun 1300, Halayuda menghasut Mahesa Taruna putra dari Kebo Anabrang, agar mengusulkan hukuman berat kepada Lembu Sora yang telah membunuh ayahnya
Maka Sang Raja (Dyah Wijaya) hanya memberikan "hukuman buang" kepada Lembu Sora. Kemudian, Halayuda datang memberikan saran kepada Lembu Sora agar ia datang menghadap langsung kepada Sang Prabu di istana untuk meminta keringanan hukuman atas jasa-jasanya.
Atas saran Halayuda, maka Lembu Sora mendatangi istana secara baik-baik tetapi ia langsung dikeroyok oleh tentara istana, sebab Patih Nambi telah dibisik sebelumnya oleh Halayuda bahwa Lembu Sora akan datang membuat kekacauan di Istana.
Pada tahun 1309, Raden Wijaya wafat digantikan oleh putranya, bernama Jayanagara (Kala Gemet) sebagai Raja Majapahit yang kedua.
Selanjutnya tahun 1316, Halayuda kemudian "mengadu domba" Raja Jayanagara dan Mahapatih Nambi. Halayuda memberikan saran kepada Patih Nambi untuk tinggal di Lumajang setelah ayahnya yang bernama Pranaraja, wafat.
Sebaliknya, ia menghasut Jayanagara bahwa Nambi tidak mau lagi kembali ke Majapahit karena ia sedang mempersiapkan pemberontakan.
Jayanagara yang terhasut oleh Halayuda yang sangat dipercaya, mengirim pasukan untuk menyerbu Lumajang dan menghukum Nambi.
Dalam kidung Sarondaka, dijelaskan bahwa Halayuda sangat dekat dengan raja, sehingga ia bisa menghasut raja untuk memusuhi Nambi dan Arya Wiraja.
Sehingga penyerbuan pasukan Majapahit untuk menghancurkan Lumajang, Nganding dan Pajarakan "berjalan sukses", atas kematian Nambi, Prabu Jayanagara mengangkat Halayuda sebagai Patih Majapahit.
Istilah Mahapatih, lebih dekat kepada sosok dan sifat Dyah Halayudha yang ambisi kekuasaan besar. Dia adalah Patih Amangkubhumi kedua, yang menjabat pada era pemerintahan Prabhu Jayanegara atau Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara.
Tepatnya berkisar antara tahun 1316 M sampai dengan 1328 M. Jabatan Patih Amangkubhumi diperoleh Halayuda, setelah "menghasut" Sang Prabu Jayanagara untuk segera melakukan penyerangan tentara Majapahit ke Lumajang yang berhasil menghancurkan benteng pertahanan Mpu Nambi di Pajarakan dan Lumajang.
Pelantikan Halayuda sebagai Mahapatih, untuk mengantikan Npu Nambi, yang sejak awal menimbulkan banyak pertanyaan dalam lingkungan keraton Majapahit terutama yang tidak sepakat adalah Arya bangah paman Jayanegara.
Arya bangah, telah banyak menemukan bukti-bukti bahwa maha Patih halayuda banyak mendalangi kejahatan dalam kerajaan Majapahit, mulai peristiwa ranggalawe, mpu Sora, sampai peristiwa di Lumajang yang melibatkan Patih nambi.
Pada tahun 1319, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti, anggota pasukan elit pengawal raja dan keluarganya (Dharma putra) yang bertugas di dalam istana. Inilah pemberontakan paling berbahaya sebab Ra Kuti, berhasil menguasai istana dan mengusir Jayanagara.
Namun dalam pemberontakan itu, Halayuda tidak berbuat apa-apa, tapi ada salah satu anggota pengawal kerajaan yang bertugas diluar istana (Bhayangkara) bernama Gajah Mada, berhasil mengevakuasi dan menyelamatkan Raja Jayanagara bersama keluarganya ke suatu tempat yang aman.
Setelah pemberontakan Ra Kuti berhasil ditumpas, maka hubungan Jayanagara dan Halayuda menjadi renggang, sehingga kemudian ketahuan lah bahwa, orang yang selama ini membuat fitnah adalah Halayuda.
