Masa Jaya Kerajaan KEDIRI yang menguasai Nusantara.
KERAJAAN KEDIRI (1042–1222)
Sebelum di awali pendirian kerajaan Medang oleh Prabu Dyah Sanjaya pada tahun 732 Masehi dengan naSetelah ia menjadi Raja Sunda ke-2 dan Raja Galuh ke-5, untuk melanjutkan kerajaan Kalingga yang mundur karena dominasi Kemaharajaan Sriwijaya di perairan pantai utara pulau Jawa.
Hingga pada pada pemerintahan Mpu Sindok, kerajaan Medang dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, dengan nama Dinasti ISYANA.
Namun kerajaan Medang mengalami kehancuran pada masa pemerintahan Prabu Dharmawangsa, ketika terjadi peristiwa Pralaya, yang menyebabkan kekalahan total pada tahun 1016 Masehi.
Tapi pada tahun 1019, menantu sekaligus keponakan Prabu Dharmawangsa yang tewas, bernama Airlangga putra Udayana Raja Bali berhasil mendirikan kembali kerajaan bernama kerajaan KAHURIPAN.
Kerajaan KAHURIPAN yang bermakna " ", kemudian dibagi dua oleh Airlangga didukung oleh Mpu Bharada, yakni Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Kerajaan Kediri, atau Panjalu, adalah kerajaan Hindu–Buddha di Jawa Timur yang berdiri dari 1042 hingga 1222 Masehi, sebagai pecahan dari Kahuripan yang dibentuk oleh Airlangga.
Nama Dinasti tetap menggunakan Dinasti ISYANA. Kerajaan ini berpusat di Dahanapura (Daha), wilayah yang kini menjadi bagian dari Kota Kediri.
Daha sudah dikenal sebelum pemecahan Kahuripan. Nama Dahanapura, yang berarti “kota api”, tercatat dalam Prasasti Pamwatan tahun 1042.
Dalam Serat Calon Arang juga menyebut bahwa Airlangga (Erlangga) memindahkan pusat kerajaan ke Daha menjelang akhir masa pemerintahannya.
1. Nama "PANJALU"
Istilah “Pañjalu” (Pangjalu) lebih awal dan lebih sering digunakan daripada “Kadiri”. Nama Panjalu muncul dalam berbagai prasasti dan dicatat dalam kronik Tiongkok Lingwai Daida (1178 M) sebagai Pu-chia-lung.
Kata "JALU" berarti jantan, dan PANGJALU artinya menggambarkan wilayah yang kuat dan mandiri.
Nama Kadiri dianggap sinonim Panjalu, sama seperti hubungan nama Majapahit–Wilwatikta atau Jiwana–Kahuripan.
2. Nama "KADIRI"Nama KADIRI (Kadhiri) diyakini berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu "Kāḍiri" yang berarti “mandiri” atau “berdiri sendiri”.
Ada pendapat lain yang mengaitkannya dengan kata Sanskerta khadri (buah mengkudu), tetapi secara etimologi Jawa Kuno dianggap lebih tepat. Kadiri merujuk pada wilayah di selatan Jawa yang dilalui Sungai Bengawan Solo menuju ke laut.
Nama KADIR,I berulang kali disebut dalam prasasti kerajaan Panjalu, seperti yang tertera pada Prasasti Ceker (1185 M) dan Prasasti Kamulan (1194 M), yang menunjukkan bahwa, keberadaan istana dan pemerintahan berada di Bhumi Kadiri.
Dalam Prasasti Mula Malurung (1255 M), Kertanegara disebut sebagai raja muda di nagara Daha yang terletak di Bhumi Kadiri. Nama ini juga muncul pada prasasti masa Majapahit, seperti Prasasti Batur dan Prasasti Carama.
Penyebutan tertua ditemukan dalam Prasasti Harinjing B (921 M), yang mencatat adanya pejabat perkara di Kadiri, menandakan bahwa istilah ini sudah dikenal sejak abad ke-10.
A. LATAR BELAKANG
1. Serangan Medang ke Sriwijaya
937: Pasukan Sriwijaya mencoba menyerang ibu kota Medang lebih dulu.
