TIONGKOK jujur akui: Keagungan KALINGGA - KEDIRI, Tapi Mengapa Pribumi Menganggapnya sebagai Mitos dari Jawa?

Ada apa dengan negeri ini?

Jejak Sejarah Nusantara yang Agung, terdapat dalam Catatan Tiongkok, pada era Dinasti Tang dan Dinasti Song, namun Terabaikan di Negeri Sendiri. Waduuuh...

Dalam catatan Kronik Thiongkok, bahwa sejarah Nusantara, terdapat paradoks yang menarik. Sejumlah kerajaan besar di Jawa kuno seperti Kerajaan Kalingga (600-700 M) dan Kerajaan Kediri (900-1100 M) justru diakui secara tertulis oleh catatan resmi Tiongkok.

Namun ironisnya, oleh sebagian masyarakat pribumi modern (cerdas dan religius) sering menganggap "LEGENDA" hanya sebagai mitos Jawa kuno, atau dongeng sebelum tidur.

Padahal, kronik Dinasti Tang dan Dinasti Song mencatat tentang keberadaan, sistem pemerintahan, hingga kondisi sosial kerajaan Kalingga dan kerajaan Kediri tersebut secara detail yang relatif objektif.

Pertanyaannya, mengapa pengakuan asing (Tiongkok, India, Champa) justru lebih dipercaya sejarah kerajaan di Nusantara daripada anak cucunya sendiri?

A. KERAJAAN KALINGGA

Kerajaan Kalingga dikenal dalam sumber Tiongkok sebagai Ho-ling (訶陵) atau She-po. Keberadaannya tercatat dalam Kitab Dinasti Tang (唐書 / Tang Shu) dan Xin Tang Shu (新唐書). Catatan ini berasal dari laporan pejabat dan biksu Tiongkok yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara.

1. Tahun Peristiwa Penting:

± 640–660 M: Kalingga berada pada masa pemerintahan Kartikeyasingha mencapai puncak kejayaan,

± 674 M: Ratu Shima naik tahta menggantikan suaminya (Kartikeyasingha) memerintah dengan hukum sangat ketat, jujur dan adil sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya.

Dalam kronik Tang disebutkan bahwa Ho-ling (kerajaan Kalingga Jawa Tengah), dipimpin oleh seorang ratu yang sangat tegas, memiliki hukum yang keras terhadap pencurian (korupsi) rakyatnya dikenal jujur dan berdisiplin tinggi.

2. Ratu Shima dan Supremasi Hukum (± 674 M) di Kalingga.

Salah satu kisah paling terkenal adalah kantong emas yang diletakkan di tengah jalan selama bertahun-tahun dan tidak seorang pun yang berani menyentuhnya. Ketika putra mahkota tanpa sengaja menyentuhnya, Ratu Shima menjatuhkan hukuman mati, namun putra mahkota dibela oleh pembesar kerajaan dan brahmana, bahwa ia tidak sengaja menyentuhnya. Meski demikian, meski anak kandungnya sendiri hukum tetap ditegakkan akhirnya hukuman itu diringankan berupa hukuman potong tangan.

Kisah ini bukan dongeng lokal semata, melainkan dikuatkan oleh sumber Tiongkok, yang mencatat Kalingga sebagai Negeri dengan:

- Moral tinggi
- Kejujuran kolektif
- Hukum tanpa pandang bulu

3. Kalingga sebagai Pusat Agama dan Pendidikan Internasional

Kalingga bukan kerajaan tertutup, bukan pula kerajaan yang ketinggalan jaman. Ia pernah menjadi pusat pembelajaran agama Hindu dan Buddha di dunia ini.

Tahun ± 665–667 M:

Pendeta Tiongkok Hui-Ning (慧寧) tinggal di Kalingga. Ia belajar Buddhisme bersama pendeta Jawa Jnanabhadra. Dari Kalingga, Hui-Ning menerjemahkan kitab suci Buddha ke bahasa Tionghoa.

Ini membuktikan bahwa Kalingga: terhubung langsung dengan dunia intelektual Asia dan diakui sebagai pusat studi agama internasional. Hebat kan?

4. Posisi Strategis dan Perdagangan Global (Internasional) di Kalingga

Kalingga diperkirakan, letak pusat pemerintahannya, berada di pantai utara Jawa Tengah (Jepara–Pekalongan).

Sebagai Jalur perdagangan:
India ↔ Nusantara ↔ Tiongkok

Komoditas: beras, emas, cula badak, kulit penyu. Dalam kronik Tang, Kalingga disebut sebagai negeri yang:
- Makmur dan Sejahtera
- Aman bagi pedagang asing
- Stabil secara politik yang kondusif
- Supremasi Hukum dijunjung tinggi
- Kedisiplinan dan kejujuran masyarakat

B. KERAJAAN KEDIRI ("Kāḍiri")

Kerajaan Kediri dalam Catatan Dinasti Song (Abad ke-11–12 M)

Berbeda masa dengan Kalingga, Kerajaan Kediri dicatat pada abad ke-12, dalam sumber Tiongkok dari Dinasti Song (宋朝), terutama dalam kitab:

- Lingwai Daida (嶺外代答) – Zhou Qufei
- Zhufan Zhi (諸蕃志) – Zhao Rugua

1. Tahun Peristiwa Penting:

1042 M: Airlangga membagi kerajaan → Kediri & Janggala

1135–1157 M: Masa pemerintahan Raja Jayabaya, ia dikenal dengan Ramalannya.

