RATU SIMA Pemimpin Jujur & Tegas di Kerajaan Ho-Ling (KALINGGA) dalam catatan Tiongkok
Kerajaan Ho-ling (Kalingga) dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua di Jawa bagian tengah berdasarkan catatan Tiongkok dari masa Dinasti Tang. Tokoh paling menonjol dari kerajaan ini adalah Ratu Sima, seorang penguasa yang digambarkan sangat tegas dan menjunjung tinggi moral.
A. Ketegasan Ratu Sima dalam Pemerintahan
Dalam Sejarah Baru Dinasti Tang, Ratu Sima disebut naik takhta sekitar tahun 674 Masehi. Catatan ini menampilkan beliau sebagai pemimpin disiplin dan adil. Masa pemerintahan Ratu Sima ditandai dengan pelaksanaan pemerintahan dengan segala disiplin. Aturan ditegakkan dengan cara terbaik.
Kisah terkenal menyebutkan bahwa: Raja Da-zi, yang hendak menyerang kerajaan Ho-Ling, lalu ia menguji integritas rakyat Ho-ling, yang terkenal dengan ketegasan dan kejujurannya, ia lalu meletakkan tas berisi uang di perbatasan kerajaan. Selama tiga tahun, tak seorang pun berani menyentuhnya.
Ratu Shima menggantikan suaminya sebagai pemimpin di Kerajaan Ho-Ling (Kalingga) berpusat di Jepara.
Suatu hari, putra mahkota dengan tanpa sengaja menyenggol tas tersebut. Ratu Sima murka dan berniat menghukum puteranya sendiri dengan hukuman mati.
Para menteri memohon agar hukumannya diringankan, sehingga hanya ibu jari kaki sang pangeran yang dipotong. Ketegasan ini membuat Raja Da-zi segan dan tidak berani menyerang Ho-ling.
Sehingga orang-orang menjadi patuh dan taat kepada semua perintah Ratu Sima bahkan tidak ada satu orang pun atau pejabat kerajaan yang melanggar semua perintahnya.
B. Kemajuan di bidang Ekonomi
Orang-orang Kerajaan Kalingga telah mengetahui hubungan dagang di tempat yang disebut pasar. Kegiatan ekonomi lainnya antara bertani, menghasilkan kulit, kura-kura, emas, perak, badak tanduk, dan gading.
Kehidupan masyarakat Kalingga damai. Ini karena di Kalingga tidak ada kejahatan dan kebohongan. Dengan kondisi tersebut Kerajaan Kalingga menjadi idaman bagi saudagar cina untuk melakukan kerjasama.
C. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Berkat kondisi tersebut, masyarakat Kalingga sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran roster Kuchga yang sudah dikenal menulis dan astronomi.
Selain itu, Kerajaan Kalingga menjadi salah satu pusat pembelajaran Agama Buddha di dunia, yang didatangi oleh para pelajar dari Mancanenara, terutama India dan Tiongkok.
D. Warisan peninggalan
Salah satu peninggalan Kerajaan Kalinga adalah pramanati Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu tepatnya di kawasan Grobogan Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah.
Prasasti ini ditulis dengan huruf Sanskrit Pallawa yang bercerita tentang mata air bersih dan bersih. Selain itu, tulisan ini juga memiliki gambar seperti kendi, trisula, kapak, kelas, chakra dan bunga teratai yang merupakan tiruan keeratan hubungan manusia dengan para dewa.
E. Ho-ling dalam Catatan Tiongkok
Catatan Dinasti Tang menjadi sumber utama mengenai Ho-ling. Sebelum abad ke-8, sebagian besar informasi tentang Nusantara berasal dari laporan para duta asing yang berkunjung ke istana Tiongkok, seperti dijelaskan arkeolog Agus Aris Munandar.
Dalam berbagai kronik, Ho-ling dikaitkan dengan istilah She-po atau Cho-po, yang merujuk pada “Jawa”. W.P. Groeneveldt.
Catatan tersebut menggambarkan Ho-ling sebagai negeri di sebuah pulau di selatan samudra, di timur Sumatra dan barat Bali. Penduduknya tinggal di rumah beratap daun palem, memiliki benteng kayu, dan memakai balai-balai dari gading.
Mereka makan dengan tangan, mengenal aksara, dan sedikit memahami astronomi. Negeri ini digambarkan makmur, bahkan memiliki gua yang mengeluarkan air asin. Raja memimpin dari kota Java (Ja-pa) dan membawahi 28 negeri kecil dengan bantuan 32 menteri.
F. Jejak Agama Buddha di Ho-ling
Catatan Tiongkok juga menggambarkan aktivitas Buddhis di Ho-ling. Beberapa tokoh yang tercatat antara lain:
Gunawarman, biksu Kashmir yang tinggal di Jawa (396–424 M).
Hui-ning, yang belajar di Ho-ling (664–667 M) kepada biksu Jawa Jnanabhadra.
I-Tsing, yang mencatat Ho-ling sebagai pusat pembelajaran Buddha Hinayana.
G. Akhir Kerajaan Ho-ling
Ho-ling masih tercatat mengirim utusan hingga di penghujung abad ke-8 M. Setelah itu, nama kerajaan ini menghilang dari kronik Tiongkok. Beberapa ahli menduga Ho-ling bertransformasi atau menyatu dengan kekuatan politik baru yang muncul pada abad berikutnya.
Kemunduran kerajaan Ho-Ling, di duga karena ada desakan dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, yang telah banyak menguasai perairan di seluruh pantai utara di pulau Jawa.
Pada kenyataannya, Cucu dari Ratu Shima yang bernama "Prabu Sanjaya" mendirikan kerajaan Medang aliran Hindu-Siwa, pada tahun 732 Masehi, setelah ia menjadi Raja Sunda ke-2 dan Raja Galuh ke-5
Terlepas dari hal tersebut, catatan Tiongkok menegaskan bahwa Ratu Sima dan Ho-ling memberi reputasi kuat bagi Jawa sebagai negeri yang tertib, makmur, dan berbudaya.


Komentar
Posting Komentar