990: Dharmawangsa Teguh dari Medang melancarkan invasi laut besar-besaran ke Sriwijaya untuk merebut Palembang, namun gagal.
992: Medang sempat merebut Palembang, tetapi kemudian berhasil diusir kembali oleh pasukan Sriwijaya di bawah Raja Sri Cudamani Warmadewa.
997: Prasasti Hujung Langit mencatat kegagalan Medang membangun benteng di Sriwijaya, menunjukkan intensitas konflik.
1016: Konflik berakhir dengan kehancuran Kerajaan Medang akibat serangan balik dari Sriwijaya dan sekutunya, yang dikenal sebagai peristiwa "PRALAYA" (Penghancuran Total/Pemusnahan).
2. Kehancuran Kerajaan Medang
Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1016 ketika Dharmawangsa Teguh diserang oleh Raja bawahan yang bernama "Wurawari" yang bersekutu dengan Sriwijaya dari Sumatera (Peristiwa PRALAYA)
Serangan terjadi saat pesta pernikahan putri Dharmawangsa dengan Airlangga. Sebagai akibat "Balas Dendam" Wurawari yang di tolak cintanya oleh putri Dharmawangsa, yang memilih sepupunya "Airlangga".
Pada pesta kerajaan yang meriah itu, yang diselenggarakan oleh dua kerajaan (Bali-Medang) disana duduk bersanding Sang Putri Galuh Sekar dengan "sepupunya", yakni: Airlangga, yang merupakan Putera dari Udayana Warmadewa, Raja Bali.
Pesta kebahagiaan berubah menjadi peristiwa berdarah yang menghancurkan istana kerajaan, sehingga Raja Dharmawangsa pun gugur, dalam serangan Wurawari bersama Sriwijaya.
Sementara Airlangga, sang pengantin selamat berkat bantuan dari Mpu Narotama. Ia pun hidup dalam pelarian di hutan pegunungan Vanagiri, kemudian ke Pucangan dan Sendang Made.
Airlangga adalah putra Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh) dan Udayana Raja Bali, sehingga ia memiliki garis keturunan kerajaan dari Jawa dan Bali.
3. Berdirinya Medang Kahuripan
Tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1019, rakyat dan para senopati meminta Airlangga memulihkan kerajaan. Maka, dengan dukungan dari para Pendeta dan para Brahmana, ia mendirikan Medang Kahuripan dengan "Wwatan Mas" sebagai ibukota yang di sekitar Gunung Penanggungan.
Prasasti Pucangan mencatat seruan para brahmana yang meminta Airlangga, untuk memimpin seluruh negeri. Meski awalnya, wilayah kekuasaannya masih kecil karena merupakan daerah-daerah bekas Medang yang pernah memerdekakan diri.
Namun setelah Sriwijaya melemah akibat serangan Kerajaan Chola (1025) dari India, maka Airlangga mulai menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur.
Antara 1029–1037 ia berperang melawan berbagai penguasa lokal, termasuk Dyah Tulodong dari Lodoyong dan Wurawari (musuhnya).
Puncaknya, pada 1037 ia berhasil menundukkan Wijayawarman, sehingga kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Timur, sebagian Jawa Tengah, dan Bali.
4. Pemindahan Pusat Pemerintahan
Pusat pemerintahan pertama Airlangga berada di Wwatan Mas, sebagaimana disebut dalam Prasasti Cane (1021). Di sana, ia bergelar: 'Çrĩ Mahãrãja ri Maniratnasinghasana Makadatwan ri Wwatan Mas", menandai kedaton awalnya setelah memulihkan kekuasaan pasca-runtuhnya kerajaan Medang.
Pada 1032, menurut Prasasti Terep, Airlangga memindahkan ibu kota ke daerah Kahuripan di wilayah Janggala (sekitar Sidoarjo).
Prasasti Kamalagyan dan Prasasti Kusambyan (1037) kembali menegaskan penggunaan nama Kahuripan sebagai pusat kerajaan, dengan nama kedaton baru bernama: "Madander" di Jombang.
Menjelang akhir pemerintahannya, sekitar 1042, Airlangga kembali memindah pusat kekuasaan ke Dahana, sebagaimana disebut dalam Prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang.