± 1178 M: Kediri mencapai puncak kejayaan

Catatan Song menyebut Kediri (Qi-li / Ji-li):

- Kaya hasil pertanian
- Memiliki sistem pajak teratur
- Aman bagi pedagang asing
- Memiliki kekuatan Prajurit Angkatan Laut
- Menjelajahi Timor hingga Papua.

2. Jayabaya sebagai Raja Kediri

Raja Jayabaya dikenal sebagai raja yang Adil, Religius dan memiliki legitimasi spiritual. Pada masa inilah lahir karya sastra monumental, berupa:

- Kakawin Bharatayuddha (1157 M)
- Smaradhana
- Kresnayana

Sastra tersebut bukan hanya sekadar karya budaya semata tetapi alat legitimasi kekuasaan dan bukti kemajuan intelektual Jawa.  Mahakarya tersebut masih dianggap relevan bagi orang yang memahaminya terutama tentang "Ramalan Jayabaya" terbukti? 

3. Kejayaan Kerajaan Kediri 

Di bawah pemerintahan Prabu Jayabhaya, Kadiri mencapai puncak keemasan dan kejayaan. Wilayahnya semakin meluas, bahkan pengaruhnya menyaingi kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Catatan Tiongkok Ling-wai-tai-ta menyebut bahwa Jawa (Panjalu) sebagai salah satu negeri terkaya abad ke-12.

Prasasti Talan (1136) menunjukkan, bahwa Prabu Jayabhaya meneguhkan warisan dari Airlangga dan memberikan anugerah kepada warga Talan.
Pada masa ini pula, lahir karya sastra besar seperti Kakawin Bharatayudha.

Sesudah Prabu Jayabhaya, dilanjutkan oleh Prabu Sri Gandra, ia memperlihatkan perkembangan struktur pemerintahan yang unik, seperti penggunaan nama-nama hewan untuk jabatan istana (Menjangan Puguh, Lembu Agra, Kebo Waruga, dll.)

Sebagaimana tercatat dalam Prasasti Jaring. Penggunaan istilah Senapati Sarwwajala juga menunjukkan bahwa Kadiri telah memiliki kekuatan Angkatan Laut yang sangat kuat, dan kapal-kapal perdagangan.

C. Mengapa Justru Dianggap sebagai “Mitos Jawa Kuno” belaka?

Ada beberapa faktor utama:

1. Sejarah Jawa, lebih banyak diwariskan lewat babad dan cerita tutur dari orang per orang, bukan dari arsip primer.

2. Sejarah Nusantara sering direduksi dan disederhanakan dalam pendidikan sejak adanya bangsa asing (Penjajah)

3. Kurangnya Literasi tentang Sumber Asing Kronik Tiongkok "Jarang" diajarkan secara mendalam di sekolah Indonesia.

4. Salah Kaprah, tentang arti Kata “Legenda” bahwa Kisah simbolik sering dianggap fiktif, padahal mengandung fakta historis.

5. Kecenderungan masyarakat Indonesia, lebih sopan, ramah dan cepat kagum pada suatu hal yang baru datang dari luar, misalnya nonton film action dari barat.

6. Kurang jujur mengakui sejarah daerah lain, padahal bisa saja leluhur mereka dari sana.

Prihal Sejarah "Kebesaran" Kerajaan Nusantara terutama Kerajaan KEDIRI sungguh sangat ironis dan miris, ia sudah lama terbenam, dan terpendam dan terlupakan, seakan-akan  leluhur kita adalah orang kolot, penyembah pohon, memuja "genderuwo" yang tak punya keahlian dan peradaban.

Tiongkok justru mencatat dengan jujur dan terbuka, bahwa kerajaan Nusantara pernah dipimpin oleh perempuan (Ratu Shima) dengan disiplin tinggi, pusat agama buddha, tertib administrasi, punya kekuatan prajurit (Armada) Angkatan laut untuk menjelajahi Nusantara.

Catatan dan bukti sejarah dari Kemaharajaan Sriwijaya di Sumatera pun mencatat nama Kerajaan MEDANG, bahwa pernah menyerang Sriwijaya dan menguasai Perairan Nusantara, terutama Selat Malaka, meski hanya sekejap saja.

Kebesaran itu sudah ada di  KEDIRI sebelum kerajaan Medang berganti menjadi KAHURIPAN (Kediri) kejayaan itu sudah  terjadi sekitar 300 tahun "sebelum" berdirinya Majapahit. Tapi Anehnya, bangsa sendiri, keturunan sendiri meragukannya KEDIRI, bahkan melecehkan hingga masa berdirinya Majapahit hingga runtuh selamanya.

Pada intinya, apapun yang terjadi di Jawa meski itu benar dan nyata didukung oleh dokumen, prasasti dan artefak namun tetap saja dianggap "bohong dan halu".

Ada apa dengan negeri ini?

Tapi yang mengagumkan bagi saya pribadi adalah orang-orang Jawa itu sendiri, tidak ingin menimpali stigma negatif itu, ia hanya diam dan tersenyum, mungkin ia berkata dalam hati:
"Seribu Kata, tumbang oleh Satu Bukti".

Mungkin ia berkata dalam hati, silahkan ngomel tong kosong, namun satu hal yang pasti, bahwa: KALINGGA dan BOROBUDUR diakui oleh dunia sebagai Pusat pendidikan dunia. MEDANG pernah menerobos Kemaharajaan Sriwijaya meski sekejap.

SINGASARI tercatat namanya di Kemaharajaan Dharmasraya tahun 1293. MAJAPAHIT tercatat sejarahnya hingga ke Singapura, Malaysia, Kamboja, Thailand dan Filipina.

Kata - kata, hari ini :

Sejarah yang baik adalah sejarah yang diungkap secara jujur, terbuka dan sportif.

Komentar

Postingan Populer