Prabu Jayanagara memutuskan untuk menghukum Patih Halayuda si tukang fitnah "pembuat onar" dengan cara "Cineleng-Celeng" artinya di cincang seperti Babi Hutan.
Nama Halayuda tercatat dalam prasasti Sidateka tertulis “Rake tuhan mapatih ring majapahit Dyah Halayudha” artinya Dyah Halayudha adalah patih Majapahit bergelar rakai. Angka tahun prasasti menunjukkan sang patih berada dalam pemerintahan Jayanagara yang wafat pada 1328 M.
Artinya, prasasti itu dibuat lima tahun sebelum raja Jayanagara wafat. Dia menjabat setelah Nambi binasa dalam penumpasan yang dilakukan pasukan kerajaan Majapahit.
Jika dilihat dari namanya, yang bergelar "Dyah" maka Halayuda juga adalah seorang bangsawan. Sama seperti nama Pendiri Majapahit Dyah Wijaya, sesuai kitab Nagarakretagama.
Tapi dalam kitab pararaton yang dibuat pada tahun 1600-an, nama Dyah Wijaya diganti menjadi Raden Wijaya.
CATATAN PENTING :
Data yang ada di "pararaton" yang mengatakan, bahwa: "Ra tanca adalah sosok darma putra orang yang di lindungi oleh Patih halayuda adalah keliru", sebab Mahapatih Halayuda lebih dahulu meninggal delapan tahun daripada kematian Prabu Jayanagara oleh Ra Tanca.
Nama “Mahapati”, hanya banyak disebut dalam kitab Pararaton dan Kidung Sarondaka, tetapi tidak pernah disebut dalam prasasti-prasasti manapun, terkecuali dalam prasasti Sidateka berangka tahun 1323 M yang tertulis “Rake tuhan mapatih ring majapahit Dyah Halayudha” yang dikeluarkan oleh Prabhu Jayanegara.
Tokoh Mahapatih lebih erat kaitannya dengan orang yang bernama "Halayuda". "Maha" artinya Besar, sedangkan "Patih" artinya penguasa. Maksudnya adalah Mahapatih adalah orang yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa.
Dengan demikian Mahapati yang tertulis dalam kitab Pararaton dapat kita identifikasi sebagai Dyah Halayudha sesuai yang tertulis dalam prasasti Sidateka.
Kesimpulan:
1. Beberapa tulisan menyebutkan bahwa Patih Nambi adalah putera dari Arya Wiraraja "Keliru" sebab ayah Patih Nambi, bernama: "Pranaraja".
2. Ranggalawe mengusulkan pamannya Lembusora menggantikan Patih Nambi.
3. Hanya pada Halayuda, istilah Mahapatih mulai disebut sebagai sebuah sindirian halus atas kerakusan pada kekuasaan besar.
4. HALAYUDA di juluki sebagai Mah Patih. Sebuah sindiran atas ambisi yang besar.
5. HALAYUDA adalah Sengkuni Pertama MAJAPAHIT, yang telah banyak mengorbankan ksatria sejati yang berjasa dalam pendirian "Kerajaan Majapahit".
6. HALAYUDA adalah orang pertama menyandang istilah sindiran Maha Patih, lalu kemudian GAJAH MADA sebab ia punya ambisi yang besar.
7. Istilah sebelumnya adalah "MAHAMENTERI", sedangkan istilah MAHAPATIH tidak pernah ditemukan dalam prasasti dan kitab Nagarakretagama, hanya ditemukan dalam Parasasti "Sideteka" kidung sarondaka dan Pararaton.
8. Penggunaan nama RADEN WIJAYA hanya terdapat pada kitab pararaton yang ditulis 300 tahun sesudah peristiwa terjadi.
9. Kitab Nagarakretagama, menulis DYAH WIJAYA (Sanggrama), ia adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa terjadinya.



Komentar
Posting Komentar