Sehingga daerah "Dahana" kemudian berkembang menjadi Kota Kediri.
5. Berdirinya Kerajaan KADIRI sebagai Pembagian Kerajaan oleh Airlangga
Kakawin Nagarakretagama mencatat bahwa, Airlangga memerintah dari Daha dan membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian untuk mencegah perebutan takhta antara putra-putranya. Pupuh 68 menggambarkan pembelahan Jawa secara simbolis oleh Mpu Bharada.
Prasasti Turun Hyang (1044) mencatat adanya krisis suksesi. Putri sulung Airlangga, Sanggramawijaya Tunggadewi, sebenarnya adalah pewaris sah tetapi memilih menjadi pertapa Buddha.
Posisi putra mahkota kemudian beralih kepada Sri Samarawijaya, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Pucangan (1041), yang menjabat mahamantri i hino, sebuah jabatan untuk ahli waris utama.
Serat Calon Arang juga menyinggung rencana Airlangga, untuk menempatkan salah satu putranya di Bali, tetapi tidak terwujud karena Bali sudah diperintah saudaranya.
Akhirnya, pada November 1042, atas saran Mpu Bharada, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yakni:
• Panjalu (Daha) diberikan kepada Sri Samarawijaya,
• Janggala (Kahuripan) diberikan kepada Mapanji Garasakan.
Prasasti Gandhakuti (24 November 1042) mencatat Airlangga telah turun takhta dan bergelar Resi Aji Paduka Mpungku, menandakan ia memasuki kehidupan sebagai pendeta.
Pembagian wilayah ini juga disebut pula di dalam Prasasti Maribong (1264), yang menyebut Bengawan Solo sebagai batas antara wilayah Panjalu–Janggala.
Prasasti Wurare dari masa Singhasari kembali menegaskan peran Mpu Bharada sebagai pendeta yang “membagi Jawa” agar para pangeran tidak berselisih.
Airlangga wafat sekitar 1049, meski ia menjadi resi, Prasasti Pasar Legi menunjukkan, bahwa ia dan Sanggramawijaya masih berperan dalam urusan pemerintahan, hal ini menandakan wibawanya yang tetap dihormati dan dijunjung hingga akhir hayat.
C. PERKEMBANGAN KERAJAAN KADIRI
Pada masa awal setelah pembagian kerajaan oleh Airlangga, sejarah Kadiri kurang jelas. Pemerintahan Sri Samarawijaya bahkan dianggap sebagai “masa kegelapan” karena tidak ada prasasti yang dikeluarkan olehnya.
Prasasti Turun Hyang (1044) menunjukkan adanya perang saudara antara Panjalu dan Janggala setelah Airlangga wafat. Lontar "Calon Arang" juga menggambarkan adanya upaya Mpu Bharada untuk mendamaikan kedua kerajaan (Kāḍiri dan Panjalu)
Catatan Kadiri mulai terang sejak masa pemerintahan Sri Jitendra Kara (1051–1112), yang disebut dalam prasasti Mataji.
Pada periode yang sama, Prasasti Garaman dari Janggala mencatat konflik antara Janggala dan “Haji Panjalu”, yang kemungkinan merujuk kepada Jitendra Kara.
Setelah itu muncul Sri Bameswara, yang disebut dalam prasasti Karanggayam dan Padlegan, terutama terkait pemberian tanah sima kepada para pejabat desa.
Masa penting Kadiri dimulai ketika Sri Jayabhaya naik takhta. Prasasti Hantang (1135) memperlihatkan bahwa Panjalu berhasil menaklukkan Janggala, dikenal melalui semboyan “Panjalu Jayati”.
Di bawah pemerintahan Prabu Jayabhaya, Kadiri mencapai puncak keemasan dan kejayaan. Wilayahnya semakin meluas, bahkan pengaruhnya menyaingi kerajaan Sriwijaya di Sumatera.
Catatan Tiongkok Ling-wai-tai-ta menyebut bahwa Jawa (Panjalu) sebagai salah satu negeri terkaya abad ke-12.
