Sejarah Kerajaan "MEDANG" Dari MATARAM di Jawa Tengah hingga Akhir Kejayaan di Jawa Timur.
PERKEMBANGAN KERAJAAN MATARAM KUNO (MEDANG)
Setelah Prabu Sanjaya menjabat sebagai Raja Sunda ke-2, Raja Galuh ke-5. Ia mendirikan Kerajaan Medang sebagai kelanjutan dari Kerajaan Ho-Ling (Kalingga)
Prabu Sanjaya menikahi Teja Kencana Putri dari Tarusbawa pendiri kerajaan Sunda, sehingga memiliki dua orang putra, yakni:
- Tamperan Barmawijaya, yang mewarisi Jawa Barat
-- Rakai Panangkaran mewarisi Jawa Tengah. Maka pada artikel ini, fokus ke periode Jawa Tengah, sedangkan periode Jawa Barat akan di kupas dalam artikel lain.
Daftar Raja Medang dari Dinasti Sanjaya (Hindu) di Kerajaan Medang dalam Periode Jawa Tengah (Medang - Jawa Tengah)
1. Rakai Mataram (DYAH SANJAYA) (732-760 M): Pendiri Kerajaan Medang, sebagai kelanjutan dari Kerajaan Kalingga, tercatat dalam prasasti Canggal.
2. Rakai Panangkaran (760-784 M): Menggantikan ayahnya sebagai Raja Medang. Ia Membangun Candi Kalasan. Ia pula dikenal dengan nama Dyah Pancapana.
3. Rakai Panunggalan (784-800 M): Stabilitas dinasti, Ia sebagai Inisiator pertama pembangunan candi Borobudur. Ia pula di kenal dengan nama Dharanindra atau Dharmatungga.
4. Rakai Warak (800-827 M): Ia dikenal pula dengan nama Samaragrawira. Ia adalah Aliansi dengan Syailendra, menikahi Dewi Tara binti Dharmasetu Raja ke-7 Sriwijaya, melahirkan: Samaratungga Raja Medang, dan Balaputradewa Maharaja Sriwijaya.
5. Dyah Gula. (827-828) Namanya baru diketahui setelah ditemukannya Prasasti Wanua Tengah III (908 M), yang menyebutnya sebagai raja yang menggantikan Rakai Warak dan setelahnya digantikan oleh Rakai Garung. Ia memerintah antara 5 Agustus 827 s.d. 24 Januari 828 M (6 bulan memerintah)
6. Rakai Garung (828-838 M): Ia dikenal pula dengan nama (Samaratungga), ia melakukan Pembangunan irigasi dan Penyelesaian Candi Borobudur, mempunyai putri bernama Pramodhawardhani.
7. Rakai Pikatan (838-855M): Ia adalah Menantu dari Rakai Garung (Samaratungga) ia Menikah dengan Pramodhawardhani, menyatukan dinasti Sanjaya dengan Dinasti Syailendra. Ia pula di kenal dengan nama Dyah Saladu (Empu Manuku).
8. Rakai Kayuwangi (855-885 M): Menggantikan Ayah dan Ibunya yang merupakan kepemimpinan bersama di Kerajaan Medang. Ia dikenal pula dengan nama Dyah Lokapala.
9. Dyah Tagwas memerintah sekitar tahun 885. Namanya ada di Dalam Prasasti Wanua Tengah III (908), ia memerintah antara 17 Februari 885 s.d. 25 Agustus 885. (6 bulan). Gelar lengkapnya Maharaja Dyah Tagwas Sri Jayakirtiwardhana, sebagaimana dituliskan dalam Prasasti Er Hangat.
10. Rakai Panumwangan. Menurut Prasasti Wanua Tengah III (908), ia memerintah antara 25 Agustus 885 s.d. 18 Januari 887 M. Nama Dyah Dewendra selain dikenal dalam Prasasti Wanua Tengah III, juga terdapat dalam Prasasti Poh Dulur (890 M), dengan gelar Sri Maharaja Rake Limus Dyah Dewendra.
11. Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra. Ia adalah kakak tiri dari Kayuwangi. Dalam Prasasti Wanua Tengah III (908 M), ia memerintah antara 18 Januari 887 s.d. 14 Februari 887 M. Sesudahnya, terjadi masa kekosongan pemerintahan (interregnum) selama 7 tahun.
10. Rakai Watuhumalang (894-898) naik takhta pada 21 November 894 M, setelah terjadi kekosongan selama 7 tahun lamanya.
11. Dyah Balitung (898-910 M): Menantu Watuhumalang, ia Memindahkan ibu kota ke Prambanan. Wilayah kekuasaannya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Ia berhasil mengalahkan Rakai Gurunwangi (kakak tiri Kayuwangi). Ia juga adalah Menantu dari Watuhumalang. Dan mengangkat Empu Daksa sebagai Mahamenteri I Hino.
12. Dyah Daksa (913-919 M): Putra dari Rakai Watuhumalang, Fokus pada administrasi. Mpu Daksa memperkenalakan penggunaan Kalender Sanjaya (Sanjayawarsa) dalam prasasti yang dikeluarkannya. Prasasti tertua atas namanya "Daksa" sebagai maharaja yang sudah ditemukan adalah prasasti Timbangan Wungkal yang mencantumkan tahun 196 Sanjayawarsa atau 913 Masehi. Beliau ini adalah Ayah dari Mpu Sindok yang kelak memindahkan Kerajaan Medang ke daerah Jombang di Jawa Timur.
