Daftar Nama Patih Majapahit dan masa pemerintahan Raja Majapahit, beserta periodenya

Daftar Nama-nama Patih Kerajaan Majapahit, diambil dari berbagai sumber utama seperti Kitab Pararaton dan Nagarakretagama, mencakup periode 1293 hingga runtuhnya kerajaan pada tahun 1527.

1. NAMBI (Dharmaputra)

Menjabat 1294–1316 pada masa Raden Wijaya (1293–1309) dan awal Jayanegara (1309–1328).

2. DYAH HALAYUDA (Mahapati)
Menjabat 1316–1323 di bawah pemerintahan Jayanegara (1309–1328).

3. ARYA TADAH (Empu Krewes)
Menjabat 1323–1334 pada masa pemerintahan Jayanegara (1309–1328) dan Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350).

4. GAJAH MADA (Jirnodhara)
Menjabat 1334–1364 pada masa Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350) dan Hayam Wuruk (1350–1389).

5. LEMBU NALA
Menjabat 1365–1376 pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389).

6. GAJAH ENGGON
Menjabat 1376–1394, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389) dan Wikramawardhana (1389–1429).

7. GAJAH MANGURI
Menjabat (1394–1398) pada masa Wikramawardhana (1389–1429).

8. GAJAH LEMBANA
Menjabat 1398–1410 di bawah Wikramawardhana (1389–1429).

9. TANAKA
Menjabat 1410–1430 saat Wikramawardhana (1389–1429) dan Suhita (1429–1447).

10. WAHAN
Menjabat 1430–1498 pada masa:
Suhita (1429–1447),
Rajasawardhana (1447–1451),
Purwawisesa (1456–1466),
Bhre Pandansalas (1466–1468),
Bhre Kertabumi (1468–1478), dan
Girindrawardhana (1478–1489).

11. UDARA
Menjabat 1498–1527 di bawah Girindrawardhana (1478–1489) hingga akhir Dinasti Majapahit.

Keterangan:
Beberapa patih menjabat melewati masa transisi raja, itu mencerminkan stabilitas birokrasi dan administrasi pemerintahan Majapahit.

Uraian Singkat :

Kerajaan Majapahit, yang berdiri dari tahun 1293 hingga 1527 Masehi, memiliki Patih yang punya peranan penting, yang berfungsi sebagai Perdana Menteri, sekaligus penasihat utama raja, dan sering kali memegang kendali militer dan strategi ekspansi perluasan wilayah.

Pada masa pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) dari 1293 hingga 1309 Masehi, yang merupakan pendiri Majapahit, Mpu Wahana (NAMBI) diketahui menjabat sebagai patih pertama. Ia berperan penting dalam stabilisasi kerajaan setelah invasi Mongol.

Selanjutnya, di era Sri Jayanegara, yang berkuasa dari 1309 hingga 1328 Masehi, nama ARYA TADAH muncul sebagai Patih Daha antara 1321-1334 Masehi.

Pada periode ini pula, GAJAH MADA memulai karirnya sebagai Patih Kahuripan pada 1319-1321 Masehi, sebelum namanya mulai meroket setelah peristiwa pembunuhan yang dilakukan Ra Tanca.

Puncak kejayaan awal Majapahit terjadi di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang memerintah dari 1328 hingga 1350 Masehi.

Pada masa inilah GAJAH MADA diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi, sebuah jabatan yang dipegangnya dari sekitar 1334 hingga 1364 Masehi.

Gajah Mada dikenal dengan "Sumpah Palapa"-nya dan berhasil menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara, termasuk Sunda, dalam kolaborasi erat dengan Ratu Tribhuwana yang dikenal sebagai pemimpin militer yang berani.

Ketika, Sri Hayam Wuruk naik takhta dari 1350 hingga 1389 Masehi, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Gajah Mada masih menjabat sebagai mahapatih hingga sekitar tahun 1364 Masehi.

Namun, setelah peristiwa Perang Bubat pada 1357 Masehi, Gajah Mada perlahan-lahan mengundurkan diri atau diberhentikan, dan kemudian digantikan oleh GAJAH ENGGON.

Setelah masa keemasan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, informasi mengenai patih yang sangat menonjol di Majapahit menjadi kurang peranannya. 

Pada masa pemerintahan Wikramawardhana (1389–1429 M), dengan Patihnya Gajah Enggon, diwarnai konflik internal seperti Perang Paregreg melawan Bhre Wirabhumi, tidak ada catatan jelas mengenai patih utama yang sepopuler Gajah Mada.

Untuk raja-raja selanjutnya seperti Bhre Hyang Purwawisesa (1429–1447 M), Pajang (Rajasawardhana, 1445–1451 M), Girishawardhana (1456–1466 M), Singhawikramawardhana (1468–1478 M), dan raja-raja terakhir Majapahit hingga Ranawijaya (Brawijaya V) yang memerintah hingga keruntuhan pada 1527 M, catatan mengenai patih yang berpengaruh besar tidak banyak ditemukan, dan menandai awal keruntuhan Majapahit, pada masa PATIH UDARA, pada masa pemerintahan Girindrawardhana sebagai Raja Terakhir.

Periode ini lebih banyak diwarnai oleh konflik internal dan tekanan dari kesultanan Islam yang berkembang seperti Demak, yang akhirnya menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit.​

Komentar

Postingan Populer