Prasasti Talan (1136) menunjukkan, bahwa Prabu Jayabhaya meneguhkan warisan dari Airlangga dan memberikan anugerah kepada warga Talan.
Pada masa ini pula, lahir karya sastra besar seperti Kakawin Bharatayudha.
Sesudah Prabu Jayabhaya, dilanjutkan oleh Sri Gandra, ia memperlihatkan perkembangan struktur pemerintahan yang unik, seperti penggunaan nama-nama hewan untuk jabatan istana (Menjangan Puguh, Lembu Agra, Kebo Waruga, dll.)
Sebagaimana tercatat dalam Prasasti Jaring. Penggunaan istilah Senapati Sarwwajala juga menunjukkan bahwa Kadiri telah memiliki kekuatan Angkatanaut yang sangat kuat.
1. Perkembangan Agama
Perkembangan agama terlihat dari tinggalan arkeologis di wilayah Kediri, yakni Candi Gurah, Candi Tondowongso, dan Petirtaan Kepung yang menggambarkan dominasi ajaran Hindu—terutama aliran Siwa.
Sementara itu, situs Adan-adan, menunjukkan adanya pengaruh Buddha Mahayana melalui temuan arca Amitabha dan fragmen Bodhisattwa.
Prasasti-prasasti Kadiri juga mencantumkan gelar raja yang berkaitan konsep Wisnu, seperti “Śrī Sarwweswara Triwikramāwatāraānindita”.
Namun gelar Wisnu lebih mencerminkan kepada tradisi dewaraja yang memandang raja sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, bukan sebagai tanda berkembangnya Buddha aliran Waisnawa.
Dimana, Raja dipandang sebagai pusat kekuatan sakral yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan dan kesejahteraan kerajaan.
2. Pengaruh Budaya
Pada masa Raja Sri Kameswara, lahir karya sastra penting berupa Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja. Kakawin ini dipersembahkan untuk Kameswara dan permaisurinya, Sri Kirana dari Janggala.
Sebuah kisah terbakarnya Kamajaya dan Ratih dalam kakawin tersebut menjadi inspirasi awal "Kisah Panji" cerita cinta Panji Inu Kertapati dan Candra Kirana.
Kisah Panji kemudian berkembang luar biasa pada masa kerajaan Majapahit dan menyebar ke Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar) dengan versi lokal masing-masing.
Pada masa pemerintahan Kadiri, prasasti-prasasti memiliki sistem penanggalan yang sangat rinci. Menurut de Casparis, prasasti Kadiri dapat memuat 14–15 unsur waktu seperti warsa, wuku, tithi, rasi, dan planet, menunjukkan tingginya pengetahuan astronomi.
Aksara khas pada masa ini adalah Kadiri Kwadrat, sebuah bentuk khusus aksara Kawi yang besar, tebal, dan bersudut. Ciri-cirinya adalah relief timbul dan ornamen flora, ditemukan tidak hanya di Kediri tetapi juga di Bali, Dieng, dan Muaro Jambi.
3. Hubungan dengan Bali
Hubungan budaya Kadiri–Bali, mulai berakar pada Airlangga, putra Raja Bali yang bernama: "Dharma Udayana Warmadewa" dengan Permaisuri Mahendradatta (Saudari Dharmawangsa)
Sejak saat itu, terjadi perpaduan budaya, antara Jawa–Bali yang sangat kental dan kuat, termasuk penggunaan Bahasa Kawi dalam agama, politik, dan sastra Bali.
Pengaruh Kadiri di Bali, tampak dari gelar raja-raja Bali yang memakai unsur “Jaya”, seperti: Jayaśakti, Ragajaya, Jayapangus, dan Ekajayalancana, yang sejaman dengan raja-raja besar Kadiri (Jayabhaya, Sri Sarweswara, Aryeswara, Kertajaya).
4. Bidang Ekonomi
Ekonomi Kadiri maju melalui perdagangan internasional. Wilayah-wilayah vassal (taklukan) menghasilkan komoditas penting seperti:
• cengkih (Maluku)
• kayu cendana (Timor)
• pala, adas
• keris, belerang
• gading, mutiara, kapas, dan benang sulam
Negeri Tiongkok mengekspor perhiasan emas-perak, porselen, pernis, dan bahan kimia untuk kerajinan. Temuan beberapa koin Dinasti Song menunjukkan majunya ekonomi moneter pada masa ini.