13. Dyah Tulodong (919-924 M): Transisi akhir. Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodong disebut sebagai putri dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Dalam pemerintahannya, yang menduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti, sedangkan yang menjabat Rakryan Halu adalah Mpu Sindok.
14. Dyah Wawa (924-929 M): Inilah Raja terakhir yang beragama Hindu, periode Jawa Tengah. Ia adalah keponakan dari istri Kayuwangi. Adapun Nama Rakai Sumba tercatat dalam Prasasti Sukabumi tanggal 7 Maret 927, menjabat menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja.
Ia mempunyai putri bernama: Sri Parameswari Dyah Kebi, yang menikah dengan Mpu Sindok, melahirkan: Sri Isyana Tunggawijaya.
Periode JAWA TIMUR:
Kerajaan Medang dalam kurun waktu 17 tahun setelah berakhirnya kepemimpinan Dyah Wawa, mengalami kekosongan sejak tahun 929 Masehi yang disebabkan oleh berbagai bagai hal terutama akibat bencana alam.
Pada tahun 1016 Masehi, Perpindahan dilakukan oleh Menantu Dyah Wawa, bernama Mpu Sindok, dari daerah Prambanan Jawa Tengah dipindahkan daerah Jombang ke Jawa Timur akibat bencana alam yaitu letusan gunung Merapi dan Invasi dari Kerajaan Sriwijaya.
Dinasti ISYANA (Medang Jawa Timur):
15. Mpu Sindok (929-947 M): Ia adalah cucu dari Watuhumalang ke-10, sekaligus putra dari Dyah Daksa raja Medang ke 12.
Ia berhasil memindahkan kerajaan Medang dari Bhumi Mataram "pindah" ke tepi Sungai Brantas, daerah Watugaluh (Diwek - Jombang).
Perpindahan ini sangat jenius untuk menghindari Invasi dari Kemaharajaan Sriwijaya.
Sebuah prasasti yang saat ini berada di museum Kolkata, India, menggambarkan keturunan Sindok hingga Airlangga, pada abad ke-11 Masehi.
16. Sri Isyanatunggawijaya (947-985 M): Putri Sindok, memajukan stabilitas ekonomi. Kompleks Petirtaan Jalatunda yang merupakan kawasan petirtaan yang dibangun sejak masa Medang periode Jawa Timur terletak di kaki barat Bukit Bekel, salah satu "gunung pendamping" Gunung Penanggungan (diduga) dibangun pada masa pemerintahan Sri Isyana Tunggawijaya dan suaminya Sri Lokapala, yang merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali.
17. Makutawangsa Wardhana (985-991 M). Menurut Prasasti Pucangan, yang menjadi raja selanjutnya adalah putera dari Ratu Isyana, dengan suaminya Sri Lokapala. yang bernama "Sri Makuthawangsawardhana". Ia berhasil hadapi invasi Srivijaya.
Sri Makuthawangsa Wardhana menikah dengan, melahirkan:
- Dharmawangsa Teguh (Raja Medang)
18. Dharmawangsa Teguh (991-1016 M): Dikisahkan dalam berita Kronik Thiongkok bahwa Pada musim semi tahun 992 duta San-fo-tsi (Sriwijaya) mencoba pulang namun kembali tertahan di Champa disebabkan negerinya masih belum aman.
KERAJAAN KAHURIPAN
Sebagai kelanjutan dari Kerajaan Medang kuno yang runtuh, akibat serangan dari "wurawari" raja bawahan Medang yang cemburu atas perjodohan putri Raja dengan sepupunya dari Bali, yang bernama: "Airlangga".
Penyerangan itu terjadi pada tahun 1016, dimana Wurawari bersama pasukan Sriwijaya memporak-porandakan Kerajaan Medang dan menewaskan rajanya.
Atas kematian sang Raja (Dharmawangsa Teguh), maka putri dan menantunya berhasil meloloskan diri, hingga akhirnya pada tahun 1019, Airlangga membentuk kerajaan Baru bernama "KAHURIPAN" yang berpusat di Daha , Kediri - Jawa Timur.
KESIMPULAN :
-1. Kerajaan Medang didirikan di Bhumi Mataram oleh Prabu Sanjaya, selanjutnya disebut Dinasti Sanjaya pada tahun 732.
-2. Daerah Prambanan menjadi pusat kegiatan pada masa pemerintahan Dyah Balitung.
-3. Kerajaan Medang, dipindahkan oleh Empu Sindok dari Bhumi Mataram ke daerah Jombang di Jawa Timur, selanjutnya disebut Dinasti Isyana pada tahun 929
-4. Airlangga mendirikan Kerajaan baru, bernama: "Kahuripan" berpusat di Daha, Kediri Jawa Timur, sebagai kelanjutan dari Kerajaan Medang dengan Dinasti ISYANA dari Garis Ibunya, yang bernama Mahendradatta putri dari Makuthawangsa Wardhana, Raja Medang ke 17.
-5. Dinasti ISYANA, berakhir pada tahun ketika Kertajaya sebagai Raja Kediri (terakhir) dihancurkan oleh Ken Arok, pada tahun 1222, sehingga melahirkan Dinasti Rajasa.



Komentar
Posting Komentar