Catatan Tiongkok menggambarkan, bahwa kehidupan masyarakat Panjalu sebagai petani padi, peternak, dan pedagang. Pemerintah kerajaan sangat memperhatikan sistem irigasi, seperti pembangunan bendungan Waringin Sapta.
Masih menurut catatan dari Tiongkok, dikatakan bahwa Kerajaan Kadiri juga memiliki kekuatan militer Angkatan Laut yang sangat kuat, hal ini memungkinkan mereka mengontrol perdagangan rempah di perairan timur Nusantara.
Dalam kehidupan sosial, kejahatan boleh dikatakan ringan, sebab dikenai denda emas, sedangkan pencurian dan perampokan dihukum mati.
Pernikahan berlangsung sederhana dengan emas sebagai mahar kawin. Sedangkan dalam hal kesehatan masyarakat lebih mengandalkan doa-doa kepada dewa (Buddha) daripada pengobatan medis.
D. HUBUNGAN DENGAN KEKUATAN REGIONAL & KERUNTUHAN
Pada abad ke-12–13, kerajaan Kadiri dan Kemaharajaan Sriwijaya menjadi dua kekuatan besar di Nusantara. Namun, melemahnya Kemaharajaan Sriwijaya akibat serangan dari Kerajaan Chola-India, sehingga memberi ruang bagi Kerajaan Kadiri untuk menguasai jalur rempah ke wilayah Maluku.
Catatan Tiongkok menyebut pula, bahwa kerajaan Kadiri (Tsao-wa) sebagai kerajaan kaya dan berpengaruh. Chou Ku-fei bahkan menempatkannya sebagai salah satu dari tiga kerajaan terkaya di dunia.
Chu-fan-chi mencatat bahwa wilayah taklukan Kadiri yang luas, termasuk Bali, Kalimantan, Maluku, Papua Barat, hingga Timor.
1. Keruntuhan Kerajaan Kadiri (1222)
Kerajaan Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, setelah berselisih dengan kaum brahmana karena tuntutannya yang berlebihan untuk disembah sebagai "Dewa".
Sehingga para Brahmana kemudian meminta perlindungan kepada Akuwu Tumapel yang bernama Ken Arok, maka pecahlah Pertempuran Ganter yang berakhir dengan kemenangan di pihak Tumapel.
Prabu Kertajaya sebagai raja Kāḍiri, melarikan diri, sehingga kekuasaan Kadiri jatuh ke tangan Ken Arok. Setelah itu, Kadiri menjadi wilayah bawahan, dimana Raja Ken Arok mengangkat Jayasabha (putra Prabu Kertajaya yang ditaklukkan) sebagai Adipati Kāḍiri.
Setelah Jayasabha, Adipati Kediri di lanjutkan oleh Sastrajaya, dan kemudian berpindah ke Jayakatwang sebagai penguasa lokal (Adipati Kāḍiri).
2. Kebangkitan Singkat (1292–1293)
Pada tahun 1292, Jayakatwang Adipati Kāḍiri, memberontak kepada kerajaan Singhasari dengan rajanya Prabu Kertanegara dan sempat memulihkan "kembali" kejayaan Kerajaan Kadiri.
Namun kekuasaan itu hanya bertahan satu tahun karena ia dikalahkan oleh pasukan Mongol yang bersekongkol dengan Dyah Wijaya (Raden Wijaya) pada 1293. Sejak saat itu, Kadiri tidak lagi menjadi kekuatan politik yang mandiri.
Pada tahun 1295 berdiri kerajaan Majapahit oleh Dyah Wijaya (Sanggarama). Pada masa keruntuhan Majapahit, Kadiri (Daha) sempat menjadi pusat kekuasaan di bawah Dinasti Girindrawarddhana.
Namun pada 1527, Daha dihancurkan oleh kesultanan Islam Demak, menandai berakhirnya kejayaan Kerajaan Kadiri (Majapahit), untuk selama-lamanya.....



Komentar
Posting Komentar